NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 GEJOLAK HASRAT DI BALIK TIRAI HOTEL MEWAH

​Selasa, 15 April 2025, Musim Semi

​Malam yang menentukan itu akhirnya tiba. Di paviliun keluarga Aurevyn, suasana terasa seperti markas komando perang daripada ruang rias seorang wanita bangsawan. Setelah pengumuman mengejutkan dari Bramasta mengenai perjodohan sepihak, Olivia Elenora Aurevyn memutuskan untuk melakukan perlawanan dengan caranya sendiri. Ia tidak akan membiarkan dirinya dijual kepada pria tua bangka seperti yang ada di bayangannya tanpa perlawanan yang sengit.

​"Olive, pakai ini. Aku jamin pria tua mana pun akan langsung serangan jantung atau minimal merasa kau adalah wanita liar yang tidak bisa diatur," ucap Zee dengan nada penuh konspirasi sambil menyerahkan sebuah gaun yang lebih mirip sehelai kain sutra hitam yang sangat terbuka di bagian punggung dan belahan dada.

​Vera, sang Silent Oracle, tidak mau ketinggalan. Ia mengambil palet riasannya dan mulai memoles wajah porselen Olive dengan dandanan yang sangat ekstrem. Alih-alih terlihat cantik natural, Vera membuat mata Olive terlihat sangat gelap, bibirnya dipulas warna merah darah yang terlalu tebal, dan kontur wajah yang membuatnya tampak menyeramkan.

​"Sempurna. Kau terlihat seperti monster cantik yang siap memangsa harta pria tua itu," gumam Vera puas.

​Olive menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan hitam pekat di matanya membuatnya tampak dingin dan mengerikan, jauh dari imej The Golden Butterfly yang lembut. "Aku tidak peduli lagi dengan julukan primadona. Jika ini bisa membuat pria itu jijik dan membatalkan perjodohan, aku akan melakukannya."

​Bahkan Leon Alexander, putra kecilnya, tampak ketakutan saat melihat ibunya. Alex yang sudah rapi dengan setelan jas mini dan dasi pita merah hanya bisa bersembunyi di balik kaki Brian. "Mama... wajah Mama menakutkan," bisik Alex kecil.

​Olive berlutut, mencoba tersenyum meski riasannya membuatnya tampak aneh. "Hanya untuk malam ini, Sayang. Mama sedang bermain peran."

​Berbanding terbalik dengan Olive, Zee dan Vera tampil dengan gaun natural yang sangat elegan, sementara Brian dan Kenzo tampak luar biasa tampan dengan setelan jas bespoke mereka. Mereka berangkat menuju hotel terbaru milik keluarga Aurevyn yang akan segera diresmikan.

​BAB 13: API HASRAT DI KAMAR MANDI UTAMA

​Rombongan itu tiba pukul lima sore, tiga jam sebelum acara dimulai. Hotel masih sangat sepi, hanya ada beberapa staf yang berlalu-lalang menyiapkan detail terakhir. Karena merasa sangat lelah secara mental dan fisik akibat beratnya gaun serta beban pikiran, Olive memasrahkan Alex kepada Brian, Kenzo, dan para sahabatnya untuk diajak berkeliling melihat fasilitas hotel.

​"Aku butuh udara segar. Aku akan di balkon utama sebentar," pamit Olive.

​Olive melangkah menuju balkon besar yang menghadap langsung ke arah laut Mediterania. Angin laut yang kencang menerpa wajahnya, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia berdiri di sana, memikirkan nasibnya yang sebentar lagi akan terikat dengan pria asing.

​Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang sangat ia kenal menyentuh pinggangnya. Sepasang lengan kekar yang sangat dominan melingkar dengan posesif di perut rampingnya, menarik tubuh Olive agar menempel sepenuhnya pada dada bidang yang keras di belakangnya.

​"Aku tidak suka calon istriku ditonton banyak orang dengan pakaian seperti ini, Olive. Gaun ini terlalu terbuka... dan aku tidak suka berbagi," sebuah suara serak dan berat berbisik tepat di lubang telinganya, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh saraf Olive.

