💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Saat Cia dan Varo meninggalkan perpustakaan, Vano masih terdiam, matanya mengikuti kepergian kedua kembarannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Senja, yang duduk di hadapannya, merasakan aura aneh yang menguar dari Vano. Ia menatap Vano dengan tatapan menyelidik, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Senja memang bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih suka mengamati dan menyerap informasi dari lingkungannya. Ia memiliki intuisi yang kuat dan seringkali bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa perlu diucapkan. Namun, ia juga sangat tertutup dan jarang sekali membuka diri pada orang lain. Sehingga ia di juluki cewek kutu buku namun misterius. Tak ada yang mau mendekat dengannya dan ia pun tak peduli. Namun, kehadiran Vano sedikit demi sedikit mengikis tembok yang selama ini ia bangun.
Vano, yang menyadari tatapan Senja, tersentak dari lamunannya. Ia balas menatap Senja dengan datar, berusaha menyembunyikan gejolak dalam dirinya.
"Lo kenapa, Van?" tanya Senja akhirnya, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar. Ia tidak yakin apakah Vano akan menjawab pertanyaannya, namun ia merasa perlu untuk mencobanya.
Vano menghela napas, berat. "Nggak kok. Gue cuma sedikit ... capek aja." jawabnya singkat. Sebuah kebohongan. Ia tertarik pada Senja, tapi tak ingin melibatkan gadis itu dalam rahasia yang ia simpan bersama Cia dan Varo.
Senja mengangguk pelan, meskipun ia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Vano. Ia tahu bahwa Vano menyembunyikan sesuatu, namun ia tidak ingin memaksa Vano untuk bercerita. Ia akan menunggu sampai Vano siap untuk membuka diri padanya.
Senja mengangguk pelan, tapi matanya tak lepas dari Vano. Ia tahu ada yang disembunyikan, tapi ia tak memaksa. Ia akan menunggu hingga Vano sendiri yang membuka diri.
"Yaudah, ayo kita balik kelas," ajak Senja, bangkit dari duduknya. Ia berbalik, berjalan menuju pintu perpustakaan. Vano mengikutinya dalam diam.
Di sepanjang lorong, Senja terus memikirkan Cia dan Varo. Ada sesuatu yang janggal dalam hubungan mereka. Sangat dekat, namun penuh rahasia. Ia juga merasakan bagaimana Vano begitu protektif pada Cia, seolah menjaga sesuatu yang rapuh.
"Siapa sebenarnya mereka?" bisiknya dalam hati. Rasa penasaran menggelitik pikirannya.
_______&&_______
Di kelas, Cia dan Varo duduk di bangku masing-masing. Suasana kelas cukup ramai dengan siswa yang sedang mengobrol atau mengerjakan tugas, yang di berikan guru peganti karena guru yang bersangkutan izin.
Cia membuka bukunya, mencoba fokus pada tugas yang harus ia selesaikan, namun pikirannya terus berputar pada sosok Aksa, pria yang tiba-tiba ikut membelanya. Ia menggerutu dalam hati, "Ck! Kenapa gue jadi mikirin tuh cowok?!"
Viona dan gengnya melirik Cia dengan tatapan sinis. Iri. Bagaimana bisa seorang siswi baru menarik perhatian si kembar tampan dan Aksa sekaligus?
Cia sudah kebal dengan tatapan seperti itu. Ia tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangnya.
Varo, yang duduk di belakang Cia, mengamati sekeliling dengan waspada. Ia merasakan aura tak enak di kelas itu. Beberapa siswa cowok jua menatap Cia dengan tatapan penuh campur aduk antara penasaran, kagum dan juga segan.
"Cia," bisik Varo, matanya tetap terpaku pada buku. "Lo jadi pusat perhatian seisi kelas tuh!" Ia menyeringai, menggoda Cia.
"Cia," bisik Varo, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku pelajaran. "Lo jadi pusat perhatian seisi kelas tuh!" goda Varo.
Cia mendengus pelan. Ia juga merasakan hal yang sama. Ia sangat membenci hal itu tapi mau gimana lagi, ia tak bisa melarang hak orang. "Mau bagaimana lagi pesona gue memang sulit untuk di abaikan!" sahutnya, dengan nada bercanda namun penuh percaya diri. Varo hanya bisa terkekeh mendengar jawaban Cia.
Jam berlalu cepat. Bel pulang berbunyi, membebaskan siswa dari kelas. Mereka berhamburan keluar, berebut jalan. Cia dan Varo memilih keluar paling akhir, malas berdesakan.
Setelah merasa senggang Cia dan Varo berjalan cepat menuju area parkir motor. Angin sore berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut Cia yang memang digerai. Tiba-tiba, Cia berhenti mendadak, membuat Varo yang berjalan di belakangnya hampir menabraknya.
"Ciaaaa! Kenapa lo ngerem mendadak, mau buat gue jantungan lo!" omel Varo, meskipun tidak benar-benar marah. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Cia yang seenaknya.
Cia tidak menggubris omelan Varo. Matanya terpaku pada sosok ketua The Mavericks yang berdiri di area parkir. Aksa berdiri menyender di motor sportnya yang mahal. Jaket kulit hitam dan rambut berantakan semakin menambah kesan bad boy yang memikat. Di sisinya, Bima, Arya, dan Galang duduk santai di atas motor masing-masing, tatapan mereka tertuju pada Cia.
"Varo, lo liat cowok yang lagi nyender di motor itu?" tanya Cia, suaranya berbisik, penuh kewaspadaan.
Varo mengikuti arah pandang Cia. "Aksa? Kenapa emang?" Ia sudah menduga ketertarikan Aksa pada Cia akan berujung seperti ini.
Cia menghela napas. "Gue ngerasa ada yang aneh sama tuh cowok. Kayak dia nyembunyiin sesuatu, gak sih?" Ia merasakan aura misterius yang menguar dari Aksa, membuatnya tak tenang.
Varo mengangkat bahu, berusaha meremehkan. "Aneh gimana? Biasa aja. Dia kan most wanted di sekolah ini, wajar aja banyak cewek yang cari perhatiannya. Tapi lumayan juga buat jadi calon adik ipar!" Ia menyeringai, menaik-turunkan alisnya pada Cia.
Cia memutar bola mata, malas. "Gue nggak tertarik sama cowok sok cool kayak dia." Ia berbalik, melangkah cepat menuju motor metiknya yang merah menyala.
"Ck! Ngambek deh putrinya Nyonya Ratu dan Tuan Nathan," kekeh Varo, geli melihat reaksi Cia. Ia berlari mengejar langkah Cia, menyusulnya di dekat motor.
Tak lama Varo muncul. "Ayo cabut!" serunya, tegas. Ia melirik tajam pada Aksa dan teman-temannya. Ia merasa tak nyaman dengan tatapan mereka.
Tanpa menunggu lebih lama, Cia, Vano, dan Varo melesat pergi dengan motor masing-masing. Mereka meninggalkan area parkir, meninggalkan rasa ingin tahu yang membara di mata beberapa pasang mata yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik mereka.
Bersambung ...
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,