NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 Pilihan di Balik Garis Waktu

Debu konstruksi dan percikan api dari pintu baja yang hancur memenuhi ruangan steril markas DAT. Saka berdiri di antara dua kutub kekuatan: di belakangnya, Direktur Vena dan pasukan agen bersenjata canggih; di depannya, Luna Masa Depan yang berdiri dengan aura kekuasaan yang mengintimidasi. Busur panahnya yang terbuat dari jalinan gravitasi gelap berdenyut, siap melepaskan anak panah yang mampu merobek ruang.

"Saka, menyingkir dari mereka!" teriak Luna Masa Depan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti teman sekolah, melainkan seperti panglima perang yang telah melihat dunianya terbakar. "Organisasi ini tidak melindungimu. Mereka hanya ingin memanen energi perak di darahmu untuk membuat senjata pemusnah massal!"

Direktur Vena tetap tenang, meskipun tangannya memberi kode kepada para penembak jitu di balkon. "Jangan dengarkan dia, Saka. Gadis itu berasal dari garis waktu yang sudah 'mati'. Dia adalah anomali yang seharusnya tidak ada. Jika kamu mengikutinya, kamu akan terhapus dari realitas ini selamanya. Anita, ibumu, ayahmu... mereka semua akan kehilanganmu tanpa sisa."

Saka merasa kepalanya ingin pecah. Di satu sisi, ia melihat kebenaran dalam mata Luna—mata yang telah melihat kehancuran. Di sisi lain, ancaman Vena tentang kehilangan keluarganya adalah ketakutan terbesarnya.

"Luna... apa yang sebenarnya terjadi besok pagi?" tanya Saka, suaranya parau di tengah bising alarm.

"Besok pagi, pukul 08.00 WIB, The Architect akan melakukan Format Ulang pada wilayah Asia Tenggara karena anomali yang kau timbulkan terlalu besar," jawab Luna Masa Depan dengan cepat. "Kota ini akan dihapus dari sejarah, Saka! Satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan menggunakan Tinta Keabadianmu untuk menyegel Core di pusat dimensi. Tapi aku butuh kamu di masa depan, di titik di mana pertahanan mereka paling lemah!"

Tiba-tiba, sebuah suara ledakan lain terdengar, namun bukan dari arah pintu. Anita muncul dari lorong evakuasi, dipandu oleh insting aneh yang ia dapatkan sejak menyerap energi Alexandria. Matanya bersinar perak sesaat.

"Saka, jangan percaya pada keduanya!" teriak Anita. "Aku bisa 'melihat' mereka! Keduanya berbohong!"

Semua orang di ruangan itu tertegun. Kekuatan "Perpustakaan Hidup" di dalam diri Anita mulai bangkit. Pengetahuan Alexandria memberinya kemampuan untuk mendeteksi kebohongan dalam aliran waktu.

"Luna itu... dia bukan datang untuk menyelamatkanmu, dia datang untuk mengorbankanmu agar dunianya kembali!" Anita menunjuk ke arah Luna Masa Depan. "Dan Direktur Vena... dia sudah bekerja sama dengan The Unwritten untuk mengendalikan sejarah!"

Kedok terbuka. Direktur Vena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan The Eraser. Kulit wajahnya mulai retak, menyingkap bayangan hitam di bawahnya. Ternyata DAT telah disusupi oleh parasit sejak lama.

"Gadis pintar," desis Vena. "Serang!"

Pertempuran pecah. Agen-agen DAT menembakkan peluru energi, sementara Luna Masa Depan melepaskan anak panah gravitasi yang menciptakan lubang-lubang kecil di lantai. Saka segera menarik Anita ke balik meja kerja logam yang tebal.

"Nit, kamu harus lari!" perintah Saka.

"Nggak, Saka! Kita lakukan ini bareng-bareng!" Anita meraih tangan Saka.

Saat tangan mereka bersentuhan, energi perak dari darah Saka beresonansi dengan pengetahuan di otak Anita. Sebuah fenomena yang disebut The Great Conjunction terjadi. Cahaya perak murni meledak dari titik sentuhan mereka, menyebar seperti gelombang elektromagnetik yang membekukan semua musuh di ruangan itu.

Dalam kebekuan waktu yang diciptakan Anita, Saka melihat sebuah jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia melihat sebuah garis waktu ketiga—sebuah celah di mana ia tidak perlu mengorbankan siapa pun, namun ia harus menjadi "Hantu dalam Mesin".

Saka berdiri, menatap Luna Masa Depan yang membeku di udara. "Aku tidak akan mengikuti masa depanmu, Luna. Dan aku tidak akan tunduk pada DAT."

Saka menggunakan jarinya yang bersimbah tinta perak untuk menuliskan sebuah kode di udara. Ia mengakses sistem keamanan DAT dan sekaligus sistem navigasi Luna. Ia mengirimkan sebuah pesan ke masa lalu, ke dirinya sendiri yang sedang berada di Alexandria.

“Jangan simpan pengetahuannya di otakmu, simpan di dalam hatinya.”

Sebuah paradoks baru tercipta. Saka menyadari bahwa satu-satunya cara menghentikan kiamat besok pagi adalah dengan menghapus alasan mengapa kiamat itu terjadi: Dirinya sendiri harus benar-benar menghilang dari pandangan The Architect.

"Saka, apa yang kamu lakukan?" tanya Anita saat cahaya perak mulai menyelimuti tubuh Saka.

"Aku akan pergi ke 'Luar Waktu', Nit. Ke tempat di mana bahkan Sang Arsitek tidak bisa menemukanku. Dengan begitu, Asia Tenggara akan aman karena anomalinya hilang," Saka membelai pipi Anita.

"Tapi aku akan lupa padamu lagi?" tanya Anita sambil menangis.

"Mungkin. Tapi kali ini, aku meninggalkan sesuatu di dalam hatimu yang tidak bisa dihapus oleh waktu. Cari aku di Jalan Braga, setiap tanggal 10 September. Aku akan ada di sana, meski kamu tidak bisa melihatku."

Saka meledak menjadi butiran cahaya perak. Seluruh markas DAT runtuh ke dalam vakum waktu. Luna Masa Depan terlempar kembali ke garis waktunya yang hancur. Direktur Vena dan para parasit lenyap tertelan kehampaan.

Keesokan Harinya, Pukul 08.00 WIB.

Kota Bandung terbangun dengan damai. Tidak ada penghapusan sejarah. Orang-orang berangkat kerja dan sekolah seperti biasa.

Di SMA Garuda, Anita duduk di bangkunya, menatap kursi kosong di sampingnya. Ia merasa ada seseorang yang seharusnya duduk di sana, namun ia tidak ingat siapa. Namun, di dalam sakunya, ia menemukan sebuah kertas kecil yang bertuliskan: "Jalan Braga, 10 September."

Anita tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Ia merasa tidak sendirian.

Sementara itu, di Jalan Braga yang ramai, sesosok pemuda dengan jaket hoodie hitam berjalan menembus kerumunan. Orang-orang melewatinya begitu saja, seolah-olah ia adalah udara. Saka kini hidup sebagai The Ghost Guard. Ia ada, namun tidak tercatat. Ia melihat segalanya, menjaga dari bayang-bayang, memastikan bahwa setiap detik yang mengalir adalah detik yang adil bagi mereka yang ia cintai.

Kutukan "Gema Keberadaan" telah mencapai puncaknya: Saka bahagia melihat mereka selamat, dan sebagai bayarannya, dunia benar-benar menghapusnya. Namun bagi Saka, ini adalah kemenangan mutlak.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!