Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 233
Asteroid Hantu – Sektor Pinggiran Zona Pusat.
Keheningan ruang hampa dipecahkan oleh gemuruh mesin perang.
Di antara jutaan batu meteor yang melayang tak beraturan, Bahtera Teratai Merah dikepung dari tiga arah. Tiga armada kapal perang dengan panji berbeda telah memblokir semua rute pelarian.
Sektor Kiri: Armada kapal berbentuk tengkorak merah yang memancarkan bau amis darah. Trio Iblis Darah (Blood Demon Trio). Tiga bersaudara kultivator jahat yang terkenal suka menguliti korbannya hidup-hidup.
Sektor Kanan: Armada kapal hijau lumut yang diselimuti kabut beracun. Sekte Racun Seribu Ular. Kehadiran mereka saja sudah membuat batu-batu meteor di sekitar mereka mendesis dan meleleh.
Sektor Depan: Kapal-kapal raksasa berlapis baja hitam tebal tanpa dekorasi. Klan Besi Hitam. Kelompok pemburu bayaran yang mengandalkan taktik tabrak lari dengan pertahanan fisik mutlak.
Total ada tiga puluh kapal perang dan ratusan kultivator tingkat Penyatuan Kehampaan hingga Setengah Langkah Dewa Sejati.
Di anjungan Bahtera Teratai Merah, Nana menatap layar radar dengan ekor yang meremang kaku.
"Tuan Feng... Mereka sudah mengunci posisi kita. Sinyal menyerah dikirim."
Shi Hao berdiri di haluan kapal, menatap armada gabungan itu dengan tangan di belakang punggung.
"Menyerah?" Shi Hao terkekeh. "Biarkan mereka bicara."
Proyeksi holografik muncul di udara, menampilkan wajah tiga pemimpin musuh.
"Shi Hao!" teriak Iblis Darah Sulung, pria botak dengan tato darah di wajahnya. "Serahkan kepalamu dan kami akan membiarkan wanitamu mati dengan cepat!"
"Jangan dengarkan dia!" sela Nenek Ular dari Sekte Racun, suaranya serak dan licik. "Serahkan tubuhmu padaku untuk dijadikan boneka mayat, dan aku akan menjamin jiwamu tidak disiksa!"
"BERISIK!" bentak Komandan Baja dari Klan Besi. "Hancurkan saja kapalnya! Kita bagi potongan tubuhnya nanti!"
Shi Hao mendengarkan perdebatan mereka seperti mendengarkan gonggongan anjing liar.
"Sudah selesai?" tanya Shi Hao, suaranya diperkuat ke ruang hampa.
Ketiga pemimpin itu terdiam, menatap Shi Hao.
"Kalian menginginkan kepalaku seharga 100 Juta?" Shi Hao mengetuk pelipisnya.
"Datang dan ambil. Tapi hati-hati... di sini banyak batu nisan yang belum bernama."
Shi Hao memutus komunikasi.
Dia berbalik ke arah Nana.
"Nana, matikan mesin pendorong utama. Aktifkan Pendorong Samping."
"Tie Shan, Wuming... Jaga geladak. Jangan biarkan lalat masuk."
"Luo Tian... Tunggu aba-abaku untuk meledakkan 'hadiah' yang kita tanam."
Shi Hao kemudian berjalan menuju keluar.
"Aku akan menyapa tamu dari Sektor Kiri."
"SERANG!" teriak Iblis Darah Sulung.
Sepuluh kapal merah melaju kencang, menembakkan jaring darah untuk menangkap Bahtera Teratai Merah.
Namun, Bahtera Teratai Merah tiba-tiba bergerak aneh. Bukannya lari lurus, kapal itu berputar miring di tempat, menyelip masuk ke celah sempit di antara dua asteroid raksasa.
Serangan jaring darah itu meleset dan malah mengenai kapal Klan Besi di seberangnya.
"Hei! Lihat-lihat kalau menembak, Iblis Bodoh!" maki Komandan Baja.
Di tengah kekacauan itu, sesosok bayangan kecil melesat keluar dari Bahtera Teratai Merah, terbang langsung menuju armada Trio Iblis Darah.
Itu Shi Hao. Dia terbang sendirian di ruang hampa tanpa zirah.
"Dia menyerahkan diri?" Iblis Darah Sulung menyeringai. "Tangkap dia!"
Ketiga Iblis Darah (Sulung, Tengah, Bungsu)—semuanya di ranah Setengah Langkah Dewa Sejati melompat keluar dari kapal mereka. Mereka membentuk formasi segitiga, mengurung Shi Hao.
"Formasi Lautan Darah: Penjara Tulang!"
Gelombang darah kental meledak dari tubuh mereka, mencoba menenggelamkan Shi Hao.
Shi Hao berhenti di tengah ruang hampa. Dia melihat gelombang darah yang datang dari tiga arah.
Jari telunjuk kanannya (yang menyatu dengan Tulang Naga Kekacauan) berkedut. Jari itu terasa lapar. Tulang hitam itu bereaksi terhadap esensi darah yang kuat.
"Kebetulan sekali," gumam Shi Hao. "Jariku haus."
Shi Hao mengangkat tangan kanannya. Aura ungu kehitaman menyelimuti telunjuknya, memancarkan tekanan purba yang membuat darah di sekitar mereka bergetar ketakutan.
