NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08. Adanya Pengintai

Rupanya orang yang sedang mereka bicarakan, saat ini sedang mencari keberadaan Ivory. Setelah bertanya pada salah satu rekannya, amarah Elena seketika mencuat.

Sepertinya itu malah membuat Elena menjadi salah paham. Ia mengira bahwa Ivory telah mengabaikan peringatannya untuk menjauh dari bos mereka.

Di lorong sempit menuju pantry, langkah Ivory terhenti ketika ia melihat kakaknya berdiri di depan pintu lift, seolah sengaja menunggunya.

“Bukankah sudah aku katakan agar kau jangan terlalu sering berada di dekatnya,” ujar sang kakak, Elenna, tanpa basa-basi. Suaranya rendah, tapi tegang seperti nada yang jarang ia gunakan.

Ivory mengernyit lelah. “Aku juga tidak ingin pergi menemuinya, Kak?” menghela napas lelah, mencoba menjelaskan. “Lihatlah semua berkas ini?”

“Mereka yang menyuruhku untuk mengantarkan semua berkas ini padanya. Lalu aku harus apa, selain pasrah dan mengerjakan yang mereka minta.” Lanjutnya.

Seperti sudah ditakdirkan, disaat Elena menyuruh Ivory untuk menjauh Ragnar. Semesta malah seolah membantu Ragnar dan Ivory untuk segera bersatu. Melalui para karyawan di sana, Ivory akhirnya dipaksa membawa berkas yang seharusnya bukan tugas miliknya.

Elena memalingkan wajah, ikut menghela napas. Ada sesuatu di matanya yang jelas bukan cemburu, bukan juga amarah. Lebih mirip ketakutan yang disembunyikan dengan paksa. Seperti senyuman yang ia berikan saat ini.

“Pokoknya kau harus dengarkan aku. Jaga jarak dengannya apapun yang terjadi.”

Itulah yang membuat dada Ivory terasa sesak. Jika hanya soal profesionalisme, Elena pasti akan menjelaskannya dengan lugas. Namun kali ini, kakaknya seperti menahan kata-kata yang ingin keluar, lalu menguncinya rapat-rapat. Jawaban dari semua rasa penasarannya, sepertinya akan terus tersimpan dengan baik dibenaknya.

“Baiklah, Kak!” pasrah Ivory. Untuk saat ini. Ia menghela napas dan mengangguk pelan. “Aku akan mencari cara untuk menjauhinya,” katanya akhirnya, meski rasa penasaran masih menggerogoti.

Elena menatapnya sekilas tatapan penuh rasa bersalah, sebelum pintu lift tertutup dan membawa kakaknya pergi.

...****************...

Di lantai tertinggi gedung itu, jauh dari keramaian karyawan, Ragnar berdiri di balik jendela kaca besar. Kota terhampar di bawahnya seperti lautan cahaya. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan ketenangan yang terlalu sempurna bagi seorang manusia.

“Kau sudah cari tahu segalanya tentang mereka,” ujarnya tanpa menoleh.

Theron membungkuk hormat. “Tentu, Yang Mulia! Semua data tentang mereka sudah berada di dalam berkas ini.”

Theron menyerahkan informasi yang berhasil ia dapatkan dengan bantuan Morgan Olivieri yang dulunya hanya sebagai informan bagi Ragnar, kini telah merangkap menjadi seorang Hacker terbaik.

“Namanya benar Ivory Asteria, dia adalah adik kandung dari Elena Rosalia, ayahnya bernama Hayes William dan ibunya Lizzie Florence. Mereka asli berasal dari bangsa manusia, Yang Mulia.” Theron menjelaskan dengan pelan. “Masa lalu mereka, Keluarga maupun yang lainnya tidak ada hubungan sama sekali dengan mahluk abadi seperti kita.”

“Lalu bagaimana dengan tanda itu?” tanya Ragnar, merasa cukup dengan informasi yang Theron dapatkan kali ini.

“Soal tandanya…” Theron terlihat ragu untuk mengatakannya. “Maaf, Yang Mulia! Jujur saja, saya merasa kesulitan untuk melaksanakan tugas yang satu ini. Sebab hanya bisa memastikannya dengan dua cara yaitu menanyakannya secara langsung atau memaksanya membuka seluruh pakai—”

Brakkk….

“Beraninya kau berpikir hal seperti itu terhadap Ratuku, Theron Nicoletti.” Bentak Ragnar penuh amarah.

“Yang Mulia, tenanglah! Theron hanya menyampaikan apa yang dia pikirkan, bukan langsung melaksanakannya.” Denzel maju untuk menenangkan.

“Benar, Yang Mulia! Karena itulah Theron kembali tanpa hasil yang anda perintahkan.” Dorian ikut membenarkan.

“Ekhmm…” Ragnar berdeham untuk meredam amarahnya, “Benar juga, setidaknya Theron masih berpikiran sampai sana dan tidak langsung mengambil tindakan secara implusif. Jika tadi Theron mengatakan menggunakan cara kedua, mungkin aku akan langsung menghukumnya dengan hukuman berat.”

“Untuk masalah tanda itu, biar aku saja yang memastikannya sendiri. Lagipula aku sudah memiliki rencana yang bagus untuk yang satu ini,” ujar Ragnar menyudahi pembicaraan tersebut.

