Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pria Lurus
Estevan membawa Beatrice ke sebuah pondok kayu di tengah hutan, tak jauh dari peternakan kuda keluarga Grand Duke. Pondok itu biasanya menjadi tempatnya beristirahat setelah seharian berburu.
Beatrice menelusuri ruangan sederhana itu, lalu menemukan sebuah sofa tua yang empuk. Ia duduk, meluruskan kakinya sambil menghela napas pelan.
“Ngomong-ngomong … pria berambut pirang tadi, apakah dia sepupumu yang terkenal di kalangan wanita?” tanyanya sekadar basa-basi.
“Ya,” jawab Estevan santai. “Terrence De Carlitos. Anak kedua Duke Sonova. Kamu tidak perlu terlalu formal dengannya. Ayahnya dan ayahku adalah saudara kandung kaisar saat ini.”
“Kalian punya nama belakang yang sama, Carlitos. Tapi kenapa nama gelar kalian berbeda?” Beatrice memiringkan kepala.
Estevan duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit condong ke depan. “Kaisar terdahulu punya banyak anak. Mereka semua diberi wilayah dan gelar masing-masing. Setiap kepala wilayah bebas memilih nama gelarnya sendiri, sesuai jabatan yang mereka terima. Ayahku menjadi Grand Duke dan memilih mempertahankan nama Carlitos sebagai pedang kekaisaran.”
Beatrice mengangguk, meski pikirannya masih mencerna informasi itu.
“Siapa pria berambut merah yang berdiri di samping Terrence tadi?” tanyanya lagi.
“Niccolo Mendela,” jawab Estevan. “Pewaris keluarga Marquis Mendela. Teman dekat Terrence.”
“Niccolo Mendela?” ulang Beatrice pelan.
Jadi benar—pria berambut merah itu adalah Niccolo Mendela. Nama itu langsung mengingatkannya tentang alur dalam novel aslinya. Niccolo, si pria berperangai baik yang selalu mengikuti Terrence seperti anak anjing setia. Hampir tidak punya banyak adegan … kecuali adegan tragis kematiannya.
Dalam novel aslinya, Niccolo tewas saat membantu Terrence membunuh monster yang muncul tiba-tiba dalam perburuan musim semi. Kematian itu menghancurkan psikologis Terrence—membuatnya murung, mudah tersulut amarah dan tenggelam dalam alkohol. Sifat riangnya terkubur selamanya.
Beatrice menggigit bibirnya. Dia harus menyelamatkan Niccolo. Jika Niccolo selamat, Terrence tidak akan terpuruk sedalam itu.
“Kenapa?” Suara Estevan memecah lamunannya. Ia menatap Beatrice dengan kening mengerut. “Kamu tertarik padanya?”
“Tentu saja tidak!” Beatrice buru-buru menggelengkan kepala. “Aku hanya … menurutku dia dan sepupumu dekat. Seperti saudara kandung.”
Estevan mendengus pelan, penuh ketidaksukaan. “Dia lebih mirip anak ayam yang mengikuti induknya. Sudahlah, jangan membahas mereka. Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang lain?”
Beatrice mengangkat alis. “Melakukan apa?”
Pria itu meraih dagu Beatrice, mengangkatnya perlahan hingga wajah lembut gadis itu berada tepat dalam pandangannya. Iris mata biru langitnya tampak begitu jernih, kontras dengan rambut almond blonde yang tergerai rapi. Ia mengusap bibir lembap Beatrice dengan ibu jarinya.
“Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?” Suaranya rendah, serak dan terlalu sensual.
“Bersenang-senang seperti apa?” tanya Beatrice, meski pipinya sudah memanas.
“Mari kita lanjutkan apa yang tertunda di tepi sungai.”
“Di tepi sungai? Maksudmu … kamu ingin tidur denganku?”
“Bukankah normal kalau seorang pria ingin tidur dengan tunangannya?”
Beatrice sedikit malu, berusaha tetap tampak menguasai keadaan. “Beberapa pria ingin wanita mereka menjaga kesuciannya sebelum pernikahan.”
Estevan justru tertawa pelan. Tidak ada beban atau keraguan dalam dirinya. Ia menatap Beatrice seolah-olah gadis itu baru saja mengucapkan sesuatu yang menggelitik.
“Aku bukan pria lurus,” katanya, nada suaranya seperti bisikan nakal yang menempel di telinga. “Aku sudah berpikiran kotor tentangmu saat kita berciuman dan berpelukan. Bagaimana menurutmu?”
Beatrice menelan ludah. Bagus sekali. Sekarang aku yang menggali lubang untuk diriku sendiri, batinnya.
Novel ini memang penuh erotika. Dunia novel ini sangat bebas dan liar.
Tanpa sadar, tangannya terulur ke dada bidang Estevan yang hangat. “Kalau begitu … mengapa tidak—”
Dia belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Estevan membopongnya begitu cepat hingga Beatrice memekik pelan. Pria itu naik ke lantai dua tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk menolak.
