Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #5: Apa-apaan
White Burial Valley tidak mendapatkan namanya karena keindahan saljunya.
Nama itu ada karena setelah musim dingin berlalu dan salju mencair, satu-satunya yang tersisa di lembah itu hanyalah tulang-belulang putih yang telah dibersihkan dagingnya oleh serigala dan burung hering.
Dan saat ini, Geun merasa dia sedang berjalan sukarela masuk ke dalam mulut raksasa yang siap mengunyahnya.
Angin menderu seperti jeritan hantu kelaparan. Salju yang tadinya turun malu-malu kini menghantam wajah dengan brutal. Jarak pandang tidak lebih dari sepuluh langkah.
"Dingin... Dingin sekali..."
Di samping Geun, si kuli tua yang batuk-batuk tadi pagi kini berjalan terhuyung-huyung. Bibirnya sudah membiru, dan setiap hembusan napasnya terdengar seperti suara peluit bocor. Pakaiannya terlalu tipis untuk badai seganas ini.
Geun tidak menoleh. Dia terus menatap punggung kuda di depannya.
Bukan karena dia jahat. Tapi karena menoleh membuang kalori.
Sreett... Bruk!
Suara tubuh jatuh terdengar berat di atas tumpukan salju.
Karavan berhenti sejenak.
Kuli tua itu ambruk. Wajahnya terbenam di salju, tubuhnya kejang sebentar, lalu diam. Mati kedinginan. Semudah mematikan lilin.
"Oi! Ada yang jatuh!" teriak si Pemuda Penjudi dengan panik.
Si Botak memutar kudanya. Dia menatap mayat itu dengan tatapan bosan, seolah melihat kotoran kuda di jalan.
"Lemah," dengusnya.
"A-apa kita harus menguburnya?" tanya si Penjudi dengan gigi gemeretak. "Atau setidaknya menutup matanya?"
Si Botak tidak menjawab. Dia memberi isyarat tangan pada dua pengawal resmi Silvercrane.
Tanpa bicara, dua pengawal itu turun dari kuda. Mereka mengangkat mayat kaku si kuli tua itu. Satu memegang tangan, satu memegang kaki.
Geun memperhatikan dari balik lilitan syalnya. "Mereka mau membuangnya ke jurang?" pikirnya.
Tapi dugaan Geun salah total.
Mereka membawa mayat itu menuju Gerobak Hitam di tengah formasi karavan.
Salah satu pengawal mengetuk dinding kayu hitam itu dengan pola ketukan aneh. Tiga lambat, dua cepat.
Kriet...
Pintu kecil di bagian belakang gerobak terbuka sedikit. Hanya celah sempit.
Namun dari celah itu, bau busuk yang disamarkan wewangian manis kembali menyeruak keluar, kali ini lebih pekat karena bercampur dengan bau amis yang asing.
Bugh.
Mayat kuli tua itu dilempar masuk ke dalam kegelapan gerobak seperti karung beras.
Pintu ditutup kembali dan dikunci.
Hening.
Geun merasakan perutnya mual.
Logika macam apa ini? Karavan biasanya membuang beban saat badai, bukan menambahnya. Kenapa mereka repot-repot membawa mayat kuli tua yang tidak berharga?
"Jangan banyak tanya," suara Si Botak memecah keheningan, matanya menyapu para pengawal bayaran yang ketakutan. "Jangan buang-buang muatan. Lanjut jalan!"
"Muatan?" batin Geun. "Jadi bagi mereka, kami ini apa? Cadangan muatan?"
Kuda-kuda kembali dipacu. Roda gerobak kembali berputar.
Ketakutan mulai merayap di hati para pengawal bayaran. Si Penjudi di sebelah Geun mulai menangis tanpa suara, air matanya langsung membeku di pipi.
Geun tahu, kalau dia membiarkan rasa takut menguasainya, dia akan mati kedinginan seperti kuli tua itu. Tubuhnya yang kurus tidak punya lapisan lemak untuk menahan suhu minus ini.
Jadi, Geun melakukan satu-satunya hal yang dia bisa.
Dia mengaktifkan teknik bertahan hidup jalanannya, Pengunci Otot.
Geun menarik napas dalam, lalu menahan, memaksa paru-parunya mengembang maksimal. Dia mengirim perintah ke otaknya untuk mematikan reseptor rasa dingin di kulit.
Otot-otot leher, punggung, dan pahanya dikeraskan sampai sekeras batu.
Dia berhenti menggigil.
