Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Bimbang
Abi merasa serba salah, bagaimana pun rasa kecewanya pada anjani, dia sepatutnya bisa menghargai perjuangan Anjani mencarikan calon istri untuknya, usahanya bukan hal yang mudah, dan membutuhkan waktu lama. Pengakuan Anjani kalau dia memantau Zella hampir 2 tahun, tak lama setelah kepergian Fatma.
2 tahun itu waktu yang sangat panjang hanya untuk memastikan Zella wanita baik-baik. Kini saat Anjani telah yakin dengan pilihannya, tapi Abi merasa bimbang, sulit menerima juga sulit untuk membatalkan pernikahan keduanya bersama Zella.
Abi mengoperasikan tuas kecil pengendali kursi rodanya. Perlahan kursi roda itu meluncur menuju meja makan, di mana semua orang berkumpul sebelumnya. Abi heran karena keadaan di sana terasa sepi. Samar Abi mendengar pembicaraan Rihana dan Zella, Abi menghentikan kursi rodanya di sudut ruangan, dia menguping pembicaraan dua orang di sana.
Mendengar langsung pengakuan Rihana kalau gadis itu tahu Abi tak menyukainya dan Rayhan, Abi merasa sangat terpukul. Rasanya dia telah berusaha menutupi konfliknya dengan Fatma dan menyibukan diri dengan pekerjaan sebagai alasan menghindari 2 anak itu. Namun tetap saja Rihana bisa merasakan kalau Ayahnya tak menyukainya.
Melihat wajah sedih Rihana, Abi ingin sekali membuka rahasia yang dia pendam sendiri. Rasa kecewa yang terlalu dalam membuatnya buta. Harusnya dirinya sadar kalau Rihana tak salah karena hadir sebagai buah hatinya dipernikahan dirinya dan Fatma. Batin Abi terasa sesak membayangkan perjalanan pernikahannya dengan Fatma dulu, yang semula terasa indah. Namun semua berasa runtuh saat Abi mengetahui siapa Fatma.
Di hati Abi selalu ada rasa penyesalan, seandainya dia tahu siapa Fatma lebih dulu, maka tak akan hadir Rihana, seandainya dia tak lengah maka Fatma tak akan memanfaat ketidak sadarannya yang akhirnya membuat Fatma hamil lagi dan melahirkan Rayhan. Rasa kesal Abi menutup rapat hatinya, hingga tak ada rasa pada kedua anak itu.
Kehadiran Anjani kala itu Abi manfaatkan untuk membalas rasa sakit dan kecewanya pada Fatma. Namun dirinya lupa, pada dua anak yang lahir dari rahim Fatma. Kemarahan pada Fatma membuatnya kalap dan lupa kalau Rihana dan Rayhan adalah anaknya sendiri. Karena ketidak peduliannya, kini kedua anaknya begitu benci padanya. Abi mulai merasa bersalah pada kedua anak itu saat anak itu sudah besar dan tinggal di rumah Melvita.
Kini Abi juga tak tahu bagaimana memperbaiki hubungan dirinya dengan kedua anaknya setelah sadar akan kesalahannya yang mengabaikan kedua anaknya itu.
Di sana Zella dan Rihana melepas pelukan mereka. Zella menarik Rihana menuju kursi di dekatnya. Keduanya duduk saling berhadapan. Zella memegang kedua tangan Rihana, tatap matanya begitu hangat tertuju pada anak itu.
"Kamu mau dengar cerita tante dan anak tante?" tanya Zella pelan.
Rihana mengangguk, merespon pertanyaan Zella.
"Anak tante namanya Latifa. Saat ini seharusnya dia sekolah duduk di kelas 13, tapi dia kekeh ingin masuk pondok pesantren, keinginannya itu membuatku sedih karena kami harus terpisah, tapi kekeh menahannya malah akan mengecewakannya. Jadi tante mengabulkan keinginannya dan mendukung penuh keputusannya. Tapi bukan ini yang ingin tante ceritakan."
"Halah tante! Aku udah serius mendengarkan!" Rihana merasa diprank oleh Zella.
