Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(3T) Tabungan, Tekanan, dan Tujuan
🕊
Dua bulan dua minggu.
Alea menandai angka itu di sudut buku kecil yang selalu ia simpan di laci lemari mess. Buku lusuh dengan sampul biru pudar itu bukan sekadar catatan—di sanalah mimpi kecilnya bertumbuh pelan-pelan. Setiap gaji yang masuk, ia tulis dengan rapi. Setiap pengeluaran, ia hitung dengan teliti. Dan di halaman terakhir, ada satu tujuan yang ia lingkari tebal:
Ponsel pertama. Dari keringat sendiri.
Pagi itu, Alea duduk di tepi ranjang mess, menghitung uang tunai yang baru saja ia sisihkan. Tangannya berhenti sejenak, bibirnya melengkung tipis.
“Sedikit lagi,” gumamnya lirih.
Ia membayangkan wajah Ayu, Dika, dan Ara. Membayangkan bisa menelpon tanpa harus meminjam ponsel siapa pun. Mendengar suara mereka kapan saja, tanpa menunggu giliran atau menit gratis. Baginya, ponsel bukan gaya hidup—itu jembatan pulang.
Hari kerja dimulai seperti biasa. Pabrik gaun pengantin sudah ramai sejak pukul delapan. Mesin jahit berdengung, kain-kain putih tergantung berlapis, dan aroma setrika uap memenuhi udara.
Namun suasananya… tidak lagi sama.
Jika di bulan pertama Alea merasa tempat ini adalah ruang belajar yang keras tapi adil, kini rasanya seperti medan uji mental. Bukan soal pekerjaan—pekerjaannya justru ia kuasai semakin baik. Jahitan tangannya rapi, detail payet nya presisi, dan kecepatan kerjanya meningkat.
Masalahnya ada pada manusia. “Alea.” Suara Mr. Han terdengar dingin dari belakangnya. Ia refleks berdiri tegak. “Yes, sir?” Mr. Han menatap hasil kerja Alea tanpa menyentuhnya. “Why this seam slightly uneven?” Alea mendekat, memperhatikan. “It’s aligned, sir. Maybe angle of fabric—”
“Don’t explain,” potongnya cepat. “Fix it. Perfection only.” Nada suaranya keras. Datar. Tidak memberi ruang. Alea menggerakan kepala. “Yes, sir.” Mr. Han berlalu tanpa menoleh lagi.
Jina yang duduk di meja sebelah melirik Alea dengan ekspresi waspada. Ia mendekat sedikit, berbisik, “He’s been like that all week.” Alea tersenyum tipis. “I know.”
“Don’t take it personally,” sambung Jina pelan. “Everyone gets it. Even seniors.” Alea mengangguk, tapi dadanya terasa sesak. Ia tahu ini bukan soal dirinya semata. Namun ketika kata-kata keras itu diarahkan padanya setiap hari, rasanya tetap saja menggerus perlahan—seperti air yang menetes di batu.
Saat istirahat makan siang, Alea duduk bersama beberapa rekan kerja perempuan. Percakapan mereka terdengar pelan, tapi sarat lelah. “Kamu tahu nggak kenapa Minseo resign?” salah satu dari mereka bertanya. “Katanya nggak kuat sama tekanan,” jawab yang lain.
“Padahal hasil kerjanya bagus.”
“Bagus nggak cukup di sini,” sahut seorang staf senior dengan nada pahit. “Kalau kamu nggak bisa tahan kerasnya atasan, ya… keluar.” Alea diam, menyendok nasi tanpa suara.
“Eh, Alea,” salah satu menoleh padanya. “Kamu kuat juga ya. Masih betah.” Alea tersenyum sopan. “Aku… masih belajar.”
“Ya, tapi kamu cepat banget naik skill-nya,” ujar yang lain. “Kadang bikin kita dibanding-bandingin.” Kalimat itu meluncur ringan—tapi jatuhnya berat. Alea menunduk. Ia tidak berniat menjadi pembanding. Ia hanya bekerja sebaik yang ia bisa.
Sore hari, tekanan memuncak.
Sebuah gaun untuk klien luar negeri harus selesai hari itu juga. Waktu mepet. Revisi mendadak. Dan Mr. Han berada di lantai produksi lebih lama dari biasanya.
“Alea, faster.”
“Alea, check again.”
“Alea, this is not standard.”
Nada suaranya meninggi setiap jam.
