"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kado Pahit di Hari Bahagia
BAB 1: Kado Pahit di Hari Bahagia
Aroma kopi yang biasanya menjadi candu bagi Arini, pagi ini terasa seperti racun yang mengaduk-aduk isi perutnya. Ia duduk di sudut paling remang di sebuah kafe bergaya urban yang cukup ramai. Di depannya, sebuah cangkir latte yang sudah dingin sama sekali tidak disentuh. Fokus matanya bukan pada hiruk-pikuk orang di sekitarnya, melainkan pada selembar kertas putih dengan kop surat sebuah rumah sakit ternama yang tergeletak di atas pangkuannya.
Jemarinya yang pucat meremas pinggiran kertas itu hingga lecek. Matanya yang sembab kembali membaca baris demi baris kata medis yang terasa seperti vonis mati.
Adenocarcinoma. Stadium akhir.
Dunia seolah runtuh menimpa pundaknya saat itu juga. Arini merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya sesak, kepalanya berdenyut hebat—rasa pusing yang bukan hanya karena fisik, tapi karena beban mental yang luar biasa. Bagaimana mungkin di usianya yang baru menginjak dua puluh empat tahun, saat ia sedang merancang mimpi-mimpi besar, Tuhan justru memberinya titik akhir yang begitu cepat?
Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia ingin menangis keras, namun ia sadar bahwa air mata tidak akan mampu menghapus sel-sel mematikan yang kini sedang berpesta di dalam tubuhnya.
"Arini!"
Suara bariton yang penuh energi itu memecah keheningan batinnya. Arini tersentak. Dengan gerakan secepat kilat, ia melipat kertas itu menjadi bagian kecil dan memasukkannya ke dalam tas, lalu menutup ritsletingnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menarik napas panjang, berusaha menata raut wajahnya agar terlihat normal, meskipun ia tahu matanya tidak bisa berbohong.
Rangga datang dengan langkah tegap. Laki-laki itu mengenakan kemeja biru muda yang disingsingkan hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang pernah Arini hadiahkan tahun lalu. Senyumnya begitu lebar, memancarkan aura kebahagiaan yang sangat kontras dengan mendung di hati Arini.
"Maaf ya lama, tadi macet banget di jalan. Kamu sudah pesan makan?" tanya Rangga seraya duduk di depan Arini. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Arini dan menggenggamnya erat. "Dingin banget tangan kamu, Rin. Kamu kurang sehat?"
Arini memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang hanya sampai di bibir, tidak di mata. "Cuma kurang tidur saja, Ga. Ada apa? Sepertinya kamu senang sekali hari ini."
Rangga tertawa kecil, matanya berbinar-binar. "Senang? Ini lebih dari sekadar senang, Rin. Proyek besar yang aku tangani di kantor akhirnya tembus! Bos sangat puas, dan tadi pagi aku baru saja dipanggil ke ruangannya. Aku dipromosikan jadi manajer pemasaran bulan depan!"
Rangga terus bercerita tentang rencana-rencana besarnya. Tentang bonus yang akan ia terima, tentang cicilan rumah yang akan segera ia lunasi, dan tentang masa depan mereka yang ia bayangkan akan sangat indah. Arini mendengarkan dengan hati yang tersayat. Setiap kata "kita" yang diucapkan Rangga terasa seperti belati yang menusuk jantungnya.
Bagaimana bisa ada 'kita' jika salah satu dari kita akan segera tiada? batin Arini menjerit.
"Dan ada satu lagi," Rangga tiba-tiba merendahkan suaranya. Ia merogoh saku jaketnya dengan gerakan yang sedikit canggung dan gugup. Sebuah kotak beludru merah kecil diletakkan di atas meja, tepat di depan Arini.
Jantung Arini seolah berhenti berdetak. Ia tahu apa isinya.
Rangga membuka kotak itu. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya berkilau indah terkena pantulan lampu kafe. "Aku nggak mau nunggu sampai aku jadi direktur atau orang kaya raya dulu. Aku mau kamu ada di sampingku, mulai dari titik ini sampai nanti rambut kita memutih sama-sama. Arini... maukah kamu menikah denganku?"
