Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Garis yang Dilanggar
Lift berhenti dengan denting halus yang terasa terlalu nyaring di telinga Aruna.
Pintu terbuka.
Koridor lantai direksi lebih sunyi dari biasanya. Lampu putih memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Setiap ketukan sepatu terasa seperti pengingat—hari ini bukan hari kerja biasa.
Ini hari di mana sesuatu akan diputuskan.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aruna berhenti berjalan.
Ia menatap layar selama dua detik. Instingnya mengatakan jangan angkat. Tapi bagian lain—yang lebih tajam, lebih berani—memintanya mendengar.
Ia menerima panggilan.
“Pagi, Bu Legal.”
Suara pria. Tenang. Terlalu santai.
“Aku tidak punya waktu untuk permainan,” jawab Aruna datar.
“Tentu. Makanya aku langsung ke inti. Audit internal sudah menemukan sesuatu… menarik.”
Jantungnya berdetak sekali lebih keras.
“Kalau itu ancaman—”
“Bukan. Ini peringatan. Kamu berdiri di jalur yang salah. Dan jalur itu… sering berakhir buruk.”
Klik.
Telepon terputus.
Aruna tidak langsung bergerak. Tangannya mencengkeram ponsel sedikit lebih kuat. Bukan takut.
Marah.
Batas sudah dilanggar.
Dan seseorang cukup percaya diri untuk mengatakan itu langsung padanya.
Langkahnya kembali bergerak—lebih cepat.
Pintu ruang direktur sudah terbuka saat ia tiba. Calvin berdiri menghadap jendela besar, tangan di saku celana, bahunya tegang seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.
Ia tidak menoleh saat Aruna masuk.
“Kamu dengar?” tanyanya.
“Tergantung. Yang mana?”
“Tim audit menemukan akses ilegal ke arsip legal.” Calvin berbalik. Tatapannya tajam. “Dokumen yang hanya bisa dibuka oleh dua orang.”
Aruna menahan napas.
“Kamu,” lanjut Calvin pelan. “Dan aku.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
“Aku tidak menyentuh arsip itu,” katanya tegas.
“Aku tahu.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Aruna berkedip.
“Kamu… tahu?”
Calvin mendekat satu langkah. Tatapannya tidak ragu.
“Kalau kamu melakukannya, kamu tidak akan berdiri di sini dengan wajah setenang itu.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya—bukan hanya keyakinan. Ada… kepercayaan.
Dan itu berbahaya.
“Berarti seseorang ingin menjebakku,” kata Aruna.
“Bukan hanya kamu.” Rahang Calvin mengeras. “Mereka mencoba menyeret legal dan direksi sekaligus. Ini bukan sabotase kecil.”
Aruna mengingat panggilan tadi.
“Mereka sudah mulai bicara langsung,” katanya.
Tatapan Calvin berubah.
“Siapa?”
“Nomor tak dikenal. Ancaman halus.” Ia mengangkat bahu. “Cukup percaya diri.”
Calvin diam beberapa detik. Keheningan itu bukan kosong—melainkan penuh perhitungan.
“Mulai sekarang,” katanya akhirnya, “kamu tidak bergerak sendirian.”
Aruna mengerutkan alis. “Aku tidak butuh pengawal.”
“Ini bukan soal kebutuhan.” Suaranya rendah. Tegas. “Ini soal kontrol.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan entah kenapa… terasa personal.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” balas Aruna.
“Aku tidak meragukan itu.”
Calvin berhenti sangat dekat sekarang. Jarak profesional… nyaris hilang.
“Tapi permainan ini sudah berubah,” lanjutnya. “Dan aku tidak akan membiarkan kamu jadi target tanpa perlindungan.”
Tatapan mereka bertabrakan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kelembutan.
Hanya kesadaran bahwa mereka berdiri di sisi yang sama—dan garis di antara mereka mulai kabur.
Aruna merasakan ketegangan itu menjalar sampai ke ujung jarinya.
Ia memalingkan wajah lebih dulu.
“Langkah selanjutnya?” tanyanya.
“Kita jebak balik.”
Jawaban itu datang dingin.
Calvin berjalan ke meja, membuka folder tipis. “Audit akan diumumkan lebih luas sore ini. Kita biarkan pelaku merasa aman.”
“Dan?”
“Kita pasang umpan.”
Aruna membaca cepat isi folder. Dokumen palsu. Jejak akses buatan.