​Olive tersentak ngeri. Ia segera berbalik dan mendapati Liam Maximilian Valerius berdiri di depannya dengan tatapan yang bisa membakar siapa pun. Namun, saat Liam melihat wajah Olive yang dipenuhi riasan "monster", ia sempat membeku sesaat.

​"Apa yang kau lakukan dengan wajahmu, Olivia?" tanya Liam dengan nada antara syok dan tidak percaya.

​"Bukan urusanmu, Liam! Dan lepaskan aku! Papa menjodohkanku dengan pria lain, bukan denganmu!" seru Olive sambil meronta.

​Liam tidak menjawab. Matanya menggelap oleh amarah yang bercampur dengan gairah yang sudah lama ia pendam. Tanpa aba-aba, Liam mencengkeram lengan Olive dan menariknya masuk ke dalam area hotel, menuju kamar mandi utama yang sangat luas dan mewah di dekat Ballroom.

​Liam mengunci pintu dari dalam. "Liam! Apa yang kau lakukan?!"

​Liam tidak bicara. Ia menyalakan shower air dingin di area mandi dan menarik Olive ke bawah guyuran air.

​"Aaaa! Dingin! Liam, kau gila!" teriak Olive saat air dingin membasahi tubuhnya.

​Guyuran air itu seketika melunturkan riasan hitam pekat di wajah Olive, mengembalikan kecantikan porselennya yang alami. Namun, air itu juga membuat gaun sutra tipis yang dikenakan Olive menjadi transparan, menempel ketat pada lekuk tubuh hourglass-nya, memperlihatkan rona merah di puncak dadanya yang mulai mengeras karena kedinginan.

​Melihat pemandangan itu, Liam merasa kewarasannya hilang. Ia menyudutkan Olive ke dinding marmer kamar mandi yang dingin. "Kau mencoba terlihat buruk untuk menolak perjodohan itu? Sayangnya, usahamu sia-sia. Karena pria yang dijodohkan papamu adalah... aku."

​Olive membelalakkan matanya. "Apa? Kau...?"

​"Ya. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi," geram Liam. Ia menyambar bibir Olive dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut.

​Olive meronta, ia menggigit bibir Liam hingga berdarah sebagai bentuk pertahanan, namun Liam justru semakin liar. Ia memperdalam ciumannya, lidahnya menginvasi rongga mulut Olive dengan dominasi penuh. Tangan Liam merobek gaun sutra tipis itu tanpa ragu, membiarkan tubuh indah Olive terekspos sepenuhnya di bawah lampu kristal kamar mandi.

​"Liam... hhh... jangan..." rintih Olive, namun tubuhnya justru mengkhianatinya. Sentuhan tangan Liam yang kasar namun penuh kehangatan membuat titik sensitifnya berdenyut.

​Liam mengangkat satu kaki Olive ke pinggangnya, menciptakan posisi yang sangat intim. Ia membuka ritsleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah besar, panjang, dan berdenyut hebat. Tanpa pelumas, Liam langsung menghujamkan miliknya ke dalam kemaluan Olive yang masih sempit.

​"AAAKHHH!" Olive menjerit kencang, suaranya diredam oleh ciuman Liam. Rasa sakit yang tajam bercampur dengan sensasi penuh yang luar biasa membuatnya gemetar. "Sakit... hhh... Liam, pelan... ahhh!"

​Liam terengah-engah, urat-urat di lehernya menonjol. "Kau... hhh... sempit sekali, Olive. Kau bilang kau punya anak, tapi kenapa kau masih seerat ini? Sial, kau membuatku gila!"

​Liam mulai bergerak dengan ritme yang cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan tubuh mereka menciptakan suara plak, plak, plak yang nyaring dari kulit yang saling beradu. Liam memukul dinding marmer dengan tangannya untuk mencari tumpuan saat ia memacu gerakannya semakin dalam.

​"Ahhh! Oh God... Liam... hhh... ahhh!" desahan Olive mulai berubah dari jeritan kesakitan menjadi lenguhan nikmat yang seksi. Matanya sayu, kepalanya mendongak memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dipenuhi tanda merah dari bibir Liam.

​Ronde Pertama berakhir dengan ejakulasi yang kuat dari Liam di dalam rahim Olive. Namun Liam tidak berhenti. Ia justru merasa semakin candu. Ia membalikkan tubuh Olive agar menghadap dinding, memegang pinggulnya yang ramping, dan kembali menghujam dari belakang.

