NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 - ujian pertama di arena

Kabut pagi masih menyelimuti Sekte Batu Awan ketika pengumuman resmi terdengar di seluruh aula.

“Hari ini, seluruh murid luar yang telah mencapai Level Awal wajib mengikuti ujian pertarungan di arena tengah. Ini merupakan evaluasi resmi dari penatua, dan hasilnya akan menentukan posisi serta hak istimewa kalian,” suara pengumuman terdengar bergema.

Qing Lin berjalan pelan ke arena, membawa pedang kayu dan kapak kecilnya. Ia tidak merasa gugup—tidak ada emosi takut, tidak ada ambisi berlebihan. Hanya ada kesadaran satu hal: ia harus menghadapi ujian ini dengan tenang, menjaga inti Sutra Darah Sunyi tetap stabil.

Arena tengah dipenuhi murid luar dan dalam. Setiap mata menatap Qing Lin dengan campuran rasa penasaran, skeptis, dan sedikit ketakutan. Beberapa murid luar yang dulu mengejeknya kini tampak gugup, sementara murid dalam menatapnya serius, mencoba mengukur sejauh mana kekuatannya berkembang.

“Ini… ia yang dimaksud?” bisik seorang murid luar. “Tanpa akar spiritual, tapi bisa menahan makhluk iblis tingkat menengah…?”

Qing Lin tidak menoleh. Ia hanya melangkah ke tengah arena, mengatur napas, dan duduk bersila sebentar sebelum ujian dimulai. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dalam tubuhnya, inti yang padat memandu setiap tarikan napas, setiap gerakan.

Penatua Gu Yan berdiri di balkon, matanya menatap tajam. Di sampingnya, Shen menulis catatan dengan tinta merah.

“Ia telah mencapai lonjakan fisik yang tidak biasa bagi murid luar,” gumam Gu Yan. “Sekarang dunia resmi akan mengetahui… potensi sesungguhnya.”

Ketukan gendang memulai ujian.

“Mulai!”

Murid luar yang lain mulai bertarung satu sama lain, menunjukkan teknik dasar, refleks, dan kekuatan. Qing Lin tetap tenang, memperhatikan pola mereka, memahami ritme gerakan dan aliran energi yang tampak di tubuh mereka. Ia tidak tergesa-gesa, hanya menyesuaikan napas dan aliran Sutra Darah Sunyi di dalam tubuhnya.

Tiba-tiba, seorang murid luar bernama Han Wei, terkenal dengan kemampuan fisik tinggi, melompat ke arah Qing Lin.

“Hei! Kau yang selalu diam itu… mari kita lihat seberapa kuat kau!” teriak Han Wei.

Qing Lin menunduk sedikit, memusatkan perhatian. Qi dalam tubuhnya bergerak lembut, inti Sutra Darah Sunyi memandu refleksnya.

Han Wei menyerang cepat, cakar tajam menyerbu. Qing Lin menggeser kapak kayunya ke samping, menghindar dengan gerakan sederhana namun presisi. Sutra Darah Sunyi menyerap getaran serangan, memperkuat refleksnya, namun tidak menyerang balik.

“Pelan… tapi pasti,” gumamnya.

Han Wei terkejut. Ia menyerang lagi, lebih agresif, tetapi Qing Lin selalu menghindar dengan cara yang lebih efisien, memanfaatkan momentum lawan. Setiap kali serangan hampir mengenai tubuhnya, inti Sutra Darah Sunyi merespons, memberikan kekuatan tambahan pada otot dan sendi.

Penonton mulai bergumam. “Apa ini? Ia tidak menyerang, tapi tetap mengimbangi Han Wei!”

“Ini… tidak masuk akal,” kata murid lain. “Tanpa akar spiritual… tapi gerakannya… lebih cepat, lebih stabil…”

Pertarungan berlangsung beberapa menit, hingga Han Wei terhuyung mundur, kelelahan. Qing Lin tidak pernah memukulnya. Ia hanya bertahan, menghindar, dan menyesuaikan tubuhnya dengan gerakan lawan.

