Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 18
Rizki dengan tangan gemetar menandatangani kontrak kerja sama dengan Karman Wijaya.
Perasaannya rumit, dia seharusnya senang, namun dia juga merasa kesal karena Karman Wijaya seolah ketergantungan dengan Miranda. Jika begini, bagaimana dia akan menyingkirkan Miranda, melihat betapa dekatnya hubungan Miranda dengan Karman.
AC sebenarnya suhunya di angka tujuh belas, cukup dingin, tetapi hati Rizki terasa panas. Ada rasa tak rela melihat kedekatan Miranda dengan Karman. Dalam hati berpikir, “harusnya aku yang bisa seperti itu dengan Pak Karman.”
Selama dua tahun ini Rizki sudah melihat begitu piawainya Miranda dalam mengelola perusahaan. Pendanaan begitu efektif digunakan, tidak ada pengeluaran yang sia-sia, semuanya tepat sasaran.
Awalnya Rizki merasa kagum dengan Miranda, hanya saja setelah mulai bangkit, nama Miranda terus melambung tinggi di Sanjaya Grup dan nama Rizki seolah redup. Belum lagi Miranda yang tidak mau mentolerir semua jenis suap, membuat Rizki kesal.
Dan Miranda selalu jadi bayang-bayang bagi Rizki. Semakin banyak jasanya akan jadi ancaman di masa depan, maka Miranda harus disingkirkan.
“Terima kasih, Pak Karman,” ujar Rizki sambil menjabat tangan Karman.
“Baik, saya harap Anda bekerja dengan jujur dan profesional. Kalau proyek ini sukses, saya bisa mendatangkan investor lebih besar lagi,” tutur Karman dengan senyum mengembang.
“Baik, Pak Karman, saya akan ingat pesan Anda,” sahut Rizki dengan nada sopan.
Miranda bangkit. “Tuan Karman, ini sudah siang, saya harus pulang,” katanya lembut.
Karman tampak merengut, wajahnya seolah tak rela.
“Rizki, bisa tidak kamu pinjamkan istri kamu sebentar, ada hal yang harus saya bahas,” pinta Karman dengan wajah memohon.
Hal itu membuat Rizki kesal. Di sini terlihat jelas kalau Karmanlah yang memang membutuhkan Miranda.
“Nanti saja, Paman, kita masih banyak waktu luang,” jawab Miranda tenang.
Karman kembali merengut. Karman sudah mengenal Miranda jauh sebelum Miranda dikenal sebagai istri Rizki Sanjaya dan sebelum dikenal sebagai bagian dari keluarga Sukmana. Miranda adalah orang yang tidak bisa diatur sembarangan dan bukan seseorang yang tergoda oleh kekayaan.
“Baiklah,” ucap Karman dengan setengah menyesal, “kalau ada waktu, kunjungi lelaki tua ini.”
“Tenang saja, nanti aku akan sering mengunjungi Anda,” balas Miranda ramah.
“Kalau begitu, lelaki tua ini merasa bergembira,” timpal Karman ceria.
Miranda berpamitan kepada Karman.
Rizki dan Miranda berjalan beriringan meninggalkan ruang rapat.
“Kontrak sudah aku dapatkan, jika uang sudah masuk maka kamu akan aku singkirkan, Miranda,” ucap Rizki dalam hati.
Miranda duduk di kursi depan dan Rizki mengemudi, dan Mang Narno entah ke mana tidak mengemudi.
“Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan Karman Wijaya?” tanya Rizki dengan nada kesal.
Miranda membuang napas berat.
“Hubungan antar manusia saja, tenang saja aku bukan wanita murahan yang membangun koneksi dengan pesona tubuh,” jawab Miranda dingin.
Rizki tidak bisa melanjutkan obrolan. Mau menanyakan lebih lanjut lagi takut dia dipukul lagi oleh Miranda.
Dalam kepalanya berpikir, uang akan cair dalam tiga hari. Selama tiga hari ini dia harus menjaga sikap pada Miranda. Setelah uang cair, barulah dia singkirkan Miranda. Jika uang sudah di tangan, maka Pak Karman tinggal patuh saja pada apa yang akan terjadi nanti. Memikirkan hal itu membuat kekesalan Rizki sedikit terobati.
Rizki mengantar Miranda ke rumah, tidak ke kantor.
“Kenapa tidak mengajakku ke kantor?” tanya Miranda heran.
Rizki melirik Miranda sekilas lalu berkata, “kamu sudah selesai tugasnya, lebih baik kamu sekarang di rumah istirahat dan urus Amora.”
Miranda menoleh ke arah Rizki. “Baiklah,” balasnya dengan nada datar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Rizki menatap Miranda sampai benar-benar masuk rumah, lalu menginjak pedal gas dan mobil melaju lagi.
