NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keris Trisula Wedha

Banyuwangi, Sore Hari, Dua Hari Setelah Kembali dari Bali

Udara Banyuwangi terasa lebih lembap dan panas setelah kesejukan Bali. Ferdy turun dari bus malam dengan tubuh pegal, namun matanya penuh tekad. Tas ranselnya masih berisi pakaian kotor dan sedikit oleh-oleh kopi Bali untuk ibunya. Ia langsung menuju rumah ibunya di kawasan perkampungan dekat alun-alun.

Rumah panggung kayu tua itu tampak sunyi. Ibu Surti sedang duduk di beranda, menyulam taplak meja. Matanya terangkat saat melihat Ferdy mendekat.

"Sudah pulang? Bagaimana Bali?"

"Tenang, Bu. Memberikan banyak... pencerahan," jawab Ferdy, mencium kening ibunya.

Ada rasa haru karena ia tahu ayahnya pernah membisikkan rahasia besar tentang rumah ini. "Ibu, aku perlu lihat sesuatu di belakang rumah."

Ibu Surti mengangguk, tanpa banyak bertanya. Matanya seolah mengatakan, 'Ayahmu sudah memberitahuku bahwa suatu hari kau akan mencari sesuatu.'

---

Belakang Rumah, di Bawah Pohon Beringin Raksasa

Pohon beringin itu adalah landmark kecil di lingkungan mereka. Akar-akarnya yang bergantung seperti tirai alam menutupi area seluas lapangan badminton. Daunnya rimbun, menciptakan kanopi gelap yang menyejukkan.

Di sinilah Ferdy kecil dulu sering bermain petak umpet, atau duduk membaca di bawahnya. Tapi hari ini, pohon itu terasa berbeda. Ia bukan sekadar pohon. Ia adalah penjaga.

Ferdy mendongak, memandang dahan-dahannya yang menjulang tinggi. "Di antara akarnya," bisiknya mengulang pesan ayahnya.

Ia mulai memeriksa. Akar beringin itu besar-besar, ada yang muncul di atas tanah seperti ular batu, ada yang tenggelam. Tanah di bawah pohon dipenuhi serasah daun kering dan lumut.

Ia berjalan berkeliling, tangan menelusuri tekstur kasar kulit pohon, mata mencari sesuatu yang tidak biasa—lubang, tanda, apa saja.

Satu jam berlalu. Matahari mulai condong, menerobos celah dedaunan menciptakan pola cahaya dan bayangan yang bergerak. Ferdy mulai frustrasi. Mungkin ayahnya salah. Mungkin ia salah paham. Mungkin ini semua hanya halusinasi dari meditasi yang terlalu dalam.

"Di mana, Yah?" gumamnya putus asa, menyandarkan tubuhnya ke batang utama yang besar. Tangannya yang tergores sedikit oleh duri semak tanpa sengaja menempel pada permukaan kayu yang kasar. Sebuah serpihan kayu kecil menusuk telunjuk kanannya.

"Aduh!" ia menarik tangan, melihat setetes darah merah pekat muncul di ujung jarinya. Tanpa berpikir, ia mengisap luka itu, lalu beringsut menjauh dari pohon.

Tetesan darah yang jatuh dari jarinya sebelum sempat diisap, menetes ke tanah—tepat di persimpangan dua akar besar yang membentuk semacam 'V'.

Dan sesuatu terjadi.

Tanah di titik tetesan darah itu seolah menghirup. Darah itu terserap dengan cepat, lenyap tanpa jejak.

Lalu, dari titik itu, sebuah cahaya keemasan samar merambat seperti retakan di atas kaca, menyebar mengikuti pola akar-akar di bawah permukaan tanah.

Grummbb...

Suara gemuruh rendah, bukan dari langit, tapi dari dalam bumi, menggetarkan tanah di bawah kaki Ferdy. Daun-daun beringin berdesis seolah ditiup angin kencang, padahal udara sama sekali tidak bergerak.

Ferdy mundur beberapa langkah, jantung berdegup kencang. Dasima, yang selama ini berdiri tenang di sampingnya sebagai penjaga, tiba-tiba merasakan gelombang energi yang sangat kuat dan sangat akrab.

Energinya bergemuruh, rambut halusnya yang tak kasatmata seolah berdiri.

"Raden... itu dia... Trisula Wedha..." bisiknya, suara penuh rasa takjub dan gentar.

Cahaya keemasan itu semakin terang, memancar dari celah-celah tanah. Lalu, tepat di titik tetesan darah, tanah mulai retak dan menggembung. Seolah ada sesuatu yang hidup di bawah sana yang sedang bangun dari tidur panjang.

