Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Ketika Dua Dunia Berpapasan
Ketika ekspresi bersalah di wajah Arga dan Maya mengguncang ketenangan dalam diriku, pikiranku terbang jauh ke masa lalu—ke saat aku pertama kali bertemu dengan pria yang kini menjadi suamiku. Suara tawa mereka yang dulu membuat hatiku hangat kini hanya meninggalkan rasa sakit, namun aku tidak bisa tidak mengingat bagaimana awal mula cinta kita berdua yang dulu terasa begitu tulus dan penuh harapan.
Flashback – Enam Tahun yang Lalu
PT. Wijaya Group berdiri gagah di kawasan bisnis utama Bandung, sebuah perusahaan multinasional yang didirikan oleh ayahku, Bapak Wijaya, tiga puluh tahun yang lalu. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, aku telah belajar tentang bisnis sejak kecil—ayahku sering membawaku ke kantor pada hari libur, menjelaskan bagaimana perusahaan beroperasi dan pentingnya menjaga nama baik keluarga Wijaya. Namun, tak pernah aku menyangka bahwa aku akan harus meneruskan bisnisnya begitu cepat.
Pada usia dua puluh lima tahun, aku kehilangan kedua orang tuaku dalam kecelakaan pesawat yang terbang menuju Sumatera untuk menghadiri rapat bisnis penting. Dunia ku runtuh dalam sekejap. Kakakku, Alex Wijaya, yang bekerja sebagai Direktur Utama di divisi properti perusahaan, langsung mengambil alih sementara waktu pengelolaan perusahaan. Namun, karena dia juga sedang menghadapi tantangan besar dalam proyek pembangunan kompleks perumahan baru, dia meminta aku untuk mulai belajar mengelola divisi teknologi informasi yang merupakan bagian paling penting dari perusahaan.
Dalam waktu satu tahun, aku berhasil membawa divisi tersebut mencapai pertumbuhan yang luar biasa. Berkat dedikasi dan kerja keras, aku akhirnya diangkat sebagai CEO penuh waktu oleh dewan direksi perusahaan. Meskipun banyak yang meragukan kapasitas seorang wanita muda untuk memimpin perusahaan besar seperti Wijaya Group, aku membuktikan bahwa darah pengusaha yang mengalir dalam diriku tidak pernah salah.
Pada hari pertama aku resmi menjabat sebagai CEO, aku berdiri di depan meja besar yang dulu menjadi tempat kerja ayahku, melihat lorong kantor yang ramai dengan karyawan yang sibuk menjalankan tugasnya. Di antara mereka ada sosok pria muda dengan wajah tampan dan senyum yang hangat, mengenakan seragam kantor yang rapi dengan dasi biru muda yang sesuai dengan warna matanya yang cerah.
“Bu Rania, izinkan saya menyerahkan laporan mingguan dari divisi TI,” ucapnya dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat, mengulurkan berkas dokumen padaku. Namanya tertera jelas di sampul laporan—Arga Pratama, seorang analis sistem yang baru bekerja di perusahaan selama kurang dari sembilan bulan.
Aku melihatnya dengan cermat. Meskipun hanya sebagai karyawan biasa, dia memiliki aura yang berbeda—percaya diri namun tidak sombong, dan matanya yang tajam sepertinya mampu menangkap setiap detail yang terlewatkan oleh orang lain. “Terima kasih, Arga. Silakan duduk sebentar. Aku ingin membahas beberapa poin penting dalam laporan ini,” jawabku dengan senyum ramah.
Sejak saat itu, Arga sering muncul di kantorku dengan berbagai alasan. Kadang untuk menyerahkan laporan, kadang untuk mempresentasikan ide baru yang bisa meningkatkan efisiensi kerja divisi, dan terkadang hanya untuk membawa secangkir kopi hitam yang tahu aku suka ketika hari ku penuh dengan rapat dan kesibukan. Dia selalu tahu kapan aku membutuhkan bantuan dan kapan aku perlu dibiarkan sendirian.
“Aku melihat Anda bekerja terlalu keras, Bu Rania,” katanya pada suatu sore ketika aku masih berada di kantor hingga pukul sembilan malam. “Saya sudah pesan makanan dari restoran favorit Anda di Jalan Asia Afrika. Makan malam tidak boleh terlewatkan, terutama bagi seseorang yang sedang membawa beban besar seperti Anda.”
