Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Saudara Suami
Hubungan Rio dan Didit cukup dekat. Ibu Rio dan ibunya Didit masih ada hubungan saudara. ayah dari ibunya Rio dan ayah dari ibunya Didit kakak beradik. Jadi ibunya Rio dan ibunya Didit saudara sepupu.
Bahkan ibunya Didit pernah menjadi ibu susu bagi Rio. Saat Rio bayi ibunya dipressi karena kehilangan suaminya tak lain adalah papanya Rio. Makanya keadaan ibunya Rio tak stabil yang mempengaruhi kesehatannya, hingga air susunya tidak lancar.
Kebutulan saat itu ibunya Didit baru saja kehilangan anak pertamanya karena lahir prematur dan tak bertahan, sehingga air susunya yang terus berproduksi dialihkan pada Rio.
Maka Rio pun diurus oleh ibunya Didit, boleh dikatakan menjadi anak angkat. Hingga satu tahun enam bulan kemudian Rio tak lagi menyusu pada ibunya Didit, karena perempuan itu mengandung anak kedua yang tak lain adalah Didit.
Makanya Rio yang kehilangan sosok seorang ibu mendapat pengganti kasih sayang dari ibunya Didit. Dan hubungan Rio dengan Didit walau tak serumah layaknya kakak beradik.
Dan saat Didit hampir terjatuh dari kudanya yang tiba-tiba mengamuk, lalu ditolong seorang gadis, itu pun tak lepas dari laporan Didit pada Rio.
Makanya saat ini setelah menemukan penolongnya Didit laporan pada Rio. Dan sangat tak mereka sadari jika gadis cantik yang menolong Didit adalah istri yang enggan dikenal wajahnya oleh Rio.
Rayi sudah bermobil menuju ke pacuan kuda milik kakek Satya yang sejak kematian kakeknya menjadi tanggung jawabnya. Dan sebagai orang yang bertanggung jawab pada area yang mempunyai anggota pecinta penunggang kuda tujuh puluh lima orang dari berbagai usia, tentu Rayi sangat sibuk apalagi diantara mereka delapan puluh persen mempercayakan kuda tunggangan mereka di area pacuan miliknya.
Sesampainya di area berkuda itu, Rayi langsung memeriksa istal bagi kuda-kuda titipan yang jumlahnya sekitar enam puluh istal ditempati kuda milik anggota. Selain mendengar laporan dari pada petugas atau pekerja yang mengawasi puluhan kuda itu, dia juga berbicara dengan dokter Anggana dokter hewan yang menjaga kesehatan kuda-kuda titipan anggota club pacuan kuda miliknya. Dia juga berbicara dengan beberapa pemilik kuda yang datang untuk latihan.
"Wah makin gagah saja kuda putihmu ini," ujar Rayi pada seorang gadis remaja yang siap-siap untuk berkuda.
"Ya, Kak, bulunya bagai perak ..." sahut gadis itu.
"Ikut pada event berkuda tiga minggu lagi?" Rayi menatap gadis yang mengenakan pakaian siap untuk berkuda itu.
"Nggak deh, Kak, belum berani, mungkin tahun depan," ujar gadis itu.
Seorang gadis lain mendekat sambil menuntun kudanya.
Rayi tersenyum pada gadis itu, "Mau latihan?"
"Ya, Kak," angguk gadis itu.
"Minat ikut event?" Rayi masih ingat gadis itu pernah memenangkan juara tiga balap kuda sesama anggota club, sedangkan juara pertamanya adalah dirinya.
"Terserah Kakak jika aku terpilih " ujar gadis itu.
"Namamu Airin, kan?"
"Ya," angguk Airin, "Kakak Rayi?"
"Ya," Rayi mengangguk, "Ayo Airin kamu latihan yang serius kita butuh tiga peserta dari club kita,"
"Pasti Kakak Rayi salah satunya, ya ..." ujar Airin menatap Rayi.
"Oh belum tentu walau aku mau, semua tergantung stamina dan juga penilaian pelatih club " ujar Rayi yang memang semua calon peserta dari club miliknya ini sangat ketat memilih calon peserta.
Walau pun dirinya pernah beberapa kali menyabet gelar juara baik sesama anggota club, dan dua kali antar club sebagai juara pertama, bahkan sebagai pemilik club Satya sekali pun bukan jaminan terpilih sebagai calon peserta mewakili clubnya.
Semua yang berhak.mewakili club dan maju pada event tiga minggu lagi harus disaring secara profesional.
"Aku latihan dulu, Kakak," pamit Airin.
"Oke semangat ..." ujar Rayi mengangkat kedua ibu jarinya Airin dan gadis pertama yang ditemunya tadi.
Setelah memastikan semua catatan dari kuda milik anggota aman, dan menyaksikan sendiri hewan-hewan yang memiliki tenaga sangat kuat itu, barulah dia menuju ke istal kuda miliknya.
Seperti sudah akrab dengan tuannya, kuda berwarna coklat muda yang tampak berkilau bulunya itu langsung mengangkat kedua kakinya, mungkin menyapa sang pemilik yang menyayanginya.
