Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Tercipta
Tiga hari sejak malam pengakuan di atap gedung parkir itu, sejak mereka resmi menjalin HTS. Dan Fira merasakan ada yang aneh. Ditya masih chat, masih membalas kalau Fira mengirim pesan duluan, tapi nggak sesering dulu. Nggak ada lagi chat di pagi hari 'udah sarapan belum?', nggak ada lagi telepon malam sebelum tidur, nggak ada lagi kehangatan yang biasanya selalu ada.
Ditya bilang dia, ngasih jarak biar Fira nggak ngerasa tertekan, biar Fira punya waktu dan nggak terlalu bergantung pada Ditya.
Tapi kenapa rasanya malah kosong gini?
Hari ini hari Rabu, Fira lagi di kafe sambil menyiapkan pesanan pelanggan. Tangannya otomatis ngerjain, tapi pikirannya kemana-mana.
"Fir, pesanan meja lima!" teriak Anna dari kasir.
"Oh iya, tunggu sebentar!"
Fira buru-buru bikin cappuccino sambil sesekali melirik ponsel yang tergeletak di samping mesin kopi. Kosong. Nggak ada notifikasi dari Ditya.
Padahal biasanya jam segini Ditya udah chat. Nanya Fira lagi ngapain. Ngirim meme lucu. Atau sekadar bilang 'semangat kerja ya Fir'.
Tapi sekarang? Kosong.
Fira menghela nafas panjang sambil menaruh cappuccino di nampan. Dia membawa ke meja lima, senyum profesional ke pelanggan, terus balik ke counter.
Fira melihat ponselnya lagi, lalu ia membuka chat Ditya. Chat terakhir kemarin sore, Ditya hanya membalas "Oke Fir, semangat ya" saat Fira bilang mau masuk kerja.
Setelah itu? Nggak ada lagi.
Fira pengen banget ngetik sesuatu. Pengen nanya, tapi rasanya aneh. Rasanya dia yang kangen, dia yang butuh, dia yang ngerasa kehilangan.
Tunggu. Kehilangan?
Fira mengerutkan kening. Kok bisa dia ngerasa kehilangan pas Ditya cuma ngasih jarak beberapa hari doang? Berarti selama ini dia udah sebergantung itu sama kehadiran Ditya?
"Fir, kamu kenapa sih? Dari tadi bengong mulu," kata Anna sambil menyodorkan nota pesanan yang baru.
"Eh, nggak apa-apa kok. Cuma lagi ada masalah dikit."
"Masalah apaan? Jangan -jangan masalah sama cowok ya?" tanya Anna yang terlihat menggoda.
Fira cuma tersenyum tipis tanpa menjawab. Anna nggak salah sih, emang gara-gara cowok.
***
Malem harinya, Fira pulang ke kost dengan perasaan berat. Dia rebahan di kasur sambil melihat ponselnya, tapi masih nggak ada chat dari Ditya.
Dia buka Instagram, ngeliat story Ditya. Terakhir update empat jam yang lalu, foto lagi main gitar di studio sama Dimas. Captionnya cuma emoji gitar.
Fira tersenyum tipis liat itu, Ditya lagi main musik berarti. Pasti lagi asik-asiknya. Tapi kenapa dia nggak ngajak Fira? Dulu Ditya pernah bilang pengen ngajak Fira liat dia latihan band.
"Ah, sudahlah," gumam Fira sambil melempar ponsel ke samping. "Dia kan lagi ngasih jarak. Wajar kalau nggak ngajak."
Tapi hatinya nggak setuju. Hatinya ngerasa hampa. Fira ambil ponsel lagi, lalu mengirim pesan pada Rania.
...💌...
Fira: Ran, aku aneh nggak sih?
Tak butuh waktu lama, Rania segera membalas peaan dari Fira.
^^^Rania: Aneh gimana, Fir?^^^
Fira: Ditya ngasih aku jarak, biar aku juga nggak terlalu fokus sama dia, dan bisa fokus bekerja. Tapi kok aku malah kangen ya? Kangen ngobrol sama dia, kangen denger suara dia. Ini wajar nggak?