Hening menyergap. Suara denting sendok dan tawa pengunjung kafe lain seolah menjadi latar belakang yang jauh. Arini menatap cincin itu dengan tatapan kosong. Itu adalah benda yang sangat ia impikan selama tiga tahun hubungan mereka. Namun sekarang, cincin itu terasa seperti beban yang sangat berat.
Arini merasakan denyutan di kepalanya makin menjadi. Pusing yang luar biasa membuatnya ingin pingsan saat itu juga. Ia menatap wajah Rangga—laki-laki tulus yang selalu ada saat ia sedih, laki-laki yang bekerja keras demi masa depan mereka. Jika ia menerima cincin ini, itu artinya ia egois. Ia akan membiarkan Rangga terikat pada seseorang yang tidak punya masa depan. Ia akan membiarkan Rangga menjadi duda di usia muda.
Tidak. Arini tidak bisa melakukan itu pada orang yang paling ia cintai.
"Simpan cincin itu, Rangga," ujar Arini, suaranya terdengar datar dan dingin, jauh berbeda dari biasanya.
Senyum Rangga perlahan luntur. "Rin? Maksudnya? Kamu... kaget ya? Maaf kalau terlalu mendadak, tapi aku—"
"Aku nggak bisa," potong Arini cepat. Ia menarik tangannya dari genggaman Rangga. "Aku nggak bisa menikah sama kamu. Bukan sekarang, dan nggak akan pernah."
Rangga tertegun. Ia tertawa garing, mencoba menganggap ini hanya candaan. "Lucu banget, Rin. Kamu lagi balas dendam ya karena aku sering telat jemput?"
"Aku nggak bercanda, Rangga!" Arini sedikit meninggikan suaranya, membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh. "Aku mau kita putus. Hari ini. Detik ini juga."
Wajah Rangga memucat. Ia menyimpan kotak cincin itu dengan tangan yang mulai bergetar. "Kenapa, Rin? Kasih aku alasan yang masuk akal. Kita nggak pernah ada masalah besar. Minggu lalu kita masih baik-baik saja."
"Masalahnya ada di aku!" Arini berdiri, ia merasa harus segera pergi sebelum pertahanannya runtuh. "Aku capek, Rangga. Aku bosan sama hidup yang begini-begini saja. Aku mau mencari suasana baru, orang baru. Kamu terlalu membosankan dengan semua rencana masa depanmu yang kaku itu."
"Aku melakukan semua ini buat kamu, Arini!" suara Rangga naik satu oktav, penuh luka dan ketidakpercayaan..
"Aku nggak pernah minta!" balas Arini kejam. Ia meremas tasnya, di mana kertas vonis dokter itu tersimpan. "Berhenti memperjuangkan aku, Rangga. Berhenti bersikap seolah kamu bisa membahagiakan aku. Karena faktanya, aku nggak bahagia sama kamu!"
Arini berbalik dan melangkah pergi dengan cepat. Ia tidak menoleh sedikit pun, meskipun ia mendengar Rangga memanggil namanya berkali-kali. Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat, seolah kakinya terbuat dari timah.
Begitu keluar dari kafe dan sampai di tempat parkir yang sepi, Arini luruh ke lantai. Ia bersandar pada dinding semen yang dingin, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak terdengar. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya jauh lebih menyiksa daripada kanker yang ada di tubuhnya.
"Maafkan aku, Rangga... maafkan aku..." rintihnya di sela tangis yang pecah.
Ia harus membuat Rangga membencinya. Ia harus membuat laki-laki itu menjauh. Karena bagi Arini, lebih baik Rangga sakit hati karena diputuskan, daripada harus hancur melihatnya perlahan-lahan habis dimakan penyakit. Arini memilih menjadi orang jahat demi menjaga sisa kebahagiaan laki-laki yang sangat ia cintai itu.
Di dalam kafe, Rangga masih terduduk mematung. Ia menatap meja kosong di depannya. Cincin di tangannya terasa begitu dingin. Ia tidak tahu bahwa di balik dinding kafe itu, wanita yang baru saja mengusirnya sedang hancur berkeping-keping karena terlalu mencintainya.