Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Mabuk Berat
HAPPY READING!!!
.
.
.
Saat keluar dari ruangan, Arumi langsung menatap mamanya dengan mata penuh amarah dan kekecewaan.
“Mama, aku sangat tidak suka diperlakukan seperti itu oleh keluarga Pranoto. Aku dipermalukan, Ma. Apalagi gadis kampung itu justru diperlakukan baik oleh keluarga Pranoto. Bahkan Tuan Raka membelanya di depan semua orang, setelah sekian lama tidak pernah muncul sejak kecelakaan itu, Ma,” ucap Arumi, menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Suaranya bergetar di antara kesal dan tersinggung.
“Benar. Mama juga tidak terima anak kesayangan Mama dihina seperti itu. Bahkan Nyonya Ratna menamparmu tanpa rasa bersalah sedikit pun,” balas Maya, matanya membara oleh kemarahan.
“Pokoknya kita harus membalasnya. Gadis kampung itu tidak boleh lebih bahagia dariku, Ma,” cecar Arumi, rahangnya mengeras. Maya hanya mengangguk, menyetujui kata-kata putrinya tanpa ragu.
Sementara itu, di dalam ruangan, Raline justru mendekat ke arah Mama Ratna. Suaranya pelan namun sarat rasa bersalah.
“Maafkan aku, Mama. Karena ulahku, acara ulang tahun perusahaan jadi kacau seperti ini.”
“Tidak, sayang. Tindakanmu sudah tepat. Mama justru senang kamu melakukannya. Orang-orang seperti itu memang pantas diperlakukan seperti tadi,” ucap Mama Ratna lembut namun tegas, menepuk punggung Raline seolah memberi dukungan penuh.
Para tamu yang tadi berkerumun perlahan kembali ke kursi masing-masing setelah Gunawan menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan keluarga mereka. Suasana berangsur pulih, meski sisa bisik-bisik masih terasa menggantung di udara.
Kania dan Farel berlari kecil mendekati Raka.
“Kakak… Kakak datang bersama perempuan ini ke sini?” tanya mereka hampir bersamaan, menatap bergantian ke arah Raka dan Raline.
“Kakak bahkan keluar dan menunjukkan wajah Kakak kembali pada semua orang hanya untuk membelanya. Kakak tidak jatuh cinta dengannya, kan?” sambung Farel, nada suaranya jelas tak suka.
“Justru memang seharusnya begitu,” sahut Mama Ratna ringan. Ucapannya membuat bibir Farel dan Kania langsung manyun, jelas tidak suka.
“Raka, karena kamu sudah di sini, mari kita duduk di sana dan menikmati pesta ini,” ajak Mama Ratna dengan senyum keibuan.
“Maaf, Ma, tapi sepertinya aku ingin langsung pulang. Dan…” Raka melirik sekilas ke arah Raline, suaranya berubah dingin, “aku muncul bukan karena kamu. Aku hanya ingin menyenangkan hati Mama dan Papa. Jadi jangan terlalu percaya diri.”
Kata-katanya bagai pisau. Raline terdiam, menunduk, berusaha menelan perih di dadanya.Padahal ia baru saja berbesar hati karna Raka yang membelanya.
Di sudut ruangan tak jauh dari sana Kenzo dan Celine masih memperhatikan drama keluarga itu. "Sepertinya Raka tidak menyukainya. " ucap Kenzo.
"Sepertinya begitu, Raka terlihat sangat kejam kepadanya. Tapi ....bukankah Raka memang seperti itu sifat dingin dan kejamnya bahkan sudah berlangsung sejak dulu bahkan di saat dia melakukan persaingan bisnis dengan Anes .
"Kamu benar, itu sebabnya Anes selalu mati - matian mengejar tender besar perusahaan jika pria itu sudah ikut bersaing. Kekalahan Anes saat Tender besar dulu membuat persaingan di antara mereka begitu sengit, sangat di sayangkan Anes sudah meninggal jika dia masih hidup mungkin perempuan itu akan sangat senang melihat pria itu sekarang lumpuh dan tidak bisa melakukan apapun. ''jelas Kenzo.
Celine mengangguk, sembari tersenyum miring.
Raka kemudian segera berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
“Ma… sepertinya aku juga akan ikut pulang bersama Mas Raka. Aku tidak mau membiarkannya sendirian di rumah,” ucap Raline pelan namun pasti.
Ratna mengangguk lembut, begitu pun Gunawan. Mereka memahami keputusan menantunya.
Raline pun segera keluar dari ruangan itu, mengikuti Raka yang sudah lebih dulu pergi,
____
Begitu sampai di rumah, Raline dengan cepat meraih tangan Raka saat mereka sudah berada di dalam kamar.
“Terima kasih karena kamu sudah membelaku tadi,Meskipun kamu bilang kamu muncul hanya untuk menyenangkan hati mama dan papamu. ” ucap Raline dengan senyum bahagia. Ia benar-benar mengira hatinya sudah mulai mampu meluluhkan batu es itu.
“Tidak usah berterima kasih. Lagi pula aku melakukan itu hanya karena terganggu oleh suara keributan yang kamu buat. Lain kali jangan bertingkah seolah-olah pahlawan. Aku tidak butuh pembelaanmu,” ucap Raka ketus, suaranya tetap dingin tanpa ekspresi.