Ini adalah uji pertama kekuatan pasif, di mana ketenangan dan Sutra Darah Sunyi menjadi senjata tersembunyi.

Setelah Han Wei mundur, giliran murid lain melawan. Setiap serangan yang diarahkan ke Qing Lin selalu diantisipasi, dihindari, dan diserap dengan cara Sutra Darah Sunyi. Tidak ada darah tertumpah, tidak ada rasa dendam, hanya pertumbuhan murni yang tercatat di tubuhnya.

Beberapa murid luar mulai takut. Murid dalam yang menonton dari sisi arena menatap serius. Penatua Gu Yan mencondongkan tubuh, matanya tidak lepas dari Qing Lin.

“Ia tidak menyerang, tapi setiap gerakan… menghasilkan energi terserap. Sutra Darah Sunyi… berkembang lebih cepat dari perkiraan,” gumamnya pelan.

Mendekati akhir ujian, salah satu murid dalam tingkat menengah bernama Li Fang ditugaskan untuk “mengevaluasi” Qing Lin lebih serius. Ia melompat ke arena, aura biru menyala mengelilinginya.

Qing Lin menatapnya, tetap polos. Tidak ada ekspresi takut atau marah. Ia hanya mengatur napas, menyesuaikan inti Sutra Darah Sunyi dengan kekuatan Li Fang.

Pertarungan dimulai. Li Fang menyerang dengan serangan tingkat menengah, memaksa Qing Lin bergerak cepat. Namun Sutra Darah Sunyi memandu setiap langkah, setiap putaran tubuh, setiap gerakan kapak atau pedang kayu.

Sekali, Li Fang hampir mengenai perutnya, tapi Qing Lin menggeser tubuh, menurunkan berat badan, dan gerakannya terasa lebih cepat dari yang bisa dilihat mata biasa.

“Ini… luar biasa,” gumam Li Fang di sela napasnya. “Tanpa akar spiritual… tapi bisa menahan aku…”

Qing Lin tidak menyerang. Setiap kali Li Fang menekan, Sutra Darah Sunyi merespons, menyesuaikan ritme energi di tubuhnya. Ini bukan kemenangan yang dramatis—ini kemenangan yang sunyi, tapi nyata.

Setelah beberapa menit, Li Fang mundur, mengangguk pelan. Penonton bergumam tak percaya. Murid luar yang dulu mengejek Qing Lin kini hanya menunduk, tidak berani mendekat. Murid dalam menatapnya dengan rasa penasaran dan kekaguman.

Di balkon, Gu Yan dan Shen menatap satu sama lain.

“Ini… belum pernah terjadi sebelumnya. Murid luar tanpa akar spiritual, tapi mampu menahan murid dalam tingkat menengah…” gumam Gu Yan.

Shen menulis catatan dengan tinta merah. “Ini… awal dari sesuatu yang besar. Kita harus memantau pertumbuhan Sutra Darah Sunyi-nya.”

Malam harinya, Qing Lin duduk di tepi jurang, menatap bintang yang tertutup kabut. Sutra Darah Sunyi berdenyut lebih cepat dari sebelumnya, inti yang padat di dadanya kini terasa seperti batu yang lembut namun kuat.

“Aku… masih polos,” gumamnya. “Tapi dunia… mulai melihatku. Aku harus terus pelan, tapi pasti.”

Ia menutup mata, merasakan setiap denyut Sutra Darah Sunyi. Qi dalam tubuhnya kini stabil, tubuhnya lebih ringan, refleks lebih tajam, dan kemampuan fisiknya meningkat.

Ini bukan kemenangan dramatis. Tidak ada darah, tidak ada dendam. Hanya pertumbuhan murni yang tercatat oleh dunia yang sebelumnya tidak mengakui keberadaannya.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!