Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kota Gagak hitam
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari melintasi pegunungan dan dataran tinggi, tembok raksasa Kota Utama Gagak Hitam akhirnya terlihat di cakrawala.
Kota ini adalah pusat peradaban di benua, tempat di mana energi alam terasa jauh lebih padat dibandingkan pinggiran kota yang gersang.
Menara-menara tinggi menjulang, dan bendera-bendera dari berbagai klan besar berkibar tertiup angin kencang.
Rombongan Keluarga Xiao bergerak perlahan di antara antrean kereta kuda mewah lainnya.
Namun, kehadiran mereka segera menarik perhatian. Di gerbang utama, telah berdiri barisan pengawal berseragam perak yang sangat dikenal oleh semua orang: Kekuatan Utama Keluarga Qing.
Di depan barisan itu, berdiri seorang gadis yang kecantikannya mampu membuat bunga-bunga di taman kota layu karena iri.
Qing Laoyue, dengan gaun perang ringan berwarna biru laut yang elegan, tampak gelisah. Matanya terus memindai setiap kereta yang lewat dengan tatapan penuh kerinduan.
Begitu kereta kuda dengan lambang Keluarga Xiao muncul, wajah Laoyue langsung cerah. Ia bahkan tidak memedulikan protokol sebagai pemimpin keluarga dan langsung berlari kecil menyambutnya.
Pintu kereta terbuka. Jian Feng melangkah turun dengan jubah hitamnya yang misterius, tudung yang masih menutupi kepalanya, dan penghalang sutra yang menyembunyikan wajahnya.
Namun, aroma maskulin yang dingin dan aura Penyatuan Roh yang tajam tidak bisa membohongi insting Laoyue.
"Xiao Feng!"
Tanpa aba-aba, Laoyue langsung menghambur dan memeluk Jian Feng dengan sangat erat di depan ratusan mata orang yang lalu lalang di gerbang kota.
Ia menyandarkan wajahnya di dada Jian Feng, menghirup aroma jubahnya seolah-olah ia baru saja menemukan harta karun yang hilang.
"Aku sangat khawatir! Aku mendengar kabar ada serangan bandit di jalur dagang... aku hampir saja mengirim pasukan untuk mencarimu!" suara Laoyue terdengar serak, menahan tangis sekaligus rasa lega yang luar biasa.
Para pengawal Keluarga Qing ternganga. Pemimpin mereka yang dikenal dingin dan tegas terhadap urusan bisnis, kini terlihat seperti gadis kecil yang sedang merajuk pada kekasihnya.
Sementara itu, Xiao Zhen dan Xiao Da hanya bisa berdiri kaku di belakang, merasa canggung dengan pemandangan tersebut.
Jian Feng berdiri mematung. Tangannya tidak bergerak untuk membalas pelukan itu. Di balik penutup sutranya, wajahnya tampak sangat malas.
Baginya, pelukan ini terasa menyesakkan, bukan karena emosi, tapi karena ia merasa ini adalah gangguan fisik yang tidak perlu.
"Laoyue," suara Jian Feng terdengar berat dan datar dari balik cadar. "Lepaskan. Kau menghambat aliran Qi-ku."
Laoyue mendongak, matanya yang indah menatap tajam ke arah bayangan wajah di balik sutra. "Tidak mau! Kau selalu saja dingin. Apa kau tidak tahu betapa sulitnya aku fokus pada pertemuan tetua karena mengkhawatirkanmu?"
Jian Feng menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan rasa bosan.
Ia dengan perlahan namun tegas memegang pundak Laoyue dan mendorongnya menjauh, menciptakan jarak di antara mereka.
"Kita berada di gerbang kota, bukan di taman pribadimu," ucap Jian Feng sambil merapikan jubahnya yang sedikit berantakan. "Simpan dramamu untuk nanti. Aku ke sini untuk turnamen, bukan untuk menjadi bantal pelukmu."
Meskipun didorong dan ditegur dengan dingin, Laoyue justru tersenyum lebar.
Baginya, Xiao Feng yang sarkastik dan dingin jauh lebih baik daripada Xiao Feng yang penakut dan lemah seperti dulu.
"Baiklah, baiklah. Kau benar-benar tidak romantis," Laoyue merapikan rambutnya, kembali ke mode pemimpin keluarga, namun matanya tetap tertuju pada Jian Feng. "Aku sudah menyiapkan paviliun terbaik untukmu di Manor Qing. Jangan tinggal di penginapan kumuh yang disediakan panitia. Kau harus dalam kondisi puncak."
Jian Feng terdiam sejenak. Ia melirik ke arah ayahnya, Xiao Zhen, yang tampak berharap Jian Feng menerima tawaran itu agar Keluarga Xiao mendapatkan koneksi lebih kuat dengan keluarga Qing.
"Aku akan tinggal di sana." ucap Jian Feng akhirnya. Bukan karena ia ingin dekat dengan Laoyue, tapi karena ia tahu Manor Qing memiliki sumber daya dan ketenangan yang ia butuhkan untuk menyempurnakan ranah Penyatuan Rohnya sebelum panggung turnamen dimulai.
"Bagus! Ayo ikut aku." Laoyue kembali ingin menggandeng tangan Jian Feng, namun Jian Feng dengan cepat menyembunyikan tangannya di balik jubah lebar.
"Jalan saja di depan, Laoyue. Aku bisa berjalan sendiri." ucap Jian Feng malas.
Sepanjang jalan menuju Manor Qing, Jian Feng terus memerhatikan sekeliling. Ia merasakan ada banyak aura kuat yang bersembunyi di dalam kota ini—beberapa di antaranya berada di ranah Manifestasi Roh dan bahkan ada yang mendekati Jiwa Sejati.
"Turnamen ini akan lebih menarik dari yang kuduga," batin Jian Feng. "Banyak mangsa berkualitas untuk dijadikan batu loncatan."
thor lu kaya Jiang Feng