​"Liam... ahhh... berhenti... hhh... nanti acaranya mulai... ahhh!"

​"Masih ada satu jam, Olive. Dan aku ingin menanamkan benihku sebanyak mungkin di dalammu malam ini," bisik Liam serak sambil menggigit bahu Olive. "Aku ingin anak perempuan... tiga orang. Kau dengar? Aku ingin kau melahirkan putri-putri yang cantik sepertimu."

​Ronde Kedua dan Ketiga berlangsung di bawah guyuran air shower. Liam tidak memberikan ampun. Ia mengganti posisinya berulang kali, mulai dari mengangkat tubuh Olive hingga menggendongnya sementara ia terus memacu miliknya di dalam kehangatan Olive.

​"Dengarkan aku, Olivia," Liam berujar di tengah erangannya yang mendominasi. "Mulai besok, kau tidak boleh memakai pakaian terbuka seperti ini lagi. Tubuh indah ini... ahhh... desahan seksi ini... hanya milikku! Kau mengerti?!"

​"Iya... hhh... Liam... ahhh! Lebih dalam... hhh... ohhh!" Olive sudah tidak waras lagi. Ia hanya bisa mengikuti irama liar Liam yang membawanya ke puncak kenikmatan berkali-kali.

​Ronde Keempat sampai Keenam berpindah ke atas wastafel marmer yang besar. Liam memainkan puting Olive dengan lidah dan jarinya secara lihai, sementara miliknya terus menghujam bagian terdalam kemaluan Olive.

​"Ahhh... Liam... hhh... aku... aku akan keluar... ahhh!" Olive mencengkeram rambut Liam saat ia merasakan orgasme yang hebat mengguncang tubuhnya untuk yang kesekian kalinya. Cairan nikmat Olive membasahi paha kokoh Liam.

​"Mendesahlah untukku, Olive. Sebut namaku!" tuntut Liam dengan erangan serak yang begitu jantan.

​"Liam... ahhh... Liam! Hhh... ahhh!"

​Hampir satu jam mereka terjebak dalam badai hasrat itu. Ronde Ketujuh menjadi penutup yang paling intens. Liam membaringkan Olive di lantai kamar mandi yang sudah dialasi handuk tebal. Ia memompa dengan kecepatan maksimal, memberikan segalanya hingga mereka berdua mencapai puncak bersamaan dengan suara erangan yang menggema di ruangan kedap suara itu.

​Setelah badai mereda, mereka berdua terengah-engah di lantai. Tubuh mereka basah oleh air dan keringat, namun rasa puas terpancar dari wajah Liam. Ia menatap Olive yang lemas dengan tatapan penuh kepemilikan.

​Liam meraih ponselnya dan menghubungi Marcus. "Marcus, bawakan gaun ganti untuk Nona Olive dan setelan jas baru untukku ke kamar mandi utama. Sekarang. Pastikan tidak ada yang melihatmu."

​Beberapa menit kemudian, Marcus mengetuk pintu dan meninggalkan sebuah tas besar. Liam membantu Olive berdiri, menyeka tubuh wanita itu dengan handuk hangat dengan sangat lembut sifat green flag-nya muncul seketika setelah badai seksual berlalu.

​Liam memakaikan Olive sebuah gaun mewah yang sangat tertutup namun tetap elegan, sementara Olive dengan tangan gemetar membantu Liam memakai kemeja dan dasinya. Mereka saling memakaikan pakaian seolah-olah mereka adalah sepasang suami istri yang sudah lama menikah.

​"Jangan pernah mencoba berdandan monster lagi," bisik Liam sambil mencium kening Olive yang masih berkeringat. "Karena monster sekalipun tidak akan bisa menghentikanku untuk memilikimu."

​Olive hanya bisa menunduk, jantungnya masih berdebar kencang. Ia menyadari satu hal : ia tidak akan pernah bisa lepas dari Liam Maximilian Valerius. Dan anehnya, ia tidak lagi merasa ingin lari. Kenikmatan yang Liam berikan telah mengikat jiwanya lebih kuat dari sekadar kontrak atau perjodohan.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!