"Tante berpisah dengan Ayahnya Tifa, karena dia jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Kamu mengerti kan?"
"Aku ngerti, banyak juga kan rumah tangga yang lain juga hancur karena dasim jenis itu."
Zella terkekeh mendengar respon Rihana. "Tak cuma kamu yang kecewa dengan Ayahmu, Tifa kala itu juga mulai membenci Ayahnya yang dia rasa tak sayang padanya. Tante nggak bisa nyalahin Tifa karena membenci Ayahnya, karena perbuatan Ayahnya sangat menyakitkan bagi Tifa, dia yang terbiasa bersama Ayahnya tiba-tiba Ayahnya tak ada lagi buat dia."
"Ada kaitannya dengan aku?" Rihana mencoba memahami arah cerita Zella.
"Karena Tifa anak tante, tante merasa berhak menasihatinya. Kala itu tante meminta Tifa untuk tidak membenci Ayahnya. Sejahat apa pun laki-laki itu, dia pernah mencurahkan cinta, kasih sayang, dan perhatian untuknya. Jangan biarkan tabir hitam yang muncul karena rasa sakit dan kekecewaan membuat mata hati tidak bisa melihat cinta, kasih sayang dan perhatian yang tertahan oleh suatu masalah."
Di sudut sana Abi merasa tertampar oleh kata-kata Zella. Karena tabir kebenciannya pada nasibnya sendiri membuat Abi buta akan kehidupan kedua anaknya yang seharusnya dia limpahi kasih sayang.
Di sana Rihana tenggelam mengingat kenangan masa kecilnya, perlahan mengingat kembali momen indah bersama Ayahnya yang hanya sebentar. Ayah yang selalu memenuhi permintaanya, namun hal itu semakin pudar saat Ayahnya menghuni kursi roda, Rihana tak mengerti keadaan kala itu. Namun kedatangan Anjani semakin menambah jaraknya dan Ayahnya kian jauh.
"Tante tak menyepelekan rasa sakitmu. Kamu terluka bertahun-tahun itu tak mudah bagimu. Tapi, bisakah kamu memberi kesempatan pada Ayahmu untuk mencurahkan kasih sayangnya? Melihat Ayahmu menatapmu tadi tante yakin dia ingin sekali dekat denganmu."
Pertanyaan Zella membuat Rihana menatap tajam padanya.
"Tante tak meminta kamu melupakan rasa sakit itu, tante hanya menyarankan agar kamu memberi kesempatan pada Ayahmu untuk mencurahkan kasih sayangnya padamu. Dari sudut pandangmu kamu merasa Ayahmu tak menginginkan kalian, tapi kalian pasti tidak tahu masalah seperti apa yang dialami Ayahmu sehingga dia seperti itu."
"Terlambat! Dari dulu aku menantikan perhatiannya, tapi Ayah tak peduli!"
"Tak ada kata terlambat. Berilah dia kesempatan."
"Tapi bagaimana jika dia mengecewakan aku lagi??"
"Berarti Ayahmu tak pantas untuk mendapat cinta dan penghormatan dari anaknya sendiri. Tapi untuk dirimu tak ada salahnya memberi dia kesempatan."
"Akan aku pikirkan!"
"Oh iya, Tifa anak tante selama mondok dia dekat lagi dengan Ayahnya. Karena sekolah dia satu desa dengan rumah baru Ayah dan Neneknya."
"Aku turut bahagia dengarnya." respon Rihana dingin.
"Kebahagiaan yang Tifa rasa saat ini, karena dia memberi kesempatan pada Ayahnya untuk menyayanginya lagi. Andai dia terus membenci Ayahnya dan memasang benteng yang tinggi antara dia dan Ayahnya, yang ada dia kesepian di sana. Tifa tak pandai berteman, tentu dia akan sendirian. Tapi itu tak terjadi karena dia memaafkan dan berdamai dengan Ayahnya dan menerima cinta Ayahnya membuatnya tak kesepian di sana."