Kamar sederhana di lantai dua biasa ia gunakan untuk beristirahat setelah berburu. Dan hari ini, ia membawa Beatrice ke sana tanpa sedikit pun keraguan. Sejak semalam, gadis itu sudah menggoda pikirannya, membuatnya kehilangan kendali dua kali. Ia bukan pria suci—dan tunangannya sendiri kini berada dalam dekapannya.
“Evan—” Beatrice ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya terpotong.
Begitu kakinya menyentuh lantai kayu, Estevan mencium bibirnya dengan keras, dalam dan penuh dorongan yang selama ini ia tahan. Tangannya yang besar dan kuat pun juga tidak jujur, menjelajahi pinggang dan punggung gadis itu tanpa ragu. Dalam beberapa detik, Beatrice telah terdorong ke atas ranjang berukuran single.
“Kalau begitu,” kata Estevan, napasnya menyapu wajahnya. "Mari kita lakukan sesuatu yang lebih menyenangkan sebelum dua orang itu kembali.”
Ketika pria itu tersenyum, kelembutannya terpantul jelas dan memabukkan. Beatrice tertegun—selama ini ia hanya melihat sisi dingin dan menyendiri dari Estevan. Senyum itu … entah kenapa, terasa seperti sinar matahari musim semi yang jatuh langsung ke tubuhnya.
Rambut putih keperakan Estevan berkilau saat cahaya matahari menerobos jendela, membuatnya tampak seakan dilingkupi aura hangat.
Beatrice menyentuh rambut dan wajah tampan Estevan, lalu jemarinya turun ke leher hingga menyentuh jakunnya yang bergerak naik turun. Estevan menangkap tangannya—bukan untuk menghentikan, tetapi untuk menciumi jarinya satu per satu.
Setelah itu, segalanya terjadi begitu saja.
Pakaian mereka tercecer di lantai. Napas mereka menyatu dengan ritme yang tak lagi dapat ditahan. Dan ketika semuanya dimulai, Beatrice menyadari bahwa Estevan benar-benar melakukannya.
"Ini sakit ..." Tubuh Beatrice sedikit menegang saat merasakan rasa sakit ketika pria itu menerobos pertahanannya.
"Tahanlah sebentar," bisik Estevan.
Estevan meniduri seorang gadis untuk pertama kalinya dalam dua puluh delapan tahun hidupnya. Dan ternyata, justru karena itulah ia begitu bersemangat. Beatrice hampir kehabisan napas dibuatnya setelah rasa sakit mulai tergantikan oleh rasa yang lain.
Pria itu seperti serigala kelaparan yang akhirnya menemukan mangsa paling harum—menyentuh dan menelusuri setiap inci kulitnya sampai puas. Baru setelah mangsanya memohon ampun dengan suara serak, serigala itu pun berhenti bermain.
“Apakah ini … benar-benar pertama kali bagimu?” tanya Beatrice lemah. Wajahnya memerah, kulitnya bersinar oleh keringat dan poni sampingnya menempel halus di pelipis.
“Bukankah kamu merasakannya sendiri?” Estevan menunduk, mencium tulang selangkanya seolah masih belum puas. Matanya dipenuhi kabut hangat yang belum benar-benar mereda.
Beatrice memilih tidak menjawab. Bahkan setelah mereka berhenti, pria itu tidak menunjukkan tanda akan benar-benar mengakhiri semuanya.
“Ini sudah hampir sore,” gumam Beatrice yang setengah mengeluh. “Sepupumu pasti segera kembali.”
Estevan bergeming, bahkan tidak berniat turun dari ranjang. “Kalau mereka kembali, biarkan menunggu. Aku masih belum selesai denganmu.”
Tatapannya turun, melihat tanda-tanda kemerahan yang tersebar di kulit Beatrice—hasil dari betapa bersemangatnya ia tadi.
“Aku sudah kelelahan,” keluh Beatrice seraya memeluk bantal. “Aku sudah lapar dan kamu bilang belum selesai?”
Matanya melebar saat melihat tubuh bawah Estevan menegang lagi. Seberapa kuat pria ini sebenarnya?
"Ka-kamu bercanda, ya?" Wajahnya semakin memerah.
Estevan sama sekali tidak tampak iba. Ia menarik tubuh Beatrice, mengubah posisi mereka dengan mudah. “Ini baru tiga kali,” katanya tenang. “Aku masih lapar. Setelah aku kenyang, aku akan memberimu makan.”
Dan akhirnya … adegan itu terjadi lagi.
Ketika cahaya sore semakin jelas, keduanya benar-benar berhenti. Estevan bangun lebih dulu, mengenakan pakaian lalu menyiapkan air agar Beatrice bisa membersihkan diri. Setelah itu ia merapikan ranjang single yang berantakan, mencuci seprai dan selimut yang sudah menjadi saksi betapa liar dan manisnya cinta keduanya.
Beatrice hampir tidak bisa berdiri. Kedua kakinya gemetar dan tubuhnya lemas. Untunglah ia bisa memulihkan diri sedikit dengan sisa kekuatan spiritualnya.
“Ngomong-ngomong, kenapa dua orang itu belum kembali juga? Memangnya sesulit itu ya, untuk menangkap ikan?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...