Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Masa Lalu
Perjalanan Menyeberang ke Bali, Pukul 09.00
Perahu ferry bergoyang-goyang di Selat Bali, memotong ombak berwarna biru kehijauan. Ferdy berdiri di geladak, membiarkan angin laut menerpa wajahnya.
Tas ranselnya yang besar ada di punggung, berisi sedikit pakaian dan peralatan kamera. Ia meninggalkan Banyuwangi dengan hati penuh tekad dan pertanyaan. Pesan dari Saras dan percakapan dengan ibunya masih bergema di kepalanya.
Sebelahnya, di kursi geladak yang kosong, ia bisa merasakan kehadiran Dasima. Dia seperti angin yang lebih lembut di antara angin laut yang kencang, sebuah kehadiran yang menenangkan.
"Kita hampir sampai," bisik sebuah perasaan di hatinya.
---
Ubud, Bali, Pukul 16.00
Ubud menyambutnya dengan suasana yang berbeda: damai namun penuh kehidupan. Deretan toko kerajinan, galeri seni, dan cafe organik berjejer di jalan utama.
Tapi Ferdy tidak mencari kemewahan turis. Dia menyusuri gang-gang kecil, jauh dari keramaian, hingga menemukan sebuah homestay sederhana milik keluarga lokal: beberapa bungalow kayu beratap ijuk mengelilingi taman kecil dengan kolam ikan dan pura keluarga.
Pemiliknya, seorang ibu tua bernama Ibu Wayan, menyambutnya dengan senyum ramah. "Selamat datang, Mas. Kamar sudah siap. Ini tempat tenang, baik untuk istirahat atau… mencari ketenangan batin." Matanya seolah bisa membaca maksud Ferdy.
Kamar kecil tapi bersih, dengan balkon kayu menghadap ke sawah berundak yang hijau. Ferdy melepas tas, lalu langsung keluar. Dia tidak punya waktu untuk berwisata. Dia punya misi.
---
Pura Gunung Lebah, Ubud, Pukul 08.00, Keesokan Harinya
Fajar masih menyisakan kabut tipis di antara pepohonan hutan di sekitar pura yang terletak di tepi sungai ini. Suara gemericik air dan kicau burung adalah satu-satunya bunyi.
Ferdy sudah duduk bersila di bale bale (balai-balai) di area luar pura, mengenakan kaus dan celana training sederhana. Dia telah meminta izin untuk bermeditasi di sini.
Seorang tua, seorang kuncen atau penjaga pura bernama Pak Ketut, mendekatinya. Pak Ketut berusia mungkin tujuh puluhan, kulit keriput, mata kecil tapi sangat tajam. Ia memakai kain kamben dan udeng (ikat kepala khas Bali).
"Mas sudah siap?" tanyanya dengan suara serak namun lembut.
"Siap, Pak. Saya ingin belajar… merasakan lebih dalam. Melihat yang tak terlihat."
Pak Ketut menganggak. "Meditasi bukan untuk melihat hantu, Mas. Untuk membersihkan hati, menyelaraskan diri dengan alam. Kalau hati bersih, mata ketiga akan terbuka dengan sendirinya. Tapi ingat, apa yang dilihat belum tentu harus dicari. Kadang, yang dicari justru menemukan kita."
Petuah itu dalam. Ferdy mengangguk, menutup matanya. Pak Ketut duduk di depannya, membimbingnya dengan suara tenang.
"Tarik napas… dari hidung… rasakan udara masuk… ke seluruh tubuh… Buang perlahan… lepaskan semua pikiran…"
Ferdy mengikuti. Awalnya sulit. Pikirannya dipenuhi oleh keris yang hilang, wajah Kirana, senyum sedih Dasima, bisikan Saras. Tapi perlahan, dengan bimbingan Pak Ketut, napasnya menjadi teratur.
Suara alam sekitar—gemericik air, kicau burung, desau daun—menjadi satu musik yang menenangkan.
---
Pukul 10.30 – Penyatuan dan Penerobosan
Ferdy sudah tidak merasakan waktu. Tubuhnya terasa ringan, seperti mengambang. Ia masih duduk, tapi kesadarannya seolah meluas.
Dia bisa merasakan energi dari tanah di bawahnya, dari pohon-pohon di sekeliling, dari air sungai yang mengalir. Dan dia bisa merasakan sebuah energi lain yang sangat dekat, sangat akrab: Dasima.
Dia ada di sana, duduk di depannya, juga dalam keadaan meditatif, energinya bersinar keemasan samar.
Lalu, Pak Ketut membisikkan sesuatu dalam bahasa Bali, sebuah mantra sederhana untuk membuka hati. Dan sesuatu… bergeser.
