Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Membuang Sampah
Sore yang indah, siluet jingga memenuhi seluruh langit kota itu. Rani sudah berada di warnet hari itu setelah puas bercengkrama dengan para montir di bengkel Adimas. Kini Rani nampak fokus menatap monitor di hadapannya hingga matanya tertuju pada satu kotak private di komputer lantai dua.
"Apa itu?" gumamnya. Dia mendekatkan CCTV dan robotnya dibuat berjalan ke arah kotak itu.
"Ya ampun," Rani menepuk jidat, sepasang kekasih tengah berciuman panas dengan monitor menyala dengan tontonan tak senonoh.
"Menjijikkan!" ucap Rani. Dia menggulung lengan bajunya dan melangkah dengan besar.
"Ran, kenapa?" seorang pengunjung di lantai satu menyadari ada yang salah dengan Rani yang berjingkrak ke lantai dua.
"Mau buang sampah!" kesal Rani. Dia berjalan ke lantai dua hingga tampak seorang pria dengan tangannya yang sedang bergelut di dada wanita itu. Sedangkan wanita itu nampak menutup mulutnya menikmati sentuhan itu.
"Woy, ini bukan tempat check-in!" ucap Rani. Sontak kedua orang itu menatap Rani, wanita yang nampak seperti mahasiswi itu juga membenahi pakaiannya.
"Bukankah ini disediakan untuk tempat private, dan aku sedang melakukan hal private di sini," ucap pria itu tanpa tahu malu. Rani mengepalkan tangannya.
Brak!
Rani menggebrak kotak tempat mereka bermesraan, matanya melotot dan beberapa orang yang berada di beberapa ruangan di sebelah sana ikut menengok keluar.
Jadi begini, di lantai dua itu ada 25 set komputer, tapi dengan kotak berukuran 1,5 m × 1,5 m dan tingginya sekitar 2 meter. Setiap 5 kotak diawasi 1 CCTV dari atas dan ada juga robot rakitan Rani yang mengecek setiap 30 menit sekali.
Di bagian pintu depan warnet itu jelas tercantum larangan 21+, Rani lebih sudi menerima para bocil yang main game sambil berteriak di lantai satu dibandingkan menerima pelanggan mesum semacam itu.
"Kenapa?" tanya seorang mahasiswa yang berada tak jauh dari ruangan itu, menghampiri Rani dan sedikit mengangkat alisnya.
"Ada sampah ya?" tanya yang lain. Rani menarik kerah baju pria itu.
"Sampah masyarakat!" kesal Rani menarik kerah baju pria itu dan menggusurnya ke lantai satu. Pria itu hendak melawan, namun satu bantingan saja berhasil membuat pria itu terhuyung.
"Jangan pernah ke sini lagi!" gertak Rani pada pria itu. "Pergi sana sebelum aku telepon polisi!" gertak lagi Rani menendang bok*ng pria itu hingga hampir mencium aspal saat diusir keluar dari warnet itu.
Rani menepuk tangannya dan mengibaskan rambut panjangnya, dia kembali berjalan ke lantai dua. Ada beberapa pria yang masih penasaran dengan wanita yang tadi rela dijadikan pemuas nafsu di tempat seterbuka itu.
"Udah, pada nugas sana!" Rani menyingkirkan para mahasiswa itu yang penasaran. Mereka pun kabur, meski beberapa nampak masih mengintip, namun tatapan tajam Rani berhasil membuat nyali mereka ciut.
"Haa, kamu mahasiswi?" tanya Rani, wanita itu mengangguk.
"Kamu tau berapa nilai harga diri, hah!" Rani duduk di tempat yang tadi diduduki pria itu.
"Kamu tahu biaya kuliah itu gak kecil kan? Kerja apa orang tuanya? Apa mereka pengusaha? Atau bukan?" Wanita itu menggeleng pelan.
"Kamu mungkin gak tau rasanya mencari uang kayak apa, tapi yang harus kamu tau uang yang diberikan orang tua atau orang dekatmu untuk kamu sekolah itu tidak didapat dengan mudah. Mungkin, mereka susah payah mencari uang dengan halal agar suatu hari ilmu yang kamu punya akan bermanfaat. Tapi apa kamu pernah memberi harga pada dirimu sendiri?" Rani menghela napas kasar.
