NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Aroma Kebohongan

Setelah penemuan pesan singkat di ponsel cadangan Rangga kemarin, udara di dalam rumah terasa semakin menyesakkan bagi Senja. Ia merasa seperti sedang tinggal di dalam sebuah maket bangunan yang indah di luar, tapi keropos dan penuh rayap di dalam. Setiap kali Rangga menyentuh pundaknya atau memberikan kecupan di kening sebelum berangkat manggung, Senja harus sekuat tenaga menahan keinginan untuk meludah tepat di wajah suaminya itu.

​Pagi ini, Mbak Sari—sahabat sekaligus rekan arsiteknya yang sekarang menggantikan posisi senja di Bali—mendadak datang berkunjung ke Semarang. Senja menyambutnya di teras, tapi matanya yang lelah tidak bisa menipu penglihatan tajam Sari.

​"Kamu makin kurus, Ja. Wajahmu juga pucat. Apa ini hasil dari 'ratu di istana' yang sering kamu banggakan itu?" Sari langsung menodong dengan kalimat pedas begitu mereka duduk di sofa ruang tamu.

​Senja hanya tersenyum tipis sambil mengaduk teh untuk Sari. "Aku cuma kurang tidur, Mbak. Biasalah, urusan rumah tangga."

​"Urusan rumah tangga atau urusan melayani benalu?" Sari menatap sekeliling rumah. Ia melihat studio DJ mewah di depan yang pintunya terbuka sedikit. "Alat-alat di sana itu... totalnya hampir seratus juta, kan? Itu semua uangmu? Dan Rangga? Apa dia sudah mulai kasih kamu jatah bulanan?"

​Senja terdiam. Keheningan itu sudah cukup bagi Sari untuk memahami jawabannya.

​"Senja, dengar aku baik-baik," Sari memajukan duduknya, menatap Senja dengan tatapan yang sangat tajam. "Aku melihatmu sebagai arsitek yang cerdas, yang tahu hitung-hitungan struktur bangunan sampai miliaran rupiah. Tapi kenapa dalam hidup, kamu jadi sebodoh ini?"

​Senja menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Aku cuma ingin dukung dia, Mbak. Aku percaya kalau dia sukses, dia akan..."

​"Dia akan apa? Dia akan beli kalung buat wanita lain?" potong Sari dengan suara dingin.

​Senja tersentak. "Mbak tahu?"

​"Aku nggak tahu soal kalung, tapi aku tahu laki-laki model begitu, Ja. Aku punya banyak kenalan di dunia malam Semarang. Nama 'DJ Rangga' itu lagi naik daun, bukan cuma karena musiknya, tapi karena gayanya yang kayak laki-laki lajang kaya raya yang suka traktir cewek-cewek di bar. Pakai uang siapa kalau bukan uangmu?"

Sari menghela napas kasar, lalu mengucapkan kalimat yang membuat Senja merasa seperti disiram air es di tengah malam.

​"Senja, dengerin aku. Harusnya kamu cukup kasih uang dua ribu rupiah saja untuk pengamen jalanan seperti dia di lampu merah. Itu harga yang pantas untuk hiburannya. Kamu nggak perlu sampai buatin panggung mewah, kasih tempat tinggal nyaman, apalagi kasih makan enak setiap hari. Kamu sedang membesarkan serigala di dalam rumahmu sendiri, dan sekarang serigala itu sudah kenyang sampai berani menggigit tangan yang memberinya makan."

​Kalimat itu bergema di kepala Senja. Dua ribu rupiah. Itulah harga asli Rangga sebelum Senja memolesnya dengan harta dan status.

​Malam harinya, Rangga pulang lebih awal. Rangga membawa sebungkus martabak manis, berusaha bersikap manis karena ia tahu Mbak Sari tadi berkunjung.

​"Sayang, ini martabak kesukaan kamu. Dimakan ya?" ucap Rangga sambil menaruh bungkusan itu di meja makan.

​Senja yang sedang mencuci piring tidak menoleh. "Taruh saja di sana, Mas. Aku sudah kenyang."

​"Lho, kok ketus gitu? Gara-gara Sari ya? Dia ngomong apa saja tentang aku? Dia pasti iri kan lihat kita bahagia?" Rangga mencoba memeluk Senja dari belakang, tapi kali ini Senja menghindar dengan gerakan halus untuk mengambil serbet.

​"Nggak ada yang iri, Mas. Mbak Sari cuma tanya, kapan aku bisa mulai kerja lagi sebagai arsitek. Katanya banyak proyek bagus yang sayang kalau dilewatkan."

Rangga mendengus, wajahnya langsung berubah masam. "Kerja lagi? Buat apa sih, Ja? Uangku nanti juga bakal cukup buat kita berdua. Kamu di rumah saja, urus aku, urus rumah. Kenapa sih perempuan kalau sudah dikasih enak malah mau susah-susah di lapangan lagi?"