Bukan seperti tertidur. Tapi seperti terhisap ke dalam sebuah lorong cahaya yang berputar cepat.
---
MASA LALU – Sebuah Gubuk di Pinggir Hutan, 500 Tahun Yang Lalu
Ferdy (atau kesadarannya) tiba-tiba ada di sana. Dia bisa melihat, tapi seperti menonton film dari sudut pandang orang pertama. Dia melihat tangan-tangannya—bukan tangannya yang biasa, tapi tangan yang lebih besar, berotot, dengan beberapa luka sayatan yang sedang dibalut.
Dia berbaring di atas tempat tidur bambu. Dan di sampingnya, duduk seorang perempuan muda. Dasima.
Dia masih manusia. Kulitnya sawo matang, rambut hitam bergelombang panjang terurai, mata madu yang penuh perhatian dan… cinta yang tak terhingga.
Dia memakai kebaya biru tua sederhana yang sudah lusuh, tangannya sedang meremas kain yang dibasahi air hangat, lalu dengan lembut menyeka luka di dada Ferdy—atau lebih tepatnya, Raden Wijaya.
"Awas, Raden. Lukanya masih dalam," bisik Dasima, suaranya seperti musik.
"Maaf merepotkanmu, Dasima," suara Raden Wijaya (yang keluar dari mulut Ferdy) terdengar lemah namun hangat.
"Jangan bicara. Istirahat." Dasima tersenyum, dan dalam senyuman itu ada semua ketulusan dunia. Tangannya yang lembut terus merawat, membersihkan darah, mengoleskan ramuan herbal berwarna hijau.
Setiap sentuhannya penuh kasih sayang yang membuat jiwa Ferdy (yang menyaksikan) terasa hangat dan sekaligus sakit.
Ia melihat bagaimana cara Dasima memandangi Raden Wijaya—sebuah pandangan yang berisi pengabdian, kekaguman, dan cinta yang siap berkorban. Ia melihat bagaimana Raden Wijaya membalas pandangan itu dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
Ini bukan mimpi. Ini lebih nyata. Ferdy bisa merasakan rasa sakit di lukanya, kehangatan sentuhan Dasima, dan beban emosi yang begitu kuat di antara mereka.
"Aku mencintaimu, Dasima," bisik Raden Wijaya tiba-tiba, suaranya parau.
"Jangan… jangan katakan itu. Dunia kita berbeda," jawab Dasima, tapi matanya berkaca-kaca.
"Dunia hanya garis yang digambar manusia. Hatiku sudah memilih jalannya."
Saat itu, Ferdy merasakan gelombang cinta yang begitu besar, begitu murni, sehingga air matanya (dalam kesadaran meditasinya) menetes.
Lalu, adegan itu memudar, berubah seperti air yang diaduk.
---
RUANG KOSONG TANPA BATAS
Kegelapan. Lalu, bukan kegelapan, tapi sebuah ruang tanpa warna, tanpa bentuk, tanpa suara. Hanya kesadaran Ferdy yang melayang. Ini bukan dunia manusia, bukan pula dunia jin. Ini mungkin ruang antar-waktu, ruang jiwa.
Dan di tengah kehampaan itu, sebuah sosok muncul perlahan.
Seorang pria berusia paruh baya, dengan wajah yang Ferdy kenal dari foto-foto lama. Wajahnya keras, penuh pengalaman hidup, tapi matanya lembut. Dia memakai kemeja lusuh dan celana panjang sederhana. Sukardi Wicaksono. Ayahnya.
"Ayah?" suara Ferdy (kesadarannya) terpecah.
Sosok ayahnya tersenyum, sebuah senyuman yang penuh kedamaian. "Ferdy. Anakku."
"Di mana ini? Apa… apa ayah sudah…?"
"Ini adalah tempat di antara. Aku tidak bisa lama. Tapi ada yang harus kusampaikan."
Suara ayahnya terdengar jelas, seperti gema di dalam pikiran.
"Keris… itu ada padamu, Nak."
"Tapi ibu bilang hilang…"
"Tidak hilang. Ia berpindah. Aku sembunyikan di tempat yang hanya akan terbuka untukmu ketika kau siap. Di bawah pohon beringin besar di belakang rumah, di mana kau dulu sering bermain. Galilah di antara akarnya."
Ferdy terkesiap. "Kenapa? Apa itu keris Raden Wijaya?"
"Itu adalah Trisula Wedha. Keris pusaka Raden Wijaya. Dan itu adalah kunci. Kunci untuk mengingat, dan kunci untuk… melindungi."
Wajah ayahnya menjadi serius.
