Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuntutan Hak
Suasana di kediaman Cassano terasa berbeda. Georgio bangun lebih awal dari biasanya, dan setelah mandi, ia memilih setelan jas abu-abu gelap, pilihan yang lebih tajam dari biasanya.
Di ruang makan, Georgio menemukan Cassandra sudah duduk di kursinya. Berbeda dengan hari-hari biasanya di mana keheningan menyelimuti mereka, hari ini Cassandra terlihat lebih tenang.
"Aku akan berangkat agak terlambat," kata Cassandra, tanpa menatap mata Georgio, sibuk mengoleskan selai pada rotinya. "Ada panggilan dari kantor yang perlu kuambil sebelum siang, mengenai aset dari papa."
Georgio berhenti sejenak saat hendak menyesap kopi. Ini adalah pertama kalinya Cassandra secara terbuka menyatakan bahwa dia memiliki urusan yang lebih penting.
"Tentu," jawab Georgio, suaranya mantap. "Aku akan mengirimkan beberapa dokumen. Aku ingin kamu menyaring semua data keuangan Jordan yang baru kita peroleh semalam."
Cassandra akhirnya mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Georgio. Bukan tatapan gugup dari malam sebelumnya, melainkan tatapan yang tenang. "Aku akan melakukannya. Tapi aku akan mendahului asetku sendiri terlebih dahulu."
Georgio menyadari sesuatu. Cassandra tidak meminta izin. Dia hanya menyatakan tujuannya. Georgio menghela nafas panjang, dia berharap apa? Cassandra memang sudah berubah, tapi bukan berati Cassandra berubah mencintainya kan? Setidaknya belum. Akan ada saat ia merebut hati Cassandra hanya untuk dirinya. Bukan untuk bajingan itu.
George menatap wajah diam Cassandra yang tengah fokus dengan sarapannya. Dia tersenyum miring saat memikirkan rencana demi rencana untuk merebut hati Cassandra.
---
Georgio dipenuhi rapat intensif, tetapi pikirannya terus kembali pada Cassandra. Karena hari ini Cassandra tidak hadir.
Georgio telah menyediakan sebuah ruangan di kantornya agar Cassandra berada di bawah pengawasannya, memastikan dia aman dan juga selalu ada di dekatnya, mungkin.
Georgio akhirnya mengirimkan dokumen Jordan melalui saluran terenkripsi pribadi mereka. Beberapa jam kemudian, saat Georgio sedang sibuk dengan dokumennya, ponselnya bergetar dengan notifikasi dari Cassandra.
Itu bukan laporan, melainkan sebuah spreadsheet kecil. Di dalamnya, Cassandra telah menandai tiga entri transfer Jordan ke luar negeri dengan warna merah.
"Semua ada disini, bisa di cek."
Georgio terpaku. Cassandra tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya di tengah-tengah urusannya yang lain, dia juga menyelesaikan permintaan Georgio dengan kecepatan luar biasa."
Georgio menyeringai. Jantungnya berdebar, karena ia menyadari betapa berharga istrinya. ia tidak menyangka Cassandra akan sehebat itu.
Hari sudah menunjukkan pukul empat sore, Georgio masih sibuk dengan laptopnya, jemarinya bergerak pelan. Georgio menatap layar laptopnya dengan senyuman miring saat menyadari bahwa Cassandra telah memecahkan teka-teki Annabella tanpa dia sadari.
Dia bahkan meminta orang kepercayaan nya untuk membantunya. sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui Georgio. Tapi kali ini, Cassandra Ketahun. Georgio tidak akan bisa dia kelabuhi.
Georgio tersenyum dingin. Cassandra yang dia kenal saat ini, terlihat menarik. lihat saja, malam ini Georgio benar-benar akan mengurungnya.
★★★
Cassandra berdiri didepan cermin sembari menatap dirinya. Dia tengah menggunakan kemeja putih tipis dengan dua kancing baju terlepas. Rambut yang di Cepol asal. Cassandra terlihat sangat cantik dengan gaya apa pun, kulit putih, rambut bergelombang Sepinggang. Hidung mancung, bibir merah menggoda. Kulitnya pun mulus. Tubuhnya benar-benar sempurna. Tapi kenapa selama ini Georgio tidak menatapnya? Kenapa mereka bersikap seperti orang asing? Georgio yang tidak perduli dengan Cassandra dan begitu pun sebaliknya. Tapi disaat Selin masuk ke tubuh Cassandra dan mulai peduli dengan Georgio, dia pun ikut berubah. Seperti ingin memiliki Cassandra. Tapi... Mungkin kah secepat itu Georgio mencintai Cassandra?
Cassandra masih menatap pantulannya di cermin. Dia menggigit ibu jarinya memikirkan tentang Georgio.
Larut dalam dunianya, Cassandra sedikit terperanjat kaget saat pintu kamarnya terbuka. Georgio berdiri di sana, menjulang dan memancarkan aura yang kuat. Ia mengenakan kemeja putihnya yang terbuka di bagian atas.