Ferdy hanya bisa menatap, mulut terbuka, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tanah itu seperti dilaharkan oleh kekuatan tak terlihat.

Dari dalamnya, sebuah benda panjang terbungkus kain mori kasar yang sudah kotor dan lapuk, terdorong keluar dengan sendirinya.

Benda itu berbaring di atas gundukan tanah, memancarkan aura kepenuhan yang berbeda dengan sekitarnya. Kain morinya sedikit terbuka di ujungnya, memperlihatkan hulu keris yang sangat tua: ukiran kayu berwarna gelap dengan susunan lingkaran logam (mendak) dan hiasan yang sudah kusam.

Keris Trisula Wedha.

Ferdy terdorong oleh rasa takjub dan rasa memiliki yang mendalam. Seolah ada magnet di dalam dadanya yang menariknya ke benda pusaka itu. Dengan kaki gemetar, ia mendekat, berjongkok di depannya.

Tangannya terulur, ingin menyentuh, ingin memastikan ini nyata.

"JANGAN PEGANG!"

Teriakan keras, penuh kepanikan, memecah kesunyian.

Ferdy menoleh kaget. Seorang lelaki tua, mungkin seusia Pak Ketut di Bali, berlari-lari kecil dari arah pagar belakang rumah. Pria itu bertubuh kurus tapi tegap, wajahnya keriput dengan mata tajam seperti elang.

Ia memakai baju lengan panjang sederhana dan celana kain, rambutnya memutih semua. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu biasa.

Tapi teriakan itu terlambat.

Ujung jari Ferdy sudah menyentuh hulu keris yang terbuka.

ZzzzzzzzZZZZZZTTTT!

Sensasi seperti sengatan listrik bertegangan tinggi tapi tanpa rasa sakit, melesat dari ujung jarinya, menyebar ke seluruh tubuhnya.

Dunia di sekelilingnya—pohon beringin, rumah, langit senja, lelaki tua yang berteriak, bahkan wujud samar Dasima—semua bergetar hebat lalu larut dalam cahaya putih yang menyilaukan.

Kesadarannya terlempar jauh.

RUANG KOSONG, TEMPAT PERTEMUAN

Ferdy tidak jatuh. Ia berdiri, atau lebih tepatnya, mengapung dalam sebuah ruang tanpa batas yang berwarna putih susu. Tidak ada lantai, langit, atau dinding. Hanya kehampaan yang hangat.

Di hadapannya, sosok itu muncul perlahan.

Seorang kakek tua, tapi jauh lebih tua dari siapa pun yang pernah Ferdy lihat. Wajahnya seperti peta yang diukir oleh ribuan tahun: keriputnya dalam, matanya—yang masih tajam—terbenam jauh, dan janggutnya panjang memutih hingga ke dada.

Ia memakai pakaian yang sangat kuno: kain dan ikat kepala yang mirip dengan yang dipakai Raden Wijaya dalam ingatan Ferdy, namun lebih sederhana, seperti pakaian petapa atau abdi dalem senior.

Tangannya memegang tongkat kayu yang sama dengan lelaki tua tadi, tapi tongkat ini tampak hidup, seperti masih berupa dahan pohon.

"Selamat datang, Raden Wijaya... atau harusku sapa, Ferdy Wicaksono?" suara kakek itu dalam, bergema di ruang kosong, penuh wibawa namun tidak mengancam.

"Siapa... siapa Anda? Di mana ini?" tanya Ferdy, suaranya sendiri terdengar aneh, seperti gema dari kejauhan.

"Aku adalah Mbah Pawang, penjaga Trisula Wedha. Aku telah menjaganya sejak hari kematianmu—kematian Raden Wijaya—lima ratus tahun yang lalu. Menjaga dan menunggu saat darah yang tepat, jiwa yang tepat, menyentuhnya kembali."

"Ayahku... dia bilang dia yang menyembunyikannya."

"Benar. Sukardi, ayahmu, adalah keturunan langsung dari Raden Wijaya—Aku dan keturunanku ditugaskan untuk menjaga keris ini secara turun-temurun, hingga sang pemilik sejati kembali.

"Jadi, semua ini... rencana?"

"Takdir, anak muda. Ada hal-hal yang dirancang oleh kehendak yang lebih tinggi dari kita."

Sang kakek mendekat, matanya menatap dalam ke mata Ferdy.

"Kau telah membuka pintu pertama dengan darahmu. Tapi belum waktunya untuk kau sepenuhnya memegang warisan ini."

"Kenapa? Apa yang harus kulakukan?"