"Dengarkan, Nak. Darah kita membawa beban. Darah kebangsawanan yang terlupakan. Dan kita juga membawa hutang jiwa. Dasima… dia sudah menunggu terlalu lama. Cintanya menahanku di dunia ini lebih lama dari seharusnya, membuatku bisa bertemu ibumu dan memiliki kamu."
"Ayah… kenapa ayah tidak cerita?"
"Karena aku ingin kamu hidup normal. Tapi takdirmu berbeda. Dan kini, kau siap."
Ayahnya mendekat, sosoknya mulai transparan. "Ferdy. Cintailah Dasima dengan cara yang tak bisa kulakukan di kehidupan ini. Tapi… jangan tutup hatimu untuk dunia yang ada di depanmu. Kirana… dia adalah cahaya dari kehidupan sekarang. Keduanya adalah bagian dari jalanmu."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Ambil kerisnya. Bawa ke Bali. Ke Pura Besakih. Di sana, dengan bimbingan yang tepat, kau akan tahu apa yang harus dilakukan. Dan ingat… apapun yang terjadi, jadilah Ferdy. Bukan hanya Raden Wijaya yang kembali. Jadilah keduanya."
Sosok ayahnya semakin samar. "Aku harus pergi. Ibu… jagalah ibumu. Dan… maafkan ayah karena meninggalkanmu dengan rahasia ini."
"Ayah, tunggu!"
"Selamat jalan, anakku. Kau kuat. Lebih kuat dari yang kau kira."
Sosok itu menghilang, menyisakan Ferdy sendirian di ruang kosong itu, dengan hati berdebar kencang dan pikiran yang seperti dihantam badai informasi.
---
Pura Gunung Lebah, Ubud, Pukul 14.00
Ferdy terbatuk-batuk, membuka mata dengan kasar. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya berair. Dia masih duduk di bale bale, tapi matahari sudah condong ke barat. Ia telah bermeditasi selama hampir lima jam.
Pak Ketut masih duduk di depannya, memandanginya dengan mata penuh pengertian.
"Kau telah pergi jauh, Mas."
"Ayah… saya melihat ayah saya," gumam Ferdy, suaranya serak.
"Dan juga yang lain? Perempuan dengan energi biru?"
Ferdy mengangguk, tak bisa bicara. Perasaan dari memori merawat Raden Wijaya masih melekat kuat, membuat dadanya sesak.
"Kau telah membuka pintu. Sekarang, kau harus berhati-hati. Jangan terburu-buru. Dunia yang kau sentuh itu sangat nyata, dan bisa menyedot energimu."
Pak Ketut memberinya segelas air. "Minum. Dan istirahat. Besok, jika kuat, kita lanjutkan."
Ferdy minum, tangannya gemetar. Pikirannya penuh dengan lokasi keris, pesan ayahnya, dan konflik antara dua cinta yang kini terasa semakin nyata dan mendesak.
Dia kembali ke homestay dengan langkah gontai. Di kamarnya, dia merasakan kehadiran Dasima yang sangat kuat, penuh dengan emosi yang meluap—rasa rindu yang terobati karena Ferdy akhirnya "melihat" mereka berdua di masa lalu, dan juga rasa khawatir.
"Kau melihatnya," bisik Dasima dalam hatinya, suara perasaannya bergetar.
"Iya. Dan aku melihat ayahku. Dia meninggalkan petunjuk. Keris itu… ada di rumah."
"Trisula Wedha…" nama itu diucapkan Dasima dengan penuh rasa hormat dan sakit.
"Kau harus mengambilnya. Tapi kau harus kuat. Menyentuhnya… akan membangkitkan lebih banyak ingatan. Dan mungkin… bahaya."
"Maksudnya bahaya apa?"
"Orang-orang yang dulu menginginkan kematian Raden Wijaya… energi mereka mungkin juga masih ada. Atau keturunannya. Dan Kirana… wajahnya…"
Ferdy memejamkan mata. Sekarang, setelah mengalami sendiri betapa nyata ikatannya dengan Dasima, setelah mendapat petunjuk langsung dari ayahnya yang telah meninggal, perasaannya menjadi semakin jelas. Cinta pada Dasima adalah takdir jiwa.
Tapi perasaan pada Kirana… adalah pilihan manusia yang tulus dan berharga.
Dan kini, dengan keris yang menunggu di Banyuwangi dan Pura Besakih yang memanggil di Bali, perjalanannya berubah dari sekadar pencarian spiritual menjadi sebuah misi untuk menyatukan potongan-potongan takdirnya yang terpisah oleh lima abad.
Dan entah bagaimana, di tengah semua ini, Kirana dengan cintanya yang sabar, masih menunggu di dunia nyata, tanpa tahu bahwa pria yang ia perjuangkan sedang berusaha menyelesaikan kisah cintanya dengan seorang wanita dari masa lalu.