Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Catatan Tuan Oranye
Namaku Ocan. Secara teknis, aku adalah penguasa sah dari pondok kayu di lereng bukit ini. Manusia yang tinggal bersamaku, Esme, adalah pelayan yang cukup kompeten. Dia menyediakan biskuit ikan premium, menjaga bulu tebal oranyeku tetap lembut, dan yang paling penting, dia tahu posisinya sebagai penyedia bantal bagi kakiku yang mulia. Hidupku sempurna. Aku menghabiskan waktu dengan tidur selama delapan belas jam, menghakimi burung-burung dari balik jendela, dan sesekali memberikan izin kepada Esme untuk mengelus perutku sebagai bentuk kemurahan hati.
Namun, segalanya berubah sejak malam penuh badai itu.
Awalnya, pelayan pribadiku itu membawa pulang sebuah kotak besar berisi... sesuatu. Baunya sangat asing. Bukan bau tumbuhan yang biasa dia bawa, bukan pula bau obat-obatan kimia yang menyengat hidung sensitifku. Baunya seperti hutan tua, tanah basah, dan sesuatu yang sangat purba yang membuat naluri kucingku berkata: "Ocan, cari tempat persembunyian yang tinggi sekarang juga."
Tapi karena aku adalah penguasa rumah ini, aku tidak lari. Aku hanya memicingkan mata dari atas lemari.
Lalu suatu hari, "sesuatu" itu bangun.
Dia adalah manusia, tapi ukurannya sangat tidak masuk akal. Dia raksasa dengan otot-otot yang terlihat seperti kumpulan ular yang berdesakan di bawah kulitnya. Rambutnya berantakan seperti semak belukar, dan matanya... oh, matanya kuning. Aku mengenal mata itu. Itu bukan mata manusia yang bodoh dan lambat, itu mata pemburu.
Pertemuan pertama kami sangat menghina harga diriku. Makhluk yang dipanggil Al itu bangun dan langsung mengeluarkan geraman. Dia menatapku seolah-olah aku adalah camilan sore hari! Bayangkan, aku, Ocan yang berdarah murni, dianggap sebagai daging buruan oleh manusia urakan ini.
"Makan?" gumamnya saat itu.
Aku mendesis keras. Buluku berdiri semua, membuatku terlihat dua kali lebih besar. Esme-pelayanku yang setia-langsung melompat melindungi aku. Tentu saja, dia tahu siapa yang paling berharga di rumah ini. Dia berteriak-teriak soal "istri" dan "menikah". Aku tidak tahu apa itu, mungkin semacam kontrak pelayan baru?
Sejak saat itu, hari-hariku menjadi sangat melelahkan.
Raksasa bernama Al ini mulai menduduki wilayahku. Dia duduk di kursiku, dia menghabiskan oksigen di ruang tengahku, dan dia terus menatapku dengan tatapan bingung. Dia sering kali bertingkah bodoh. Suatu hari, aku melihatnya mencoba meminum air dari vas bunga. Aku mengeong mengejeknya, "Bodoh sekali kamu, Manusia Raksasa. Itu tempat cuci muka, bukan tempat minum."(Author said _lah sama aja caann!!😭🤌)
Tapi dia tidak mengerti bahasaku. Dia hanya menatapku balik dengan wajah polos yang membuatku ingin sekali mencakar hidungnya.
Lalu ada fase di mana dia mulai "belajar". Esme memotong rambutnya, dan tiba-tiba dia berubah menjadi manusia yang lebih rapi, tapi tetap saja, dia raksasa yang berbahaya. Aku memperhatikannya setiap hari. Dia belajar cara duduk, cara memegang benda kecil, dan yang paling menggelikan, dia belajar cara mencuci baju.
Aku tertawa di dalam hati (karena kucing tidak tertawa secara fisik) saat melihatnya berdiri di halaman belakang dengan busa sabun di kepalanya. Dia terlihat seperti badut besar. Esme tertawa bersamanya, dan entah kenapa, pelayanku itu terlihat jauh lebih bahagia dan hidup daripada saat dia hanya meneliti botol-botol biru itu sendirian. Sebagai penguasa rumah, aku memutuskan untuk mengawasi mereka berdua dari atas sofa.