"Seni Jari Naga: Pusaran Hitam Pemangsa."
Shi Hao menusukkan jarinya ke depan.
WUUUNG!
Sebuah lubang hitam kecil seukuran koin terbentuk di ujung jarinya.
Seketika, "Lautan Darah" yang dikerahkan Trio Iblis... Tersedot.
Bukannya menenggelamkan Shi Hao, darah itu ditarik paksa masuk ke dalam lubang hitam di ujung jari Shi Hao.
"APA?!" Trio Iblis Darah melotot ngeri. Teknik andalan mereka dimakan?!
"Terima kasih atas makanannya," kata Shi Hao.
Detik berikutnya, Shi Hao melesat.
Dia muncul di depan Iblis Darah Bungsu.
TAP.
Shi Hao menyentil dahi Iblis Darah Bungsu dengan jari telunjuknya.
Hanya sentilan ringan.
SPLAT!
Kepala Iblis Darah Bungsu meledak seperti semangka yang dihantam palu godam. Tubuhnya hancur menjadi kabut darah, yang langsung dihisap habis oleh jari Shi Hao.
"ADIK!!!" Iblis Darah Sulung meraung.
Sementara itu, di sisi lain medan perang...
Armada Sekte Racun mencoba menyusup dari belakang, memanfaatkan kabut untuk bersembunyi.
Namun, Nana yang mengendalikan kapal melihat mereka dengan jelas melalui sensor Peta Bintang Kuno.
"Luo Tian! Sektor 4, Tembak batu itu!" teriak Nana.
Luo Tian di kapal membidik sebuah asteroid kecil yang tampak tidak berbahaya.
"Siap!"
DUAR!
Tembakan meriam energi menghancurkan asteroid itu.
Ternyata, asteroid itu berisi Kristal Metana Padat yang tidak stabil (sebuah jebakan yang dipasang Shi Hao dan timnya sebelum musuh datang).
Ledakan asteroid itu memicu reaksi berantai dengan kabut racun Sekte Ular yang mudah terbakar.
BOOOM! BOOOOOOM!
Lautan api hijau meledak, melahap lima kapal Sekte Racun dalam sekejap. Jeritan para kultivator racun terdengar mengerikan saat mereka terbakar oleh racun mereka sendiri.
Di geladak Bahtera Teratai Merah, Klan Besi mencoba melakukan penyerbuan.
Puluhan prajurit berbaju besi melompat ke geladak.
Tapi di sana, Wuming dan Tie Shan sudah menunggu.
"Kalian menyebut diri kalian 'Besi'?" Tie Shan tertawa, membesarkan tubuhnya menjadi raksasa batu berzirah hitam.
Dia menangkap dua prajurit Klan Besi dan membenturkan kepala mereka.
KRAK. Helm besi mereka penyok.
"Besimu lembek!"
Wuming bergerak lebih elegan. Pedang Jiwa Es-nya menari, membekukan setiap musuh yang mencoba mendekati pintu masuk kapal.
"Kembalilah berlatih seratus tahun lagi," kata Wuming tenang, setiap tebasannya memakan satu nyawa.
Kembali ke Shi Hao.
Dia berdiri di atas bangkai kapal Iblis Darah yang mulai hancur. Dua pemimpin Iblis Darah yang tersisa gemetar ketakutan.
Mereka menyadari satu hal fatal: Informasi intelijen salah. Shi Hao bukan buronan yang lari ketakutan. Dia adalah monster yang sedang menyamar.
"Kami... Kami menyerah!" teriak Iblis Darah Sulung, berlutut di ruang hampa. "Kami akan memberikan semua harta kami! Tolong jangan bunuh kami!"
Shi Hao berjalan mendekat, jari telunjuknya masih meneteskan sisa energi ungu.
"Sayembara itu bilang 'Hidup atau Mati', kan?"
Shi Hao memegang kepala Iblis Darah Sulung.
"Sayangnya, aku hanya menerima pembayaran tunai. Nyawamu adalah bayarannya."
KREK.
Shi Hao mematahkan lehernya, lalu menyimpan mayatnya ke dalam cincin penyimpanan (sebagai bukti untuk menakut-nakuti musuh lain nanti, atau bahan bakar mayat).
Dia menoleh ke arah sisa armada musuh yang kini kocar-kacir. Kapal Sekte Racun terbakar, Kapal Klan Besi mundur ketakutan melihat pembantaian di geladak.
Shi Hao mengangkat suaranya.
"DENGAR, SAMPAH-SAMPAH!"
"Sampaikan pada Putri Yao Xi!"
"Kirimkan anjing yang lebih kuat! Anjing-anjing ini bahkan tidak cukup untuk pemanasan!"
Sisa armada musuh lari terbirit-birit, melompat ke kapal Spiritual tanpa mempedulikan teman mereka yang tertinggal.
Shi Hao kembali ke kapal, disambut sorak sorai timnya.
"Panen besar, Bos!" lapor Shu Ling yang sibuk menjarah bangkai kapal musuh yang hancur. "Lihat semua Kristal dan Senjata ini!"
Shi Hao tersenyum puas, tapi dia merasakan jari telunjuk kanannya berdenyut panas. Tulang Naga itu... rasanya belum puas.
"Kita tidak bisa lama-lama di sini," kata Shi Hao, menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik jubah. "Bau darah ini akan memancing hiu yang sebenarnya."
"Jalan terus."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