Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kini Reynaldo dan Sofia sampai di Kota Perak Mall – salah satu mall terbesar di kota itu yang 85% sahamnya dimiliki oleh Reynaldo Wijaya Mahkota. Bagaimana tidak Alisha sering mengatasnamakan keluarga Wijaya hanya untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain.
Sofia tahu kemana mereka akan pergi – Dapur Nusantara, restoran milik Reynaldo yang terkenal dengan masakan khas Indonesia dan internasional.
Kini mereka duduk di area VVIP restoran tersebut. Para pelayan sudah tahu pesanan khas sang pemilik, jadi Reynaldo tidak perlu menyebutkannya. Beberapa pelayan mengenal Sofia karena dulu Reynaldo sering membawanya kesini, begitu juga dengan mantan kekasihnya.
"Vano.." ucap Sofia lembut memanggil Reynaldo yang terus menatap teleponnya. Sofia mencoba melihat apa yang sedang dia lakukan – sepertinya dia sedang melihat gambar binatang dengan tulisan "Kadal Air".
Ternyata Reynaldo masih tidak terima dengan julukan itu yang diberikan Nabila padanya. Bagaimana tidak hewan tersebut tidak ada sedikitpun kelebihan yang bisa dia banggakan.
"Vanooo!!" panggil Sofia lebih kencang.
"Hemmm..!" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Kau sedari tadi fokus sama telepon genggam mu.. aku sudah memanggil berkali-kali tapi kau mengabaikanku!" ucap Sofia sedikit kesal.
"Sofiaa...!" panggil Reynaldo kini menatapnya.
"Ada apa?"
"Menurutmu apa aku jelek??" tanya Reynaldo sambil memandang wajah Sofia agar dia menatapnya.
"Tidak.. kau sangat sempurna.." ucap Sofia tersenyum.
"Nahh aku setuju denganmu kali ini.." ucap Reynaldo kemudian kembali menatap gambar kadal air itu. Dia terus berpikir darimana saja Nabila bisa mendapatkan ide untuk menyebutnya seperti itu.
"Baiklah Sofia, apa yang kau inginkan sebenarnya ?? " ucap Reynaldo kini serius. Dia sudah bertekad akan menanyakan alasannya pada "Monyet Kecil" itu nanti.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu Vano – apa itu salah?" ucap Sofia dengan pandangan sedih.
"Salah! Sofia!, Kau sendiri tahu aku tidak pernah memiliki perasaan lebih padamu!"
"Apa sesulit itu membukakan hatimu untukku?!"
"Karena aku memang tidak mencintaimu dan kau tahu itu!"
"Tapi kenapa?"
"Alasannya karena aku selalu menganggapmu hanya sebagai sahabat! Ini semua bukan karena seseorang – tapi karena memang begitu!"
"Sudahlah Sofia! Kau berhak mendapatkan kebahagiaan dengan orang lain!"
"Tapi Vano?"
"Apa lagi? Kau mau berharap apa dariku Sofia?? Aku sudah menikah dan tidak akan pernah bisa menikahimu!"
"Apa?? Hahahah kau berbohong!! Kau hanya bilang itu untuk membatalkan pertunangan kita!"
"Hentikan semua ini Sofia! Dan ini adalah kalinya terakhir kita bertemu" ucap Reynaldo tegas.
"Tapi aku sangat menyayangimu Vano!"
"Kau hanya takut menikah dengan orang yang tidak mencintaimu!"
"Tapi bisakah aku kembali jadi sahabatmu? Aku berjanji tidak akan menaruh perasaan apapun lagi.."
"Dengarkan aku Sofia! Seorang pria tidak bisa bersahabat dengan wanita jika salah satunya masih memiliki perasaan lebih. Dan aku tidak ingin membuat istriku terluka.." ucap Reynaldo kini menatap foto wajah Nabila yang dikirim tadi.
"Permisi tuan, ini makanannya.." ucap pelayan menghampiri mereka.
"Hemm.." ujar Reynaldo singkat.
Pelayan meletakkan semua makanan yang biasanya dia pesan ketika datang kesini.
"Makanlah! Kau tahu aku tidak suka berdebat saat ada makanan di depan mata!" ucap Reynaldo yang memang selalu memiliki aturan sendiri.
Kini mereka menikmati makanannya dengan diam.
Di tempat lain, seorang gadis berusia 19 tahun yang telah menjadi istri orang berpengaruh baru saja memasuki Kota Perak Mall – dia tidak tahu bahwa sebagian besar saham mall itu milik suaminya.
Nabila menatap gerai yang bertuliskan "Gucci" dengan mata penuh kagum.
"Baiklah Nabila bersikap elegan.." gumamnya dalam hati sebelum memasuki toko ternama itu.
Siapa wanita yang tidak terpesona dengan tas, baju, atau sepatu bermerek terkenal? Seorang pegawai toko melihat Nabila dari atas ke bawah, kemudian mulai memandangnya dengan merendahkan.
"Ada yang bisa kami bantu Nona..?" ucap pegawai itu dengan nada tidak terlalu ramah.
"Aku ingin melihat tas itu!" ucap Nabila menunjuk salah satu tas yang ditutupi kaca dan hanya ada satu di tengah toko.
"Itu produk terbaru dan hanya ada tiga buah di seluruh dunia Nona.."
"Kau serius? Aku ingin melihatnya secara detail!"
"Anda bisa melihatnya dari luar kaca saja Nona.."
"Whattt!! Aku ingin menyentuh dan melihat detailnya!"
"Kami khawatir barang ini akan rusak jika disentuh oleh orang sembarangan.." ucap pegawai itu semakin memandang rendah Nabila.
"Jikapun rusak aku akan membayarnya semua!!" cetus Nabila sinis.
"Nona sebaiknya keluar saja jika tidak mampu membelinya..!"
"Heiii!! Apa begitu cara kamu melayani pembeli! Sangat tidak sopan sekali!" ucap Nabila kesal.
"Jangan berlagak kaya raya Nona – kami sering bertemu orang seperti kamu yang hanya pura-pura mampu namun akhirnya tidak jadi membeli, haha"
"Kasihan kamu! Kau cuma sebagai penjaga saja dan pasti tidak mampu membeli salah satu barang di sini!" ucap Nabila semakin marah.
"Hahaha, sepertinya kau salah memasuki mall ini" ucap pegawai itu menertawakan Nabila.
"Bahkan mulutmu pun aku bisa beli! Bawa saja tas itu – aku akan membelinya!" ucap Nabila tegas.
"Anda yakin? Jangan sampai malu diri sendiri Nona!!"
"Lihat siapa yang akan malu nanti!" ucap Nabila sinis.
Kini pegawai itu terpaksa membawa tas tersebut ke kasir.
"Harganya 750 juta rupiah Nona.." ucap kasir toko, sedangkan pegawai yang tadi masih berdiri di sana seolah ingin berkata bahwa Nabila tidak mampu membayarnya.
Nabila mengeluarkan kartu hitam dari tasnya. Pegawai yang tadi langsung membulatkan mata melihat kartu Unlimited itu.
"Awas matamu keluar ya!!" cetus Nabila kepada pegawai itu.
"Pembayaran atas nama Reynaldo Wijaya Mahkota ya Nona.." ucap kasir setelah memeriksa kartu.
DEGGGG!!!
Semua orang di toko itu melotot ke arah Nabila – kasir, pegawai, dan bahkan pengawal keamanan terkejut saat mendengar nama Reynaldo disebutkan.
"Iya, kartu itu milik suamiku..!" ucap Nabila dengan polos sambil tetap fokus menatap teleponnya karena pesannya kepada "Kadal Air" belum dibalas.
"Permisi Nyonya, ada masalahkah??" ucap salah satu pengawal Nabila yang melihatnya sedang diperhatikan banyak orang.
"Kenapa mereka semua melihatku?" ucap Nabila kini menatap para pegawai toko.
Pegawai itu sudah mulai berkeringat dingin ketika mengetahui wanita yang mereka remehkan adalah istri pemilik saham besar mall tersebut.
"Tidakk ada masalah Nyonya, kami akan segera menyiapkan barangnya – maafkan kami atas kelalaian kami.." ucap kasir kini sangat hormat.
"Whatt?! Tadi kalian panggil aku Nona, sekarang malah Nyonya! Semua orang jadi seperti nenek lampiran yang suka berubah sikap ya..!" cetus Nabila namun pengawalnya hanya bisa tertawa.
"Yang aku bilang benar kan? Kau pegang tas itu ya, aku lapar sekarang – kita makan dulu!!" ucap Nabila ramah kepada pengawalnya.
"Baik Nyonya.." ucap pengawal itu tersenyum.
Nabila mengambil kartu kembali kemudian berjalan keluar dari toko.
"Kalian akan mendapat masalah besar jika dia melaporkan pada Tuan Reynaldo!!" ucap pengawal Nabila dengan senyum menyindir para pegawai toko.