Georgio berjalan mendekati Cassandra yang terlihat menegang. Saat Georgio mendekati, Cassandra mundur hingga terpojok ke meja rias. Cassandra meneguk silvanya susah payah. Jantungnya berdebar kencang melihat wajah Georgio.
"Kamu menggoda ku, hm?" Cassandra menggeleng. "Lalu, kenapa berpakaian seperti ini?"ujar Georgio menatap Cassandra dari atas hingga bawah.
Cassandraa kembali menggeleng. "A-aku tidak berniat menggoda mu."gagap Cassandra yang malah terlihat menggemaskan di mata Georgio.
Georgio mangkat pinggang Cassandra dan mendudukkan nya di meja rias, sebelah tangannya menumpu meja dan sebelahnya memegang pipi Cassandra. Wajah mereka sangat dekat membuat Cassandra menahan nafas.
"Kamu harus tanggung jawab."ujar Georgio, "Kamu bilang, aku punya hakku, dan aku akan mengambilnya sekarang." Cassandra meremas kemeja Georgio, kentara sekali dia gugup. Bagaimana tidak, Cassandra sama sekali tidak pernah disentuh siapapun. Ini pengalaman pertama untuknya, jelas dia gugup.
"A-aku..."
Belum sempat Cassandra menyelesaikan kata-katanya, Georgio lebih dulu membungkam mulut Cassandra dengan bibirnya. Georgio melumat pelan, penuh kelembutan. Lama kelamaan lumatan pelan itu menjadi tuntutan.
Georgio tidak lagi memberi kesempatan Cassandra untuk mundur. Dia menyambar pinggang Cassandra, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa ada jarak sedikit pun. Georgio mencium Cassandra dengan intens, Cassandra yang awalnya ingin menolak akhirnya pasrah dan membalas ciumannya.
Kaki lemasnya berayun, dan ia melingkarkan tangannya di leher Georgio, membalas ciuman itu dengan gejolak yang bercampur aduk, takut, penasaran, dan gairah yang tak dikenal. Georgio menyeringai tipis di sela-sela ciuman mereka, puas dengan respons istrinya.
Georgio melepaskan ciuman itu hanya untuk sejenak, membiarkan Cassandra bernapas, dan membisikkan kata-kata yang memecahkan pertahanannya.
"Aku tau ini bukan cinta.Tapi malam ini, kita akan mengakui tugas yang selayaknya suami istri lakukan," bisiknya, suaranya kini terasa menghanyutkan.
Cassandra yang mendengar kata-kata itu tersenyum lirih. Ternya Georgio belum mencintainya. Lalu? Bagaimana dengan semua sikap manisnya akhir-akhir ini? Apakah Cassandra dipermainkan olehnya. Cassandra menatap dalam mata Georgio, baiklah kalau ini memang permainan. Kita lihat sampai mana Georgio sanggup mempermainkannya.
Georgio mengangkat tubuh Cassandra, menggendongnya ke tempat tidur. Gerakannya sangat cepat dan penuh kekuatan, tidak memberikan kesempatan pada Cassandra untuk memikirkan kembali. Ia meletakkan Cassandra dengan lembut di atas ranjang, lalu menindihnya, mengurungnya dengan tubuh kekarnya.
Georgio menatap dalam-dalam mata Cassandra, Dia tidak mengerti dengan tatapan itu, tapi Georgio yakin, pasti ada keraguan di mata itu. Dia menyentuh pipi Cassandra, mengusapnya lembut dengan ibu jari.
"Jangan takut," ujarnya. "Aku tidak akan menyakitimu. Kamu Pasti akan menikmatinya." Cassandra hanya diam tidak merespon apa-apa. Membuat Georgio mengerutkan dahinya.
"Apa aku boleh memintanya sekarang?"tanya Georgio. Ragu saat melihat raut wajah Cassandra yang terlihat sedih.
Cassandra tersenyum tipis. Dia melingkarkan lengannya ke leher Georgio. Meskipun ia sedikit terbawa perasaan dengan ucapan Georgio. Bagaimana pun dia memang berhak atas Cassandra.
Cassandra mencium bibir Georgio sekilas dan setelah itu mengangguk, menyetujui permintaan Georgio.
Georgio tidak menunggu lagi. Dia mencium Cassandra kembali, kali ini lebih lembut, lebih meyakinkan. Tangannya bergerak cepat membuka sisa kancing kemeja yang dikenakan Cassandra, lalu menyingkirkannya dengan sekali sentak.
Georgio menggerayangi tubuh Cassandra, meninggalkan banyak tanda kepemilikannya, rasa dinginnya malam menyatu dengan hangatnya sentuhan Georgio, hingga membuat Cassandra terbuai dan mengeluarkan desahan yang memabukkan. Gaun tidur bermodel kemeja, dan kain sutra itu menjadi saksi bisu.
Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar kamar itu, Tangisan kecil, lalu desahan panjang yang tertahan, menjadi satu-satunya melodi. Malam itu, Georgio tidak hanya menuntut haknya, tetapi juga meruntuhkan dinding es yang selama ini ia bangun, membiarkan Cassandra melihat sekilas sisi dirinya yang penuh gairah dan kepemilikan.