menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9
Sasha masih terpaku di kursinya, matanya mengikuti langkah Aria yang terburu-buru menghilang ke balik pintu dapur setelah meletakkan piring salmon itu tanpa sepatah kata pun.
Keangkuhan yang biasanya terpancar dari wajah Aria seolah luruh seketika, digantikan oleh gurat kebingungan yang mendalam. Sasha mencoba melanjutkan makannya, namun rasa penasaran kini jauh lebih kuat daripada rasa laparnya.
Setelah menyelesaikan makannya, Sasha berjalan menuju kasir.
Ia sengaja melambatkan gerakan, matanya menyapu seluruh sudut restoran mencari sosok sang Ketua OSIS, namun Aria seolah lenyap ditelan bumi.
Setelah membayar, Sasha keluar dan masuk ke dalam mobil Porsche-nya, namun ia tidak langsung pergi.
Ia memarkirkan mobilnya di seberang jalan, menunggu di balik kaca film yang gelap.
Sore pun menjelang. Pintu belakang restoran terbuka, menampakkan Aria yang sudah berganti pakaian menjadi kaos sederhana dan celana kain.
Ia berpamitan dengan rekan kerjanya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Saat ia melangkah menuju trotoar, ia tertegun melihat Sasha sedang bersandar di badan mobil mewah itu, menunggunya dengan tangan terlipat di dada.
Aria menarik napas dalam, memalingkan wajah, dan berjalan lurus tanpa mengacuhkan keberadaan Sasha.
"Apa yang kau lakukan di restoran itu, Aria?" tanya Sasha sambil mulai berjalan di sampingnya.
Aria tetap bungkam, langkah kakinya semakin dipercepat.
"Kau bekerja paruh waktu? Ketua OSIS kebanggaan sekolah ternyata pelayan restoran?" Sasha bertanya lagi, nadanya kali ini tidak mengejek, melainkan penuh selidik.
Aria masih membisu. Ia berbelok masuk ke sebuah gang sempit yang menjadi jalan pintas menuju terminal bus.
Sasha menghentikan langkahnya di mulut gang, menatap lorong gelap yang diapit bangunan tua itu.
"Hoi, Ketua OSIS! Jika aku jadi kau, aku tidak akan lewat sana. Gang itu tidak aman jam segini," teriak Sasha.
Aria hanya menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia pikir Sasha hanya mencoba menakut-nakutinya.
Merasa diabaikan, Sasha mendengus kesal, namun instingnya berkata lain. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti Aria dari jarak jauh.
Di tengah gang yang remang-remang, Aria merutuk dalam hati.
"Kenapa dia harus muncul di sana? Kenapa dia harus tahu rahasia ini?" batinnya kesal. Namun, langkahnya mendadak terhenti.
Dari balik bayangan tong sampah besar, muncul tiga orang pria berbadan gempal dengan pakaian kumal dan aroma alkohol yang menyengat.
Aria berbalik untuk lari, namun di belakangnya, sembilan orang lainnya sudah menutup jalan. Total ada dua belas preman yang kini mengepungnya.
"Wah, ada gadis cantik tersesat," ucap salah satu preman dengan gigi kuning yang menjijikkan. "Seragammu rapi sekali, manis. Mau kami temani pulang?"
Aria mundur hingga punggungnya membentur tembok. "Jangan mendekat! Aku akan berteriak!"
"Berteriaklah sepuasmu, tidak ada yang akan mendengar," sahut preman lain sambil mengulurkan tangan yang kasar untuk menyentuh pipi Aria.
*BUGH!*
Tiba-tiba, sebuah batu sebesar kepalan tangan melesat dari kegelapan dan menghantam tepat di pelipis preman itu.
Ia mengerang kesakitan dan jatuh tersungkur. Sebelum preman lain sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah bayangan melompat dari atas tumpukan peti kayu.
*DUAK! BRAK!*
Sasha mendarat dengan tendangan ganda yang telak menghantam dada dua orang preman di depan Aria hingga mereka terpental ke belakang.
Sasha berdiri tegak di depan Aria, menghalangi pandangan para preman itu dari mangsanya.
Ia menyeka sedikit debu di bahunya, lalu menoleh sedikit ke arah Aria dengan tatapan sinis.
