NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Luka dan Mahkota

Langit senja perlahan berubah menjadi gelap ketika Sasha menarik tangan Gio menjauh dari jendela. Suasana rumah yang tadi terasa seperti medan perang kini berubah menjadi ruang hening yang sarat ketegangan berbeda—bukan lagi ancaman, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih personal.

Gio menatap istrinya tanpa berkedip. Ada luka di bahunya, ada kelelahan di wajahnya, tapi juga ada api yang belum padam di matanya. Api yang hanya menyala ketika ia memandang Sasha.

“Kau yakin ingin memulai malam ini dengan tantangan?” tanya Gio rendah, nadanya setengah menggoda, setengah serius.

Sasha mengangkat dagu. “Aku tidak pernah menantang sesuatu yang tidak bisa aku menangkan.”

Gio tersenyum tipis. “Berbahaya.”

“Untuk siapa?” balas Sasha cepat.

Keheningan tipis menggantung di antara mereka. Bukan canggung, melainkan penuh muatan. Setelah segala pengkhianatan, darah, dan rahasia yang terbongkar, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Mereka tidak lagi berdiri sebagai dua orang yang terikat oleh kesepakatan dan takdir keluarga. Mereka berdiri sebagai dua jiwa yang selamat dari perang yang sama.

Gio mengangkat tangannya yang sehat, menyentuh pipi Sasha perlahan. Jemarinya menyusuri garis rahang, turun ke leher, berhenti tepat di denyut nadi yang berdegup cepat.

“Kau gemetar,” bisiknya.

Sasha tersenyum tipis. “Bukan karena takut.”

“Lalu?”

“Karena untuk pertama kalinya… aku memilihmu tanpa beban masa lalu.”

Kata-kata itu menghantam Gio lebih keras dari peluru mana pun. Ia menarik napas dalam. Selama ini, selalu ada bayangan—ayahnya, kesalahan keluarga Wijaya, rahasia yang menodai hubungan mereka. Tapi malam ini, Sasha berdiri di depannya bukan sebagai pewaris dendam. Ia berdiri sebagai wanita yang memilih.

Gio mendekat, dahinya menyentuh dahi Sasha. “Kalau begitu, izinkan aku memilihmu juga. Bukan karena aku merasa bertanggung jawab. Bukan karena rasa bersalah. Tapi karena sejak awal… hanya kau yang bisa menenangkan pikiranku.”

Sasha tertawa kecil. “Gio Wijaya mengakui sesuatu dengan tulus? Dunia benar-benar berubah.”

“Jangan biasakan aku,” gumamnya sebelum mencium Sasha perlahan.

Ciuman itu tidak tergesa-gesa. Tidak liar. Ia dalam, penuh pengakuan. Seolah setiap detik yang mereka lewati adalah penghapusan luka-luka lama. Tangan Sasha melingkar di leher Gio, berhati-hati pada bahunya yang terluka, tapi tetap tegas dalam kepemilikannya.

Mereka bergerak perlahan menuju kamar, bukan karena nafsu yang memburu, melainkan karena kebutuhan untuk merasa utuh kembali. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota dari jendela besar yang menjadi saksi.

Gio duduk di tepi tempat tidur, menarik Sasha berdiri di antara kedua kakinya. Ia menatap wanita itu dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan, bukan dominasi, bukan strategi, melainkan kerentanan.

“Aku hampir kehilanganmu,” ucapnya lirih.

Sasha menggeleng. “Tidak. Kita hampir kehilangan satu sama lain.”

Ia menyentuh sling di bahu Gio. “Dan kau masih saja ingin terlihat kuat.”

“Aku memang kuat,” jawabnya cepat.

Sasha menaikkan alis. “Buktikan.”

Gio tertawa rendah, lalu menarik Sasha perlahan hingga mereka sama-sama jatuh di atas kasur. Tidak ada terburu-buru. Tidak ada tuntutan. Hanya sentuhan yang saling mencari, memastikan bahwa mereka benar-benar ada di sana—hidup, hangat, bersama.

Malam itu bukan tentang pelarian. Bukan tentang melupakan. Tapi tentang menerima.

Sasha menyandarkan kepalanya di dada Gio, mendengar detak jantungnya yang stabil. “Kita sudah melewati neraka.”

“Dan kau masih di sini,” balas Gio.

“Karena aku tidak mau kalah dari masa lalu.”

Gio mengusap rambut Sasha perlahan. “Kau tidak pernah kalah, Sha. Kau hanya terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Sasha terdiam. Kata-kata itu terasa asing namun menenangkan. Ia terbiasa bertarung sendirian. Terbiasa menjadi dingin. Tapi di pelukan Gio, ia merasa tidak perlu menjadi baja setiap waktu.

Beberapa saat kemudian, kesunyian yang nyaman menyelimuti mereka. Tidak ada lagi ancaman di luar pintu. Tidak ada lagi suara tembakan. Hanya dua orang yang akhirnya mengerti bahwa cinta bukan kelemahan—ia adalah pilihan yang harus diperjuangkan.

