"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kepergian Seruni dan empat anak nya, membuat rumah Hamdan tidak terurus. Biasa nya, ketika bangun pagi ia akan melihat makanan sudah tersedia di atas meja. Pakaian kantor nya juga sudah di setrika.
Tapi hari itu, semua nya harus ia kerjakan sendiri. Ia bertambah kesal karena di dalam kulkas, tidak ada apapun yang bisa di masak apalagi di makan.
Kulkas satu pintu itu hanya ada dua es batu yang biasa nya ikut di jual oleh Seruni. Hamdan terpaksa ke kantor dengan perut keroncongan dan juga baju yang tidak di setrika.
Ia mampir ke rumah Ibu nya sebelum ke kantor. Berharap ada makanan yang bisa membuat perut nya kenyang.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Ada apa kamu ke sini lagi? Bertengkar dengan Seruni?"
"Eh, tidak. Aku hanya pengen makan makanan buatan ibu."
"Pengen sih pengen. Tapi tidak tiap hari juga dong. Kalau begini, pengeluaran Ibu dan Ayah mu bisa bengkak."
"Ya ampun, Bu. Toh uang nya kan berasal dari ku juga. Ibu dan Ayah sama sekali tidak bekerja. Apa aku salah mau makan di sini?"
"Jadi, kamu perhitungan? Ingat ya, Hamdan. Kamu bisa sukses seperti ini karena Ibu dan Ayah mu. Bukan karena Seruni. Enak sekali dia bisa penuh mendapatkan gaji mu tanpa harus memasak makanan untuk mu. Setiap saat, kau hanya makan di sini dan merepotkan kami."
"Baik. Kalau begitu, kita tukar saja. Bukan depan, uang lima juta akan ku berikan pada Seruni. Dan lima ratus ribu untuk Ibu dan Ayah. Bagaimana?"
"Eh, jangan begitu dong. Bisa makan apa kami uang cuma segitu?"
"Bukti nya, Seruni bisa. Seruni bahkan harus membayar uang sekolah anak-anaknya. Kenapa Ayah dan ibu tidak bisa seperti Seruni ."
"Ah, malas ibu bicara dengan mu. Bikin pusing."
Ibu nya Hamdan pun pergi entah kemana. Hampir setiap kali Hamdan ke sana, Ibu nya juga suka mengomel. Apalagi jatah bulanan akan berkurang jika Hamdan tidak memberi nya uang.
Ibu dan Ayah nya Hamdan hanya menikmati masa tua dengan cara bersantai di rumah dan bermain dengan tetangga. Jika tidak punya uang, maka mereka tinggal meminta pada Hamdan.
Namun, Hamdan malah melupakan nafkah nya pada istri dan juga anak-anak nya. Padahal, sudah menjadi kewajiban nya untuk menafkahi keluarganya sendiri.
Setelah makan, Hamdan pun pergi kekantor. Ia tiba di ruangan nya tidak lama kemudian. Hampir saja ia terlambat. Jika sampai terlambat, bisa di pastikan gaji nya akan di potong bulan itu.
"Loh, kok tumben baju mu kusut? Binik mu lupa nyetrika?" Ucap salah satu teman nya Hamdan.
"Aku sudah mengusir nya. Ia tidak bisa di nasehati. Aku sudah sangat kesal dengan wanita kampung itu. Tahu nya hanya mengeluh saja. Tapi, tidak tahu bagaimana cara nya mendapatkan anak laki-laki."
"Hamdan... oh Hamdan... Kamu ini juga kampungan. Hari gini masih aja mempermasalahkan anak laki-laki dan perempuan. Udah nggak jaman, bro."
"Ya mau gimana lagi. Ibu ku pengen punya anak laki-laki. Apalagi aku kan anak satu-satunya."
"Terserah kamu deh. Atau jangan-jangan kamu udah ada pengganti istri mu itu? Siapa nama nya, Susan. Janda anak satu yang tinggal dekat rumah orang tua mu."
"Ah, diam kau! Sana kerja."
Teman nya Hamdan pergi dari ruangan itu. Hamdan jadi teringat pada Susan. Sudah dua hari ia tidak menerima kabar dari janda anak satu itu.
Susan memang berbeda dari Seruni yang kampungan. Susan begitu cantik dan wangi. Wanita itu juga sangat pintar dalam berpenampilan menarik. Hal itu lah yang membuat Hamdan suka berada dekat dengan nya.
Apalagi anak laki-laki nya Susan. Anak itu sangat menghormati diri nya.
"Susan, apa kabar? Makan siang yuk nanti."
Tidak ada jawaban. Hamdan pun berusaha menghubungi nomor Susan tapi tidak aktif. Hamdan menjadi galau. Entah kemana pergi nya Susan.
*****
Sementara itu di rumah baru nya, Seruni dan ke empat anak-anak nya begitu lega sudah terlepas dari Hamdan.
Tidak ada rasa takut lagi jika sewaktu-waktu mereka akan di marahi dan di pukuli hanya karena berisik atau tidak bisa melakukan apa yang di inginkan oleh pria itu.
Seruni di hari pertama mereka pindah, langsung saja memulai usaha nya sendiri. Ia tidak boleh berdiam diri dan harus cepat membuat uang Adelia yang ia pinjam untuk membeli rumah.
Adelia juga membantu Seruni dalam menawarkan dagangan nya pada teman-teman dan juga saudara nya yang lain. Alhasil, kue-kue buatan Seruni sudah banyak di kenal oleh orang-orang kalangan atas yang masih menyukai rasa alami dari kue tradisional.
"Bu, Banyak sekali pesanan kue hari ini. Mau ada acara?"
"Iya, Rima. Bantuin ibu untuk memasukkan kue-kue itu ke dalam kotak, ya. Saudara nya Tante Adel yang pesan. Kata nya, kalau mereka suka, maka Ibu tidak perlu lagi jualan kue keliling. Kita dapatkan kontrak selama satu tahun."
"Alhamdulillah. Rima tidak menyangka. Ternyata kue ibu bisa terkenal."
"Ah, kamu bisa aja. Nama nya juga kue kampung. Mungkin orang-orang udah bosan makan kue kota."
"Emang ada beda nya, kue kota dan kue kampung?"
"Ya entah. Ibu juga tidak tahu."
Hahahahaha
Seruni dan Rima tertawa. Saat melihat kakak dan ibu nya tertawa, dua tiga adik nya yang lain pun ikut tertawa melihat ibu dan kakak mereka yang bahagia.
Seruni sungguh bersyukur kali ini. Setidak nya di rumah kecil itu, mereka tidak perlu lagi menahan apa yang mereka rasakan. Anak-anak bebas tertawa dan menangis. Tidak ada lagi yang marah dan membentak.
Mereka semua bisa melakukan apapun yang mereka suka.
Rumah kecil itu hanya memiliki dua kamar kecil dan satu dapur menyatu dengan ruang tamu. Tidak masalah bagi Seruni yang penting ia memiliki tempat berlindung.
Ketika malam, mereka akan tidur di atas kasur tipis. Seruni tidur dengan keempat anak nya dengan nyenyak. Tidak ada lagi Hamdan yang akan memarahi nya karena ia tidur mendengkur karena kelelahan.
Seruni berharap, semoga ia dan anak-anak nya bahagia. Dan, semoga saja Hamdan cepet-cepet menceraikan diri nya agar ia bisa terbebas dari laki-laki jahat itu.
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri