NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantara rahasia, abu dan cinta yang tertahan

Suasana di pemakaman sore itu begitu menyayat hati. Di bawah langit Surabaya yang mendung, sebuah kotak kecil berisi abu dan sisa kain yang ditemukan Yoga diturunkan ke liang lahat. Mereka semua yakin bahwa itulah sisa-sisa jasad Anindya yang habis dilalap api.

Ibu Kanaya Dewi jatuh pingsan berkali-kali di pelukan Dokter Reza, sementara Nenek Lastri datang dari Yogyakarta dengan langkah gontai dan air mata yang tak berhenti mengalir. "Nayla... kenapa nasibmu setragis ini, Nak?" ratap Nenek Lastri di depan nisan bertuliskan Nayla Rahardjo (Anindya).

Malam harinya, rumah Yoga dipenuhi suara lantunan doa tahlilan. Ibu Sekar dan Diandra tak henti-hentinya menyeka air mata. Yoga sendiri duduk bersandar di pojok ruangan dengan tatapan kosong, tangannya masih menggenggam erat jam tangan retak milik istrinya. Ia merasa separuh nyawanya ikut terkubur di sana.

Berjarak ratusan kilometer dari duka di Surabaya, sebuah ambulans melaju kencang memasuki RS Purnomo Medika di Yogyakarta. Bastian Purnomo, pria yang menyelamatkan Anindya, segera turun dengan wajah cemas.

"Afsar! Cepat bantu dia! Dia menghirup terlalu banyak asap," seru Bastian kepada adiknya, Dokter Afsar Purnomo, yang sudah menunggu di lobi IGD.

Setelah melewati masa kritis di ruang ICU, perlahan mata Anindya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih dan masker oksigen yang menempel di wajahnya.

"Aku... di mana?" bisik Anindya dengan suara yang sangat serak.

Bastian mendekat, menatapnya dengan lembut. "Anda aman sekarang. Saya Bastian, orang yang membawa Anda keluar dari gudang itu. Sekarang Anda berada di Yogyakarta."

Anindya meneteskan air mata saat mengingat kobaran api dan wajah puas Dinda sebelum meninggalkannya. Ia menceritakan segalanya kepada Bastian, tentang suaminya Yoga, tentang penculikan itu, dan tentang rasa takutnya bahwa pelaku adalah orang terdekatnya sendiri.

Mendengar cerita itu, Bastian terdiam sejenak. Sebagai pengusaha yang kenyang akan asam garam dunia, ia tahu bahwa jika pelaku tahu Anindya masih hidup, mereka akan mengirimkan pembunuh lain untuk menyelesaikan tugasnya.

"Nona Anindya," ujar Bastian serius. "Dunia menganggap Anda sudah meninggal. Biarkan seperti itu untuk sementara. Jika Anda kembali sekarang tanpa tahu siapa dalang sebenarnya, nyawa Anda kembali terancam. Tinggallah di rumah saya, biarkan saya dan Afsar menjaga Anda sampai kita tahu siapa musuh di balik selimut ini."

Anindya sempat bimbang. Pikirannya tertuju pada Yoga yang pasti sedang hancur. Namun, rasa takut akan keselamatan dirinya dan keinginannya untuk mengungkap kebenaran membuatnya mengangguk pelan. "Baik, Tuan Bastian. Saya akan mengikuti rencana Anda."

Hidup Baru di Balik Dinding Purnomo

Setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Anindya dibawa ke sebuah rumah kolonial yang megah di pusat kota Yogyakarta. Di sana, ia disambut oleh seorang anak kecil berusia lima tahun bernama Raka, putra tunggal Bastian.

"Papa, siapa tante cantik ini?" tanya Raka sambil menarik jas Bastian.

Bastian tersenyum, lalu melirik Anindya. "Ini Tante Anin. Dia akan tinggal di sini sementara waktu."

Anindya tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Di Surabaya, suaminya meratapi kematiannya setiap malam, sementara di Yogyakarta, Anindya memulai hidupnya dalam persembunyian, tanpa tahu bahwa Bastian mulai menaruh simpati yang lebih dari sekadar penolong kepada wanita berhati tegar itu.

