Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - CABANG BARU DAN ORANG BARU
TIGA BULAN KEMUDIAN - BANDUNG
Akselia berdiri di depan bangunan baru, dojo cabang pertama di luar Jakarta. Dua lantai dengan fasad modern, logo Kinanti Dojo besar di depan, dan jendela kaca lebar yang memperlihatkan ring latihan di dalam.
"Sempurna," gumamnya sambil tersenyum puas.
Di sampingnya, Arjuna mengamati dengan senyum bangga. "Dari mimpi jadi kenyataan dalam setahun. Kamu luar biasa, Akselia."
"Bukan cuma saya. Kita semua... Bapak, Pak Dharma, Sari, Rina, semua yang mendukung."
"Tapi kamu yang memimpin. Kamu yang punya visi." Arjuna menepuk bahunya lembut. "Dan aku yakin ini baru permulaan. Lima tahun lagi, Kinanti Dojo akan ada di seluruh Indonesia."
Akselia tertawa. "Jangan terlalu muluk, Pak. Satu langkah dulu."
Pintu dojo terbuka. Seorang pria tinggi berusia tiga puluhan keluar, rambut pendek rapi, kacamata hitam, kemeja lengan panjang digulung sampai siku. Senyumnya ramah.
"Nona Akselia?" sapanya sambil mengulurkan tangan. "Saya Rangga. Instruktur yang Anda rekrut untuk cabang Bandung."
Akselia menjabat tangannya ... genggaman kuat, tegas. "Rangga. Senang akhirnya bertemu langsung. Dari wawancara video kemarin, saya tahu Anda cocok. Tapi lihat langsung lebih baik."
"Terima kasih atas kesempatannya. Saya sudah siapkan program latihan untuk bulan pertama, disesuaikan dengan filosofi pemberdayaan yang Anda ajarkan."
Mereka masuk ke dojo, membahas detail operasional. Rangga ternyata mantan atlet bela diri nasional yang pensiun karena cedera, tapi tetap ingin berkontribusi lewat mengajar. Visinya sejalan dengan Akselia. Bela diri bukan untuk kekerasan, tapi untuk perlindungan diri dan pembangunan karakter.
"Saya dengar cerita Anda dari liputan televisi," kata Rangga sambil menyiapkan matras. "Inspiratif. Dan jujur itulah yang buat saya tertarik melamar jadi instruktur di sini. Saya mau jadi bagian dari gerakan ini."
Akselia tersenyum. "Terima kasih. Tapi ini bukan gerakan saya. Ini gerakan kita semua."
***
SORE HARI - GRAND OPENING DOJO BANDUNG
Puluhan orang memenuhi ruangan calon murid, media lokal, pejabat kota, dan komunitas pemberdayaan perempuan Bandung. Akselia berdiri di depan mikrofon, gugup tapi mantap.
"Selamat sore semuanya. Terima kasih sudah datang ke acara pembukaan Kinanti Dojo cabang Bandung." Suaranya terdengar jelas lewat speaker. "Dojo ini bukan sekadar tempat belajar bela diri. Ini tempat untuk menemukan kekuatan bukan hanya fisik, tapi mental dan emosional."
Tepuk tangan riuh.
"Saya dulu juga pernah lemah. Pernah merasa tidak berdaya. Pernah pikir saya tidak bisa bangkit." Akselia menatap hadirin satu per satu. "Tapi dengan bantuan orang-orang baik, saya buktikan saya bisa. Dan sekarang saya mau membantu kalian semua menemukan kekuatan yang sama."
Setelah sambutan, demo singkat dari Rangga dan beberapa instruktur dari Jakarta. Gerakan-gerakan bela diri dasar, teknik pertahanan diri, sampai sparring ringan yang memukau penonton.
Di akhir acara, puluhan orang mendaftar jadi anggota lebih dari target awal.
"Sukses besar," kata Arjuna sambil memeluk Akselia sekilas. "Selamat."
"Terima kasih, Pak. Tapi kerja keras baru dimulai."
***
MALAM HARI - HOTEL TEMPAT MENGINAP
Setelah acara pembukaan yang melelahkan, Akselia kembali ke hotel. Dia berencana menginap seminggu di Bandung untuk memastikan operasional cabang berjalan lancar.
Ponselnya berdering. Pak Dharma.
"Halo, Pak?"
"Akselia, aku lihat liputan pembukaan cabang Bandung di berita lokal tadi. Bagus sekali!" Suara Pak Dharma penuh kebanggaan.
"Terima kasih, Pak. Semua berkat bimbingan Bapak."
"Kamu yang kerja keras. Aku cuma kasih sedikit arahan." Pak Dharma terdiam sebentar. "Aksana pasti bangga kalau lihat kamu sekarang."
Akselia merasakan dadanya sesak, tapi bukan sakit, hanya rindu. "Saya harap begitu, Pak. Saya melakukan ini juga untuk dia."
"Aku tahu. Dan kamu melakukannya dengan sempurna."
Setelah menutup telepon, Akselia duduk di tepi ranjang hotel, menatap foto Aksana yang selalu dia bawa di dompet.
"Lihat, Aksana. Kita punya cabang kedua sekarang. Dan ini baru permulaan." Dia tersenyum pada foto itu. "Aku akan terus jalan. Untuk kita berdua."
***
HARI KETIGA DI BANDUNG - KAFE DEKAT DOJO
Akselia sedang sarapan sendirian di kafe kecil ketika seseorang mendekati mejanya.
"Permisi, boleh duduk di sini? Tempat lain penuh."
Akselia mengangkat kepala, Rangga berdiri dengan nampan berisi kopi dan roti.
"Oh, silakan."
Rangga duduk, tersenyum ramah. "Maaf ganggu waktu sarapan Anda."