"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk jangan lewat gang ini, hah?" desis Sasha. "Kau memang pintar di kelas, tapi kau benar-benar bodoh dalam membaca situasi jalanan, Ketua OSIS."
Sasha kemudian kembali menatap dua belas preman yang kini mulai mengepung mereka dengan wajah berang.
Tangannya mengepal, siap untuk menumpahkan darah lagi demi melindungi gadis yang paling ia benci.
---
Suasana di gang sempit itu mendadak berubah menjadi neraka. Dua belas preman itu mulai bergerak mengepung, beberapa di antaranya mengeluarkan pisau lipat dan botol kaca pecah.
Namun, Sasha Arka tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun; sebaliknya, matanya berkilat penuh kegilaan, seolah ia memang sedang menunggu momen untuk meluapkan segala emosinya.
"Mundur, Aria. Tutup matamu kalau kau tidak mau muntah," perintah Sasha dingin.
Pertarungan pecah seketika. Dua orang preman pertama menerjang dengan botol kaca.
Sasha menghindar dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menangkap tangan salah satu preman dan menghantamkan sikunya tepat ke arah tulang hidung pria itu.
*KRAK!* Darah menyembur seketika, membasahi kemeja sekolah Sasha yang putih.
Tanpa membuang detik, Sasha menggunakan tubuh preman yang lemas itu sebagai tameng, menendang preman kedua tepat di bagian vitalnya hingga pria itu terjatuh sambil melolong kesakitan.
"Bunuh jalang ini!" teriak pemimpin preman yang berdiri di belakang.
Sasha menyeringai. Ia memungut sebuah pipa besi karatan yang tergeletak di dekat kaki Aria. Dengan gerakan brutal, ia mengayunkan pipa itu ke arah kerumunan.
*BUGH! PLOK!*
Pipa itu menghantam rahang salah satu preman hingga giginya berhamburan ke aspal. Sasha benar-benar mendominasi.
Ia tidak berkelahi seperti atlet; ia berkelahi seperti iblis. Ia mengincar bagian-bagian tubuh yang paling menyakitkan—mata, tenggorokan, dan persendian.
Seorang preman mencoba menusuknya dari samping, namun Sasha menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan
lalu menghantamkan kepalanya ke tembok beton berulang kali sampai pria itu pingsan dengan wajah berlumuran darah.
Aria Putri terpaku di tempatnya. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya. Ia belum pernah melihat kekerasan sejelas dan sebrutal ini.
Darah yang terciprat ke dinding, suara tulang yang retak, dan tatapan mata Sasha yang benar-benar kosong sekaligus buas membuat Aria menyadari bahwa gadis di depannya ini hidup di dunia yang jauh berbeda dengan dunia buku yang ia tempati.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dua belas pria dewasa itu terkapar di tanah.
Gang yang tadinya penuh ancaman kini hanya menyisakan rintihan kesakitan dan bau amis darah.
Sasha berdiri di tengah-tengah kekacauan itu, napasnya memburu, wajahnya terciprat noda merah yang mengerikan, namun ia tampak sangat puas.
Sasha menjatuhkan pipa besinya ke aspal dengan bunyi denting yang nyaring. Ia menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu berbalik menatap Aria yang masih gemetar.
"Ayo pergi. Teman-teman mereka mungkin akan datang lagi," ucap Sasha singkat.
Aria masih terdiam, matanya menatap nanar ke arah genangan darah di bawah kakinya. Sasha mendengus, lalu menyambar tangan Aria dengan kasar. "Kubilang ayo! Jangan jadi patung di sini!"
Sasha menarik Aria keluar dari gang menuju jalan raya tempat Porsche-nya terparkir. Ia membukakan pintu penumpang dan mendorong Aria masuk.
Sasha segera duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin yang menderu keras, dan memacu mobilnya meninggalkan lokasi tersebut dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa sangat mencekam. Aria menatap tangannya yang sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Sasha yang sedang fokus menyetir dengan baju sekolah yang kini ternoda darah preman.
Aria hanya bisa terdiam, menyadari bahwa di balik kebrutalan yang baru saja ia saksikan, ada sisi dari Sasha Arka yang tidak pernah tertangkap oleh nilai-nilai di atas kertas.
Bersambung...