Ketika sebuah detail kecil terlewat—lipatan renda yang bergeser setengah sentimeter—Mr. Han menghentikan seluruh pekerjaan. “Who did this?”
Ruangan mendadak sunyi.
Alea melangkah maju. “I did, sir.” Tatapan itu menusuk. “You should know better by now. Two months working, still a mistake?” Alea menatap ke bawah. “I’m sorry, sir. I’ll fix it immediately.”
“Sorry doesn’t fix quality.” Kalimat itu menggantung di udara, tajam.
Beberapa rekan kerja menunduk. Ada yang melirik Alea—bukan dengan marah, tapi dengan campuran iba dan kelelahan.
Setelah jam kerja berakhir, Alea kembali ke mess dengan langkah berat. Bahunya pegal, kepalanya penuh, dan hatinya… lelah.
Ia duduk di lantai kamar, bersandar di ranjang. Buku tabungannya tergeletak di samping. Ia membukanya. Uang itu masih ada. Tujuannya masih jelas. Tapi untuk pertama kalinya sejak bekerja di sini, Alea bertanya dalam hati:
“Apa aku bisa bertahan?”
Ia teringat omongan rekan kerja. Tentang mereka yang resign. Tentang masalah yang bukan ada di karyawan—melainkan di atasan. “Kerjanya enak,” gumam Alea pelan. “Tapi rasanya…” Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Malam itu, Alea duduk di luar mess, memandang langit. Angin membawa suara kendaraan dari kejauhan. Ia merapatkan jaket tipisnya. “Alea.”
Jina muncul, membawa dua gelas minuman hangat. “I thought you might be here.” Alea menerima gelas itu. “Thank you.” Mereka duduk berdampingan. “Kamu kepikiran?” tanya Jina. Alea mengangguk jujur. “A little.”
“He’s changing,” kata Jina lirih. “Or maybe… he’s showing his real self.” Alea tersenyum pahit. “Aku nyaman kerja di sini. Aku belajar banyak.”
“I know.”
“Tapi akhir-akhir ini aku merasa… seperti harus selalu membuktikan diri. Setiap hari.” Jina menatap langit. “That’s why many leave.”
“Why do you stay?” Tanya Alea. Jina terdiam sejenak. “Because I need the job. And because… I’m still strong enough. For now.” Jawaban itu menghantam Alea lebih keras daripada teriakan atasan mana pun.
Di kamar, sebelum tidur, Alea menulis di buku kecilnya: “Hari ini aku lelah. Bukan karena jarum atau kain. Tapi karena kata-kata. Aku ingin ponsel itu. Aku ingin menghubungi rumah. Tapi aku juga ingin bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri.”
Ia menutup buku, mematikan lampu. Di kegelapan, bayangan Mama hadir—seperti biasa, tenang. “Mama,” bisiknya dalam hati. “Kalau dunia kerja memang sekeras ini… apa Alea harus terus bertahan?”
Tak ada jawaban. Hanya napasnya sendiri.
Keesokan harinya, Alea kembali bekerja. Ia menjahit. Ia fokus. Ia menabung. Meski setiap hari, beban itu semakin terasa—perbandingan, tekanan, dan atasan yang tidak mau kalah.
Namun Alea tetap berdiri. Bukan karena ia tidak lelah. Tapi karena ia tahu, Jika ia menyerah sekarang, semua luka yang sudah ia tahan akan terasa sia-sia. Dan di dalam hatinya, ada tekad kecil yang belum padam— Sedikit lagi. Ponsel itu. Suara rumah itu. Lalu… kita lihat lagi, Alea masih sanggup atau tidak.
–
Tiga hari berlalu dengan ritme yang hampir sama—pagi yang cepat, siang yang padat, dan malam yang selalu menyisakan lelah di tubuh Alea. Namun hari itu berbeda. Ada satu tujuan kecil yang sejak lama ia genggam, dan akhirnya bisa ia capai dengan tangannya sendiri.
Sepulang kerja, Alea tidak langsung kembali ke mess. Ia turun satu halte lebih jauh, menyusuri deretan toko elektronik kecil yang berderet rapat. Lampu-lampu etalase menyala terang, memantulkan wajahnya di kaca—wajah lelah, tapi matanya hidup.
Ia masuk ke salah satu toko. “Cari apa, Mbak?” tanya penjaga toko ramah.
Alea menelan ludah, lalu tersenyum canggung. “Ponsel… yang sederhana saja. Yang penting bisa nelpon dan internet.” Penjaga itu mengangguk, menunjukkan beberapa pilihan. Alea mendengarkan dengan saksama, menghitung cepat di kepalanya. Jarinya meremas tali tas saat harga disebutkan. Yang ini… masih masuk.
