NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GADIS SWEATER CREAM

***

<<>>

Satu minggu sebelum lampu kristal ballroom itu menyiksa Keyla, takdir sudah menuliskan garisnya di sebuah kafe berdesain minimalis di sudut kota.

​Dipta Mahendra duduk di kursi kulit di sudut ruangan yang remang, menyesap espresso pahitnya dengan tenang. Di seberangnya, Bayu, asisten pribadinya, sibuk memeriksa berkas di tablet. Namun, perhatian Dipta teralih sepenuhnya pada meja di dekat jendela besar.

​Di sana, seorang gadis sedang tertawa lepas bersama teman-temannya.

​Dipta meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya terpaku. Gadis itu tidak memakai riasan tebal—hanya polesan tipis yang menonjolkan kulitnya yang bersih seperti porselen. Matanya sedikit sipit saat tertawa, dan tubuhnya yang kecil mungil tampak tenggelam di balik sweter oversize yang ia kenakan.

​"Bayu," suara Dipta memecah konsentrasi asistennya.

​Bayu mendongak. "Ya, Pak?"

​"Lihat gadis di meja nomor tujuh. Yang memakai sweter krem." Dipta menunjuk dengan gerakan dagu yang halus.

​Bayu menoleh, lalu terdiam sejenak. "Ah, gadis itu..."

​"Siapa dia?" tanya Dipta, suaranya mengandung nada yang jarang didengar Bayu: ketertarikan yang murni. "Aku belum pernah melihat kecantikan sealami itu di lingkaran kita."

​Bayu berdeham, ia segera mengenali wajah yang sering muncul di laporan sosialita kelas atas. "Itu Keyla Atmadja, Pak. Putri tunggal dari Alan Atmadja."

​Alis Dipta terangkat. "Atmadja? Kolega kita di proyek infrastruktur baru itu?"

​"Benar, Pak. Tapi ada kabar yang belum sampai ke telinga publik," Bayu merendahkan suaranya, mendekat ke meja. "Keluarga Atmadja sedang di ambang kehancuran. Perusahaan Alan mengalami krisis arus kas yang parah karena kegagalan investasi di luar negeri. Dia hampir bangkrut total."

​Dipta kembali menatap Keyla. Gadis itu sekarang sedang mengerucutkan bibir karena godaan temannya, terlihat begitu polos dan tidak tahu apa-apa tentang badai yang menghantam keluarganya.

​"Bangkrut, katamu?" Dipta menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Berapa banyak hutangnya pada kita?"

​"Cukup besar untuk membuat kita menyita seluruh asetnya, Pak," jawab Bayu lugas.

​Dipta mengetukkan jarinya di atas meja, seirama dengan detak jantungnya yang mulai bermain dengan sebuah rencana gila. "Menarik. Sangat menarik."

​"Apakah Anda ingin saya menjadwalkan pertemuan dengan Alan untuk membahas pelunasan utang?" tanya Bayu siap mencatat.

​Dipta menggeleng kecil. Matanya masih mengunci sosok Keyla yang kini sedang menyesap latte-nya. "Tidak. Katakan pada Alan, aku ingin bertemu secara pribadi malam ini. Bukan di kantor, tapi di kelab pribadiku."

​"Untuk membahas restrukturisasi utang, Pak?"

​"Untuk membahas 'jaminan' baru," sahut Dipta pendek. "Alan butuh dana segar untuk menyelamatkan namanya. Dan aku... aku butuh sesuatu yang bisa menyegarkan hidupku yang membosankan ini."

​Bayu sempat ragu. "Maksud Anda... Anda ingin memanfaatkan krisis ini untuk mendapatkan putrinya?"

​Dipta berdiri, merapikan jasnya dengan gestur berwibawa. "Bisnis adalah tentang memanfaatkan peluang, Bayu. Alan butuh uang, dan aku menginginkan gadis itu. Ini adalah transaksi paling adil yang pernah kutawarkan."

​Sebelum melangkah keluar kafe, Dipta berhenti sejenak di dekat meja Keyla, menghirup aroma parfum vanila yang lembut dari gadis itu. Keyla tidak menyadarinya, namun di mata Dipta, nasib gadis itu sudah terkunci rapat sejak detik itu.