Tak lama kemudian ponselnya berdering dan Anton, ayahnya, yang menelepon.
“Bagaimana, Ki?” tanya Anton ingin tahu.
“Sudah ditandatangani, Yah,” jawab Rizki singkat.
“Baguslah kalau begitu, ingat sebelum uang masuk ke rekening kamu jangan membuat konflik dengan Miranda,” ujar Anton mengingatkan.
“Baik, Yah,” sahut Rizki patuh, “ayah harus ingat janji ayah.”
“Janji apa?” tanya Anton keheranan.
“Ayah akan mengizinkan aku menikah dengan Melisa,” ucap Rizki menekan suara.
“Kalau sekadar main-main silakan, tapi kalau untuk serius jangan.”
“Kenapa, Yah?”
“Kamu sudah menikahi Miranda, terus kamu akan menceraikannya, terus kamu menikahi saudara angkatnya itu, apa kata orang-orang nanti. Ingat citra kamu harus dijaga, ada wanita yang harus kamu nikahi, dia anak baik dan sepertinya akan menaikkan citra kamu sebagai lelaki baik dan sukses.”
“Yah,” sentak Rizki kesal, “aku maunya Melisa.”
“Astaga, Rizki, ayah tidak melarang kamu bercinta dengan Melisa, silakan saja, tapi jangan sampai ke jenjang pernikahan. Semua perempuan sama saja, lama-lama juga kamu akan bosan dengan Melisa. Ayah sudah ada wanita yang cocok untuk citra bisnis kamu.”
“Yah,” geram Rizki tertahan.
“Rizki, dengarkan ayah, tidak ada bantahan,” kata Anton dengan suara tegas.
Dan Rizki hanya bisa patuh.
..
Miranda memasuki kamarnya. Tadi dia sedikit mendengar obrolan Anton dan Rizki. Miranda sudah tahu arahnya ke mana, mereka ingin memanfaatkannya lalu membuangnya, dan dia juga tahu tiga hari ini dia akan diperlakukan baik oleh keluarga ini.
Pintu kamar diketuk. Miranda melangkah ke pintu lalu membukanya. Tampak Anton sedang berdiri di depan kamar Miranda.
“Miranda, obat ayah habis, apa kamu bisa belikan?” pinta Anton.
Miranda diam.
“Mang Narno sedang tidak ada, jika ayah tidak sakit kepala ayah bisa berangkat sendiri.”
“Baiklah, Yah,” ucap Miranda akhirnya menyetujui.
Miranda merapikan pakaiannya lalu keluar rumah, mengendarai sepeda motor karena lebih praktis menuju apotek untuk membeli obat Anton.
Sementara itu Anton tersenyum menyeringai.
“Anak bodoh mau membongkar perselingkuhanku,” gumamnya.
Kemudian dia memanggil Mang Narno.
Tak lama kemudian Mang Narno datang dan bertanya, “Ada apa, Tuan?”
“Ikut aku,” perintah Anton singkat.
Anton masuk ke kamarnya, kemudian dia menatap langit-langit dan melihat ke dekat AC.
“Kamu lihat dekat AC, ada benda seperti ini kamu ambil ya,” perintah Anton.
Mang Narno yang sudah membawa tangga lalu naik dan mencari benda seperti kancing.
“Ini, Tuan?” tanya Mang Narno ragu.
“Iya,” jawab Anton sambil tersenyum puas.
“Benar-benar akurat beritanya,” gumam Anton.
Kemudian Anton beralih ke kamar Saras, kamar Raka, kamar Rizki, dan ruang dapur. Semua CCTV yang dipasang Miranda sudah dia copot semua dan dinonaktifkan.
“Ini apa sebenarnya, Tuan?” tanya Mang Narno kebingungan.
“Tidak usah banyak tanya dan jangan bilang siapa pun,” ucap Anton dengan suara tegas.
Mang Narno hanya bisa diam lalu pergi meninggalkan Anton seorang diri. Anton menatap enam benda itu lalu tersenyum menyeringai.
“Anak ingusan mau bermain dengan pemain pro,” gumamnya penuh ejekan.
Terdengar suara motor Miranda. Anton buru-buru memasukkan benda itu ke kantong celananya kemudian duduk di sofa, sesekali menoleh ke arah kamar Amora. Tampak Nadia sedang menimang-nimang Amora, Anton tersenyum tipis.
Miranda memasuki ruang tengah dan menyerahkan obat kepada Anton.
“Yah, kata apotekernya katanya ayah barusan sudah beli,” lapor Miranda heran.
Anton tertegun sesaat. “Sepertinya hilang, Mir,” jawab Anton sekenanya.
“Oh ya sudah, jangan sampai hilang lagi, Yah,” ucap Miranda mengingatkan.