NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilatan Putih yang Menelan Semuanya

Malam itu seharusnya biasa saja.

Raito mengendarai motor matic tuanya melintasi jalan tol pinggiran Jakarta yang sepi. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Lampu neon minimarket di kejauhan berkedip-kedip seperti mata yang mengantuk. Hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aspal yang mengkilap dan bau tanah basah yang menyengat. Dia baru pulang dari shift malam di kafe kecil tempatnya bekerja paruh waktu—mencuci piring, menyeduh kopi, melayani pelanggan yang kebanyakan mabuk atau insomnia.

Helmnya sudah terbuka sedikit karena panas, angin malam menerpa wajahnya yang lelah. Pikirannya melayang ke tagihan listrik yang belum dibayar, pesan dari ibu yang menanyakan kapan dia pulang kampung, dan mimpi kecil yang semakin samar: suatu hari punya cukup uang untuk buka usaha sendiri, mungkin warung kopi sederhana di pinggir jalan.

Lalu tiba-tiba—kilatan.

Bukan petir. Bukan lampu mobil yang menyilaukan. Ini lebih terang, lebih putih, seperti seseorang menyalakan ribuan lampu sorot tepat di depan matanya. Dunia seketika hilang warna. Suara motor mati seketika, angin berhenti, bahkan detak jantungnya terasa melambat. Raito merasakan tubuhnya ditarik ke depan, seperti tersedot ke dalam lubang hitam yang terbuat dari cahaya.

Dia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak keluar.

Kegelapan menelan semuanya.

Ketika kesadaran kembali, yang pertama dirasakan adalah bau tanah lembab dan daun busuk. Kepalanya berdenyut sakit, seperti habis ditabrak truk. Raito membuka mata perlahan. Langit di atasnya bukan lagi langit Jakarta yang penuh polusi—ini biru pekat, hampir hitam di tepi, dengan awan tebal yang bergulung seperti asap. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, batangnya ditumbuhi lumut tebal dan akar-akar yang menjalar seperti ular. Udara terasa lebih berat, lebih lembap, dan ada suara aneh—desiran daun, kicau burung yang asing, dan sesekali raungan jauh yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dia berbaring telentang di tanah berlumut. Baju kaos hitamnya robek di lengan kanan, celana jeansnya kotor lumpur. Tas selempang kecilnya masih ada, tapi isinya berantakan: dompet kosong, kunci rumah, dan... pisau lipat kecil yang biasa dia bawa untuk memotong buah atau membuka kemasan. Entah kenapa, pisau itu terasa lebih berat sekarang.

"Apa... ini?" gumamnya, suaranya serak.

Raito bangun perlahan, memegang kepala yang masih pusing. Tidak ada ponsel. Tidak ada sinyal. Bahkan jam tangan digitalnya mati total. Dia melihat sekeliling—tidak ada jalan tol, tidak ada minimarket, tidak ada suara klakson. Hanya hutan yang tampak tak berujung.

Panic mulai merayap. Ini bukan mimpi. Rasa sakit di kepala terlalu nyata. Bau tanah terlalu tajam. Dia mencubit lengannya sendiri—sakit.

"Tenang... tenang dulu," katanya pada diri sendiri. "Cari jalan keluar. Cari orang."

Dia mulai berjalan, mengikuti arah yang tampak paling terang—mungkin ada sungai atau jalan setapak. Setelah sekitar tiga puluh menit berjalan, kakinya mulai lelah. Hutan ini aneh. Pohon-pohonnya terlalu besar, daunnya berwarna hijau gelap yang hampir hitam di bagian bawah. Ada tanaman merambat yang bergerak pelan saat dia lewat, seperti bernapas.

Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak orang terdengar dari depan. Raito bersembunyi di balik pohon besar. Sekelompok orang—sekitar dua puluh orang—berlari melewatinya dalam formasi longgar. Mereka mengenakan pakaian aneh: jubah panjang, rompi militer, baju olahraga ketat, bahkan ada yang pakai jubah ala ninja. Semua membawa tas ransel besar, dan wajah mereka tegang tapi fokus.

Di antara mereka, seorang perempuan berusia sekitar akhir dua puluhan berhenti sejenak. Rambutnya pendek cokelat gelap, mata tajam, mengenakan jaket kulit lusuh dan celana kargo. Dia membawa pisau besar di pinggang. Matanya menyapu sekitar, lalu tertuju pada Raito yang bersembunyi.

"Kamu," katanya tegas tapi tidak kasar. "Peserta yang tersesat?"