Raline mengerucutkan bibirnya, hatinya terasa diremas. "Apa salahnya kalau dia berkata sedikit lebih lembut? Kenapa harus selalu ketus seperti itu? Apa dia benar-benar tidak punya perasaan? ''batinnya menggerutu, bibirnya ikut bergerak pelan menahan kesal, sementara matanya melirik Raka dari ujung ekor mata.
“Tidak perlu mengumpatku dalam hati, katakan saja langsung,” ucap Raka datar, menangkap gerak bibir Raline dari pantulan kaca di depannya.
Raline terbelalak, baru sadar wajah dan gerak bibirnya tampak jelas di cermin. “Aku tidak mengumpatmu. Aku sedang memujimu,” elaknya cepat sambil tersenyum terpaksa. “Penampilanmu hari ini begitu tampan. Aku sangat terpesona padamu.”
Raline kemudian duduk, memegang pegangan kursi roda Raka. Suaranya berubah lebih lembut. “Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Bagaimana kalau kita menjalani malam pertama hari ini?”
Raka sontak kikuk, kedua matanya membesar.
“Kamu sudah gila. Pikirkan lagi apa yang baru saja kamu ucapkan,” gerutunya, lalu segera memutar kursi rodanya dan “kabur” masuk ke ruang ganti.
Raline berdiri dengan kedua tangan didekapkan di dada. “Ck, ck… pria itu selalu kabur setiap kali aku mencoba menggodanya,” gumamnya, memandang punggung Raka yang menghilang di balik pintu.
____
Ceklek.
Raka keluar dari ruang ganti dengan pakaian tidur yang sudah ia kenakan. Namun, Raline masih memakai gaun pesta lengkap dengan hiasan kepala yang belum ia lepaskan. Perempuan itu terhuyung-huyung berjalan di dekat balkon sambil memegang sebotol anggur merah di tangannya.
“Apa yang dia lakukan di sana…” Raka mengerutkan kening. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi hatinya gelisah. Bayangan Raline yang mungkin terjatuh melewati pagar balkon membuatnya tak bisa diam. Mau tak mau, Raka memutar kursi rodanya mendekat dan menggenggam tangan Raline.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa saja terjatuh,” ucap Raka, wajahnya tetap datar meski nada suaranya terdengar khawatir.
“Aaa… suamiku…” Raline menatapnya dengan wajah memerah, lalu berjongkok di depannya. “Kenapa kamu tidak diam cukup lama di pesta perusahaan tadi? Seharusnya kamu di sana, duduk bersama keluargamu, menyapa rekan-rekan kerja Papamu.” Ia memukul pelan bahu Raka. “Harusnya kamu menunjukkan kesombonganmu seperti dulu. Ke mana perginya sikap angkuh dan obsesimu itu? Kenapa kamu jadi seperti ini sekarang?”
Dengan gumaman lemah sambil memegangi kepalanya, Raline kembali bicara, suaranya bergetar. “Kenapa kamu memilih menjadi cacing kering yang tak berdaya, padahal tidak satu pun yang hilang darimu? Tidak ada yang perlu dikasihani dari dirimu. Tidak sepertiku… aku yang harus menjalani kehidupan gadis malang ini, dibuang, lalu dinikahkan paksa, dan mati-matian berusaha bertahan di keluarga ini.”
Raka mengerutkan dahi. “Apa yang kamu katakan? Apa kamu mengenaliku jauh sebelum pernikahan kita?” tanyanya, tidak mengerti dengan celotehan panjang Raline.
“Aku… hahahaha… tentu saja. Bahkan kamu juga sangat mengenalku,” jawab Raline sambil tertawa pelan,"Ingatlah aku perempuan yang begitu kamu benci, tapi lucunya kita malah di persatukan dalam ikatan pernikahan seperti ini.hahahha.....takdir memang begitu mengejek hidupku.Bagaimana mungkin Rival perusahaan yang begitu tidak aku sukai sekarang malah menjadi suamiku dan mempertaruhkan mati - matian hidupku hanya kepadamu. "
"Tolong bersikap baiklah sedikit kepadaku,aku sudah melewati kematian dan penghianatan yang kejam untuk sampai di sini sekarang."ucapnya lalu tiba-tiba menjatuhkan wajahnya ke paha Raka, bersimpuh di lantai di depan kursi rodanya.
“Raline… Raline, sadarlah. Kamu tidak bisa tidur di sini,” ucap Raka cemas, mencoba membangunkannya. Namun perempuan itu tetap tak bergeming, napasnya mulai teratur tenggelam dalam mabuk dan lelah.
Raka menatapnya lekat, kebingungan mulai memenuhi benaknya. "Apa maksud perempuan ini? Kalau aku juga sangat mengenalnya?.Rivalku dan perempuan yang sangat aku benci....."
''Rival dan perempuan yang sangat aku benci hanya Anes dan dia juga sudah meninggal beberapa bulan lalu, jadi kenapa dia mengatakan ini??"ucap Raka masih tak habis pikir dengan yang di katakan Raline.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Raka yuk kepoin Raline bantu pembalasan dendamnya.
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