Beberapa menit kemudian Rania membalas dengan panjang.
Rania: WAJAR BANGET FIR! Itu namanya kamu udah nyaman banget sama dia. Sudah terbiasa sama kehadiran dia. Jadi pas tiba-tiba dia ngasih jarak, kamu ngerasa kehilangan. Dan itu pertanda bagus loh.
^^^Fira: Bagus gimana?^^^
Rania: Ya, bagus. Karena berarti perasaan kamu ke dia bukan main-main. Coba deh pikirkan, kalau kamu cuma anggap dia temen biasa, masa iya kamu sekangen ini pas dia nggak chat beberapa hari?
Fira merenungkan kata-kata Rania. Bener juga sih. Kalau cuma temen biasa, paling dia cuma mikir "Oh, Ditya lagi sibuk kali" terus lanjut hidup biasa. Tapi sekarang? Sekarang dia ngerasain ada yang kurang tiap hari.
^^^Fira: Terus aku harus gimana, Ran?^^^
Rania: Ya bilang aja ke dia, hubungi Ditya dan bilang, kalo kamu kangen.
^^^Fira: Tapi nanti dia mikir, kalo aku yang terlalu ngejar dia. Baru tiga hari nggak chat, sudah bilang kangen."^^^
Rania: Fir, dengerin aku. Jarak itu buat mikir jernih, bukan buat nyiksa diri sendiri. Kalau kamu emang kangen, bilang aja. Komunikasi itu penting. Jangan dipendem terus sampe nanti meledak.
^^^Fira: Aku takut dia mikir aku cewek apaan, yang bilang kangen, padahal di antara kita cuma sebatas HTS aja."^^^
Rania: Ditya nggak akan mikir kayak gitu. Cowok yang beneran suka dan peduli, pasti dia akan seneng kalau tau kamu kangen. Itu tandanya kamu juga peduli sama dia.
Fira menggigit bibir bawah, bingung. Hatinya pengen banget hubungin Ditya, pengen denger suara dia, pengen ngobrol kayak biasanya. Tapi otaknya bilang "tunggu aja, jangan terburu buru".
Tapi dia udah nggak kuat.
^^^Fira: Oke Ran. Aku bakal hubungin dia.^^^
Rania: NAH GITU DONG! Semangat ya, Fir!
***
Fira duduk di pinggir kasur sambil melihat kontak Ditya yang berada di ponselnya. Jarinya gemetar di atas tombol panggil. Takut. Gugup. Tapi dia juga kangen.
Akhirnya dia pencet tombol itu. Nada tunggu berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Fira sudah mau nutup pas suara Ditya terdengar.
...📞...
"Hallo, Fir?"
Suara itu, suara yang sudah tiga hari nggak dia denger. Rasanya terasa begitu hangat.
^^^"Hallo, Dit."^^^
Suara Fira terdengar begutu pelan, dan sedikit agak malu.
"Ada apa, Fir? Apa kamu baik-baik saja?"
^^^"Iya, aku baik-baik saja kok. Aku cuma..."^^^
Fira menghela nafas, rasanya susah banget buat bicara.
"Cuma apa, Fir? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?"
^^^"Aku... aku kangen ngobrol sama kamu, Dit."^^^
Seketika suasana menjadi hening, Fira mendengar nafas Ditya yang berat dari seberang sana.
^^^"Fira."^^^
"Maafkan aku, Dit. Aku tau kamu lagi ngasih jarak biar aku bisa fokus kerja, dan nggak terlalu fokus ke kamu. Tapi aku ngerasa ada yang kurang, aku kangen chat sama kamu tiap hari. Kangen dengerin suara kamu."
Air mata mulai mengalir. Fira mengusap cepet sambil lanjut bicara.
"Kangen ketawa bareng kamu, dan aku baru sadar, ternyata selama ini kamu sudah jadi bagian penting dalam hari-hari aku."
