NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Aslan menarik tali kekang kudanya saat gerbang besar Kota Timur mulai terlihat di cakrawala. Kota ini jauh lebih bising dan kotor dibandingkan Oakhaven.

[Sistem: Memasuki batas wilayah Kota Timur. Tingkat kepadatan penduduk tinggi. Aktivitas militer terdeteksi di gerbang utama.]

Aslan turun dari kudanya dan berjalan menuntun hewan itu menuju antrean masuk. Ia melepas jubah kebangsaran yang tersembunyi di balik pakaian lusuhnya dan menggantinya dengan kain penutup kepala yang kasar.

"Siapa namamu dan apa tujuanmu ke sini?" tanya seorang penjaga gerbang dengan wajah bosan.

"Rave. Saya pengelana yang mencari peruntungan di arena," jawab Aslan dengan suara yang lebih berat dan serak.

Penjaga itu menatap otot lengan Aslan yang tampak kokoh. Ia kemudian memberikan isyarat agar Aslan lewat setelah menerima sekeping koin perak.

Aslan berjalan menyusuri pasar yang sesak. Matanya terus bergerak, sementara sistem di sarafnya bekerja tanpa henti memproses informasi di sekitarnya.

[Sistem: Analisis pola bicara penduduk sekitar. Topik utama: Turnamen maut di sektor bawah tanah akan dimulai dalam dua malam.]

"Tuan, apakah Anda butuh penginapan yang aman untuk petarung?" seorang anak kecil berpakaian compang-camping tiba-tiba menghadang jalannya.

Aslan berhenti dan menatap anak itu. Sistem memberikan peringatan kecil tentang potensi ancaman pencopetan.

"Siapa namamu?" tanya Aslan.

"Kiko. Saya tahu rute tercepat menuju arena tanpa harus melewati patroli tentara Baron Krow," bisik anak itu dengan mata yang waspada.

Aslan melemparkan sekeping koin kecil yang ditangkap dengan cekatan oleh Kiko.

"Bawa aku ke tempat di mana para pendaftar berkumpul. Aku tidak butuh tempat tidur, aku butuh informasi," perintah Aslan.

Kiko menyeringai dan memberi isyarat agar Aslan mengikutinya masuk ke dalam gang-gang sempit yang gelap.

[Sistem: Memetakan rute gang sempit. Terdeteksi tiga orang pengintai di atap bangunan sebelah kiri. Status: Waspada.]

"Jangan pedulikan orang-orang di atas, Tuan Rave. Mereka hanya penjaga wilayah yang ingin tahu siapa tamu baru kami," ucap Kiko seolah bisa membaca pikiran Aslan.

Mereka tiba di depan sebuah pintu besi berkarat yang dijaga oleh dua pria berbadan besar. Suara dentuman logam dan teriakan dari dalam tanah mulai terdengar samar.

"Kiko membawa daging baru lagi?" tanya salah satu penjaga sambil tertawa mengejek.

Aslan melangkah maju dan menatap mata penjaga itu dengan dingin. Tekanan mental yang ia lepaskan membuat tawa penjaga tersebut mendadak berhenti.

[Sistem: Sinkronisasi saraf aktif. Tekanan psikologis berhasil menurunkan mental target sebesar empat puluh persen.]

"Daftarkan aku. Namaku Rave," ucap Aslan singkat sambil menyilangkan tangan di dada.

Penjaga itu berdehem dan membuka pintu besi tersebut. Bau keringat dan karat langsung menusuk indra penciuman, namun Aslan tetap melangkah masuk dengan tenang.

Di dalam ruangan remang-remang itu, seorang pria bertubuh tambun duduk di balik meja kayu yang penuh dengan noda minuman. Ia adalah pengelola pendaftaran yang dikenal sebagai si Hidung Bengkok.

"Kau terlihat terlalu bersih untuk menjadi petarung, Rave," ujar pria itu sambil mencatat sesuatu di buku kumal.

"Aku di sini untuk menang, bukan untuk terlihat kotor," balas Aslan tanpa ekspresi.

[Sistem: Memindai target di dalam ruangan. Terdeteksi lima petarung tingkat menengah. Satu target di sudut ruangan memiliki tingkat bahaya tinggi.]

Aslan melirik ke sudut gelap ruangan. Seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya sedang mengasah belati panjang. Sistem memberikan tanda merah pada pria tersebut.