Kata-katanya membuat hatiku terasa hangat. Sejak kematian orang tuaku, aku merasa sangat sendirian. Kakakku Alex selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan sering memberikan nasihat yang aku rasakan terlalu protektif. Teman-teman sekolahku sudah menikah atau fokus pada karir mereka masing-masing, sehingga jarang ada yang bisa aku ajak berbagi cerita dengan tulus.
“Terima kasih banyak, Arga,” ucapku dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku benar-benar lupa kalau sudah malam.”
Kita makan bersama di ruang tamu kantor, berbicara tentang segala hal mulai dari strategi bisnis hingga hobi dan minat kita masing-masing. Arga menceritakan bahwa dia berasal dari keluarga biasa di daerah Cimahi—ayahnya adalah seorang petani dan ibunya adalah seorang guru SD. Dia harus bekerja keras untuk bisa menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan ternama seperti Wijaya Group.
“Saya selalu kagum dengan visi Bapak Wijaya tentang perusahaan yang tidak hanya mencari keuntungan, tapi juga berkontribusi pada kemajuan masyarakat,” ucapnya dengan mata yang bersinar. “Dan saya melihat bahwa Anda membawa visi itu lebih jauh lagi, Bu Rania. Anda benar-benar seorang pemimpin yang luar biasa.”
Kata-katanya membuatku merasa terhormat dan sedikit malu. Selama ini, aku selalu merasa bahwa aku belum cukup baik untuk menggantikan posisi ayahku. Tapi dukungan yang diberikan oleh Arga membuatku merasa lebih percaya diri dengan setiap harinya.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kita semakin dekat. Arga mulai mendekat padaku dengan cara yang lembut namun penuh keberanian. Dia mengajakku makan malam di restoran kecil yang hanya diketahui oleh kita berdua, membawa aku berjalan-jalan di kebun raya Lembang pada hari Minggu pagi ketika udara masih segar, dan selalu ada di sisiku ketika aku menghadapi kesulitan dalam pekerjaan.
Suatu malam, ketika kita sedang berada di atas atap gedung utama perusahaan untuk melihat pemandangan kota Bandung yang menerangi malam hari—suatu tempat yang sering kita kunjungi untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kantor—Arga menarik tanganku dan melihatku dengan mata yang penuh cinta.
“Rania,” ucapnya dengan suara pelan namun tegas, menyebut nama ku tanpa gelar resmi yang biasanya dia gunakan. “Saya tahu ada jurang yang sangat jauh antara kita—Anda adalah putri keluarga Wijaya dan CEO perusahaan besar, sementara saya hanya seorang karyawan biasa dari keluarga tidak mampu. Tapi saya tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan saya padamu. Saya mencintaimu bukan karena status atau kekayaan mu, melainkan karena kamu adalah wanita yang luar biasa yang selalu berjuang untuk yang terbaik.”
Aku melihatnya dengan mata yang penuh air mata. Selama beberapa bulan terakhir, aku juga telah mengembangkan perasaan yang sama padanya. Dia adalah satu-satunya orang yang melihatku bukan sebagai pewaris perusahaan Wijaya atau seorang CEO yang harus kuat setiap saat, melainkan sebagai seorang wanita yang juga memiliki kelemahan dan keinginan untuk dicintai seperti orang lain.
“Arga, aku juga mencintaimu,” ucapku dengan tegas. “Tapi kita harus hati-hati ya. Kita tidak bisa membuat hubungan ini mengganggu pekerjaan kita atau menyebabkan masalah di perusahaan.”
Arga mengangguk dan mencium pelan telapak tanganku. “Saya mengerti, sayang. Saya akan bekerja lebih keras untuk menunjukkan bahwa saya layak berdampingan denganmu. Saya tidak akan pernah membuatmu malu karena memilih saya sebagai pasangan hidupmu.”
Namun, tidak semua orang mendukung hubungan kita. Kakakku, Alex Wijaya, langsung menunjukkan ketidaksetujuannya ketika aku memberitahukannya tentang Arga.
“Rania, kamu terlalu muda dan terlalu naif untuk melihat siapa Arga sebenarnya,” katanya dengan nada tegas pada suatu hari ketika kita sedang makan siang bersama di kantor perusahaan. “Saya punya firasat buruk tentang sosoknya. Dia mungkin hanya mencari kesempatan untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan dari keluarga kita.”