"Coba kamu hargai dirimu sendiri, buat nilaimu berharga. Minimal untuk orang yang berjuang untukmu saat ini, entah siapa pun itu." Tambah lagi Rani, merasa sangat tak habis pikir.
"A-aku terpaksa, hiks… hiks…" tangis terdengar, Rani menghela napas kasar.
"Uang yang diberikan kakakku untuk semester, tak sengaja aku gunakan untuk membeli tas," ucap wanita itu. Rani tersenyum miris. Gaya para mahasiswi atau mahasiswa untuk beberapa orang memang sedikit mencekik kantong, apalagi bagi mereka yang tidak dapat membawa diri dalam pergaulan.
Tak sedikit mahasiswi yang tanpa sadar menukar kebutuhan dengan keinginan, uang kuliah berubah menjadi tas mahal, sepatu mahal, baju mahal, atau makeup mahal, bukan karena perlu, melainkan karena ingin terlihat sepadan dengan lingkar pergaulan, miris sekali.
Menggunakan uang yang seharusnya digunakan membayar SKS atau sejenisnya justru digunakan untuk hal lain, karena hal yang disebut penampilan. Di zaman sekarang, bukan hanya anak kuliah, tapi anak sekolah juga ada yang seperti itu.
"Jadi, sekarang pulanglah. Bukan malah menambah kesalahan yang sudah salah, tapi sebaliknya meminta maaflah dan bertanggung jawablah. Tak ada jalan pintas yang benar-benar akan membawamu pada solusi. Aku pamit, perbaiki pakaianmu dan keluarlah lewat jalan belakang," ucap Rani. Dia keluar dari ruangan itu dan menghela napas kasar.
Tidak mencuri, ya menjual diri. Kebanyakan wanita melakukan itu dengan dalih tak berdaya, namun di tengah mereka banyak pula wanita yang sadar akan kodrat dan kewajibannya sebagai seorang wanita.
Azan magrib berkumandang, Rani menatap sekeliling yang mana masih banyak pengunjung di sana.
"Yang merasa di KTP-nya Islam, salat dulu," ucap Rani. Dia melangkah lagi menuju lantai tiga, dia mengambil air wudu dan melangsungkan salat magrib.
Rani di depan meja kasir membuka Al-Qur'an dan masih menggunakan hijab, dia mulai ngaji namun dengan suara yang pelan. Seolah sudah tahu dengan kebiasaan itu, para pengunjung juga jauh lebih tenang. Hingga waktu azan isya berkumandang dan Rani kembali menunaikan salat isya.
Rani yang tadi tenang kembali pada stelannya yang bar-bar, rambut yang diikat seperti ekor kuda. Wajah segar dan sweater yang membalut tubuhnya.
"Malam, Ran?" sapa seorang pria tampan di depan meja kasir.
"Malam juga, Kak Arya, atas bawah nih?" tanya Rani dengan senyumnya yang manis.
"Mau di atas," jawabnya, Rani mengangguk.
"Ruangan 4, 7, dan 8 kosong tuh. Sisanya penuh di atas," jawab Rani. Arya mengangguk mengacak sedikit rambut Rani sebelum dirinya melangkah ke lantai dua.
"Aku yang batalin wudunya lagi," senyum terukir di bibir Arya, langkahnya pasti menuju lantai dua.
Arya memang punya kebiasaan unik, dia akan membatalkan wudu Rani dan wudunya sendiri. Setelah isya dia akan langsung ke warnet dan itu sudah jadi kebiasaan sejak 3 bulan lalu.
Sedangkan di tempat lain, Adimas berada di sebuah kafe mewah. Suara musik jazz terdengar nyaman di telinga, Adimas langsung tersenyum saat melihat sosok gadis menggunakan masker dengan topi dan rambut yang dikuncir masuk ke dalam restoran itu.
"Malam, sayang," sapa Alin memeluk Adimas. Seketika perasaan Adimas yang biasanya nyaman berubah menjadi aneh. Perasaan yang entahlah, sangat sulit dia jelaskan. Ini bukan cinta, ini juga bukan rindu, lalu apa?
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang