NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu, suasana mansion Arkatama yang biasanya tenang sedikit terusik oleh suara deru mobil yang sangat dikenal oleh Ariel.

Sebuah sedan hitam mewah berhenti di lobi, dan tak lama kemudian, langkah kaki yang tegas namun elegan terdengar di lorong menuju kamar utama.

Pintu terbuka pelan, menampakkan sosok wanita paruh baya dengan aura berwibawa namun memiliki sorot mata yang teduh.

Ia adalah Dokter Wahyuni, ibu kandung Ariel, seorang psikiater senior yang reputasinya sudah diakui secara nasional.

Ariel, yang sedang merapikan selimut Relia, menoleh dan segera berdiri.

Ia tidak terkejut, karena ia tahu ibunya pasti akan datang setelah menerima laporan singkat darinya semalam.

"Mama," sapa Ariel pelan.

Dokter Wahyuni tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada sosok mungil yang tertidur lelap di atas ranjang.

Dimana sosok yang tampak begitu rapuh dengan bekas luka yang masih terlihat jelas di wajahnya.

Wahyuni mendekat, lalu mengusap puncak kepala Relia dengan jemari yang gemetar karena haru sekaligus amarah profesional.

"Jadi, ini gadis yang membuat putraku yang sedingin es nekat melakukan pernikahan darurat?" bisik Wahyuni.

Ariel mengangguk, ia melangkah mendekati ibunya.

"Namanya Relia, Ma. Dia bukan sekadar pasien. Dia adalah alasan kenapa aku merasa ilmu kedokteranku selama ini tidak ada artinya jika aku tidak bisa menyelamatkannya."

Wahyuni berbalik, menatap putranya dengan tatapan tajam seorang psikiater.

"Ariel, kamu tahu risiko profesinya. Menikahi pasien dalam kondisi trauma akut itu bisa menjadi pedang bermata dua. Tapi," ia kembali menatap Relia, "setelah melihat rekam medis yang kamu kirim, Mama paham. Jika kamu tidak menjadi 'benteng' hukum baginya, dia tidak akan bertahan satu minggu lagi di luar sana."

"Mama sudah bicara dengan tim legal dan kepolisian?" tanya Ariel.

"Sudah," Wahyuni menghela napas, ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Relia. "Markus dan istrinya sudah masuk dalam radar pengawasan. Tapi yang paling krusial sekarang bukan menangkap mereka, Ariel. Yang paling krusial adalah membangun kembali 'dunia' di dalam kepala gadis ini."

Tiba-tiba, Relia melenguh dalam tidurnya. Kelopak matanya bergerak gelisah. "M-mas... jangan... kainnya sesak..." racunya lirih.

Wahyuni segera memegang tangan Relia dengan teknik yang sangat khusus dimana sentuhan yang memberikan rasa aman tanpa mengejutkan.

"Sshh... tenang, Sayang. Kamu aman. Ini bukan kain, ini hanya udara pagi yang sejuk."

Mendengar suara wanita yang begitu lembut, Relia perlahan membuka matanya.

Ia terkesiap saat melihat sosok asing di depannya, tubuhnya otomatis ingin menjauh.

"Relia, tenang. Ini Mama, maksudku, ini Dokter Wahyuni. Dia ibuku," Ariel segera menenangkan.

Relia menatap Wahyuni dengan ragu. Namun, saat melihat mata Wahyuni yang penuh kasih sayang dimana tatapan seorang ibu yang selama ini tidak ia dapatkan dari Sarah.

"Apakah Anda juga akan menyuruhku bersyukur atas rasa sakit ini?" tanya Relia dengan suara parau.

Wahyuni merasakan hatinya perih. Ia menggenggam tangan Relia lebih erat.

"Tidak, Sayang. Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa kamu berhak untuk marah. Kamu berhak untuk benci. Dan kamu berhak untuk menangis sampai seluruh rasa sakit itu keluar. Kamu tidak berhutang syukur pada siapa pun yang menyakitimu."

Mendengar jawaban itu, Relia terisak. Ia seolah menemukan sosok pelindung baru.

"Ariel," Wahyuni menoleh ke arah putranya tanpa melepaskan tangan Relia.

"Pindahkan ruang kerjaku ke mansion ini mulai besok. Kita akan melakukan terapi intensif di sini. Dan satu lagi, pastikan Markus tahu bahwa sekarang dia tidak hanya berhadapan dengan CEO Arkatama, tapi juga dengan Wahyuni Arkatama yang tidak akan segan mencabut izin praktik pengacaranya jika mereka masih berani berulah."

Kemudian mama Wahyuni meminta pelayan untuk menyiapkan makan khusus untuk Relia.

Sementara itu dikamar Relia menatap laptop yang ada di meja.

"M-mas, boleh aku pinjam laptopnya?" tanya Relia.

"Silahkan sayang," jawab Ariel

Ariel mengira kalau relia akan bermain game atau hanya mendengarkan lagu

Relia membuka words dan mulai membuat judul ikat pinggang yang putus

Ariel meninggalkan kamarnya dan menuju ke dapur

Ariel melangkah keluar dengan senyum tipis, merasa lega melihat Relia mulai menunjukkan ketertarikan pada sesuatu selain ketakutannya. Namun, di dalam kamar yang hening itu, jemari Relia yang kurus mulai menari di atas keyboard dengan gemetar.

Ia tidak sedang mencari hiburan. Ia sedang memuntahkan racun yang selama ini mengendap di jiwanya.

Ikat Pinggang yang Putus

Suara hujan bukan lagi melodi, melainkan genderang perang yang menandai kedatangan sang iblis. Di balik pintu kayu yang rapuh, aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat berlindung, melainkan peti mati yang pintunya terkunci dari luar.

Selama dua tahun, aku adalah bayangan tanpa suara. Aku adalah objek yang bibirnya dibungkam oleh kain hitam, hingga rasa sesak menjadi satu-satunya udara yang kukenali. Pukul dua pagi bukan lagi angka pada jam, melainkan tanda dimulainya sebuah upacara penghancuran harga diri.

Aku teringat dinginnya lantai saat ikat pinggang itu mencium punggungku. Setiap hantamannya bukan hanya menyayat kulit, tapi memutus satu per satu benang kewarasanku. "Bersyukurlah," kata mereka. Namun, bagaimana aku bisa bersyukur atas tangan yang mencekik napas dan kaki yang menginjak kehormatan?

Ikat pinggang itu memang tebal, tapi malam itu, ia telah putus. Bukan fisiknya yang patah, melainkan ikatan ketakutan yang selama ini merantai kakiku. Di bawah sabetan terakhir, aku menyadari bahwa jika aku tetap diam, aku akan mati sebagai sampah di tangan manusia yang merasa dirinya Tuhan.

Relia berhenti sejenak. Air matanya jatuh tepat di atas tombol space, membuat kursor di layar berkedip seolah ikut berdenyut bersama rasa sakitnya.

Ia menghirup napas dalam, merasakan sesak di dadanya sedikit berkurang setiap kali satu kalimat berhasil ia ketik.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari balik pintu. Relia tersentak, tangannya refleks ingin menutup layar laptop.

Jantungnya berdegup kencang, trauma itu kembali menyerang seolah-olah Markus yang datang.

"Relia? Ini Mama Wahyuni, Sayang."

Suara lembut itu membuat bahu Relia perlahan rileks.

Pintu terbuka sedikit, menampakkan Wahyuni yang membawa nampan berisi bubur gandum hangat dan buah-buahan segar.

Wahyuni meletakkan nampan di nakas, namun matanya yang jeli menangkap layar laptop yang penuh dengan tulisan.

Sebagai psikiater, ia tahu ini adalah metode journaling dimana sebuah cara penyembuhan mandiri yang sangat kuat.

"Menulis adalah cara terbaik untuk memberi tahu dunia apa yang tidak sanggup diucapkan oleh bibir, Relia," ucap Wahyuni lembut sambil duduk di tepi ranjang.

Relia menunduk, wajahnya memerah. "Aku hanya ingin mengeluarkan semuanya, Ma. Judulnya 'Ikat Pinggang yang Putus'."

Wahyuni tersenyum bangga, meski hatinya teriris membaca sekilas paragraf pertama.

"Itu judul yang sangat kuat. Suatu saat, tulisan ini bukan hanya akan menyembuhkanmu, tapi juga akan menjadi saksi bisu yang menyeret mereka ke pengadilan."

"Apakah, menurut Mama, tulisanku ini sampah?" tanya Relia ragu.

"Tulisanmu adalah kebenaran, Relia. Dan kebenaran tidak pernah menjadi sampah. Teruskanlah," Wahyuni mengusap tangan Relia.

"Sekarang, makanlah sedikit. Kamu butuh energi untuk menyelesaikan bab selanjutnya dari hidupmu yang baru."

Relia menganggukkan kepalanya dan mulai makan.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!