Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Prajurit segera menyiapkan kereta kuda kerajaan di depan pondok air terjun tersebut. Atas perintah tegas Long Wei,
Yang Chi dan Yang Nan dimasukkan ke dalam kereta yang sama, sementara Long Wei duduk di antara mereka untuk mengawasi setiap gerak-gerik sang mantan permaisuri yang kini menjadi tawanan.
Kuda hitam milik Long Wei sendiri dibawa oleh salah seorang prajurit kepercayaannya, mengikuti di belakang iring-iringan kereta yang mulai bergerak meninggalkan Lembah Kabut menuju istana utama pada hari ini.
Suasana di dalam kereta terasa sangat mencekam dan penuh tekanan. Yang Nan duduk di sudut dengan tangan yang masih terborgol, matanya yang sembab menatap tajam ke arah Yang Chi dengan kebencian yang murni. Sementara itu, Yang Chi berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata, ia lebih memilih merapat ke sisi Long Wei.
"Kenapa kau diam saja, Xiao Xi?" desis Yang Nan dengan nada meremehkan. "Kau merasa menang karena sekarang kau duduk di samping Kaisarku?"
Yang Chi menelan ludah, ia merasa sangat canggung berada di tengah-tengah pasangan yang sedang dalam konflik rumah tangga tingkat tinggi ini. "Aku tidak merasa menang, Yang Nan. Aku hanya bersyukur kebenaran akhirnya terungkap."
Long Wei yang duduk tegak dengan tangan tetap memegang hulu pedangnya, menoleh ke arah Yang Nan dengan tatapan dingin yang mematikan. "Diamlah, Yang Nan. Setiap kata yang keluar dari mulutmu hanya akan menambah berat hukumanmu di istana nanti."
Yang Nan tertawa sinis, air matanya menetes lagi. "Hukuman? Kau pikir rakyat akan diam saja melihatmu mengurungku dan memelihara wanita pembunuh ini di sampingmu? Kau sedang menghancurkan negaramu sendiri, Long Wei!"
Long Wei tidak membalas lagi. Ia justru beralih menatap Yang Chi. Melihat kegelisahan di wajah gadis itu, Long Wei secara tidak terduga meraih tangan Yang Chi dan menggenggamnya erat di depan mata Yang Nan.
"Tuan..." bisik Yang Chi, wajahnya memerah karena malu sekaligus kaget.
"Jangan dengarkan dia. Fokus saja pada perjalanan pulang," ucap Long Wei tenang.
Yang Chi hanya bisa mengangguk pasrah, sambil dalam hati merutuki plot novelnya yang kini benar-benar menjadi sangat berantakan dan emosional. Ia melirik keluar jendela kereta, berharap perjalanan menuju istana segera berakhir sebelum ia mati karena rasa canggung yang luar biasa
Saat iring-iringan kereta kuda itu melaju melintasi jalanan hutan yang tidak rata, roda kereta tiba-tiba menghantam sebuah
batu besar yang tersembunyi di balik dedaunan.
BRAKK!
Guncangan keras itu membuat seluruh isi kereta terlempar. Yang Chi yang sedang melamun tidak sempat berpegangan pada pinggiran kursi. Tubuhnya terpental ke depan dan langsung jatuh tepat ke atas tubuh Long Wei.
Hup!
Dengan sigap, Long Wei segera melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Yang Chi, memeluknya erat agar gadis itu tidak menghantam lantai kereta yang keras. Wajah Yang Chi terbenam di dada bidang Long Wei, menghirup aroma maskulin yang kini terasa sangat akrab baginya.
Suasana di dalam kereta mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara derap kaki kuda di luar. Yang Chi membeku, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia bisa merasakan pelukan Long Wei yang posesif dan hangat.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Long Wei tepat di atas kepala Yang Chi, suaranya terdengar berat dan penuh perhatian.
Yang Chi mendongak sedikit, wajahnya sudah semerah tomat. "I-iya, Tuan. Terima kasih... Maaf, saya tidak sengaja menubruk Tuan."
Yang Nan yang melihat pemandangan itu dari sudut kereta mendengus jijik. Rantai di tangannya bergemerincing saat ia mencoba membuang muka. "Menjijikkan. Benar-benar tidak tahu malu," cibirnya ketus.
Long Wei tidak memedulikan hinaan Yang Nan.
"Tetaplah seperti ini sampai jalanan menjadi lebih rata," perintah Long Wei tegas, meski sebenarnya itu hanyalah alasannya agar bisa tetap.
Yang Chi hanya bisa pasrah dan kembali menyembunyikan wajahnya yang panas.
Genggaman tangan Long Wei di pinggang Yang Chi semakin mengencang, seolah ia tidak ingin memberikan ruang sedikit pun bagi gadis itu untuk menjauh. Long Wei terus memeluk Yang Chi dengan posesif sepanjang sisa perjalanan, mengabaikan guncangan kereta yang sesekali masih terasa.
Yang Nan yang duduk di hadapan mereka hanya bisa mengepalkan tangannya yang terborgol hingga kukunya memutih. Matanya berkilat penuh kebencian saat menatap kemesraan yang menurutnya sangat memuakkan itu.
Awas saja kau, Xiao Xi! batin Yang Nan penuh dendam. Kau pikir kau sudah menang? Aku akan memastikan kau membusuk di dasar jurang yang paling dalam sebelum kau bisa benar-benar menyentuh tahtaku.
Iring-iringan kereta akhirnya memasuki gerbang utama istana yang megah pada sore hari di bulan Januari 2026 ini. Suasana di halaman istana sudah sangat ramai. Ibu Suri berdiri di barisan depan dengan wajah tegang, didampingi oleh barisan para pejabat dan menteri yang tampak berbisik-bisik penuh tanya.
Begitu kereta berhenti sempurna, seorang prajurit membukakan pintu. Long Wei keluar lebih dulu, lalu tanpa ragu, ia kembali meraih tubuh Yang Chi dan membantunya turun dengan sangat hati-hati, seolah-olah Yang Chi adalah permata yang sangat rapuh.
Seluruh pejabat yang hadir langsung terdiam kaku. Namun, keterkejutan mereka berubah menjadi teriakan tertahan dan bisikan riuh saat prajurit berikutnya menyeret Yang Nan keluar dari kereta dengan tangan terborgol.
"Permaisuri?!" teriak salah seorang pejabat tua. "Bagaimana mungkin... Permaisuri Yang Nan masih hidup?"
Ibu Suri melangkah maju dengan wajah pucat pasi. "Long Wei! Apa maksud semua ini? Kenapa Yang Nan terbelenggu seperti penjahat, sementara wanita pembunuh itu kau perlakukan seperti ratu?!"
Long Wei berdiri tegak di samping Yang Chi, memegang tangan gadis itu dengan erat di depan semua orang.
"Ibu, dan para pejabat sekalian," suara Long Wei menggelegar penuh wibawa. "Inilah kebenaran yang selama ini disembunyikan. Yang Nan memalsukan kematiannya untuk berkhianat, sementara Xiao Xi Huwan adalah orang yang difitnah. Mulai hari ini, keadilan akan ditegakkan."
Yang Chi hanya bisa menelan ludah, ia merasa ribuan pasang mata menatapnya dengan berbagai emosi. Ya Tuhan, plotnya benar-benar sudah sampai di titik ini. Sekarang nasibku benar-benar di tangan kaisar galak ini, batin Yang Chi dengan perasaan campur aduk.