"Kau belum siap sepenuhnya. Tubuh dan jiwamu masih terbelah antara dua zaman. Kau masih Ferdy, dan itu baik. Jika Raden Wijaya bangkit sepenuhnya sekarang, tanpa persiapan, kau bisa tenggelam dan Ferdy akan hilang. Yang dunia butuhkan adalah gabungan dari keduanya: kebijaksanaan dan keberanian Raden, dengan kepekaan dan kreativitas Ferdy."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?"

"Bawa keris itu ke Pura Besakih, seperti pesan ayahmu. Di sana, di tempat suci dengan energi yang paling murni dan kuat di Bali, dengan bimbingan penjaga yang kau temui, kau akan melalui serangkaian ritus. Ritus itu akan menyelaraskan kedua jiwa dalam dirimu, dan membuka segel pengetahuan terakhir yang tersimpan dalam keris ini."

"Pengetahuan tentang apa?"

"Tentang siapa sebenarnya Raden Wijaya—bukan hanya pangeran yang tewas karena cinta, tapi seorang pemimpin dengan visi yang terpotong. Tentang kekuatan sebenarnya dari Trisula Wedha—bukan hanya senjata, tapi kunci. Dan... tentang ancaman yang masih tersisa."

"Ancaman? Kirana?" tanya Ferdy, jantungnya berdebar.

Sang kakek menghela napas panjang.

"Kirana dari masa lalu telah lama pergi. Tapi energi kebencian, ambisi, dan pengkhianatan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia bisa mengkristal dalam keturunan, atau dalam jiwa-jiwa yang resonan dengannya. Keris ini adalah perlindungan, sekaligus penarik perhatian. Membawanya keluar dari persembunyian akan membangkitkan... hal-hal lain juga. Kau harus waspada."

"Dasima... dia akan membantuku."

"Jiwa penunggu itu. Ya, cintanya adalah kekuatanmu yang terbesar, sekaligus kelemahanmu yang paling rentan. Lindungilah dia seperti dia melindungimu."

Sosok kakek mulai memudar. "Waktuku hampir habis. Ingat, Ferdy Wicaksono: jangan coba-coba mencabut bilah keris sebelum waktunya di Besakih. Simpan dalam bungkusan kainnya. Dan jaga baik-baik. Banyak mata yang menginginkannya, baik dari dunia ini maupun dunia lain."

"Tunggu! Bagaimana cara...?"

"Penjaga di luar—cucu buyutku—akan membimbingmu untuk saat ini. Percayalah padanya. Dan... sampaikan pada Dasima, bahwa pengabdiannya dikenang dan dihargai oleh kami, para penjaga."

Cahaya putih menyilaukan lagi. Ferdy merasa dirinya ditarik mundur dengan cepat.

---

Kamar Ferdy, Malam Hari, Pukul 21.30

Ferdy membuka mata. Kepalanya pening berat, seperti habis dibebani batu. Ia terbaring di tempat tidurnya di kamar lama di rumah ibunya. Cahaya lampu neon 10 watt menerangi langit-langit yang familiar.

Dia mencoba duduk, badan terasa lemas sekali.

"Alhamdulillah kau sadar," suara Ibu Surti terdengar lembut dari samping. Wajahnya penuh kelegaan bercampur kecemasan.

"Kau pingsan berjam-jam. dari maghrib."

"Bu... kerisnya?" tanya Ferdy langsung.

"Iya, ada. Dan ada orang... dia yang membawamu masuk."

Baru Ferdy melihat, di sudut kamar, duduklah lelaki tua yang berteriak tadi. Ia masih memegang tongkatnya, dan di pangkuannya terbaring bungkusan kain mori—keris Trisula Wedha.

Wajahnya lebih tenang sekarang, memandangi Ferdy dengan tatapan yang kompleks: hormat, khawatir, dan penuh tanggung jawab.

"Ibu," kata Ferdy pelan, "bisa saya dan... beliau... bicara berdua sebentar?"

Ibu Surti mengangguk, menepuk pundak Ferdy, dan keluar kamar.

Lelaki tua itu mendekat, duduk di kursi dekat tempat tidur.

"Saya Mbah Harjo," perkenalannya singkat.

"Saya keturunan ke-15 dari Mbah Pawang, pengawal setia Raden Wijaya dan penjaga pertama Trisula Wedha. Ayahmu, Sukardi, adalah saudara sepupu saya. Jadi secara silsilah, Anda dan saya masih bersaudara jauh."

Ferdy mengangguk pelan, mencerna informasi itu. "Jadi, Anda yang selama ini... menjaga?"

"Iya. Saya tinggal tidak jauh dari sini, menyamar sebagai pensiunan pegawai kecamatan. Tugas keluarga kami adalah mengawasi, menjaga rahasia, dan memastikan keris tidak jatuh ke tangan yang salah, sambil menunggu kedatangan sang 'Penerus'—yaitu Anda."