^^^"Fira, aku juga kangen sama kamu, dan buat aku juga itu berat. Apalagi, aku juga sudah terbiasa ngobrol sama kamu setiap hari. Tapi aku nggak mau, kalo kamu nggak fokus bekerja."^^^
"Aku ngerti, Dit. Dan aku menghargai itu. Tapi, aku rasa jarak yang terlalu jauh juga nggak baik. Aku pengen kita tetep ngobrol kayak biasa. Nggak perlu berubah total gitu."
^^^"Apa kamu yakin, Fir? Aku takutnya kamu jadi nggak fokus kerja, dan malah selalu bermain ponsel karena membalas pesan dari aku."^^^
"Aku bisa membedakan waktu buat kerja, dan mana waktu buat membalas pesan dari kamu, Dit. Justru pas kamu ngasih jarak, aku baru sadar, seberapa penting kamu buat aku."
Ditya terdengar mengambil nafas dalem dari seberang sana.
^^^"Fir, aku sudah nyaman banget sama kamu. Dan denger kamu bilang gitu, rasanya aku pengen langsung ke kost kamu sekarang, peluk kamu, dan bilang kalau aku bakal selalu ada buat kamu."^^^
Fira ketawa kecil sambil nangis.
"Jangan Dit, ini sudah malem. Nanti kamu capek."
^^^"Aku nggak peduli soal rasa capek, Fir. Yang penting aku bisa berada di dekat kamu."^^^
"Dit, makasih ya. Makasih sudah sabar dan selalu ada buat aku."
^^^"Sama-sama, Fir. Dan aku seneng banget, karena kamu sudah beranu bilang kangen sama aku."^^^
"Sebenarnya sih, aku malu banget, Dit."
^^^"Nggak usah malu. Aku juga kangen kamu kok."^^^
Mereka ngobrol sampai tengah malem. Ngobrol tentang apa aja. Tentang hari hari mereka yang kemarin, tentang hal hal kecil yang lucu, tentang rencana akhir pekan nanti.
Dan Fira merasa lega banget. Seperti beban berat di dadanya akhirnya hilang.
"Ditya."
Panggil Fira pelan pas sudah mau selesai telpon.
^^^"Iya, ada apa, Fir?"^^^
"Besok kita ketemu ya? Seperti biasa, aku pengen ketemu sama kamu."
Dari balik telepon, Ditya tertawa lembut.
^^^"Oke Fir. Besok aku ke kafe, jam berapa kamu kerja?"^^^
"Aku masuk jam satu siang."
^^^"Oke, aku dateng jam segitu. Tunggu aku ya."^^^
"Iya, Dit. Makasih buat semuanya."
^^^"Sama-sama Fir. Sekarang tidur sana, sudah malem banget. Mimpi indah ya."^^^
Setelah telepon selesai, Fira rebahan di kasur sambil senyum-senyum sendiri. Dadanya hangat, hatinya ringan.
Dia udah tau sekarang, dia beneran nyaman sama Ditya. Dan mungkin, nggak lama lagi dia bakal semakin dekat, bahkan mungkin akan pacaran beneran bukan cuma sekedar HTS.
***
Di apartemen Ditya, ia lagi duduk di sofa sambil memegang ponsel yang baru aaja selesai menelpon Fira. Senyumnya nggak hilang dari tadi.
Fira kangen sama dia.
Tapi di saat yang bersamaan, rasa takut kembali muncul dalam dirinya. Takut kalau dia nggak bisa jadi orang yang Fira harapkan. Takut kalau dia mengecewakan Fira sama seperti dia mengecewakan Jessica dulu.
"Gue harus bisa," gumamnya pelan sambil menggenggam ponselnya erat. "Gue harus jadi lebih baik. Buat Fira. Gue nggak boleh ngecewain dia."
Ditya membuka galeri ponselnya, melihat folder yang sekarang sudah kosong. Folder yang dulu penuh dengan foto Jessica.
Dia sudah hapus semua, dan berusaha unyuk mengikhlaskan Jessica. Sekarang Ditya sudah siap buat mencoba menjalin kedekatan bersama Fira.
Siap buat jadi orang yang Fira butuhkan, atau setidaknya dia berharap bahwa dia siap. Karena kadang, kita nggak pernah bener-bener siap. Kadang kita cuma bisa mencoba dan berharap yang terbaik.