“Aku ambil yang ini,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar halus.
Saat kotak kecil itu berpindah ke tangannya, Alea terdiam beberapa detik. Tangan nya hangat, dadanya ikut menghangat. Ini bukan sekadar ponsel—ini hasil dari lembur, dari diam yang panjang, dari menahan diri setiap kali ingin menyerah.
Di mess, ia membuka kotak itu perlahan. Plastik pelindung berbunyi pelan saat dilepas. Ia menyalakan ponsel itu, menunggu layar menyala, lalu menghela napas panjang.
Nomor pertama yang ia simpan… rumah. Jarinya bergetar saat menekan ikon panggilan. Nada sambung terdengar. Satu. Dua.
“Halo?” suara Ayu terdengar di seberang, terkejut sekaligus ragu. “Kak Ayu…” suara Alea nyaris pecah. “Ini Alea.”
“Alea?” Suara itu meninggi. “Ya Allah, kamu telpon? Ini nomor kamu sendiri?” Alea tertawa kecil, ada air mata yang tiba-tiba menggenang. “Iya. Aku beli ponsel… akhirnya.”
“Ya ampun…” Ayu terdengar terisak. “Dika! Ara! Alea nelpon!” Suara ribut menyusul, lalu suara Dika yang lantang, “Kaka Alea! Kamu beneran nelpon?”
“Aku di sini,” jawab Alea sambil tersenyum lebar. “Kalian gimana?” Ara menyalip dengan suara kecil tapi penuh semangat. “Kakak kerja capek nggak?” Alea menarik napas. “Capek… tapi Alea baik-baik saja.”
Mereka bicara lama. Tentang kerjaan Alea di pabrik gaun pengantin, tentang mess, tentang makanan yang kadang hambar, tentang atasannya yang keras—yang Alea ceritakan setengah saja, agar tidak membuat mereka khawatir. “Yang penting kamu sehat,” kata Ayu lembut. “Kami di rumah baik-baik. Jangan mikir aneh-aneh, ya.”
“Iya,” jawab Alea pelan. “Aku cuma… kangen.”
“Kami juga,” sahut Dika cepat. “Bangga sama Kaka.” Kata itu menempel lama di dada Alea.
Setelah panggilan berakhir, kamar mess terasa lebih hangat. Alea merebahkan diri, ponsel masih di genggaman. Senyumnya belum pudar. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian sepenuhnya.
Namun rasa hangat itu perlahan berganti menjadi sunyi yang berbeda. Alea duduk, membuka ponselnya lagi. Jarinya bergerak otomatis—membuka browser, mengetik kata-kata yang sudah sering ia pikirkan:
lowongan kerja jahit / fashion / produksi
Satu per satu laman terbuka. Ia membaca syarat, lokasi, jam kerja. Ada yang lebih dekat ke rumah. Ada yang gajinya sedikit lebih tinggi. Ada yang menjanjikan lingkungan lebih manusiawi. “Aku cuma lihat-lihat,” gumamnya, seolah membenarkan diri sendiri.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Jam di layar menunjukkan hampir tengah malam. Matanya perih, tapi pikirannya terus bekerja. Ia menyimpan beberapa tautan, mencatat nama perusahaan.
“Kalau suatu hari aku harus pergi…” bisiknya. Ia mematikan layar, berbaring, memeluk bantal. Rasa lelah akhirnya menang, menariknya ke dalam tidur yang dangkal. Namun malam itu, tidurnya tidak benar-benar tenang.
Pagi datang terlalu cepat. Alarm berbunyi nyaring, memotong mimpi yang bahkan belum sempat ia pahami. Alea terbangun dengan jantung berdebar, seperti ada sesuatu yang tertinggal di udara—tekanan yang belum berbentuk, tapi terasa nyata.
Ia duduk, menatap ponsel di meja kecil. Hangat kemarin masih ada, tapi kini bercampur dengan firasat aneh. “Ada apa hari ini…” gumamnya pelan. Ia bangkit, bersiap seperti biasa. Namun langkahnya terasa lebih berat. Seolah tubuhnya tahu lebih dulu, bahwa hari ini tidak akan berjalan ringan.
Dan Alea belum tahu— bahwa hari yang baru saja datang itu tidak sekadar menekannya pelan, melainkan bersiap menguji batas terakhir ketabahannya.
☀️☀️