Namun, ada satu hal yang membuatku sangat kesal: Persaingan Perhatian.
Esme adalah milikku. Titik. Tapi Al ini, dengan tubuh besarnya yang canggung, selalu mencoba mencuri waktu elusanku. Dia sering bertanya pada Esme dengan suara berat yang konyol, "Moa, kenapa kau mengelus kucing itu? Aku juga ingin."
"Hih, cari muka sekali kau, Raksasa!" batin duniaku saat itu.
Puncak persaingan kami terjadi ketika Al membawa pulang hadiah untuk Esme. Dia membawa anak babi hutan yang bau dan berisik! Benar-benar tidak punya selera. Babi itu mendengkur dan membuat rumahku kotor. Beruntung Esme punya akal sehat untuk membuang makhluk bau itu kembali ke hutan. Tapi kemudian, Al membelikan Esme pita merah.
Aku melihat cara Esme tersenyum. Itu senyum yang berbeda. Bukan senyum lelah, tapi senyum yang... hangat.
Saat malam tiba, aku memutuskan untuk memberikan sedikit pelajaran pada Al. Saat dia sedang duduk bersila di depan perapian, aku berjalan dengan sangat anggun melewati kakinya. Aku memastikan ekor tebal dan indahku mengibas tepat di wajahnya yang sedang melamun. Aku ingin dia tahu bahwa meskipun dia punya otot sekeras batu, akulah yang memegang kendali atas emosi Esme.
"Hei! Kucing nakal!" geramnya pelan.
Aku tidak peduli. Aku melompat ke meja makan, duduk dengan tegak, dan memberikan tatapan paling menghakimi yang bisa diberikan seekor kucing ras. Aku melihat Al mulai mencoba berinteraksi denganku. Dia mencoba menggeram pelan, seolah ingin bicara dengan bahasaku.
"Meow-grrr?" katanya.
Aku hanya bisa memutar bola mataku. "Pelafalanmu buruk sekali, Al. Kau terdengar seperti mesin cuci rusak."
Tapi ada satu malam, saat Esme sedang sakit. Aku melihat sisi lain dari si Raksasa Lavender ini. Dia tidak tidur. Dia duduk di depan pintu kamar Esme sepanjang malam, matanya yang kuning tidak pernah terpejam, menjaga agar tidak ada satu lalat pun yang mengganggu istirahat pelayanku. Dia terlihat sangat sedih, sangat rapuh di balik tubuh besarnya.
Aku berjalan mendekat, lalu dengan sangat enggan, aku menggosokkan tubuhku ke lengannya yang dingin. Itu adalah tanda gencatan senjata dariku. Al tampak terkejut, dia menyentuh buluku dengan ujung jarinya yang besar dengan sangat, sangat lembut. Dia takut menyakitiku.
"Terima kasih, Kucing Oranye," bisiknya. "Jaga Moa bersamaku, ya?"
Baiklah, aku setuju. Untuk saat ini, dia boleh tinggal. Dia adalah pelayan kedua yang cukup berguna untuk menjaga keamanan rumah dari gangguan manusia-manusia desa yang berisik seperti Paman Silas yang sering datang membawa telur bau itu.
Sekarang, hidupku punya dinamika baru. Aku harus berbagi Esme dengan raksasa lugu yang mengira dirinya adalah suami. Al sering bertanya hal-hal bodoh padaku saat Esme tidak ada, seperti "Ocan, apakah baju ini membuatku terlihat seperti kepala rumah tangga?". Aku hanya menjawab dengan satu eongan singkat, yang artinya: "Kau terlihat seperti manusia yang butuh banyak biskuit ikan untuk bisa menyamaiku."
Begitulah sudut pandang dariku, penguasa sejati pondok ini. Invasi raksasa ini mungkin awalnya mengganggu, tapi setidaknya sekarang rumah ini selalu penuh dengan aroma lavender, suara tawa yang berisik, dan tentu saja... porsi makan ekstra yang terkadang "tidak sengaja" dijatuhkan Al dari meja makan untukku.
Kami adalah tim yang aneh: Seorang peneliti yang penuh bohong, seorang predator yang lupa jati diri, dan seekor kucing oranye yang tahu segalanya tapi terlalu malas untuk bicara.
---