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya juga sendirian." Akselia menyesap kopinya. "Bagaimana tiga hari pertama? Ada masalah?"
"Lancar. Murid-murid antusias. Responnya positif." Rangga menambahkan gula ke kopinya. "Tapi saya punya usulan, bagaimana kalau kita buka kelas khusus untuk anak-anak juga? Banyak yang tanya."
Akselia mengangguk. "Ide bagus. Tapi kita perlu instruktur tambahan yang khusus tangani anak-anak. Anda punya rekomendasi?"
"Ada. Teman saya, mantan atlet judo putri. Dia bagus dengan anak-anak. Saya bisa hubungi dia kalau Anda setuju."
"Hubungi saja. Kita diskusi lebih detail nanti."
Mereka ngobrol tentang rencana pengembangan dojo sambil sarapan. Akselia merasa nyaman dengan Rangga, cara kerjanya profesional, visinya sejalan, dan yang penting dia tidak mencoba mendekati secara personal. Murni profesional.
Berbeda dengan Kevin yang dulu selalu mencampur urusan kerja dan personal.
"Nona Akselia," panggil Rangga ragu setelah diskusi selesai.
"Ya?"
"Boleh saya tanya sesuatu yang sedikit personal? Kalau tidak berkenan, tidak apa-apa."
Akselia menaikkan alis. "Tanya saja."
"Anda... apa Anda pernah berpikir untuk... untuk terbuka pada hubungan lagi? Maksud saya, setelah semua yang Anda alami."
Pertanyaan yang mengejutkan. Akselia menatap Rangga sekilas, mencari tanda-tanda dia tertarik secara romantis. Tapi tidak ada. Matanya polos, penuh rasa ingin tahu tulus.
"Kenapa tanya?" balas Akselia hati-hati.
"Karena saya juga pernah di posisi itu. Dikhianati tunangan, patah hati, pikir tidak akan pernah percaya orang lagi." Rangga tersenyum pahit. "Dan saya penasaran, bagaimana Anda bisa sembuh? Bisa percaya lagi?"
Oh. Ini bukan pendekatan. Ini permintaan nasihat.
Akselia menarik napas. "Jujur? Saya belum sepenuhnya sembuh. Masih ada bagian dari saya yang takut percaya lagi. Tapi..." dia menatap keluar jendela, melihat orang-orang berlalu lalang, "...saya belajar bahwa sembuh bukan berarti tidak pernah sakit lagi. Sembuh berarti sakit itu tidak lagi kendalikan hidupmu."
Rangga mengangguk perlahan. "Dan soal percaya pada orang lain?"
"Saya percaya pada orang-orang yang sudah buktikan diri mereka layak dipercaya. Pak Dharma. Pak Arjuna. Teman-teman saya. Tapi untuk hubungan romantis..." Akselia tersenyum tipis, "...saya belum tahu. Mungkin suatu hari. Mungkin tidak. Dan saya oke dengan kedua kemungkinan itu."
Rangga tersenyum, senyum yang mengerti. "Terima kasih. Itu... itu membantu."
"Sama-sama. Dan Rangga, kamu akan baik-baik saja. Butuh waktu, tapi kamu akan baik-baik saja."
***
MINGGU TERAKHIR DI BANDUNG - EVALUASI
Sebelum kembali ke Jakarta, Akselia mengadakan meeting evaluasi dengan Rangga dan tim instruktur Bandung.
"Minggu pertama sukses. Pendaftaran melebihi target. Murid puas. Media positif." Akselia mencentang checklist di papan tulis. "Tapi ada beberapa yang harus diperbaiki, jadwal kelas masih bentrok di beberapa waktu, ruang ganti terlalu kecil, sistem pembayaran perlu dipermudah."
Mereka diskusi solusi satu per satu. Profesional. Efisien.
Di akhir meeting, Rangga berdiri. "Nona Akselia, atas nama tim Bandung... terima kasih. Terima kasih sudah percaya pada kami. Kami akan pastikan dojo ini berkembang dan membantu banyak orang."
"Bukan saya yang harus terima kasih. Kalian yang kerja keras di lapangan." Akselia tersenyum. "Kita tim. Dan tim yang baik saling dukung."
Tepuk tangan dari semua instruktur.
***
KEMBALI KE JAKARTA - KERETA MALAM
Akselia duduk di gerbong kereta, menatap pemandangan malam lewat jendela. Lampu-lampu kota Bandung perlahan menjauh.
Ponselnya bergetar. Pesan dari grup keluarga dojo Jakarta, Pak Dharma, Sari, Rina, dan instruktur lain.
Pak Dharma, [Selamat datang kembali, juara kami! Cabang Bandung sukses besar!]
Sari, [Kangen Kak Akselia! Besok langsung latihan keras ya!]
Rina, [Kak, aku sudah siapkan laporan minggu ini. Murid Jakarta juga nambah 15 orang!]
Akselia tersenyum, membalas. [Terima kasih semuanya. Aku yang beruntung punya tim luar biasa. Sampai ketemu besok!]
Dia menatap keluar jendela lagi, merenung.
Setahun lalu, dia tergeletak berdarah di apartemen sempit, kehilangan segalanya. Sekarang dia punya dojo di dua kota, puluhan murid, tim solid, dan yang paling penting... tujuan hidup yang jelas.
"Terima kasih, Tuhan," bisiknya pada malam. "Untuk jalan yang berliku tapi akhirnya membawa ke sini."
Kereta melaju menembus malam, membawa Akselia pulang. Pulang ke Jakarta. Pulang ke dojo. Pulang ke kehidupan yang dia bangun dari nol.
Dan malam itu, dia tidur nyenyak di kursi kereta dengan senyum di wajah dan harapan di hati.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️