“Adek tidak percaya pada firasat kakak saja, Kak Alex,” jawabku dengan nada yang sama tegasnya. “Arga adalah orang yang baik dan tulus padaku. Dia tidak pernah meminta apa-apa dariku selain cinta dan dukungan.”
“Kamu terlalu cinta padanya sehingga tidak bisa melihat kebenaran yang jelas di depan mata mu!” teriak Alex dengan marah. “Jika kamu tetap ingin bersama dia, jangan menyalahkan aku nanti jika kamu terluka dan rugi besar!”
Perdebatan itu membuat hubungan aku dengan kakakku menjadi renggang. Alex mulai menghindariku di kantor dan jarang lagi menghubungiku kecuali untuk urusan bisnis yang sangat penting. Aku merasa sangat sedih karena kehilangan dukungan dari satu-satunya keluarga darah yang kuhabiskan, namun cintaku pada Arga membuatku bersikeras untuk tetap bersama dia.
Arga memang bekerja dengan sangat keras seperti yang dia janjikan. Dia mengikuti berbagai pelatihan dan kursus untuk meningkatkan kemampuannya, dan dalam waktu satu tahun saja, dia dipromosikan menjadi Kepala Divisi Analisis Sistem. Prestasinya tidak bisa dinafikan—dia berhasil mengembangkan sistem baru yang mampu menghemat biaya operasional perusahaan hingga tiga puluh persen. Bahkan beberapa anggota dewan direksi yang awalnya meragukan dia akhirnya mulai mengakui kemampuannya.
Ketika kita memutuskan untuk menikah, aku khawatir akan reaksi kakakku dan para anggota dewan direksi. Namun, Arga berhasil meyakinkan mereka bahwa cintanya padaku tulus dan dia tidak akan pernah menggunakan hubungan kita untuk kepentingan pribadi. Dia bahkan memutuskan untuk keluar dari Wijaya Group setelah menikah untuk menghindari tuduhan konflik kepentingan.
“Perusahaan itu adalah warisan keluarga mu, sayang,” katanya padaku saat kita sedang merencanakan pernikahan. “Saya tidak ingin ada orang yang berpikir bahwa saya mendapatkan kesuksesan hanya karena menikah denganmu. Saya akan membuktikan bahwa saya bisa meraih kesuksesan dengan kekuatan saya sendiri.”
Arga mendirikan usaha sendiri—usaha rumah makan dengan konsep masakan sunda,,,dengan modal yang aku berikan usaha Arga berkembang dengan cepat berkembang berkat chef yang aku pilih dan pekerjakan, chef johan teman baikku, selain itu rumah makan tersebut menjadi catering tetap di Perusahaan PT. Wijaya Group sehingga mendapatkan pemasukan yang lebih banyak dari yang diperkirakan.
Pernikahan kita diadakan di resor mewah di daerah Puncak, dengan hanya menghadirkan keluarga dekat dan teman-teman terpercaya. Maya datang dari kota lain hanya untuk menjadi salah satu dari tiga wanita pengiring pengantin ku. Kakakku Alex akhirnya datang ke pernikahan meskipun dia tidak memberikan restu penuh padaku. Namun, ketika aku berdiri di depan altar bersama Arga, melihat senyum bahagia di wajah sahabatku dan suamiku yang baru, aku merasa bahwa semua pengorbanan yang aku lakukan sebanding dengan kebahagiaan yang kurasakan saat itu.
“Akankah kamu mencintai, menghormati, dan melindungi Rania Wijaya selama-lamanya?” tanya pemimpin upacara pada Arga.
“Ya, saya akan,” jawabnya dengan tegas, melihat mataku dengan cinta yang tulus. “Saya akan selalu berada di sisinya, dalam suka maupun duka.”
Saat itu, aku yakin bahwa aku telah membuat keputusan yang tepat. Aku percaya bahwa Arga adalah pasangan hidup yang tepat untukku—pria yang akan selalu mendukung dan mencintaiku dengan sepenuh hati. Namun, aku tidak menyadari bahwa firasat kakakku yang dulu aku abaikan mungkin tidak sesalah yang kuhitungkan, dan bahwa cinta yang dulu terasa begitu tulus bisa saja menyembunyikan rahasia yang akan menghancurkan dunia kecil bahagia yang aku bangun dengan susah payah.