Namun Sasha bukan Sasha jika pikirannya sepenuhnya tenang.

“Ada satu hal lagi,” ucapnya pelan.

Gio menghela napas. “Aku tahu. Selalu ada satu hal lagi denganmu.”

Sasha tersenyum tipis. “Pratama-Wijaya Foundation bukan sekadar simbol. Aku benar-benar akan mengaudit semuanya. Termasuk aset yang tersisa atas namamu.”

Gio tidak terlihat tersinggung. “Lakukan.”

“Kau tidak keberatan?”

“Aku sudah bilang. Jika ini caramu membangun dunia baru, aku akan berdiri di belakangmu. Atau di sampingmu. Mana yang kau mau.”

Sasha mengangkat tubuhnya sedikit, menatap Gio dalam gelap yang lembut. “Di sampingku. Aku tidak butuh bayangan. Aku butuh partner.”

Gio menyentuh pipinya lagi. “Maka berhentilah melihatku sebagai warisan dosa ayahku.”

Sasha terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Baik. Tapi kau juga harus berhenti melihatku sebagai seseorang yang harus kau selamatkan.”

Gio tersenyum. “Sulit. Itu sudah jadi kebiasaanku.”

“Kebiasaan bisa diubah.”

“Tidak semua.”

Hening kembali turun, namun kali ini bukan hening berat. Melainkan penuh kemungkinan.

Di luar, kota Jakarta tetap berdenyut dengan hiruk-pikuknya. Media masih memutar berita tentang penangkapan Dimas. Saham Wijaya Group mungkin akan berfluktuasi esok pagi. Dewan komisaris mungkin merancang langkah-langkah baru. Tapi di kamar itu, kekuasaan bukan lagi soal angka dan strategi.

Ia tentang kepercayaan.

Sasha menelusuri garis dada Gio dengan ujung jarinya. “Kita akan jadi musuh bagi banyak orang setelah ini.”

“Kita memang sudah jadi musuh,” jawab Gio tenang. “Bedanya, sekarang kita tahu siapa kita sebenarnya.”

“Dan siapa kita?” tanya Sasha.

Gio menatapnya lama sebelum menjawab. “Dua orang keras kepala yang tidak mau kalah. Dan entah bagaimana… saling jatuh cinta di tengah kekacauan.”

Sasha tertawa kecil, suara yang jarang ia keluarkan dengan bebas. “Romantis sekali.”

“Aku bisa lebih romantis kalau kau mau.”

“Jangan berlebihan.”

Mereka kembali terdiam, menikmati kehangatan yang tidak perlu dibuktikan dengan kata-kata lagi.

Beberapa jam kemudian, ketika malam semakin larut dan lampu kota mulai berkurang, Sasha bangkit sedikit, menyandarkan tubuhnya pada siku.

“Gio.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku berubah. Kalau kekuasaan ini membuatku dingin lagi. Apa yang akan kau lakukan?”

Gio membuka mata, menatapnya tanpa ragu. “Aku akan mengingatkanmu siapa dirimu sebenarnya.”

“Dan kalau aku tidak mau mendengar?”

“Kalau begitu aku akan tetap di sana. Sampai kau sadar sendiri.”

Sasha memandangnya lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan. Tidak ada. Hanya keteguhan yang sama seperti saat ia berdiri melindunginya dari peluru.

Ia tersenyum pelan.

“Aku tidak butuh raja,” ulang Sasha lembut.

Gio mengangkat alisnya lagi, seperti sebelumnya. “Kau sudah bilang itu.”

“Tapi mungkin… aku butuh suami yang cukup gila untuk tetap mencintaiku bahkan saat aku menjadi versi terburuk diriku.”

Gio menariknya kembali ke dalam pelukan.

“Sha,” ucapnya pelan namun tegas, menatap langsung ke matanya. “Aku tidak mencintaimu karena kau sempurna. Aku mencintaimu karena kau memilih untuk tetap berdiri ketika dunia mencoba menjatuhkanmu. Jadi apa pun yang terjadi nanti… jangan pernah ragukan satu hal.”

Sasha memiringkan kepala sedikit. “Apa itu?”

Gio tersenyum tipis, suara rendahnya mengisi ruang gelap di antara mereka.

“Aku bukan lagi pelindungmu karena kewajiban. Aku di sini karena aku ingin. Dan selama kau masih memegang tanganku seperti ini… tidak ada mahkota, tidak ada darah, tidak ada masa lalu yang bisa memisahkan kita. Jadi sekarang jawab aku, Sasha Pratama—”

Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang membuat napas Sasha tertahan.

“Apakah kau siap membangun kerajaan baru bersamaku… bukan sebagai ratu dan raja, tapi sebagai dua orang yang memilih untuk saling mencintai setiap hari?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!