​"Dia terlalu berharga untuk jatuh ke tangan orang yang salah," gumam Dipta sebelum keluar pintu. "Lebih baik dia jatuh ke tanganku."

**

Malam itu, hujan turun tipis membungkus kediaman keluarga Atmadja yang sunyi. Di dalam ruang kerja yang pengap oleh aroma cerutu dan kecemasan, Alan Atmadja duduk dengan bahu merosot. Di depannya, Dipta Mahendra duduk dengan kaki bersilang, terlihat sangat tenang—seperti pemangsa yang sedang menunggu mangsanya menyerah.

Dipta meletakkan dokumen laporan keuangan Atmadja Group yang berlumuran angka merah di atas meja kayu jati.

"Angkanya tidak berbohong, Alan," suara Dipta tenang namun mematikan. "Minggu depan, bank akan mulai menyita asetmu. Namamu akan hancur, dan kau tahu apa yang terjadi pada pria seperti dirimu di Jakarta jika tidak punya uang? Kau akan dilupakan."

Alan menyeka keringat di dahinya. "Aku tahu, Dipta. Itulah sebabnya aku memohon bantuanmu. Pinjamkan aku dana talangan. Aku akan membayar bunganya dua kali lipat!"

Dipta terkekeh pelan, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Alan meremang. "Aku bukan bank, Alan. Aku tidak butuh bunga uangmu yang belum tentu kembali. Aku butuh komitmen yang lebih... nyata."

"Apa maksudmu? Apa pun! Aku akan memberikan saham mayoritas proyek di Kalimantan padamu!" seru Alan putus asa.

"Aku sudah punya banyak tanah," potong Dipta tajam. Ia terdiam sejenak, lalu menatap langsung ke mata Alan. "Aku ingin putrimu. Keyla."

Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Alan ternganga. "Keyla? Tapi... dia masih anak-anak, Dipta! Dia baru delapan belas tahun, dia baru lulus SMA!"

"Dia sudah dewasa secara hukum," balas Dipta dingin. "Dia cantik, murni, dan aku menginginkannya. Jadikan dia jaminannya. Tunangkan dia denganku, dan setelah itu aku akan menikahinya."

"Ini gila! Ini seperti menjual anak!" Alan berdiri dengan gemetar.

Dipta ikut berdiri, merapikan kancing jasnya dengan elegan. "Sebut itu apa pun yang kau mau. Tapi dengar ini: Jika kau setuju, malam ini juga aku akan mentransfer dana untuk menutup hutangmu di Bank Niaga. Perusahaanmu selamat, harga dirimu terjaga, dan Keyla? Dia akan hidup seperti ratu di istanaku."

Dipta berjalan menuju jendela, menatap taman rumah Alan yang luas. "Pilihan ada di tanganmu, Alan. Kehancuran total untuk seluruh keluargamu, atau menyerahkan satu gadis untuk menyelamatkan semuanya."

Alan terduduk kembali di kursinya. Bayangan tentang dirinya yang mendekam di penjara atau hidup melarat menghantui pikirannya. Ego dan ketakutannya mengalahkan rasa cintanya pada sang putri.

"Bagaimana jika dia menolak?" tanya Alan lirih.

"Kau ayahnya. Pastikan dia tidak menolak," sahut Dipta tanpa menoleh. "Beri dia pengertian bahwa ini adalah baktinya pada keluarga. Jika dia melihatmu hancur, dia pasti akan merasa bersalah, bukan?"

Dipta berbalik, mengeluarkan selembar cek yang sudah tertulis angka fantastis di atasnya. Ia meletakkannya di depan Alan.

"Tanda tangani surat perjanjian pertunangan ini, dan cek ini milikmu."

Tangan Alan gemetar saat meraih pulpen. Dengan satu goresan tinta, ia baru saja menyerahkan masa depan Keyla ke dalam genggaman pria yang usianya dua kali lipat dari putrinya itu.

Dipta mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani dengan senyum puas. "Pilihan yang cerdas, Alan. Sampaikan salamku pada tunanganku. Katakan padanya, aku akan segera datang untuk menjemput apa yang sudah menjadi milikku."

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!