Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ojek Premium
Arin meletakkan ponsel itu di atas meja dengan posisi yang sudah disangga sedemikian rupa menggunakan vas bunga sehingga kamera belakangnya tetap menyorot tepat ke arah wajah Kanaya.
Di layar ponsel, Narendra masih setia memandangi wajah tidur Kanaya. Narendra seolah tidak peduli meski ia hanya menatap layar ponsel yang membisu, tatapannya dalam, tenang dan ada sedikit guratan kerinduan yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya, Arin yang melihat itu dari sudut matanya sambil asyik memakan camilan hanya bisa geleng-geleng kepala.
'Dunia memang adil, Kanaya yang nggak peka dikasih cowok yang bucinnya level akut,' batin Arin.
Dua jam berlalu, Arin sesekali mengecek layar ponsel dan Narendra masih di sana. Kadang pria itu terlihat sedang membaca berkas atau tablet di tangannya, tapi setiap beberapa menit sekali matanya pasti akan kembali melirik ke arah layar dan memastikan Kanaya masih tidur dengan nyaman.
Tepat pukul setengah lima, Kanaya mulai bergerak dan ia melenguh pelan lalu perlahan membuka matanya. Arin yang melihat itu langsung sigap menyambar ponsel Kanaya sebelum sahabatnya itu sadar telah disiarkan secara langsung oleh Arin.
"Eh, Arin," suara Kanaya serak khas bangun tidur, ia mengucek matanya dan menyadari ada selimut di tubuhnya.
"Aku tidur lama ya?" tanya Kanaya.
"Lama banget, dasar kebo. Kapan coba kamu tidurnya nggak lama," ucap Arin sambil buru-buru mematikan panggilan video yang sebenarnya masih tersambung dan diam-diam menaruh kembali ponsel Kanaya.
"Hehehe, habisnya rumah kamu enak banget buat tidur," ucap Kanaya.
Narendra di seberang sana hanya sempat melihat Kanaya yang mengucek mata sebelum layar menjadi hitam, ia menyandarkan punggungnya di sofa dan mengembuskan napas panjang lalu segera beranjak untuk mengambil kunci mobilnya.
"Ayo cepat, ojek premium kamu sudah stand by di depan!" ucap Arin sambil menarik tangan Kanaya yang masih sedikit linglung.
Kanaya mengernyit bingung mendengar perkataan Arin, "Ojek apa sih, Rin? Aku kan belum pesan...,"
Kalimat Kanaya terputus saat ia melangkah keluar dari pintu rumah Arin, di depan pagar sebuah mobil hitam mewah yang sangat familiar terparkir dengan gagah. Di samping pintu kemudi, berdirilah Narendra. Pria itu sudah mengganti kaus santainya dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan maskulin namun tetap santai.
Kanaya terpaku di ambang pintu, jantungnya mendadak berdegup kencang, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa.
"Narendra? Kamu... kamu kok ada di sini?" tanya Kanaya dengan suara terbata lalu matanya beralih menatap Arin yang sedang senyum-senyum tidak jelas di sampingnya.
"Tadi aku sudah bilang kalau aku akan menjemputmu kan," ucap Narendra.
"Iya, tapi... aku belum ngabarin kamu kalau aku mau pulang," ucap Kanaya.
"Udah pulang sana," ucap Arin dan mendorong Kanaya.
Dorongan kuat Arin membuat Kanaya menabrak dada bidang Narendra, Kanaya memekik pelan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Refleks, kedua tangan Narendra menangkap pinggang Kanaya, menahan gadis itu agar tidak jatuh tersungkur.
Wangi parfum maskulin yang bercampur dengan aroma sabun segar langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Kanaya, membuatnya semakin linglung, wajah Kanaya kini tepat berada di depan dada bidang Narendra yang terbalut kemeja flanel.
"Hati-hati," suara berat Narendra terdengar tepat di atas kepalanya dan membuat bulu kuduk Kanaya meremang.
