NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PELAYAN CANTIK DAN SAHABAT BULU

Malam semakin larut di Kampung Kenanga, namun bagi Rimba Dipa Johanson, rasa kantuk seolah-olah telah dihapus dari sistem biologisnya. Ia duduk bersandar di dinding kamarnya yang lembap, menatap langit-langit dengan pikiran yang berputar liar. Penjelasan si orang tua tentang perpustakaan mental dan dimensi independen terus berdenging di telinganya seperti frekuensi radio yang belum stabil.

"Perpustakaan mental atau dunia di dalam giok?" gumam Rimba pelan.

Rasa penasarannya sudah berada di titik didih. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan logika teknologi, ia merasa perlu melihat bentuk fisik dari "sistem" ini sebelum mencoba menjelajahi data di pikirannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam dimensi independen.

Rimba menggenggam erat bandul giok hijau di lehernya. Ia memejamkan mata, memusatkan niatnya sedalam mungkin. "Masuk!"

Zing!

Sensasi gravitasi yang menghilang sesaat kembali menyambutnya. Saat ia membuka mata, ia sudah berdiri kembali di area gelap gulita yang hanya memiliki satu titik cahaya. Sorot lampu raksasa dari langit yang tidak terlihat itu menyinari sebuah gubuk kecil yang reot dan sederhana. Rimba memandang sekeliling, namun sejauh matanya memandang, yang ada hanyalah kegelapan yang seolah menelan cahaya di luar radius gubuk itu.

"Ini gubukku. Milikku sendiri," bisik Rimba untuk menguatkan hatinya.

Ia melangkah maju, kakinya yang memakai boots tua menginjak rumput halus yang mulai terlihat di bawah cahaya sorot. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu kayu yang kasar itu, pintu tersebut berayun terbuka dengan suara engsel yang sangat halus.

Seorang wanita melangkah keluar dari dalam kegelapan gubuk.

Rimba terkesiap, langkahnya terhenti mendadak hingga ia hampir terjungkal ke belakang. "A-apa..."

Wanita itu bukan sekadar cantik; dia adalah definisi kesempurnaan yang tidak masuk akal. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang sangat proporsional—perut rata yang kencang, pinggang kecil yang ramping, dan pinggul yang memberikan kesan anggun sekaligus kuat. Rambutnya hitam legam tergerai rapi, membingkai wajah dengan fitur yang begitu halus seolah dipahat oleh seniman surgawi.

"Selamat datang, Tuan," ucap wanita itu. Suaranya terdengar seperti denting harpa yang menenangkan.

"A-ah... Kamu... kamu cantik sekali!" teriak Rimba spontan, wajahnya memanas karena malu. "Kamu siapa? Kenapa ada di sini?"

Wanita itu tersenyum manis, sebuah senyuman yang mampu meluluhkan gunung es. "Nama saya Lara, Tuan. Saya adalah pelayan Anda. Saya yang bertanggung jawab untuk mengelola dan menjaga dimensi independen milik Tuan ini."

Rimba masih belum bisa mengatupkan mulutnya. Pikirannya langsung melayang membayangkan wanita secantik Lara menjadi pelayannya. Jika Lara berada di dunia luar, dia pasti akan langsung menjadi bintang film papan atas dalam semalam.

"Silakan masuk, Tuan," kata Lara sambil menepi, memberikan jalan bagi Rimba untuk masuk ke dalam gubuk.

Rimba melangkah masuk dengan ragu, namun begitu kakinya melewati ambang pintu, matanya membelalak lebar. Ia seolah menabrak sebuah dinding realitas baru. Di hadapannya bukan lagi interior gubuk kayu yang sempit dan berdebu, melainkan sebuah ruang tamu yang sangat luas dan mewah.

Lantai marmer yang mengilap, sofa kulit yang terlihat sangat empuk, serta lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat menghiasi ruangan itu. Besarnya ruang tamu ini berkali-kali lipat dari ukuran gubuk yang ia lihat dari luar.

"Ini... bagaimana mungkin?" tanya Rimba, tangannya meraba dinding yang terasa begitu kokoh.

"Dimensi ini tidak terikat oleh hukum ruang dunia luar, Tuan," jawab Lara tenang. "Sekalian saja kita tur rumah ini, sebelum Tuan beristirahat."

Lara membawanya melangkah lebih dalam. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran yang luar biasa detail. Begitu pintu didorong, Rimba melihat sebuah kamar tidur yang bahkan lebih mewah dari hotel bintang lima mana pun. Sebuah ranjang besar dengan seprai sutra tertata rapi di tengah ruangan.

Lara menghampiri sebuah lemari geser besar di sisi kamar. Saat pintu lemari terbuka, Rimba terkejut melihat deretan kemeja flanel kotak-kotak beraneka warna tergantung rapi. Ada rak berisi kaos hitam dan putih polos yang tersusun berdasarkan gradasi warna, serta beberapa celana jeans yang dipotong sedengkul—persis seperti gaya berpakaian Rimba. Di lantai lemari, tersedia tiga pasang desert army boots yang masih baru dan bersih.

"Ini kamar tidur Anda, Tuan. Karena Tuan sangat menyukai pakaian jenis ini, saya telah menyiapkan persediaannya. Namun, jika nanti Tuan membutuhkan pakaian formal atau jenis lainnya, Tuan tinggal mengatakannya pada saya," jelas Lara.