Seluruh pegawai toko itu langsung panik – mereka terlalu cepat menilai seseorang dari penampilan luar saja!
"Kalian ingat ya, walaupun kalian adalah pengawal khusus si kadal air, jangan pernah menganggap diri kalian lebih tinggi dari orang lain yang tidak mampu!!" ucap Nabila seperti sedang menasehati anaknya sendiri.
"Baik Nyonya!" ucap para pengawal serentak sambil tersenyum.
"Kalian tau aku paling tidak suka sama orang yang suka merendahkan orang lain!!" ucap Nabila menggerutu.
Kini mereka melangkah menuju restoran terkenal di dalam mall. Nabila mencari area yang sedikit tertutup agar tidak mengganggu orang lain.
"Kenapa kalian berhenti??" ucap Nabila melihat pengawalnya berhenti di depan pintu restoran.
"Kami akan menunggu Nyonya di luar saja.."
"Ikut saja aku, aku akan mentraktir kalian makan.." ucap Nabila tersenyum manis.
"Tapi Nyonya.."
"Ikut atau aku akan melaporkan kalian pada Reynaldo..?" ucap Nabila menatap mereka dengan nada sedikit mengancam.
"Ba-baikk Nyonya.."
Kini mereka duduk di area VVIP. Tanpa mereka sadari, di ruangan sebelah ada Reynaldo yang sedang makan bersama Sofia.
"Nona, bukankah itu pengawal Tuan Reynaldo.." ucap salah satu pengawal Nabila menunjuk seseorang yang berjaga di depan ruangan sebelah.
"Apa kau serius? Kau tidak salah kan?"
"Tidak Nyonya, dia memang pengawal khusus Tuan.."
"Jadi si kadal air ada disini?"
"Kemungkinan besar Nyonya, karena hanya beberapa pengawal khusus yang selalu menemani Tuan kemana saja.."
"Baiklah kita kesana.."
"Tapi bagaimana jika Tuan sedang dalam rapat penting..?"
"Tenang saja, kadal air tidak akan marah.." ucap Nabila tersenyum.
"Kalian makanlah disini, pesan apa saja yang kalian mau. Panggil juga teman-teman kalian yang berjaga di luar untuk ikut makan. Aku akan ke ruangan sebelah menemui suamiku.."
"Baik Nyonya.."
Nabila berjalan menuju ruangan sebelah dan bertemu dengan pengawal Reynaldo.
"Nyonya Nabila...." ucap salah satu pengawal dengan hormat.
"Reynaldo ada didalam?" tanya Nabila lembut.
"Iya Nyonya.."
"Kalian kesebelah saja makan ya, disana ada meja kosong dan pengawalku juga ada disana. Kalian juga manusia yang perlu makan.."
"Tapi Nyonya..?"
"Pergilah ini perintahku, dan tenang saja aku yang akan membayarkan makanannya.." ucap Nabila tersenyum manis.
Tanpa basa-basi Nabila memasuki ruangan itu dan langsung melihat Sofia sedang memegang tangan Reynaldo. Makan siang mereka sudah selesai dan mereka sedang membahas sesuatu tentang persahabatan.
Nabila menatap tangan Sofia yang masih berada di atas tangan Reynaldo.
"Heheh sepertinya aku datang di waktu yang salah ya.." cengir Nabila dengan pandangan sinis ke arah Reynaldo.
"Nabila...!" ujar Reynaldo terkejut melihat tatapan wajahnya.
"Haiii kaliann.. disini terasa panas banget yahhh!!" ucap Nabila dengan nada yang sedikit menekankan, kemudian membuka outer lilac-nya sehingga hanya tinggal mengenakan tank top hitam. Kulit putih mulusnya terlihat jelas dan membuatnya terlihat sangat cantik – hal itu membuat Reynaldo sedikit terkejut dan merasa geram.
"Nabila apa yang kau lakukan!!" pekik Reynaldo.
"Aku hanya kepanasan saja.. kalian lanjutkan saja percakapannya.." ucap Nabila mendekat ke arah mereka, mata tetap menatap sinis ke arah Reynaldo. Tangan Sofia masih belum lepas dari tangannya.
Sofia terlihat bingung dengan siapa wanita cantik itu.
"Sepertinya kita baru saja bertemu Nona.." ucap Nabila dengan sopan namun tetap dengan nada tegas, kemudian menarik tangan Sofia dari tangan Reynaldo.
