NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Rage

Keheningan di kediaman Kim setelah penculikan itu lebih mengerikan daripada suara ledakan mana pun. Di dapur paviliun, tempat yang biasanya tercium aroma mentega dan kayu manis, kini hanya ada bau logam dari darah dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Jungkook berdiri di tengah ruangan, napasnya menderu seperti tungku api yang siap meledak. Matanya merah, bukan karena air mata, melainkan karena pembuluh darah yang pecah akibat tekanan amarah yang tak tertahankan. Di tangannya, sebuah pisau daging besar digenggam begitu erat hingga urat-urat di lengan bawahnya yang bertato menonjol mengerikan.

BRAK!

Dengan satu ayunan liar, Jungkook menghantamkan pisau itu ke meja marmer tempat ia biasanya menyiapkan makanan untuk Shine. Marmer itu retak. Ia menendang rak piring hingga ratusan porselen mahal hancur berkeping-keping di lantai. Baginya, setiap benda di ruangan ini adalah pengingat akan kegagalannya menjaga Shine.

Di sudut dapur, terikat pada kursi besi, adalah salah satu pria berpakaian abu-abu yang berhasil dilumpuhkan oleh tim keamanan luar sebelum sempat melarikan diri. Wajah pria itu hancur, namun ia masih bungkam.

Jin, Suga, dan RM berdiri di ambang pintu dapur. Mereka tidak berani masuk. Bahkan Jin, yang biasanya otoriter, tertegun melihat transformasi Jungkook. Pria itu bukan lagi koki yang sopan atau adik angkat J-Hope yang ceria. Dia adalah personifikasi dari kehancuran.

"Di mana. Mereka. Membawanya."

Suara Jungkook terdengar seperti parutan logam. Ia melangkah mendekati mata-mata itu, menyeret kaki kursinya hingga menimbulkan suara mencit yang memilukan.

"Aku... aku tidak tahu apa-apa..." rintih si mata-mata dengan suara serak. "Kami hanya... hanya tentara bayaran..."

Jungkook tidak membalas dengan kata-kata. Ia meraih rahang pria itu dengan satu tangan, mencengkeramnya begitu kuat hingga terdengar bunyi retakan kecil pada tulang pipi. Ujung pisau daging yang dingin ia tempelkan tepat di bawah mata kiri pria itu.

"Setiap detik yang kau buang untuk berbohong, aku akan mengambil satu bagian darimu," bisik Jungkook. Matanya menatap lurus ke dalam pupil pria itu, mencari ketakutan, dan ia menemukannya. "Kau tahu apa yang dilakukan gas bius itu pada Oracle? Itu mengacaukan frekuensi otaknya. Jika dia terluka sedikit saja di dalam sana, aku akan memastikan kau memohon untuk mati selama sisa hidupmu."

"Jungkook, cukup! Kita butuh dia hidup untuk informasi!" Jin mencoba masuk, namun langkahnya terhenti saat Jungkook menoleh.

Tatapan Jungkook pada Jin saat itu begitu gelap, penuh dengan penghinaan. "Informasi? Kakak macam apa kau ini? Kau membiarkan istrimu—maksudku, adikmu—diculik dengan gas di rumahmu sendiri, dan sekarang kau bicara soal prosedur?"

"Jungkook, kendalikan dirimu!" Suga menimpali, meskipun suaranya bergetar. "Amarahmu tidak akan membawanya kembali."

"Amarahku adalah satu-satunya hal yang akan membawanya kembali!" raung Jungkook. Ia kembali berbalik pada tawanan itu. Tanpa peringatan, ia menusukkan ujung pisau ke paha pria itu, tidak cukup dalam untuk membunuh, tapi cukup untuk mengenai saraf yang paling menyakitkan.

Jeritan memilukan memenuhi dapur. RM memalingkan wajah, sementara Jin mengepalkan tangan dengan rasa bersalah yang mendalam.

"BICARA!" Jungkook berteriak tepat di depan wajah pria itu, darah terciprat ke pipi Jungkook, namun ia tidak peduli. "HANSUNG GROUP DI MANA?!"

"L-Laboratorium... Sektor 4... di bawah gedung lama di Incheon..." pria itu akhirnya terisak, seluruh pertahanannya runtuh di hadapan iblis yang berdiri di depannya. "Mereka punya protokol Zero-Trace... mereka akan memindahkan dia dalam dua jam..."

Jungkook melepaskan cengkeramannya. Pria itu terkulai lemas, pingsan karena syok dan rasa sakit.

Jungkook berdiri perlahan. Ia menyeka darah di wajahnya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia tidak menatap Jin atau yang lainnya. Ia berjalan menuju laci meja yang masih utuh, mengambil dua pisau lipat taktis dan sebuah pistol Glock yang disembunyikan RM di sana.

"Aku pergi ke Incheon," ucap Jungkook datar.

"Kita akan pergi bersama tim keamanan," sahut Jin, mencoba mengambil kendali kembali.

"Tidak," Jungkook menoleh di ambang pintu. "Kalian bergerak terlalu lambat. Protokol, hukum, dan reputasi Kim Corp hanya akan menghambatku. Aku akan menggunakan caraku sendiri. Cara yang tidak akan pernah kau setujui."

Jungkook melangkah keluar menuju garasi, namun sebelum ia pergi, ia berhenti di depan RM yang tampak sangat terpukul.

"Namjoon-ssi," panggil Jungkook. "Jangan pernah biarkan Jin-Hyung menyalahkan dirinya sendiri terlalu lama. Tapi jika aku tidak kembali bersama Shine dalam tiga jam... bakar gedung di Incheon itu sampai tidak ada satu pun debu yang tersisa."

Jungkook memacu mobilnya keluar dari gerbang kediaman Kim dengan kecepatan gila. Di dalam kepalanya, ia bisa merasakan denyut dari kalung "JK" yang dipakai Shine. Denyut itu lemah, tidak teratur, menandakan Shine sedang dalam pengaruh obat bius yang berat.

"Aku datang, Shine," desis Jungkook, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Dan siapapun yang menyentuhmu... mereka akan tahu kenapa aku disebut sebagai badai di Distrik Bawah."

Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. J-Hope menelepon.

"Jungkook, aku sudah di lokasi. Pasukan Distrik Bawah sudah mengepung Sektor 4. Tapi mereka punya tentara swasta di sana. Kau yakin ingin melakukan ini secara frontal?"

"Hyung," jawab Jungkook dengan suara yang kini sangat tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya tadi. "Jangan sisakan satupun dari mereka yang berdiri tegak. Aku tidak datang untuk bernegosiasi. Aku datang untuk pembersihan."

Malam itu, di bawah langit Incheon yang kelam, kemarahan Jungkook bukan lagi sekadar emosi. Itu adalah kekuatan alam yang akan merobek konspirasi Hansung Group sampai ke akarnya. Demi Shine, ia bersedia menjadi monster yang selama ini ia coba sembunyikan.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!