Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Sang Penjaga
Suasana di dalam ruang dimensi terasa begitu hening, hanya suara gemericik Mata Air Suci yang memecah kesunyian. Lin Xi sedang duduk bersila di dalam gubuk bambu, menstabilkan energi Qi yang baru saja ia kumpulkan. Namun, ada yang aneh. Sejak ia menerobos ke Tingkat Pengumpulan Qi, ia merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari kegelapan gubuk.
"Siapa di sana? Keluar!" bentak Lin Xi sambil menyambar jarum peraknya. Matanya berkilat waspada.
Tiba-tiba, udara di depan meja alkimia bergelombang. Perlahan, gumpalan asap putih berkumpul dan membentuk sosok kakek tua bertubuh mungil dengan janggut putih panjang yang menyentuh tanah. Sosok itu tampak transparan—sebuah jiwa tanpa tubuh fisik.
"Hohoho... sudah ribuan tahun, akhirnya ada orang yang cukup 'gila' untuk meminum air roh itu secara langsung tanpa pingsan," ucap kakek itu sambil terkekeh pelan.
Lin Xi tidak menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau? Dan kenapa kau ada di dalam kalungku?"
Kakek itu mengelus janggutnya. "Namaku Bai. Aku adalah Roh Penjaga Ruang Dimensi Surga Medis. Ruang ini bukan sekadar alat penyimpanan, Nona Muda. Ini adalah potongan dari dunia dewa yang jatuh ke bumi berabad-abad yang lalu."
Kakek Bai menjelaskan bahwa ruang dimensi ini bernama "Lingkup Rahasia Sembilan Jarum". Pemilik sebelumnya adalah seorang Tabib Agung dari Benua Langit Atas yang dikhianati oleh muridnya sendiri. Sebelum tewas, ia menyegel jiwanya dan seluruh pengetahuannya ke dalam giok ini, menunggu seseorang yang memiliki jiwa yang kuat untuk membukanya.
"Kau bukan berasal dari dunia ini, kan?" tanya Kakek Bai tiba-tiba, matanya yang tua tampak bisa menembus hingga ke dasar jiwa Lin Xi.
Lin Xi tersentak. "Bagaimana kau tahu?"
"Jiwa manusia biasa di dunia ini kasar dan kaku. Tapi jiwamu... jiwamu memiliki sisa-sisa pengetahuan dari peradaban yang sangat berbeda. Itulah alasan kenapa giok ini memilihmu. Hanya seseorang dengan logika medis yang tajam dan mental baja yang bisa menguasai teknik Jarum Dewa Pembalik Takdir," jelas Kakek Bai.
Menurut legenda yang diceritakan Kakek Bai, ruang dimensi ini akan tumbuh seiring dengan kekuatan kultivasi penggunanya.
Tingkat Pengumpulan Qi: Hanya bisa mengakses gubuk dan mata air.
Tingkat Inti Bumi: Bisa membuka lahan pertanian seluas gunung untuk menanam obat dewa.
Tingkat Inti Langit: Bisa menciptakan hewan roh penjaga dan menara pemurnian pil otomatis.
"Dahulu, pemilik ruang ini bisa menghidupkan orang mati hanya dengan satu jarum, dan memusnahkan satu negara hanya dengan satu hembusan racun," Kakek Bai berkata dengan nada bangga. "Tapi ingat, kekuatan ini adalah pedang bermata dua. Jika kau lemah, dunia akan memburumu untuk merebut giok ini."
Lin Xi tersenyum dingin. "Memburuku? Silakan saja. Aku akan memastikan mereka menyesal telah lahir ke dunia ini."
Melihat tekad kuat di mata Lin Xi, Kakek Bai mengangguk puas. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah cahaya emas masuk ke dahi Lin Xi.
"Itu adalah hadiah kecil. Teknik Langkah Bayangan Medis. Sebuah teknik pergerakan yang memanfaatkan titik tekanan pada kaki. Dengan ini, kecepatanmu akan meningkat tiga kali lipat, dan kau bisa bergerak tanpa suara sedikit pun," kata kakek itu sebelum sosoknya mulai memudar kembali menjadi asap.
Lin Xi merasakan informasi baru mengalir di otaknya. Ia segera mencoba teknik itu di dalam ruang dimensi. Sret! Sret! Tubuhnya berpindah-pindah posisi dengan sangat cepat hingga meninggalkan bayangan semu.
"Luar biasa," gumam Lin Xi. "Dengan teknik ini, ruang dimensi ini, dan bantuan Kakek Bai, aku bukan lagi sekadar tabib. Aku adalah dewi kematian bagi mereka yang berhutang padaku."
Lin Xi keluar dari ruang dimensinya dan kembali ke Hutan Terlarang. Langit sudah mulai gelap, namun matanya bercahaya dengan keyakinan baru. Ia tidak butuh waktu lama lagi di hutan ini.
"Kakek Bai, terima kasih atas ceritanya. Besok, kita akan berangkat ke Ibu Kota. Aku punya urusan yang harus segera kuselesaikan."