Rayi langsung tertawa dan mendekat lalu mengelus kepala si Coklat Susu begitu dia memanggil kuda yang sudah empat tahun menemaninya. Tiga tahun berturut-turut menjadi juara umum sesuai usia di clubnya sendiri dan dua kali menemaninya menyabet juara umum antar club.
"Halo kita latihan yuk," ujarnya pada kuda hadiah ulang tahunnya yang ke empat belas tahun dulu dari kakek Satya.
Kuda itu langsung menggerakkan keempat kakinya menyerupai jalan di tempat. Melihat sambutan itu bibir Rayi menyinggung senyum.
"Masih mau berjuang denganku dan masih bisa kita berlomba bersama?" Rayi merundukkan wajahnya menatap mata kuda seakan binatang itu mengerti ucapannya.
Di coklat susu mendekatkan moncongnya pada lengan tangan Rayi dan gadis itu tersenyum.
"Apa kamu mau menemaniku menyabet juara?" Rayi kini berjongkok menatap kudanya.
Kepala kuda itu bagai manggut-manggut membuat Rayi tertawa dengan kedua tangan memegang kepala si coklat susu.
"Ayo kita muter, ya ..." tak berapa lama Rayi sudah membawa si coklat susu berlari mengitari area tempat anggota club latian.
Tak berapa lama dia melihat belasan anggota club telah menyemarakkan tempat latihan menunggang kuda yang cukup luas dan bisa menampung puluhan kuda milik anggota club itu.
Tiba-tiba ada seorang pemuda menunggang kuda melewatinya sambil meneriakkan namanya.
"Hai Rayi ..."
Rayi memandang penunggang kuda itu seorang pemuda, dan tengah melambai padanya.
"Ayo Coklat Susu kita kejar dia ...!" Ujar Rayi sambil tak lepas matanya pada pemuda yang menyalipnya tadi.
Coklat Susu tak perlu diperintah dua kali, begitu nona majikannya memberi aba-aba supaya segera mempercepat larinya, langsung saja dia melakukan perintah. Maka kuda yang bersama Rayi beberapa kali meraih gelar juara itu langsung mengejar kuda di depannya.
Maka terjadilah kejar mengejar antara kuda Rayi dengan kuda pemuda yang tetap menjaga lari kudanya supaya tak tergapai oleh Rayi.
"Coklat ayo cepatlah ...!" Teriak Rayi sambil membungkukkan punggungnya, dan mencelatlah kaki Coklat Susu mengejar kuda yang dituju Rayi.
Seperti tak mau dilewati kuda yang ditunggangi Rayi rupanya pemuda di atas punggung kuda yang jauh meninggalkan kuda tunggangan Rayi semakin menambah kecepatan lari kudanya menyalip beberapa kuda yang juga tengah berlari.
Rayi tak mau tertinggal maka dia memotong jarak antara mereka, dengan aba-aba supaya kudanya melintasi lapangan bagian lingkar dalam, maka dia merasa bisa mencapai lari kuda di depannya. Selama membawa kudanya berlari memotong jarak, Rayi sangat hati-hati supaya tak menabrak penunggang kuda lainnya yang tengah berada di lintasan itu.
Dan saat jarak antara kudanya dengan kuda yang dikejarnya semakin dekat, maka Rayi menggiring lari kudanya kembali keluar dari jalur lingkar dalam, sehingga dia kini bisa memimpin lari kuda di depan pemuda penunggang kuda yang baru menyadari jika Rayi telah memangkas jarak dengan cara gadis itu.
"Hap ...!" Seru Rayi sambil melambai pada pemuda penunggang kuda yang kini dijejerinya, dan saat menoleh dia baru tahu jika penunggang kuda itu tak lain adalah Didit.
"Hai kamu memangkas jarak ..." seru Didit tertawa di atas punggung kudanya yang terus melaju.
"Hai itu kamu Kak Didit ..." seru Rayi, "Itu namanya taktik tersembunyi," lanjutnya tertawa senang karena kudanya kini mendahului kuda milik Didit.
"Rayi kamu curang, ya ...!" Teriak Didit tapi yak marah justru tertawa menyadari akal gadis itu mengalahkan lari kudanya.
"Akal boleh dipakai Kak Didit kalau cuma latihan, Ma, ayoooo ...!" Teriak Rayi membuat Didit terpancing mengejarnya.
Setelah beberapa putaran kejar-kejaran baik Rayi mau pun Didit sama-sama mengendorkan lari kudanya saat kedua kuda mereka hampir sejajar larinya.
Dan seperti janjian Didit dan Rayi sama-sama menghentikan lari kudanya ketika kuda mereka dalam posisi berjejer.
"Hai Rayi ..." panggil Didit
Rayi yang masih berada di atas kuda terkejut, saat menyadari Didit yang juga berada di punggung kudanya tahu-tahu mengambil foto mereka berdua dengan camera handphonenya.
"Biar aku kirim ke kakak Rio ..." batin Didit mau pamir.
suka banget alurnya