Di kediaman Purnomo, suasana terasa jauh lebih hidup. Anindya, yang kini dikenal dengan identitas baru di lingkungan terbatas itu, telah menjadi pusat semesta bagi Raka, putra Bastian. Anindya memberikan kehangatan seorang ibu yang sudah lama hilang dari hidup bocah itu.

Bastian sering kali terpaku di ambang pintu, memperhatikan bagaimana Anindya membacakan dongeng untuk Raka hingga putranya itu tertidur lelap. Dalam diri Anindya, Bastian melihat bayangan mendiang istrinya—lembut, tulus, dan menenangkan.

Anehnya, sejak Anindya tinggal di sana, bisnis Bastian di bidang logistik dan manufaktur melonjak drastis. Kontrak-kontrak besar yang sebelumnya sulit didapat, kini jatuh ke tangannya seolah Anindya adalah pembawa keberuntungan. Namun, kesuksesan itu membawa kegelisahan baru di hati Bastian.

“Kenapa aku harus merasakan ini lagi? Dia istri orang lain, Bastian. Dia milik Dokter Yoga,” batin Bastian bergejolak setiap kali matanya bertemu dengan tatapan teduh Anindya. Ia jatuh cinta, namun ia tahu cinta ini adalah sebuah duri yang bisa melukainya kapan saja.

Kontras dengan kedamaian di Yogyakarta, Yoga Aditama kini hidup bagaikan mayat hidup yang berjalan. Ia memang masih beroperasi di rumah sakit milik sahabatnya, Dokter Yudha, namun ia bukan lagi Yoga yang tenang. Ia menjadi dokter yang dingin, efisien, dan mematikan.

Setiap malam setelah pulang dari rumah sakit, Yoga tidak langsung beristirahat. Ia menghabiskan waktu di ruang bawah tanah bersama Cakra, memeriksa kembali setiap inci rekaman CCTV dan data komunikasi di sekitar gudang tua.

"Bos, Anda harus istirahat. Tubuh Anda bisa ambruk," tegur Cakra dengan cemas.

Yoga menoleh dengan mata merah yang menyimpan amarah membara. "Aku tidak akan bisa tidur tenang selama bajingan yang membakar Anindya masih menghirup udara bebas, Cakra. Aku tidak peduli jika harus menghabiskan sisa hidupku untuk mencarinya. Jika aku menemukannya, aku sendiri yang akan menyeretnya ke neraka."

Kebencian Yoga telah menjadi bahan bakar hidupnya. Ia mulai menyewa detektif internasional untuk melacak sisa-sisa jejak preman yang menghilang hari itu.

Sementara itu, Dinda Dewi Rahardjo memilih untuk melarikan diri dari ketakutan dan rasa bersalahnya. Setelah liburan semesternya berakhir, ia segera terbang kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Ia merasa aman di sana, jauh dari tatapan tajam Yoga dan jauh dari bayang-bayang "hantu" Anindya yang sempat menerornya di Surabaya.

Namun, Dinda tidak tahu bahwa meski ia berada di belahan bumi lain, Bastian melalui jaringan intelijennya telah menempatkan orang untuk mengawasi setiap gerak-geriknya di Tokyo.

Suatu sore di Yogyakarta, saat Anindya sedang menemani Raka di sebuah taman yang sepi, ia melihat sebuah berita di televisi publik. Berita itu menampilkan sosok Yoga yang sedang menerima penghargaan sebagai dokter bedah terbaik tahun ini.

Anindya menyentuh layar televisi itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Yoga tampak jauh lebih kurus dan tatapannya begitu kosong.

"Mas Yoga... maafkan aku," bisiknya lirih, air matanya jatuh tak terbendung.

Bastian yang berdiri tak jauh di belakangnya mengepalkan tangan. Ia ingin menghapus air mata itu, namun ia tahu, air mata itu bukan untuknya.

Kerinduan yang memuncak mulai menjadi racun bagi kesehatan mental Anindya. Setiap sudut rumah Bastian mengingatkannya pada Yoga, suara tawa suaminya, aroma parfumnya, dan cara Yoga menatapnya dengan penuh perlindungan. Rasa aman yang diberikan Bastian mulai terasa seperti penjara emas bagi Anindya.

