Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor
Rumor adalah hal yang selalu berubah bentuk saat berpindah tangan. Awalnya itu hanya bisik bisik dari murid kecil. Lalu laporan setengah percaya dan seratus persen percaya dari sekte menengah.
Dan akhirnya… catatan resmi para Tetua. Tidak ada yang sepakat soal kekuatannya. Tidak ada yang sepakat soal niatnya.
Tapi satu kesimpulan muncul perlahan, tak terbantahkan.
Eksistensi itu tidak bisa diperlakukan sebagai kultivator biasa.
RAPAT PARA TETUA SEKTE.
Di aula batu Sekte Daun Giok, para tetua duduk dalam diam yang berat, bahkan leluhur leluhur sekte yang sedang bedara dipengasingan harus turun tangan.
Di tengah ruangan, sebuah gulungan laporan terbuka, gulungan itu ditindihi batu giok penekan qi.
“Empat murid,” kata seorang tetua berambut putih yang selesai mengintrogasi para murid yang pergi ke lembah terlarang.
“Semuanya masuk ke lembah terlarang.”
“Semuanya keluar hidup.”
Tetua lain menyipitkan mata.
“Tidak ada luka?”
“Tidak ada gangguan jiwa?”
“Tidak,” jawab tetua pertama.
“Bahkan satu dari mereka membawa pulang pil… yang tidak tercatat.”
Ruangan semakin sunyi.
“Berarti dia tidak menolak interaksi,” gumam seseorang.
“Tidak,” sahut tetua wanita di sudut.
“Dia tidak mengundang, tapi juga tidak mengusir.”
Itu jauh lebih berbahaya.
KULTIVATOR TERSEMBUNYI DILEMBAH.
Dalam dunia kultivasi, nama adalah jangkar.
Mengetahui nama berarti bisa menelusuri asal, aliran, bahkan karma.
Dan justru karena itu…
“Hahhh, Nama aslinya saja tidak diketahui,” sambil menghela napas kata tetua wanita itu.
“Dan sebaiknya…kita tak perlu memprovokasi senior itu dan kita tak perlu mencari tahu soal senior itu.”
Beberapa tetua mengangguk setuju dengan muka suram.
“Maka kita butuh julukan untuk senior itu,” kata tetua berambut putih.
“Bukan untuk menantang serta mencari masalah.”
“Tapi untuk menandai sosok senior itu supaya tak ada yang murid sekte yang menganggu pengasingannya.”
Diskusi berlangsung dengan sangat lama hanya untuk menentukan julukan Ci Lung yang hanya berada di tahap Qi Refining Layer 3.
Beberapa usulan ditolak:
– terlalu memancing permusuhan
– terlalu menyanjung
– terlalu mengikat karma
Hingga akhirnya, satu nama keluar yang membuat seisi ruangan hening.
JULUKAN ITU LAHIR
“Penunggu Lembah Kegelapan.”
Dia bukanlah raja.
Bukan juga seorang dewa.
Bukan sosok iblis.
Hanya… seorang penunggu.
Nama itu netral.
Dingin.
Dan menyiratkan satu hal penting:
Lembah itu bukan hanya wilayah kosong serta menyeramkan.
Itu wilayah yang sudah ditempati oleh seorang yang dianggap senior serta menakutkan bagi orang luar lembah.
Sejak hari itu, peta-peta sekte berubah.
Wilayah itu tidak lagi ditandai merah sebagai “zona mati”,
melainkan zona orange. Zona orange artinya wilayah yang boleh didatangi namun harus tetap berhati hati karena wilayah tersebut belum diselidiki seluk beluknya secara menyeluruh.
Dan dengan catatan kecil di sudut peta yang bertuliskan:
“Interaksi diperbolehkan jika tidak menggangu.
Dilarang melakukan hal yang dianggap memprovokasi.
Tidak boleh menetap terlalu lama.”
Yang tidak disadari oleh para tetua adalah satu hal kecil:
Dengan mereka memberi julukan…
sama saja mereka mengakui kedaulatan wilayah lembah itu.
Lalu para monster di sekitar lembah mulai bertingkah aneh.
Mereka tidak lagi menyerang siapa pun yang masuk dengan niat jelas.
Beberapa roh bahkan berpindah wilayah dari tempat itu, seolah tahu tempat mana yang “bukan lagi milik mereka”.
Dan di antara kultivator kultivator muda, lahir suatu kebiasaan aneh:
Jika mereka melewati lembah itu,
mereka akan menundukkan kepala sedikit.
Bukan memberi hormat.
Lebih seperti…
tidak ingin diperhatikan oleh si penunggu lembah alias Ci Lung.
KEMBALI KE LEMBAH
Sementara itu, di tengah lembah, seorang pria duduk di atas batu besar, menatap pil yang gagal terbentuk di tangannya.
“Penunggu lembah kematian…?” gumamnya.
Ia mendecak pelan.
“Namanya ribet banget.”
Ia melempar pil itu ke samping, lalu ia berdiri, dan menguap.
“Ckckck, padahal aku cuma mau hidup tenang,” katanya pada dirinya sendiri.
“Kenapa dunia malah jadi heboh cuma gara gara aku ada disini…”
Angin berhembus pelan.
Lembah tetap diam.
Dan Penunggu Lembah kembali menjalani harinya.
tanpa tahu bahwa dunia sudah mulai mengukur jarak aman darinya.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