​Senja berbalik, menatap mata Rangga dalam-dalam. "Dikasih enak? Enak yang mana, Mas? Enak karena tiap bulan aku harus cairkan tabunganku untuk bayar listrik dan air? Atau enak karena aku harus beli alat DJ baru supaya kamu nggak malu di depan teman-teman kamu?"

​Rangga terkejut. Ini pertama kalinya Senja melawan dengan kalimat yang sangat telanjang. "Ja, kok kamu hitung-hitungan gitu? Kita kan sudah menikah. Apa yang punyamu itu punyaku juga, kan?"

​"Terus, apa yang punyamu itu punyaku juga, Mas?" tanya Senja dengan nada sangat tenang tapi mematikan. "Termasuk perhiasan yang kamu beli di Mall X minggu lalu? Itu juga punyaku?"

​Wajah Rangga mendadak pucat. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Kan sudah aku bilang, itu punya Kevin, Ja. Kenapa sih dibahas terus? Kamu nggak percaya sama suamimu sendiri?"

​"Aku percaya, Mas," Senja tersenyum, tapi senyum itu terasa sangat mengerikan bagi Rangga. "Aku sangat percaya kalau kamu adalah pria yang hebat dalam bersandiwara. Sangat hebat sampai aku lupa kalau dulu kamu cuma laki-laki yang aku temukan di tikungan parkir."

​Rangga terdiam. Ia merasa ada yang berbeda dari Senja. Senja yang biasanya lembut dan penurut, malam ini terlihat seperti singa yang sedang mengamati mangsanya.

​"Sudahlah, aku capek. Mau tidur," ucap Rangga sambil berlalu menuju kamar, menghindari perdebatan lebih lanjut.

Senja menatap bungkusan martabak di atas meja. Ia mengambil bungkusan itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah tanpa membukanya sedikit pun.

​"Dua ribu rupiah," gumam Senja pelan, mengulangi kalimat Mbak Sari tadi. "Hanya dua ribu rupiah. Dan aku sudah membayar jauh lebih mahal dari itu."

​Senja masuk ke studio Rangga. Ia duduk di kursi kerja yang sangat empuk, kursi yang ia beli dengan harga tiga juta rupiah agar punggung Rangga tidak sakit saat latihan. Senja menyalakan komputer Rangga, mulai menyisir folder demi folder.

​Ia menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama "Proyek Masa Depan". Begitu membukanya, Senja menemukan tumpukan foto-foto Rangga dengan wanita yang ia lihat di video semalam. Ada foto mereka sedang makan malam romantis, foto di dalam mobil, bahkan foto saat mereka sedang berada di sebuah lobi hotel di luar kota.

​Di sana juga ada percakapan chat yang sudah di-screenshot oleh Rangga—mungkin sebagai kenang-kenangan atau bahan pamer kepada teman-temannya. Salah satu pesannya berbunyi:

​"Tenang saja, Sayang. Istriku itu orangnya penurut. Dia nggak bakal tahu. Dia sibuk ngulek bumbu di dapur, sementara aku di sini sama kamu. Dia itu cuma 'warteg' tempatku pulang kalau aku butuh makan enak dan gratisan."

​Senja memejamkan mata. Rasa sakit itu kini sudah berubah menjadi amarah yang dingin dan terukur. Senja tidak menangis. Senja justru mengambil flashdisk, menyalin semua folder itu tanpa sisa.

​"Terima kasih untuk julukannya, Mas. Warteg ini memang akan segera tutup," bisik Senja. "Tapi sebelum tutup, aku akan pastikan tagihannya dikirim ke meja makan kamu, dan kamu nggak akan pernah sanggup untuk membayarnya."

Senja mematikan komputer, merapikan kursi, dan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sangat ringan. Besok, ia akan mulai menghubungi pengacara dan agen properti. Senja akan merancang "renovasi" terbesar dalam hidupnya: meruntuhkan Rangga dari panggung yang ia bangun sendiri.

1
Yayang Suami Risa
Rangga Axel itu mencintai Senja makanya mau melindungi Senja ngga kayak kamu yang cuma manfaatkan Senja
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
kuliah byr sndri doni🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
jangan ambil pusing senja
ksh pelajaran aja buat rangga
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
ibu anak SMA aja parasit🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah ga ada hrpam sinta sembuh dari bucin
dh stadium akut😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
dlu sinta sibuk nasehati senja, skrng dia jilat ludah sndri 😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
semua habis sin
saking bucinnya ke mas dj dj
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sinta dh dnger semua msh ga sadar😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah jelas bnget tpi egonya tinggi sisinta
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sampah dipungut sin ga salah🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
tetap seamangat senja🤗
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nyusahin bnget si rangga😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
enak bnr suruh bayarin uang kuliah
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
kan kan berulah lagi si serangga😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
jngn mau balikan senja😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nah enak kan semua disita
wwk jdi gembel lg kamu😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
bagus kumpulin bukti" selingkuhan rangga buat bukti
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wow chatnya rangga smaa cwe lain😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wah udah mulai maen" si serangga ini
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
istri yang baik selalu doain suaminya eeh malah disuami asyik smaa yang lain astaga
kasian senja😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!