Bukan karena dia hangat, tapi karena dia memaksa tubuhnya masuk ke mode rigor mortis sementara agar energi panas tidak keluar lewat getaran otot.
Efek sampingnya, wajahnya menjadi datar total tanpa ekspresi, matanya tidak berkedip, dan postur tubuhnya tegak lurus secara tidak wajar di atas kuda yang berguncang.
Si Penjudi di sebelahnya menoleh, berharap mendapat teman senasib untuk mengeluh. Tapi saat melihat Geun, nyalinya ciut.
Di mata si Penjudi, Geun tidak terlihat kedinginan sama sekali.
Pemuda itu duduk tegak, membiarkan salju menumpuk di bahunya tanpa repot-repot membersihkannya. Wajahnya tenang, seolah sedang bermeditasi di taman musim semi, bukan di neraka es.
"Gi-gila..." bisik si Penjudi pada rekannya yang lain. "Lihat bocah itu. Dia tidak menggigil sedikitpun. Dia pasti menggunakan energi internal tingkat tinggi untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin."
"Ssst! Jangan tatap matanya," bisik rekannya. "Kau lihat pedang di punggungnya? Itu pasti Pedang Iblis yang minum darah. Dia sedang menahan hawa membunuhnya."
Geun tidak mendengar bisik-bisik itu.
Telinganya berdenging karena menahan napas terlalu lama.
"Sakit... Otot punggungku rasanya mau putus..." batin Geun menderita. "Tujuh tael... demi tujuh tael..."
Satu jam berlalu.
Jalur lembah semakin sempit. Tebing-tebing batu hitam menjulang tinggi di kiri dan kanan, mengapit karavan seperti dinding penjara.
Tiba-tiba, mata Geun menangkap sesuatu.
Di tengah badai putih yang menyilaukan, penglihatan khususnya, bakat kutukan yang dia miliki sejak lahir, dia melihat warna energi.
Di atas tebing, di balik tirai salju yang tebal, ada gumpalan-gumpalan uap berwarna merah samar.
Itu bukan uap air.
Itu adalah aliran energi kehidupan. Qi manusia.
Ada satu... lima... sepuluh... dua puluh...
Gumpalan-gumpalan itu bergerak cepat, meluncur turun dari tebing dengan kecepatan yang tidak wajar.
Bandit.
Geun ingin berteriak, "AWAS SERANGAN!"
Tapi mulutnya terkunci rapat.
Otaknya berhitung cepat, "Kalau aku teriak, aku jadi pusat perhatian. Panah pertama pasti mengincar orang yang berteriak." batinnya.
Geun diam saja.
Perlahan, sangat perlahan, dia menarik tali kekang kudanya. Dia membiarkan kudanya mundur sedikit demi sedikit, bergeser ke sisi kiri, menjadikan tubuh gemuk Si Preman Kampung sebagai tameng daging di sebelah kanannya.
"Hei, kenapa kau memotong jalan..." protes Si Preman.
Kata-katanya tidak pernah selesai.
ZAP!
Sebuah anak panah hitam melesat menembus badai, menancap tepat di leher Si Preman.
Darah muncrat ke wajah Geun yang datar.
"SERGAAAAAAP!"
Teriakan itu bukan dari pengawal, tapi dari atas tebing.
Dinding salju di kiri dan kanan meledak. Puluhan sosok berjubah kulit serigala dan beruang meluncur turun menggunakan tali dan papan luncur, menembus badai seperti hantu gunung.
Mereka berteriak liar, senjata mereka berkilatan haus darah.
Itu bukan bandit sembarangan.
Dari cara mereka bergerak, dari Qi merah kotor yang menyelimuti senjata mereka...
Ini adalah Kelompok Bandit Gang-dol.
"Lindungi gerobak!" teriak Si Botak.
Tapi perintah itu aneh.
Para pengawal resmi Silvercrane tidak menyebar untuk melindungi rombongan. Mereka justru mundur, merapatkan barisan, membentuk dinding perisai yang hanya melindungi Gerobak Hitam dan diri mereka sendiri.
Mereka membiarkan Geun, si Penjudi, dan para rekrutan sampah lainnya berada di garis luar tanpa perlindungan.
Mata Geun membelalak saat melihat seringai kejam di wajah Si Botak.
Saat itulah Geun sadar sepenuhnya.
Mereka bukan direkrut untuk menjadi pengawal. Mereka direkrut untuk menjadi umpan.
"Sialan!" umpat Geun sambil menarik senjatanya.