Raito keluar perlahan, tangan terangkat. "Aku... nggak tahu ini di mana. Aku baru... terbangun di sini."

Perempuan itu memandangnya dari atas ke bawah. "Baju robek, nggak ada nomor peserta. Tapi auramu... aneh. Kamu bukan penduduk lokal."

"Aura? Nomor peserta?" Raito bingung.

Dia menghela napas. "Namaku Mira. Kalau kamu nggak mau mati di hutan ini, ikut aku. Ini Hunter Exam. Fase pertama: maraton sampai garis finish. Kalau tertinggal dari examiner, diskualifikasi—atau lebih buruk, dimakan binatang liar."

"Hunter Exam?" Raito mengulang kata itu seperti orang bodoh.

Mira tidak menjawab. Dia hanya berbalik dan mulai berlari lagi. "Ikut atau mati sendirian. Pilih cepat."

Raito tidak punya pilihan. Dia mengikuti, meski kakinya sudah pegal.

Mereka berlari selama berjam-jam—atau begitulah rasanya. Waktu terasa melar. Raito tidak tahu berapa lama dia sudah berlari, tapi napasnya sudah tersengal, keringat membasahi baju. Kelompok itu semakin menipis; beberapa orang mulai tertinggal, meringkuk di tanah, atau menghilang ke semak-semak.

Di depan, seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun berlari dengan riang. Rambut hijau tegak, baju hijau dengan tongkat memancing di punggung. Dia bahkan tersenyum sambil melompat-lompat kecil, seolah ini bukan maraton maut tapi piknik.

Saat anak itu lewat dekat Raito, dia menoleh. Mata besarnya penuh semangat. "Kamu baik-baik aja? Kelihatan capek banget!"

Raito hanya bisa mengangguk sambil megap-megap. Anak itu tertawa kecil lalu melesat maju lagi.

"Siapa anak itu?" tanya Raito pada Mira yang berlari di sampingnya.

"Gon," jawab Mira singkat. "Anak aneh. Tapi kuat. Jangan remehkan orang kecil di sini."

Raito tidak bertanya lagi. Dia fokus bertahan.

Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti seharian penuh, mereka sampai di terowongan bawah tanah yang gelap dan lembab. Examiner—seorang pria tinggi kurus berpakaian hijau tua—berdiri di depan, tersenyum tipis. Namanya Satotz, kata Mira pelan.

"Fase pertama berlanjut di sini," kata Satotz dengan suara datar. "Ikuti aku. Jangan tertinggal."

Terowongan itu panjang, gelap, dan penuh jebakan kecil: lubang tiba-tiba, gas aneh, binatang liar yang muncul dari celah dinding. Raito hampir jatuh ke lubang berduri sekali, tapi Mira menarik kerah bajunya tepat waktu.

"Terima kasih," desah Raito.

"Jangan mati dulu," balas Mira. "Aku nggak suka lihat orang mati sia-sia."

Di tengah terowongan, Raito mulai merasakan sesuatu yang aneh. Dada terasa hangat, seperti ada aliran listrik kecil mengalir di pembuluh darahnya. Saat dia hampir jatuh lagi karena kelelahan, "aliran" itu seolah mendorong kakinya maju sedikit lebih kuat. Dia tidak tahu apa itu—mungkin adrenalin, mungkin halusinasi.

Akhirnya, setelah berjam-jam lagi, mereka keluar ke ruang terbuka. Langit sudah gelap. Di depan adalah Trick Tower—menara tinggi yang tampak seperti penjara raksasa.

"Fase kedua," kata Satotz. "Masuk ke menara. Keluar dari bawah dalam waktu 72 jam."

Raito menatap menara itu dengan mata lelah. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia tidak tahu mengapa dia ada di sini. Tapi satu hal pasti: dunia ini bukan dunianya lagi.

Dan cahaya putih yang membawanya ke sini... mungkin bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Mira menepuk bahunya. "Istirahat sebentar. Besok kita masuk ke neraka lagi."

Raito mengangguk pelan. Di kejauhan, dia melihat anak bernama Gon duduk santai sambil minum air, tersenyum pada siapa saja yang lewat. Ada sesuatu pada anak itu—cahaya kecil di tengah kegelapan yang membuat Raito merasa... tidak sepenuhnya sendirian.

Tapi untuk sekarang, dia hanya ingin bertahan hidup.

Dan mencari tahu: mengapa dia—Raito—dibawa ke dunia ini?

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!