...****************...

Lampu-lampu kantor satu per satu padam ketika jam menunjukkan lewat dari pukul sembilan malam. Udara dingin menyusup ke sela mantel yang dikenakan Ivory, sementara ia meraih tasnya dan menoleh pada Elena yang sudah menunggunya sejak tadi. Ini adalah hari pertamanya pulang bekerja, setelah sekian lama menganggur akhirnya Ivory bisa merasakan rasanya lelah bekerja.

“Kamu siap?” tanya Elena dengan senyuman manisnya.

Ivory mengangguk sambil menguap kecil. “Kalau tidak pulang sekarang, besok aku bisa ketiduran di meja kerja. Siapa sangka bekerja itu sangat melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan. Kak, sekarang aku memiliki banyak teman baru di sini. Terima kasih sudah membantu beradaptasi dengan yang lainnya di hari pertamaku bekerja.”

“Sama-sama! Tapi ingat pesan Kakak….”

“Tentu, Kak! Jangan dekat-dekat dengan si Bos Gila itu dan sebisa mungkin menghindarinya,” sela Ivory tahu persis apa yang akan kakaknya katakan.

“Tapi tetap saja kau mengabaikannya, bukan?” Elena mengingatkan kejadian pertemuan mereka di depan lift.

“Ayolah, Kak! Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya.” Bibir Ivory melengkung, merengek agar sang kakak berhenti membahas hal itu.

Mereka tertawa singkat. Tawa lelah yang hanya dimiliki orang-orang yang telah menghabiskan seharian di balik layar dan angka. Pintu gedung tertutup di belakang mereka dengan bunyi klik pelan, memutus sisa hiruk-pikuk kantor dan menyisakan sunyi yang terasa terlalu luas.

“Baiklah, tapi kedepannya jangan lagi! Kalau perlu kau tidak usah bekerja seperti sebelumnya,” ujar Elena membuat Ivory semakin cemberut dibuatnya.

“Kak, jangan begitu! Aku suka bekerja seperti Kakak, Papah dan Mamah. Aku tidak ingin mengurung diri di dalam kamar lagi,” bujuknya sambil merengek.

“Kita lihat saja nanti,” balas Elena yang memang sudah berencana ingin menjauhkan Ivory dari sosok Ragnar ataupun yang lainnya.

Jalanan sudah lengang. Aspal memantulkan cahaya lampu kota, basah oleh sisa hujan sore. Sepatu mereka beradu ritmis, langkah yang akrab dan aman. Elena sibuk memeriksa ponselnya, membaca pesan yang belum sempat dibalas, sementara Ivory berceloteh tentang rencana akhir pekan pertamanya setelah resmi bekerja.

Tak satu pun dari mereka menyadari bayangan yang bergerak selangkah demi selangkah di seberang jalan. Seseorang berdiri di balik batang pohon besar yang daunnya rontok, tubuhnya menyatu dengan gelap. Tatapannya mengikuti gerak Elena dan Ivory.

Ketika keduanya menunggu lampu lalu lintas berubah hijau, Ivory menggigil. “Aneh yah, Kak! malam ini terasa lebih dingin atau hanya perasaanku saja karena pertama kali pulang bekerja?”

“Perasaanmu saja,” jawab Elena sambil merapatkan mantel adiknya. Senyum kecil terbit, penuh kehangatan yang tak tahu sedang dipelajari dengan saksama dari kejauhan.

Lampu berubah. Mereka menyeberang. Bayangan itu ikut bergerak perlahan, tanpa suara, selalu menjaga jarak. Setiap langkah dihitung. Setiap jeda dicatat.

Bersambung ….

1
Fahmi Ardiansyah
ku tunggu kelanjutannya kak semangat terus ya
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author.. Semoga sehat selalu.. 🙏🥰
Fahmi Ardiansyah
iya terserah kmu ivori
Desyi Alawiyah
Sangat menarik dan luar biasa.. 😇
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author, makasih udah up.. 🙏
Desyi Alawiyah
Aku juga nurut kamu Ivory, terserah kamu mau melakukan apapun... Yang penting kamu dan Elena baik-baik saja...

Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..

Iya ngga sih... 😩
Desyi Alawiyah
Lanjut lagi dong kak...

Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋

Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Desyi Alawiyah
Oh, begitu ceritanya...

Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Fahmi Ardiansyah
lanjut kak.
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Update lagi dong Kak.. 🤭🙏
Fahmi Ardiansyah
tu ratumu LG marah Ragnar n susah di redamkan.
Desyi Alawiyah
Nggantung lagi ceritanya..

Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔
Desyi Alawiyah
Nah loh Ragnar, reinkarnasi Ratu mu marah tuh... Kamu sih pake bohong segala... 🤭
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
ya tunggu aja bentar LG pulng kok adkmu.tpi jgn kaget entar klu nyampek rumah cemberut n marah.
Fahmi Ardiansyah
ya iyalah seharusnya lukanya yg lebih parah LG n pertahankan agar lukanya gak hilng Ragnar skrg ivory merasa tertipu aku pastikan besok ivory pasti masih kecewa n marah.
Fahmi Ardiansyah
yaelah Ragnar caper bisa2 ivory malah merasa bersalah tu.
Fahmi Ardiansyah
aku senang cerita nya tambah seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!