Ia kemudian membuka pintu di pojok kamar, memperlihatkan kamar mandi yang luar biasa luas dengan jacuzzi besar di tengahnya. Yang membuat Rimba hampir tertawa adalah adanya TV layar lebar tepat di depan toilet duduk.

"Jika Tuan ingin bermain game atau menonton acara TV sambil membuang hajat, Tuan bisa melakukannya di sini," ucap Lara dengan wajah polos tanpa dosa.

Rimba hanya bisa manggut-manggut sambil menggosok dagunya. "Lara, kamu benar-benar mengerti cara memanjakan pria," gumamnya kagum.

Tur berlanjut ke area yang lebih serius. Mereka memasuki sebuah ruangan yang disebut Lara sebagai Ruang Instruksi. Di tengahnya terdapat meja luas dengan panel-panel futuristik dan keyboard yang menyatu dengan permukaan meja, mirip layar monitor touchscreen raksasa.

"Di depan kita ini adalah aula pelatihan," Lara menunjuk ke sebuah lapangan indoor yang luasnya kira-kira setengah lapangan bola. "Di sini Tuan akan menempa fisik dan berlatih gerakan kultivasi. Akan ada instruksi yang ditampilkan di dinding layar raksasa itu. Gerakan Tuan harus presisi dan sama dengan contoh, atau sistem akan menganggapnya gagal."

Rimba hanya bisa diam, terpukau melihat fasilitas yang menyerupai markas pahlawan super. Lara kemudian menunjukkan sebuah batu hitam besar di sudut ruangan untuk bermeditasi, serta sebuah kolam jernih yang berfungsi untuk menyelaraskan energi setiap kali Rimba naik tingkat kultivasi.

"Mari, Tuan. Ada satu bagian lagi."

Mereka melewati dapur yang sangat modern dan berhenti di pintu belakang. Begitu pintu dibuka, Rimba menghirup udara yang sangat segar—lebih segar dari udara di pegunungan mana pun. Di hadapannya terbentang kebun obat, sayuran, dan peternakan yang tertata sangat rapi. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah hamparan hutan lebat di kejauhan dengan siluet gunung-gunung tinggi sebagai latar belakangnya.

"Ini adalah Hutan Spiritual," kata Lara. "Banyak makhluk unik yang hidup di sana."

Tiba-tiba, semak-semak di pinggir hutan berdesir hebat. Rimba tersentak dan reflek memasang posisi siaga saat segerombolan serigala berukuran besar muncul. Mereka memiliki bulu hitam pekat dengan ujung abu-abu keperakan yang tampak seperti api dingin.

"Ini... apa mereka akan menyerang?" tanya Rimba dengan suara agak gemetar.

"Tidak, Tuan. Mereka adalah Serigala Asura, salah satu penjaga hutan ini. Mereka datang untuk memberi penghormatan kepada Tuan," jawab Lara.

Kawanan itu berhenti sekitar lima meter di depan mereka. Dua ekor serigala jantan yang paling besar maju selangkah, lalu secara serentak menundukkan kepala mereka ke tanah. Mereka kemudian duduk dengan tenang, diikuti oleh seluruh kawanan di belakangnya.

Dari sela-sela barisan serigala yang gagah itu, menyeruak seekor anak serigala kecil yang masih gempal. Ia berlari-lari lincah, mengeluarkan suara gonggongan kecil yang lucu, dan langsung menuju ke arah kaki Rimba. Si kecil itu duduk dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan semangat sambil menatap Rimba dengan mata besar yang cerdas.

Rimba langsung jatuh hati. Ia berjongkok, mencoba menyentuh kepala kecil itu. Serigala kecil itu justru menggosokkan kepalanya ke telapak tangan Rimba dengan manja.

"Teteskan darah Tuan di keningnya, agar ikatan Tuan menjadi permanen dengannya," saran Lara.

Rimba merogoh saku kemejanya dan menemukan jarum yang ia simpan tadi. Ia menusuk jempolnya dan menempelkan setetes darahnya ke kening si kecil. Seketika, aura kuning keemasan menyelimuti mereka berdua selama beberapa detik.

Saat cahaya itu hilang, Rimba merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah benang emosional yang kini terhubung di benaknya. Ia bisa merasakan kegembiraan dan kesetiaan yang murni dari makhluk kecil ini.

"Heh, Bocil..." kata Rimba lembut. Si kecil itu duduk diam, memasang telinga dengan tegak. "Mulai sekarang, namamu adalah Cesar. Kamu mengerti?"

Cesar mengangguk berkali-kali seolah mengerti, lalu ia mendongak dan melolong kecil. Lolongan itu segera disambut oleh lolongan berwibawa dari kawanan serigala di belakang mereka.

Rimba berdiri dan menatap kawanan serigala itu dengan penuh hormat. "Teman-teman, terima kasih atas hadiah ini. Mulai sekarang, Cesar adalah temanku, saudaraku. Dia akan selalu berada di sisiku."

Rimba membungkukkan badan memberi hormat. Kawanan Serigala Asura menjawab dengan satu lolongan serempak sebelum akhirnya berbalik dan menghilang ke dalam kelebatan hutan spiritual dengan anggun.

Tinggal Rimba, Lara, dan Cesar yang masih asyik melompat-lompat di seputaran kaki tuannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rimba tidak merasa kesepian lagi.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!