Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balik Arah
Rizky mendekat ke arah gue, auranya sangat mengintimidasi. "Gue bisa aja laporin manipulasi audit lo ke otoritas Singapura sekarang, dan lo bakal dipenjara. Tapi gue kasih pilihan... Tinggalin Gavin yang udah gembel ini, ikut gue, dan bantu gue jalanin G-Corp. Atau... lo hancur bareng dia."
Gavin, yang tadinya tertunduk lesu, tiba-tiba berdiri di depan gue. Dia nggak punya harta lagi, nggak punya jabatan, bahkan jasnya sudah kelihatan lusuh. Tapi tatapannya ke Rizky sangat berani.
"Ambil perusahaannya, Ky. Ambil semuanya. Rumah gue, mobil gue, saham gue... bawa semua," suara Gavin bergetar tapi mantap. Dia menggenggam tangan gue erat-erat—bukan genggaman posesif kayak dulu, tapi genggaman orang yang takut kehilangan dunianya.
"Tapi jangan pernah lo sentuh Odelyn," lanjut Gavin. "Gue yang salah dari awal. Gue yang mulai semua drama ini 2 tahun lalu. Kalau ada yang harus dipenjara karena manipulasi itu, biar gue yang ngaku kalau gue yang maksa dia ngelakuinnya. Jangan bawa-bawa dia."
Gue terdiam. Shock. Gavin yang sombong, yang dulu cuma peduli sama egonya, sekarang bersedia pasang badan buat masuk penjara demi gue—cewek yang sebenernya lagi berusaha ngancurin dia.
Rizky tertawa sinis. "Cinta monyet yang mengharukan. Oke, Vin. Kita liat seberapa lama 'cinta' lo bisa kasih makan kalian di jalanan Singapura."
Satu jam kemudian, kami berdua berdiri di trotoar luar gedung, terusir. Gavin cuma bawa satu tas ransel berisi barang pribadinya. Dia menatap gue dengan tatapan sedih tapi tulus.
"Lyn... maafin gue ya. Gue gagal jagain perusahaan, dan gue malah bikin lo terseret masalah Rizky," ucapnya lirih. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sisa uang tunai yang dia punya.
"Ini nggak banyak, tapi cukup buat lo beli tiket balik ke Indonesia atau bertahan di hostel sementara. Lo harus pergi sebelum Rizky berubah pikiran soal laporin lo."
Gue menatap uang di tangannya, lalu menatap wajahnya yang hancur. Untuk pertama kalinya dalam rencana balas dendam ini, gue ngerasa ada sesuatu yang retak di hati gue.
Gue udah berhasil bikin dia kehilangan segalanya... tapi kenapa dia malah berusaha kasih gue "segalanya" yang dia punya sekarang?
"Gavin... lo nggak punya apa-apa lagi. Kenapa lo masih peduli sama gue?" tanya gue pelan.
Gavin tersenyum pahit.
"Karena dari dulu, lo satu-satunya hal nyata yang gue punya, Lyn. Gue telat sadarnya, dan sekarang gue baru dapet balesannya. Pergi ya, Lyn. Selamatkan diri lo."
Gavin masih berdiri di trotoar dengan wajah pasrah, siap buat hidup susah demi lo. Tapi gue? Gue justru ngeluarin sebuah tablet tipis dari tas gue dan duduk dengan tenang di bangku taman, seolah nggak terjadi apa-apa.
"Simpen uang lo, Vin," ucap gue datar sambil jemari gue menari di atas layar.
Gavin bingung.
"Lyn, kita harus pergi—"
"Duduk, Gavin," perintah gue. Suara gue penuh otoritas. Gavin akhirnya duduk, masih nggak ngerti.
"Lo pikir gue sebodoh itu biarin Rizky ambil semuanya? Pas gue ambil HP lo semalem, gue bukan cuma mindahin data keuangan. Gue ngelakuin transfer of ownership aset-aset bayangan G-Corp yang nggak tercatat di hutang bank ke sebuah perusahaan cangkang di Cayman Islands. Namanya Odelyn Global Corp."
Mata Gavin melotot. "Maksud lo...?"
"Maksud gue, Rizky cuma dapet gedung kosong, hutang yang menumpuk, dan masalah hukum yang udah gue set-up buat meledak di tangannya. Sedangkan sisa aset cair, paten teknologi, dan kontrak eksklusif vendor? Semuanya udah ada di tangan gue. Secara teknis, Vin... lo sekarang kerja buat gue."
Gue menoleh ke arah gedung G-Corp yang baru saja dikuasai Rizky. Gue bisa bayangin di atas sana, Rizky lagi buka berkas-berkas yang sebenernya adalah jebakan audit yang bakal bikin dia berurusan sama Internal Revenue Authority of Singapore (IRAS) dalam 24 jam ke depan.
Gue genggam tangan Gavin yang kasar.
"Vin, lo bilang lo mau lakuin apa aja buat gue, kan? Sekarang gue kasih lo kesempatan. Kita nggak bakal balik ke Indonesia sebagai pecundang. Kita bakal bangun kerajaan baru dari sini."
Gavin menatap gue, perlahan sebuah senyuman—senyum yang dulu sombong, sekarang berubah jadi kekaguman yang luar biasa—muncul di wajahnya.
"Lo bener-bener gila, Odelyn. Gue pikir gue udah cukup pinter, tapi lo... lo ada di dimensi lain."
"Jangan puji gue dulu. Kerja keras baru dimulai," ucap gue sambil berdiri.
"Sekarang, beresin muka lo. Kita punya janji temu sama investor dari Swiss sore ini. Dan kali ini, lo bakal jadi CEO yang sesungguhnya, bukan sekadar pewaris manja yang lo banggain dulu."
Gavin berdiri tegak, merapikan kemejanya yang kusut. Auranya berubah. Dia nggak lagi kelihatan kayak orang kalah. "Siap, Bos. Jadi, apa perintah pertama?"
Sebelum kita pergi, gue ngirim satu pesan terakhir ke Rizky yang pasti lagi bingung kenapa semua sistem komputernya mendadak lockdown.
Odelyn: "Halo, Rizky. Selamat atas gedung barunya. Semoga lo suka hadiah perpisahan gue di folder 'Audit 2026'. Di situ ada bukti kalau Archipelago Capital pake dana ilegal buat akuisisi G-Corp. Polisi bakal sampe di kantor lo dalam 15 menit. Oh, satu lagi... Olyn yang lo kenal udah mati di podium debat dulu. Yang lo hadapi sekarang adalah pemilik masa depan lo. Bye, Kak."
Gue mematikan HP, membuang kartu SIM-nya ke sungai, dan melangkah pergi bareng Gavin menuju mobil jemputan baru kita.