Sore itu, Anindya sedang duduk di beranda belakang sambil memegang jam tangan retaknya yang berhasil diselamatkan Bastian dari lokasi kejadian. Ia tidak lagi bisa membendung perasaannya. Saat Bastian datang membawakannya secangkir teh hangat, Anindya langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca.

"Tuan Bastian, saya mohon... biarkan saya menemui Mas Yoga. Satu kali saja. Saya tidak kuat menanggung beban ini lagi," isak Anindya. "Melihatnya menderita di berita kemarin benar-benar membunuhku perlahan. Aku harus memberitahunya bahwa aku masih hidup."

Bastian terdiam, ada kilatan rasa sakit di matanya saat mendengar betapa besarnya cinta Anindya untuk Yoga. Ia meletakkan cangkir teh itu dan memegang bahu Anindya dengan lembut, mencoba menenangkan.

"Anin, dengarkan saya. Bukannya saya melarang, tapi situasi di Surabaya belum aman. Orang-orang Dinda mungkin masih mengawasi Yoga. Jika kamu muncul sekarang tanpa persiapan, kamu hanya akan menyerahkan dirimu kembali ke lubang buaya," ujar Bastian dengan nada meyakinkan, padahal di dalam hatinya, ia hanya ingin egois menjaga Anindya sedikit lebih lama. "Beri saya sedikit waktu lagi. Saya sedang melacak orang kepercayaan Dinda di Jepang. Begitu dalangnya tertangkap, saya sendiri yang akan mengantarmu kembali ke pelukan suamimu."

Anindya menunduk, bahunya berguncang hebat. Karena rasa percaya yang begitu besar pada penyelamat nyawanya, ia mengangguk pasrah. "Baik, Tuan Bastian... Tapi tolong, jangan terlalu lama."

Malam harinya di ruang kerja Bastian, Dokter Afsar masuk tanpa mengetuk pintu. Ia melihat kakaknya sedang melamun menatap foto Anindya yang diambil secara diam-diam saat wanita itu bermain dengan Raka.

"Mas, kamu sudah terlalu jauh," tegur Afsar dengan nada dingin dan tegas.

Bastian tersentak dan menutup tabletnya. "Apa maksudmu, Afsar?"

"Jangan bohong padaku. Aku dokter, tapi aku juga adikmu. Aku tahu cara kamu menatap Anindya. Kamu menggunakan alasan 'keamanan' untuk mengulur waktu agar dia tetap di sini, kan?" Afsar melangkah mendekat ke meja kakaknya. "Mas, sadarlah.

Anindya itu istri Dokter Yoga Aditama. Dia bukan pengganti istrimu yang sudah meninggal. Kamu sedang bermain dengan api, Mas. Jika Dokter Yoga tahu kamu menyembunyikan istrinya, dia tidak akan tinggal diam."

Bastian menggebrak meja, wajahnya memerah. "Aku menyelamatkan nyawanya, Afsar! Kalau bukan karena aku, dia sudah jadi abu! Yoga gagal menjaganya, sedangkan aku memberikannya rumah dan perlindungan!"

"Tapi kamu tidak memiliki hatinya, Mas," balas Afsar tajam. "Hati Anindya masih di Surabaya. Semakin lama kamu menahannya di sini, semakin besar luka yang kamu tanam di hatinya nanti. Lepaskan dia sebelum semuanya menjadi berantakan."

Yoga sedang duduk di meja kerjanya saat Cakra masuk dengan membawa sebuah amplop cokelat.

"Bos, ada sesuatu yang aneh. Detektif kita di lapangan menemukan bahwa pada malam kebakaran, ada sebuah mobil dengan pelat nomor Yogyakarta yang terlihat melaju kencang dari arah gudang tua tepat sebelum pemadam kebakaran tiba."

Yoga segera berdiri, matanya berkilat tajam. "Yogyakarta? Siapa pemiliknya?"

"Sedang kita selidiki, Bos. Tapi mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan logistik besar milik keluarga Purnomo."

Yoga mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Purnomo... Siapa pun mereka, jika mereka ada hubungannya dengan hilangnya jasad istriku, aku akan memburu mereka sampai ke ujung dunia."

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!