"Biaya pendaftarannya adalah sepuluh koin perak. Jika kau mati di ronde pertama, mayatmu akan dibuang ke sungai," kata si Hidung Bengkok.

Aslan meletakkan koin-koin itu di atas meja. Pria tambun itu memberikan sebuah kepingan logam bernomor tujuh puluh empat.

"Ronde kualifikasimu dimulai besok malam. Cari tempat istirahat jika kau masih ingin melihat matahari lusa," tambah pria itu.

Aslan berbalik dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu bahwa setiap gerakannya saat ini sedang diawasi oleh para calon lawannya.

[Sistem: Memproses data petarung di sudut ruangan. Nama: Jax. Spesialisasi: Serangan titik vital. Rekomendasi: Hindari kontak fisik langsung sebelum pertandingan dimulai.]

Aslan mengikuti Kiko kembali ke jalanan kota yang sedikit lebih terang. Ia perlu mencari tempat untuk merencanakan langkah selanjutnya sambil memantau logistik tentara Kael.

"Kiko, di mana biasanya para prajurit Baron Krow minum-minum?" tanya Aslan.

"Kedai 'Gelas Patah' di dekat pelabuhan, Tuan. Tapi itu tempat yang sangat berbahaya bagi orang asing," jawab Kiko dengan wajah serius.

"Bagus. Antarkan aku ke sana," perintah Aslan.

Kiko menuntun Aslan menuju wilayah pelabuhan yang dipenuhi kabut tipis. Kedai Gelas Patah adalah bangunan kayu tua yang tampak nyaris roboh. Suara gelak tawa kasar dan denting gelas pecah terdengar dari dalam.

"Tunggu di luar dan awasi sekitar. Jika ada patroli mendekat, berikan kode," perintah Aslan kepada Kiko.

Aslan masuk ke dalam kedai. Ia segera menuju sudut paling gelap yang memberikan pandangan luas ke seluruh ruangan. Di tengah kedai, sekelompok prajurit dengan seragam militer Kael sedang minum dengan rakus.

[Sistem: Mode pengintaian aktif. Menangkap getaran suara dari meja pusat. Memulai isolasi percakapan.]

"Kapan rombongan kereta dari ibu kota tiba?" tanya salah satu prajurit yang tampak mabuk.

"Tiga hari lagi. Muatannya bukan hanya makanan, tapi batu inti cadangan untuk persenjataan baru di perbatasan utara," jawab rekannya sambil berbisik.

Aslan menajamkan pendengarannya. Informasi tentang batu inti cadangan adalah variabel yang sangat penting bagi rencananya.

[Sistem: Logistik terkonfirmasi. Lokasi penyimpanan sementara: Gudang Timur Sektor Empat. Pengawalan: Satu peleton infanteri.]

"Siapa kau yang duduk di sana sendirian?" teriak seorang prajurit bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah Aslan.

Aslan hanya mengangkat gelas airnya tanpa bicara. Sikap diamnya justru membuat para prajurit itu merasa tertantang.

"Tunjukkan wajahmu, pengecut!" prajurit itu berdiri dan berjalan sempoyongan menuju meja Aslan.

Aslan tetap tenang dan tidak bergerak sedikit pun. Sistem di kepalanya sudah mulai memetakan rute pelarian dan titik lemah prajurit yang mendekat.

[Sistem: Ancaman tingkat rendah. Rekomendasi: Lumpuhkan tanpa menarik perhatian penjaga kota.]

Prajurit itu mencoba menarik kain penutup kepala Aslan. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, Aslan menangkap pergelangan tangan pria itu dan menekannya ke titik saraf tertentu.

Prajurit itu mendadak jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi. Ia ingin berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

"Aku hanya pengelana yang ingin minum dengan tenang. Jangan buat teman-temanmu malu karena dipukul jatuh oleh orang asing," bisik Aslan dengan nada rendah.

Aslan melepaskan cengkeramannya. Prajurit itu segera mundur kembali ke mejanya dengan ketakutan yang nyata. Teman-temannya tertawa mengejek tanpa menyadari bahaya yang baru saja mereka hindari.

Aslan bangkit dari duduknya setelah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Ia keluar dari kedai dan mendapati Kiko sudah menunggu dengan cemas.

"Ayo pergi. Aku sudah tahu ke mana kereta logistik itu akan menuju," ucap Aslan.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!