NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Garis yang Dilanggar

Lift berhenti dengan denting halus yang terasa terlalu nyaring di telinga Aruna.

Pintu terbuka.

Koridor lantai direksi lebih sunyi dari biasanya. Lampu putih memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Setiap ketukan sepatu terasa seperti pengingat—hari ini bukan hari kerja biasa.

Ini hari di mana sesuatu akan diputuskan.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Aruna berhenti berjalan.

Ia menatap layar selama dua detik. Instingnya mengatakan jangan angkat. Tapi bagian lain—yang lebih tajam, lebih berani—memintanya mendengar.

Ia menerima panggilan.

“Pagi, Bu Legal.”

Suara pria. Tenang. Terlalu santai.

“Aku tidak punya waktu untuk permainan,” jawab Aruna datar.

“Tentu. Makanya aku langsung ke inti. Audit internal sudah menemukan sesuatu… menarik.”

Jantungnya berdetak sekali lebih keras.

“Kalau itu ancaman—”

“Bukan. Ini peringatan. Kamu berdiri di jalur yang salah. Dan jalur itu… sering berakhir buruk.”

Klik.

Telepon terputus.

Aruna tidak langsung bergerak. Tangannya mencengkeram ponsel sedikit lebih kuat. Bukan takut.

Marah.

Batas sudah dilanggar.

Dan seseorang cukup percaya diri untuk mengatakan itu langsung padanya.

Langkahnya kembali bergerak—lebih cepat.

Pintu ruang direktur sudah terbuka saat ia tiba. Calvin berdiri menghadap jendela besar, tangan di saku celana, bahunya tegang seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.

Ia tidak menoleh saat Aruna masuk.

“Kamu dengar?” tanyanya.

“Tergantung. Yang mana?”

“Tim audit menemukan akses ilegal ke arsip legal.” Calvin berbalik. Tatapannya tajam. “Dokumen yang hanya bisa dibuka oleh dua orang.”

Aruna menahan napas.

“Kamu,” lanjut Calvin pelan. “Dan aku.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

“Aku tidak menyentuh arsip itu,” katanya tegas.

“Aku tahu.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Aruna berkedip.

“Kamu… tahu?”

Calvin mendekat satu langkah. Tatapannya tidak ragu.

“Kalau kamu melakukannya, kamu tidak akan berdiri di sini dengan wajah setenang itu.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya—bukan hanya keyakinan. Ada… kepercayaan.

Dan itu berbahaya.

“Berarti seseorang ingin menjebakku,” kata Aruna.

“Bukan hanya kamu.” Rahang Calvin mengeras. “Mereka mencoba menyeret legal dan direksi sekaligus. Ini bukan sabotase kecil.”

Aruna mengingat panggilan tadi.

“Mereka sudah mulai bicara langsung,” katanya.

Tatapan Calvin berubah.

“Siapa?”

“Nomor tak dikenal. Ancaman halus.” Ia mengangkat bahu. “Cukup percaya diri.”

Calvin diam beberapa detik. Keheningan itu bukan kosong—melainkan penuh perhitungan.

“Mulai sekarang,” katanya akhirnya, “kamu tidak bergerak sendirian.”

Aruna mengerutkan alis. “Aku tidak butuh pengawal.”

“Ini bukan soal kebutuhan.” Suaranya rendah. Tegas. “Ini soal kontrol.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan entah kenapa… terasa personal.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” balas Aruna.

“Aku tidak meragukan itu.”

Calvin berhenti sangat dekat sekarang. Jarak profesional… nyaris hilang.

“Tapi permainan ini sudah berubah,” lanjutnya. “Dan aku tidak akan membiarkan kamu jadi target tanpa perlindungan.”

Tatapan mereka bertabrakan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kelembutan.

Hanya kesadaran bahwa mereka berdiri di sisi yang sama—dan garis di antara mereka mulai kabur.

Aruna merasakan ketegangan itu menjalar sampai ke ujung jarinya.

Ia memalingkan wajah lebih dulu.

“Langkah selanjutnya?” tanyanya.

“Kita jebak balik.”

Jawaban itu datang dingin.

Calvin berjalan ke meja, membuka folder tipis. “Audit akan diumumkan lebih luas sore ini. Kita biarkan pelaku merasa aman.”

“Dan?”

“Kita pasang umpan.”

Aruna membaca cepat isi folder. Dokumen palsu. Jejak akses buatan.

“Mereka akan mengambilnya,” gumamnya.