Kanaya segera menjauhkan dirinya dengan gerakan canggung, wajahnya sudah semerah tomat matang. "Ma-maaf, Narendra. Arin emang suka dorong-dorong sembarangan," gumam Kanaya sambil menunduk dalam dan tidak berani menatap mata pria di depannya.
Arin yang berdiri di ambang pintu hanya tertawa tanpa rasa bersalah, "Habisnya kalian lama banget sih dramanya! Udah sana, kasihan tuh Narendra pasti capek nungguin calonnya bangun tidur," ucap Arin.
"Arin!" tegur Kanaya dengan nada memperingatkan, namun Arin hanya melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan cepat, meninggalkan Kanaya berdua saja dengan Narendra di suasana sore yang mulai temaram.
Narendra tidak berkomentar soal candaan Arin, ia justru memperhatikan wajah Kanaya dengan saksama. "Sudah benar-benar bangun?" tanya Narendra sambil membukakan pintu mobil untuk Kanaya.
"Su-sudah," jawab Kanaya gugup dan ia segera masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk.
Mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang mulai padat, Kanaya meremas jemarinya, mencoba mencari topik pembicaraan agar suasana tidak terlalu kaku, sementara Narendra tampak fokus menyetir dengan satu tangan dan tangan lainnya bersandar di jendela mobil, sebuah pemandangan yang diam-diam Kanaya kagumi karena ketenangannya.
"Kita mampir makan dulu," ujar Narendra memecah keheningan.
Suaranya terdengar mutlak, bukan seperti sebuah ajakan, melainkan sebuah keputusan. Kanaya buru-buru menggeleng. "Eh, nggak usah, Narendra. Aku... aku masih kenyang banget, tadi di rumah Arin makan camilan banyak banget sama minum teh manis dua gelas," ucap Kanaya.
"Tapi, wajahmu kelihatan pucat. Jangan bilang tadi cuma makan gorengan," ucap Narendra.
"Beneran kenyang, Narendra. Perutku rasanya penuh banget, mending langsung pulang aja ke kos," ucap Kanaya berusaha memberikan senyum terbaiknya dan berharap pria itu percaya.
Narendra menghela napas panjang dan baru saja hendak memutar setir, tiba-tiba sebuah suara nyaring terdengar dari arah perut Kanaya.
Kruuukkk... krrruuukk...
Bunyi itu sangat jelas merobek kesunyian di dalam mobil yang kedap suara itu, Kanaya langsung membeku dan ia memejamkan mata rapat-rapat karena malu, berharap bumi saat ini juga terbelah dan menelannya bulat-bulat.
'Ya Tuhan, kenapa harus sekarang?' batin Kanaya menjerit, ia merasa harga dirinya jatuh ke titik terendah apalagi saat ini ada Narendra di sebelahnya.
Narendra tidak tertawa, tidak juga melontarkan sindiran tajam, ia hanya melirik sekilas ke arah perut Kanaya yang baru saja berkhianat lalu dengan tenang memutar kemudi ke arah kanan, menjauh dari jalur menuju kosan Kanaya.
Keheningan di dalam mobil terasa sangat mencekam bagi Kanaya. Ia hanya bisa menatap jendela dan menempelkan dahi pada kaca yang dingin untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah matang karena malu.
Beberapa saat kemudian, Narendra memarkirkan mobilnya tepat di depan lobi restoran yang dijaga oleh pelayan berseragam rapi.
Begitu turun, Kanaya merasa semakin tidak nyaman dan menatap penampilannya sendiri, blus sederhana dan celana panjang yang sedikit kusut pasca tidur di sofa Arin dan tas kain sederhana. Sementara itu, Narendra tampak sangat berkelas dengan kemeja flanelnya yang mahal.
Narendra melangkah menuju restoran di lantai atas gedung tersebut, Kanaya mengekor di belakangnya dengan langkah ragu. Saat pintu lift terbuka, mereka disambut oleh pemandangan kota dari ketinggian dengan lampu-lampu yang mulai menyala indah.
.
.
.
Bersambung.....