“Mereka akan mengambilnya,” gumamnya.
“Karena mereka pikir kita tidak sadar,” jawab Calvin.
Aruna mengangkat kepala.
“Kamu yakin?”
Tatapan Calvin tajam. Tenang.
“Orang yang terlalu percaya diri selalu membuat kesalahan.”
Ia menutup folder.
“Dan saat itu terjadi…” lanjutnya pelan, “…kita potong jalurnya.”
Ada dingin dalam kalimat itu.
Bukan marah.
Bukan emosional.
Hanya keputusan.
Aruna merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya.
Ini bukan lagi sekadar bertahan.
Ini perang terbuka.
Dan ia… siap.
“Aku ikut,” katanya.
Calvin menatapnya lama.
“Kamu sudah ikut sejak kamu memilih diam di rapat itu,” jawabnya pelan.
Kalimat itu menghantam lebih dalam dari yang ia duga.
Karena benar.
Semua ini… berawal dari satu keputusan.
Dan sekarang tidak ada jalan mundur.
—
Sore datang lebih cepat dari yang terasa nyaman.
Dokumen umpan sudah ditempatkan.
Tim audit bergerak sesuai rencana.
Ruangan legal terasa lebih tegang dari biasanya. Semua orang bekerja, tapi ada bisik-bisik yang tidak bisa disembunyikan.
Aruna duduk di mejanya, layar monitor menyala dengan log akses.
Detik berjalan lambat.
Lalu—
Ping.
Satu akses.
Aruna menahan napas.
Nama pengguna muncul.
Bukan staf biasa.
Bukan tim audit.
Nama itu membuat darahnya terasa lebih dingin.
Ia langsung berdiri.
Langkahnya cepat menuju ruang direktur.
Calvin sudah menunggu di depan layar besar.
Ia melihat nama itu juga.
Dan rahangnya mengeras.
“Dia,” gumam Aruna.
Calvin mengangguk pelan.
“Permainan selesai.”
Ponsel Calvin bergetar.
Ia mengangkatnya, mendengarkan tanpa bicara.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
Lebih gelap.
Ia menutup telepon.
“Target bergerak keluar gedung,” katanya.
Aruna menatapnya.
“Kita kejar?”
Calvin menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia menatap layar sekali lagi.
“Karena dia tidak lari…”
Tatapannya beralih ke pintu.
“…dia datang ke sini.”
Aruna menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang, tapi bukan karena takut. Ini rasa adrenalin yang membuatnya tetap fokus. Setiap ototnya tegang, siap untuk reaksi cepat. Ia menatap sosok di depan pintu, mencoba membaca ekspresi wajah itu—tapi wajah itu terlalu tenang, terlalu terkendali.
Calvin berdiri di sampingnya, tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya seperti laser yang memindai setiap gerakan orang di ruangan itu. Aruna bisa merasakan tekanan dari kehadiran Calvin—bukan menakutkan, tapi menegaskan satu hal: mereka satu tim, dan tidak ada yang bisa mengejutkan mereka jika bekerja bersama.
Hawa di ruangan itu berubah. Lampu putih terasa lebih tajam, bayangan di dinding seolah ikut menahan napas. Aruna sadar, ini bukan lagi tentang dokumen atau audit. Ini soal siapa yang memiliki kendali, siapa yang memegang kekuasaan dalam permainan yang mulai sangat pribadi.
Tangan Aruna sedikit mengepal, perlahan ia maju satu langkah. Setiap detik terasa seperti jam pasir yang menetes lebih lambat dari normal. Semua rencana, semua strategi, kini akan diuji. Ia tahu—satu gerakan salah, dan permainan bisa berubah drastis.
Dan tepat saat itu—
Ketukan terdengar.
Pelan.
Tenang.
Percaya diri.
Aruna merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Calvin tidak bergerak.
Tatapan mereka bertemu.
Kesadaran yang sama:
Ini konfrontasi.
Dan siapa pun di balik pintu itu…
baru saja melangkah melewati garis terakhir.
“Masuk,” kata Calvin dingin.
Gagang pintu bergerak.
Dan saat pintu terbuka—
Aruna melihat wajah yang tidak pernah ia duga akan berdiri di sana.
Dadanya menegang.
Karena perang ini…
baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.
—
Musuh akhirnya menunjukkan wajah. Tapi apakah Aruna siap menghadapi pengkhianatan yang datang dari tempat paling tak terduga?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/