“Karena mereka pikir kita tidak sadar,” jawab Calvin.

Aruna mengangkat kepala.

“Kamu yakin?”

Tatapan Calvin tajam. Tenang.

“Orang yang terlalu percaya diri selalu membuat kesalahan.”

Ia menutup folder.

“Dan saat itu terjadi…” lanjutnya pelan, “…kita potong jalurnya.”

Ada dingin dalam kalimat itu.

Bukan marah.

Bukan emosional.

Hanya keputusan.

Aruna merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya.

Ini bukan lagi sekadar bertahan.

Ini perang terbuka.

Dan ia… siap.

“Aku ikut,” katanya.

Calvin menatapnya lama.

“Kamu sudah ikut sejak kamu memilih diam di rapat itu,” jawabnya pelan.

Kalimat itu menghantam lebih dalam dari yang ia duga.

Karena benar.

Semua ini… berawal dari satu keputusan.

Dan sekarang tidak ada jalan mundur.

Sore datang lebih cepat dari yang terasa nyaman.

Dokumen umpan sudah ditempatkan.

Tim audit bergerak sesuai rencana.

Ruangan legal terasa lebih tegang dari biasanya. Semua orang bekerja, tapi ada bisik-bisik yang tidak bisa disembunyikan.

Aruna duduk di mejanya, layar monitor menyala dengan log akses.

Detik berjalan lambat.

Lalu—

Ping.

Satu akses.

Aruna menahan napas.

Nama pengguna muncul.

Bukan staf biasa.

Bukan tim audit.

Nama itu membuat darahnya terasa lebih dingin.

Ia langsung berdiri.

Langkahnya cepat menuju ruang direktur.

Calvin sudah menunggu di depan layar besar.

Ia melihat nama itu juga.

Dan rahangnya mengeras.

“Dia,” gumam Aruna.

Calvin mengangguk pelan.

“Permainan selesai.”

Ponsel Calvin bergetar.

Ia mengangkatnya, mendengarkan tanpa bicara.

Tatapannya berubah.

Lebih tajam.

Lebih gelap.

Ia menutup telepon.

“Target bergerak keluar gedung,” katanya.

Aruna menatapnya.

“Kita kejar?”

Calvin menggeleng pelan.

“Tidak.”

Ia menatap layar sekali lagi.

“Karena dia tidak lari…”

Tatapannya beralih ke pintu.

“…dia datang ke sini.”

Aruna menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang, tapi bukan karena takut. Ini rasa adrenalin yang membuatnya tetap fokus. Setiap ototnya tegang, siap untuk reaksi cepat. Ia menatap sosok di depan pintu, mencoba membaca ekspresi wajah itu—tapi wajah itu terlalu tenang, terlalu terkendali.

Calvin berdiri di sampingnya, tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya seperti laser yang memindai setiap gerakan orang di ruangan itu. Aruna bisa merasakan tekanan dari kehadiran Calvin—bukan menakutkan, tapi menegaskan satu hal: mereka satu tim, dan tidak ada yang bisa mengejutkan mereka jika bekerja bersama.

Hawa di ruangan itu berubah. Lampu putih terasa lebih tajam, bayangan di dinding seolah ikut menahan napas. Aruna sadar, ini bukan lagi tentang dokumen atau audit. Ini soal siapa yang memiliki kendali, siapa yang memegang kekuasaan dalam permainan yang mulai sangat pribadi.

Tangan Aruna sedikit mengepal, perlahan ia maju satu langkah. Setiap detik terasa seperti jam pasir yang menetes lebih lambat dari normal. Semua rencana, semua strategi, kini akan diuji. Ia tahu—satu gerakan salah, dan permainan bisa berubah drastis.

Dan tepat saat itu—

Ketukan terdengar.

Pelan.

Tenang.

Percaya diri.

Aruna merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

Calvin tidak bergerak.

Tatapan mereka bertemu.

Kesadaran yang sama:

Ini konfrontasi.

Dan siapa pun di balik pintu itu…

baru saja melangkah melewati garis terakhir.

“Masuk,” kata Calvin dingin.

Gagang pintu bergerak.

Dan saat pintu terbuka—

Aruna melihat wajah yang tidak pernah ia duga akan berdiri di sana.

Dadanya menegang.

Karena perang ini…

baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Musuh akhirnya menunjukkan wajah. Tapi apakah Aruna siap menghadapi pengkhianatan yang datang dari tempat paling tak terduga?

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!