Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penaklukan sang naga
Lampu minyak di dalam kamar megah itu meredup, menyisakan keremangan yang hanya diterangi oleh bara api dari perapian. Di atas ranjang sutra yang luas, atmosfer terasa begitu berat oleh gairah yang menyesakkan. Kaisar Jian Feng tidak lagi menahan dirinya. Hasrat yang selama ini tertidur, kini bangkit dengan kekuatan penuh karena kehadiran pelayan kecil di bawah kungkungannya.
Jian Feng menatap Mei Lin yang terbaring pasrah. Rambut hitam gadis itu tersebar di atas bantal, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. "Lihat aku, Mei Lin," perintahnya dengan suara serak yang penuh otoritas.
Saat Mei Lin membuka matanya yang basah oleh air mata, ia melihat bukan lagi seorang kaisar yang dingin, melainkan seorang pria yang sedang terbakar nafsu. Tangan Jian Feng yang besar dan kasar mulai menjelajahi lekuk tubuh Mei Lin, memberikan sentuhan-sentuhan yang membakar setiap inci kulit yang ia lalui. Mei Lin merintih kecil, sebuah suara yang justru menjadi bahan bakar bagi api di dalam diri Jian Feng.
"Tuan... kumohon..." bisik Mei Lin, antara ketakutan dan sensasi aneh yang mulai menjalar di perut bagian bawahnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi," jawab Jian Feng sambil mencium leher Mei Lin dengan rakus, menghirup aroma jasmine yang kini bercampur dengan aroma keringat manis.
Sentuhan Jian Feng menjadi lebih menuntut. Ketika ia mulai menyatukan tubuh mereka, Mei Lin merasakan kehadiran kejantanan sang Kaisar yang begitu perkasa dan keras, menekan keberadaannya melawan kelembutan Mei Lin. Sebuah erangan rendah lolos dari tenggorokan Jian Feng saat ia merasakan betapa sempit dan hangatnya "sangkar" yang sedang ia masuki. Bagi sang Kaisar, ini bukan sekadar pelepasan fisik; ini adalah penaklukan atas satu-satunya makhluk yang mampu membuatnya merasa hidup kembali.
Saat Jian Feng mendorong masuk lebih dalam, Mei Lin memekik kecil, jemarinya mencengkeram bahu berotot kaisar, kukunya meninggalkan jejak merah di sana. Rasa sakit yang tajam di awal perlahan berubah menjadi gelombang panas yang memabukkan. Setiap gerak dorongan Jian Feng dilakukan dengan penuh dominasi, seolah ingin menanamkan eksistensinya ke dalam jiwa Mei Lin.
"Kau milikku, Mei Lin. Hanya milikku," raung Jian Feng rendah saat ia mempercepat temponya.
Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang bertemu. Jian Feng tidak memberikan celah bagi Mei Lin untuk berpaling. Ia mencium bibir gadis itu dengan kasar, membungkam tangisnya dan menggantinya dengan desahan napas yang sinkron. Keperkasaan Jian Feng seolah tak ada habisnya, terus memacu Mei Lin menuju puncak sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di bawah dominasi sang naga, Mei Lin merasa dirinya hancur namun juga utuh di saat yang sama. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti mainan yang bisa dibuang, melainkan seperti harta berharga yang sedang diklaim dengan penuh obsesi. Ketika akhirnya ledakan kenikmatan itu datang, Jian Feng memeluk Mei Lin dengan sangat erat, menyalurkan seluruh benih hasratnya ke dalam rahim gadis itu, sementara Mei Lin hanya bisa terkulai lemas, tak berdaya dalam pelukan penguasa yang kini telah membelenggu takdirnya selamanya.
malam terus berlanjut sampai tak terasa pagi sudah tiba,pelukan erat Jian feng dengan kuatnya membuat tubuh mei lin tak bisa bergerak bebas .
bersambung