___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Ia tidak mau tertangkap basah sedang menguping pembicaraan tentang nasibnya minggu depan.
ia membuka pintu kamar, terdengar suara rengekan halus. Vino menggeliat, mata bulatnya mengerjap-ngerjap lucu karena terganggu suara langkah kaki Vanya.
"Tata Anyaaa..." gumam Vino sambil mengucek matanya.
"Eh, sayang... Vino bangun? Sini, sini sama Tata Anya lagi," bisik Vanya lembut.
Ia segera naik ke atas ranjang king size-nya, merebahkan diri di samping bocah lima tahun itu.
Vanya memeluk Vino, mengelus rambut halus adik Aiden itu untuk menenangkannya.
"Vino mimpinya diputusin ya? Kok bangunnya cemberut gitu?" canda Vanya manja.
"Nino mimpi Abwang Aden ambil mainan Nino," adu Vino dengan suara cadel yang menggemaskan, tangannya memeluk leher Vanya erat.
Vanya tertawa kecil, mencium pipi gembul Vino. "Abang Aiden emang nakal, nanti kita pukul ya? Sekarang Vino tidur lagi, Tata Anya temenin di sini."
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu tiba-tiba terbuka lebar.
Aiden berdiri di sana, masih dengan kaos hitamnya yang kini. Ia menyandarkan bahu di bingkai pintu, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara gemas dan iri.
Aiden melangkah masuk, suara sepatunya diredam oleh karpet bulu yang tebal. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Vino yang sedang bermanja-manja di ceruk leher Vanya.
"Enak banget lo ya, bocah," gumam Aiden dingin.
Vanya mendongak, wajahnya langsung merona melihat Aiden sudah ada di dalam kamarnya.
"Ih, Kak! Jangan berisik, Vino baru mau tidur lagi!"
Aiden justru duduk di pinggir ranjang, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening Vanya dengan ibu jarinya. "Geser dikit. Gue pengen gantiin posisi Vino."
"Hah?! Enggak boleh! Kamar gwehh bukan tempat penitipan macan yaa!" semprot Vanya dengan logat yang khas.
Aiden terkekeh sinis. "Macan kalau udah dapet mangsanya bakal jinak, Vanya. Tapi ya sudahlah, gue nggak mau rebutan tempat sama bocah bau kencur."
Aiden bangkit dan berjalan menuju meja belajar Vanya yang terletak di sudut ruangan.
Meja itu sangat rapi, penuh dengan pernak-pernik aesthetic, alat tulis warna-warni, dan beberapa bingkai foto.
Aiden mulai mengepoi isi meja itu, tangannya yang besar membolak-balik beberapa buku catatan Vanya.
"Kak! Jangan liat-liat! Itu rahasia!" pekik Vanya setengah berbisik.
Aiden mengabaikan protes itu. Ia mengambil sebuah buku jurnal bersampul kulit berwarna peach. Saat ia membukanya, sebuah foto jatuh dari selipan kertas.
Foto itu memperlihatkan Vanya saat masih SMP, sedang memegang piala dengan rambut dikuncir dua yang sangat menggemaskan.
"Ternyata dari dulu lo udah keliatan... cerewet," ejek Aiden sambil menyelipkan foto itu kembali.
Matanya beralih ke sebuah buku catatan kecil yang berisi jadwal harian Vanya. Di sana, ada satu kolom yang dilingkari merah dengan tulisan.
Jadwal Pumping - Jangan Lupa!
Jari Aiden berhenti di tulisan itu. Ia menoleh ke arah Vanya yang kini sedang menutupi wajahnya dengan bantal karena malu.
"Jadwal lo nggak teratur," ucap Aiden pelan, suaranya kembali memberat.
"Pantesan lo sering kesakitan di sekolah. Mulai minggu depan, gue yang bakal bikin jadwal baru buat lo."
"Gak usah sok tahu dehh! Gwehh kan sibuk sekolah,belajar"
balas Vanya dari balik bantal.
Aiden tidak membalas.
Ia justru beralih ke laptop Vanya yang masih menyala. Di sana ada tab pencarian Google yang belum tertutup 'Cara mengurangi nyeri pada dda yang penuh tanpa alat'
Seringai mesum Aiden muncul seketika.
Ia berjalan kembali ke arah ranjang, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Vanya yang masih memeluk Vino.
"Lo nyari itu di Google?" bisik Aiden tepat di telinga Vanya. "Gue kasih tahu cara paling ampuhnya tanpa perlu koneksi internet. Lo cuma butuh gue, Vanya. Bukan mesin, bukan Google."
Vanya merasa bulu kuduknya merinding. "Kak Aiden... mending Kakak pulang sekarang dehh sebelum Papa naik ke atas."
"Papa lo lagi asyik ngerokok di bawah sama Papi lewat video call. Gue punya banyak waktu," Aiden mencubit pipi Vanya gemas.
"Besok pagi gue jemput jam setengah tujuh.
Telat satu menit, hukuman lo bukan bersihin gudang, tapi lo harus sarapan bareng gue... di kamar."
Aiden berdiri tegak, lalu mengacak rambut Vino yang sudah terlelap lagi.
"Tidur yang nyenyak, My Source of Life," ucapnya penuh arti sebelum melangkah keluar kamar.
Vanya terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya mau melompat keluar.
Ia menatap pintu yang tertutup rapat, lalu beralih ke Vino.
"Vino... abang kamu itu beneran manusia apa iblis ganteng sih?" gumamnya lirih, sementara pipinya masih terasa panas terbakar ucapan Aiden.