"Perkenalkan aku Nabila Safitri Wijaya – istri Reynaldo Wijaya Mahkota!!" ucap Nabila menekankan kata "Wijaya" sambil merentangkan tangannya untuk bersalaman.
"Sofia Lim.." ucap Sofia dengan suara lembut.
"Senang berkenalan denganmu Nona.." ujar Nabila kemudian kembali menatap Reynaldo dengan pandangan tajam namun tetap memberikan senyuman.
Raina terus menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya untuk menegaskan bahwa dia adalah istri sah Reynaldo.
"Reynaldo! Kau sudah makan siang kan?" ucap Nabila menatapnya dengan tatapan yang penuh makna.
"Sudah.. kau sedang apa disini..?" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Bukankah aku sudah kirim pesan padamu tadi?? Ohhh aku lupa kau pasti sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa membalas pesanku!!" ucap Nabila sedikit kesal namun tetap berusaha tampil elegan. Bagaimana tidak, dia tahu bahwa wanita di depannya adalah orang yang sering disebut oleh ayah mertua sebagai calon istri yang cocok untuk Reynaldo.
"Dimana cincinmuu..?" ucap Nabila menatap tangan Reynaldo yang tidak mengenakan cincin pernikahan.
"Cincin?" Reynaldo menatap jari manisnya dan mulai mengingat dimana dia menyimpannya.
Cincin itu berada di kantornya – tadi dia melepasnya karena sedang menangani masalah bisnis yang membuat tangannya terkena kotoran dan sedikit darah. Dia tidak ingin merusak cincin itu sehingga menyimpannya dengan aman.
"Aku melepaskannya di kantor tadi, karena aku sedang menangani sesuatu yang membuat tanganku kotor. Supaya cincin tidak jadi rusak atau kotor, aku taruh saja ditempat yang aman Nabila..." ucap Reynaldo menjelaskan dengan sabar.
Nabila mengambil gelas anggur yang ada di meja lalu menuangkannya ke dalam gelas Reynaldo. Dia meneguknya langsung seperti meminum air putih.
"Lanjutkan saja! Aku mau pulang aja!! Maafkan aku karena mengganggu kalian berdua.." ucap Nabila menatap tajam ke arah mereka.
"Nabila pakailah baju mu kembali!"
"Diamm! Jangan mengatur aku!!" teriak Nabila marah.
"Nabila Safitri Wijaya!!!" bentak Reynaldo dengan suara keras.
"Reynaldo Wijaya Mahkota!!!" balas Nabila dengan tatapan yang sama kuatnya.
Reynaldo mendekat ke arah Nabila yang ingin keluar, kemudian membuka jasnya dan memakainya pada tubuh istrinya dengan lembut.
"Aku tidak mau memakainya!!" teriak Nabila menolak.
Namun dengan cepat, Reynaldo menggendong tubuhnya seperti membawa seorang anak kecil.
"Lepaskan !! Lepaskan akuuu bangsatt!!" teriak Nabila sambil memukul punggung Reynaldo, namun dia tidak menghiraukannya.
"Kadalll air lepaskan akuuu!!!" teriak Nabila dengan suara keras.
Para pengawal yang melihatnya langsung keluar dari ruangan.
"Nyonya Nabila....!" teriak mereka mengejarnya.
"Kalian tolongg aku! Pria ini gilaaa!!" ucap Nabila berteriak.
"Maafkan kami Nyonya..!" ucap para pengawal dengan hormat.
"Heiii kaliann!! Tagihan makanan pengawalku dan semua yang mereka pesen biarin aja si kadal air ini yang bayarin!!" ucap Nabila kepada pelayan restoran.
Semua mata menatap mereka – siapa sangka wanita berani berteriak kepada orang berpengaruh seperti Reynaldo Wijaya Mahkota!
"Kalian dengar kan? Yang bayarin semua itu adalah si kadal air!!" ucap salah satu pengawal kepada pelayan.
"Siapa wanita itu..?" ucap salah satu pelayan penasaran.
"Dia istri Tuan Reynaldo Wijaya Mahkota..!" ucap pengawal itu kemudian mengikuti langkah Reynaldo dan Nabila.
"Kadal airr lepaskan aku!!" teriak Nabila terus menerus.
"Diamlah monyet kecill!!" ucap Reynaldo sedikit geram karena terus disapa dengan julukan itu.
"Dasaaarrr kadal airrr!! Kadal airrrr..!!" teriak Nabila semakin keras sambil memukul punggungnya.