"Mbah Pawang... saya bertemu dengannya. Saat pingsan tadi."

Mbah Harjo mengangguk, tidak terkejut.

"Beliaulah yang menitipkan tongkat ini pada keturunannya." Ia mengangkat tongkat kayunya.

"Tongkat ini adalah tandanya. Dan beliau pasti sudah memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan."

"Bawa ke Pura Besakih. Tapi belum boleh dicabut."

"Tepat." Mbah Harjo mengulurkan bungkusan keris.

"Ini adalah amanah terberat dalam sejarah keluarga kami. Kami sudah menjaganya selama lima abad. Sekarang, kami serahkan pada Anda, Raden... eh, Mas Ferdy."

Ferdy menerima bungkusan itu. Begitu disentuh, lagi-lagi getaran halus mengalir, tapi kali ini tidak menyengat. Ini terasa hangat, seperti detak jantung yang lambat. Sangat padat, sangat tua. Tangannya gemetar menahannya.

Ferdy mengamati bungkusan itu. Inilah kunci dari segalanya. Penyebab ayahnya menyimpan rahasia. Alasan Dasima menunggu. Penyebab hidupnya berbalik.

"Mbah, tentang ancaman... yang Mbah Pawang bilang?"

Mbah Harjo wajahnya berubah serius.

"Sejarah panjang selalu meninggalkan jejak. Keluarga dan pendukung Putri Kirana dulu juga punya keturunan. Mereka mungkin tidak tahu detailnya, tapi ada cerita turun-temurun tentang 'musuh yang merenggut kekuasaan'.

Beberapa di antara mereka adalah kolektor benda pusaka, atau orang-orang yang terobsesi dengan kekuatan gaib. Pelepasan energi keris ini saat keluar tadi... mungkin sudah terdeteksi oleh mereka yang peka.

Perjalanan Anda ke Bali harus sangat hati-hati."

"Apakah mereka akan menyakiti ibu saya? Atau teman-teman saya?"

"Sasaran utama adalah Anda dan keris ini. Tapi waktu terlah berlalu berabad-abad, kita tidak tau apa yang terjadi di masa sekarang. waspada selalu baik. Saya akan tinggal di sini, menjaga Ibu Surti untuk sementara waktu. Anda fokus pada misi Anda."

Ferdy merasa lega. Setidaknya ibunya punya pelindung.

Mbah Harjo berdiri. "Anda perlu istirahat. Besok pagi, kita akan persiapkan segala sesuatu. Saya akan berikan tas, surat-surat, dan... sedikit bekal pengetahuan tentang tata cara membawa pusaka ke pura."

Dia menunduk hormat, sebuah gestur yang membuat Ferdy tidak nyaman. "Selamat beristirahat... Penerus."

Setelah Mbah Harjo keluar, Ferdy duduk sendirian di kamarnya, memeluk bungkusan keris erat-erat. Energinya terasa seperti denyut nadi yang selaras dengan detak jantungnya sendiri.

Di sudut kamar, wujud Dasima perlahan muncul kembali, penuh dengan emosi yang mengguncang. Matanya yang tak kasatmata menatap keris itu dengan takjub dan sakit yang mendalam.

"Itu... benar-benar milikmu, Raden," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku bisa merasakan jiwamu di dalamnya."

"Dan aku bisa merasakanmu di sisiku," jawab Ferdy dalam hati, meski lelah.

"Kita akan membawanya ke Besakih, Dasima. Kita akan menyelesaikan ini."

Malam itu, Ferdy tidur dengan keris pusaka ditaruh di samping bantal, dibungkus tas kulit pemberian Mbah Harjo.

Mimpi-mimpinya bukan lagi fragmen yang terpisah, tetapi sebuah aliran panjang: ia melihat prosesi para penjaga dari masa ke masa—wajah-wajah berbeda, tapi dengan mata setia yang sama—menjaga sebuah bungkusan di ruang bawah tanah, di bawah pohon, dalam peti mati.

Semuanya menunggu. Dan sekarang, gilirannya. Bukan lagi sebagai penjaga, tapi sebagai pemilik. Sebagai titik pertemuan di mana rantai penantian yang panjang itu akhirnya akan berujung.

Dia, Ferdy Wicaksono, freelance photographer dengan utang cicilan dan masa depan yang belum jelas, ternyata adalah pusat dari sebuah saga yang berusia lima abad. Dan besok, perjalanan terakhirnya—dengan warisan di dalam tas—akan dimulai.

1
♡✿⁠Almi_Wahy
haii... cerita nya bagus banget... semangat thor lanjut terus cerita
Bp. Juenk: thanks kaka 💪
total 1 replies
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!