Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tawanan dalam sangkar emas
Napas Mei Lin tercekat. Berada di pangkuan Kaisar Jian Feng terasa seperti duduk di atas bara api yang siap menghanguskannya. Aroma maskulin yang kuat, bercampur dengan wangi cendana dan hawa panas dari tubuh kaisar, membuat kepalanya pening. Tangan besar Jian Feng masih mencengkeram jemari Mei Lin, memastikan gadis itu tidak bisa lari ke mana pun.
"Kenapa diam saja?" bisik Jian Feng tepat di telinga Mei Lin. Suaranya yang rendah dan serak mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Mei Lin. "Tadi kau begitu berani mencoba melarikan diri dariku dengan alasan sakit. Sekarang, katakan padaku... apakah wajah merah ini karena demam, atau karena kau ketakutan berada begitu dekat denganku?"
Mei Lin mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Matanya yang berkaca-kaca menatap dada bidang kaisar yang terbuka, tak berani menatap wajah sang penguasa secara langsung. "Hamba... hamba mohon ampun, Tuan yang Agung. Hamba hanyalah pelayan rendah yang kotor. Hamba tidak pantas berada di posisi ini," suaranya parau, nyaris tak terdengar.
Jian Feng tertawa dingin, sebuah suara yang jarang sekali terdengar di dalam istana itu. Ia menarik dagu Mei Lin, memaksa gadis itu menatap mata elangnya yang tajam. "Pantas atau tidak, itu aku yang menentukan. Dan saat ini, aku memutuskan bahwa kau sangat menarik."
Jian Feng memperhatikan setiap detail wajah Mei Lin. Tanpa masker, kecantikan gadis itu benar-benar murni—kulitnya seputih pualam namun memerah secara alami, bibirnya yang berisi sedikit gemetar, dan aroma jasmine yang seolah meresap keluar dari pori-pori kulitnya. Baginya, Mei Lin bukanlah sekadar pelayan; ia adalah oase di tengah padang pasir kebosanannya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja diketuk dari luar. "Tuan yang Agung, Perdana Menteri ingin melaporkan masalah perbatasan," suara pengawal terdengar dari balik pintu.
Mei Lin melihat ini sebagai kesempatan untuk meloloskan diri. Ia mencoba berontak dengan lebih kuat, namun Jian Feng justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Mei Lin yang ramping. "Biarkan dia menunggu!" bentak Jian Feng ke arah pintu, membuat pengawal di luar seketika terdiam ketakutan.
Jian Feng kembali menatap Mei Lin. "Mulai detik ini, kau bukan lagi pelayan umum yang membersihkan lantai dapur yang kotor itu. Kau akan menjadi pelayan pribadiku. Tugasmu hanya satu: berada di dekatku setiap kali aku menginginkannya."
Mata Mei Lin membelalak. Menjadi pelayan pribadi kaisar berarti ia akan terus berada di bawah pengawasan pria berbahaya ini. "Tapi Tuan... hamba tidak memiliki keahlian. Hamba tidak tahu cara melayani seorang Kaisar dengan benar," Mei Lin mencoba menolak dengan halus, rasa takutnya semakin menjadi-jadi saat teringat bagaimana pria-pria di desanya memperlakukan wanita cantik sebagai mainan.
"Kau tidak butuh keahlian," sela Jian Feng dengan seringai tipis yang mengerikan. "Kau hanya perlu ada di sini, dengan aroma jasmine-mu ini, untuk menghilangkan rasa bosanku. Jika kau mencoba melarikan diri atau kembali memakai masker bodoh itu, aku akan memastikan seluruh keluargamu di desa menerima akibatnya."
Ancaman itu membuat Mei Lin membeku. Ia tidak punya pilihan. Di istana ini, Jian Feng adalah hukum, dan ia hanyalah burung kecil yang baru saja masuk ke dalam sangkar emas sang naga.
Jian Feng melepaskan cengkeramannya perlahan, membiarkan Mei Lin berdiri dengan kaki yang masih lemas. "Pergilah ke paviliun pelayan khusus dan bersihkan dirimu. Malam ini, kau harus kembali ke sini. Aku ingin kau menuangkan teh untukku... dan mungkin, melakukan sesuatu yang lebih dari itu."
Mei Lin membungkuk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai jatuh. Ia berbalik dan berjalan keluar dengan terburu-buru, merasakan tatapan lapar Jian Feng yang terus mengikuti setiap langkahnya hingga pintu tertutup rapat. Di dalam ruangan, Jian Feng menyandarkan tubuhnya di kursi, merasakan detak jantungnya yang masih kencang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa sangat bersemangat menantikan malam tiba.
bersambung