Rihana termenung, entah mengapa dia merasa ada kemiripan antara dia dan Tifa, hanya jalan rasa sakit saja yang beda. Namun dia dan Tifa sama-sama kecewa pada Ayahnya.
"Tante sangat suka lagu virgoun, yang judul saat kau telah mengerti. Bagi tante itu bukan sekedar lirik, tapi curhatan dan nasihat orang tua pada anaknya."
"Yang bagian mana tante?"
"Seluruh lagunya sangat bermakna, tapi yang bagian ini, ehem!" Zella bersiap ambil nada.
"Bila bentakan kecilku patahkan hatimu. Lebih keras dari itu dunia 'kan menghakimimu. Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini, kau harus kuat, kau harus hebat permata hatiku." Zella malu sendiri dengan nyanyiannya.
"Sangat rentan orang tua mengecewakan anaknya, entah itu bentakan atau apalah yang meninggalkan rasa sakit di hati seorang anak. Tapi rasa kecewa yang datang dari makian, bentakan dari orang tua, itu masih tak seberapa. Karena di luar sana rasa sakit dan kecewa yang orang berikan bisa lebih dahsyat. Jadi ... ambil pelajaran akan rasa sakit yang kamu alami saat ini sebagai tumpuan kekuatanmu di masa depan."
"Lagu itu memang sangat dalam, aku tak kuat mendengarkannya karena air mataku tiba-tiba lepas."
"Kamu benar, Tifa juga sering nangis, padahal tante baru nyanyi lirik awal."
"Pasti nangis karena suara tante fals kan?" goda Rihana.
"Eh mana ada! Suara tante lumayan kok."
"Lumayan ancurnya," ledek Rihana.
Keduanya tertawa lepas bersama.
"Aku suka sama tante, tapi aku nggak suka kalau tante jadi ibu sambungku."
"Sama! Aku juga sama kamu, kamu asyik banget! Tapi tante juga nggak suka kalau harus nikah sama Ayah kamu!"
Lagi-lagi tawa lepas keduanya memecah kesunyian.
"Andai saja tante tinggal di sekitar sini, pasti asyik sesekali nongkrong sama tante."
"Jarak kita nanti emang jauh, tapi kita bisa dekat di layar hp, tante siap buka layanan curhat khusus buat kamu!"
"Tarifnya berapa tante?"
"Per chat enaknya patok berapa ya ...." Zella tengah berpikir.
"Ya ampun kejam banget, tarifnya per chat!" protes Rihana.
"Terus mau per huruf?" goda Zella.
"Makin sadis!" sambar Rihana.
"Nenek dengar dari jauh tawa kalian begitu ceria."
Zella dan Rihana kompak menoleh ke sumber suara, terlihat Melvita yang muncul dari pintu samping.
"Cuma ngobrol santai sama tante Zella, Nek. Ternyata tante Zella juga punya anak perempuan."
"Nenek senang kalau kamu mau menerima Zella sebagai ibu sambung kedua kamu."
"Tapi kalau tante jadi ibu sambungku, itu yang nggak menyenangkan, nek!"
"Sepertinya pernikahan ini juga akan batal. Saya butuh waktu untuk mempertimbangkannya."
Ketiga orang itu kompak menoleh kearah yang sama, di sana terlihat sosok Abi yang duduk di kursi rodanya.
"Kalian panggil ibu untuk bahas pernikahan, tapi setelah ibu datang malah batal? Ibu kecewa bi. Kedatangan ibu malam ini sebagai perkenalan, bagaimana bisa mau batal begitu saja? Kalau masih tak yakin jangan panggil ibu!"
"Beri mas Abi waktu bu. Mas Abi hanya bimbang," sela seorang wanita yang juga muncul dengan kursi rodanya.
"Kalau masih tidak pasti kenapa kalian manggil ibu ke sini? Ibu sangat kecewa! Padahal sebelumnya ibu bahagia mendapat kabar ini." Melvita meraih tasnya, dia berjalan cepat menuju pintu utama. "Rihana, panggil mbak dan adikmu, sudah larut sebaiknya kita pulang!"