Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 232
Istana Sementara Putri Yao Xi – Kota Cakrawala Emas.
Suara pecahan barang antik bergema di seluruh aula mewah itu.
Putri Yao Xi berdiri di tengah ruangan yang berantakan, napasnya memburu. Wajah cantiknya terdistorsi oleh kebencian yang mendalam. Vas bunga dari Dinasti Kuno, lukisan dari kulit Naga, semuanya hancur oleh amukannya.
Dia, Putri Ketiga Kekaisaran Pusat yang dipuja jutaan orang, dipermalukan di depan umum. Serangannya dipatahkan dengan satu jari, dan dia ditinggalkan dalam keadaan tidak berdaya oleh seorang buronan.
"Shi Hao..." desisnya, kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah.
Seorang Jenderal Berzirah Emas berlutut di depannya dengan gemetar. "Yang Mulia Putri... Apakah kita perlu mengirim Pasukan Bayangan untuk mengejar?"
"Pasukan Bayangan?" Yao Xi tertawa sinis. "Mereka punya dua Dewa Sejati! Pasukanmu hanya akan mengantar nyawa!"
Yao Xi berjalan menuju meja tulisnya. Dia mengambil sebuah gulungan titah berwarna merah darah—warna yang melambangkan urgensi tertinggi dan niat membunuh mutlak.
Dia menggigit ujung jarinya, lalu menuliskan nama Shi Hao dan melukis wajahnya (serta anggota timnya) dengan darahnya sendiri di atas gulungan itu.
"Aktifkan Sayembara Kekaisaran Tingkat Merah (Red Imperial Bounty)," perintah Yao Xi dingin.
Jenderal itu terbelalak. "Tingkat Merah? Itu biasanya hanya untuk Raja Iblis yang mengancam stabilitas sektor! Biayanya..."
"Aku tidak peduli biayanya!" potong Yao Xi.
"Sebarkan ke seluruh Sekte Aliran Hitam, Serikat Pembunuh, Klan Bayaran, dan Para Pengembara Gila di Sektor Pusat."
"Siapa pun yang bisa membawa kepala Shi Hao ke hadapanku..."
Yao Xi mengangkat gulungan itu tinggi-tinggi.
"...Akan mendapatkan 100 Juta Kristal Dewa, satu Planet Kelas A sebagai wilayah pribadi, dan gelar Bangsawan Kehormatan Kekaisaran."
Jenderal itu menelan ludah. Hadiah sebesar itu cukup untuk membuat seorang Dewa Sejati sekalipun mengkhianati saudara kandungnya sendiri.
"Laksanakan!"
Dalam hitungan jam, ribuan Lempengan Giok Komunikasi menyala di seluruh penjuru Sektor Pusat. Wajah Shi Hao terpampang di setiap sudut gelap dunia bawah.
Di Dalam Bahtera Teratai Merah – Zona Aman Sementara.
Kapal melaju membelah awan, menjauh dari kota. Di ruang strategi, suasana tegang perlahan mencair, digantikan oleh rasa penasaran.
Shi Hao duduk memeriksa jari telunjuk kanannya. Kulit di jari itu kini telah sepenuhnya menyatu dengan tulang hitam tadi, namun masih memancarkan hawa dingin yang membuat Nana tidak berani mendekat.
"Tuan Feng," suara Wuming memecah keheningan. Wajahnya tampak sangat serius, bahkan sedikit pucat.
"Keberuntungan kita hari ini... benar-benar menakutkan."
Shi Hao mengangkat alis. "Maksudmu si Tua Pemabuk itu?"
Wuming mengangguk. Dia menuangkan teh untuk menenangkan sarafnya sendiri.
"Saat orang tua itu menghentakkan kakinya dan mematikan formasi kota... aku merasakan getaran Dao yang familiar. Itu bukan teknik sembarangan."
"Itu adalah Langkah Mabuk Penakluk Langit."
Shi Hao mengerutkan kening. "Aku pernah dengar nama teknik itu di kitab kuno."
"Orang itu," lanjut Wuming dengan nada hormat, "Adalah Jiu Shen (Dewa Arak). Nama aslinya Gu Yuan."
Tie Shan dan Shu Ling ternganga. "Dewa Arak? Tokoh legenda itu?"
Wuming menjelaskan, "Seribu tahun yang lalu, dia adalah Guru Besar Kekaisaran (Grand Imperial Tutor). Dia adalah guru dari Kaisar Gagak Emas saat ini."
"Dia dihormati sebagai orang terkuat ketiga di Sektor Pusat. Namun, lima ratus tahun lalu, dia menghilang. Rumor mengatakan dia diasingkan karena menentang keputusan Kaisar yang ingin membantai Ras Naga Kuno untuk mengambil inti mereka."
Mata Shi Hao menyipit. "Jadi dia diasingkan karena membela Naga?"
"Benar," kata Wuming. "Itulah sebabnya dia membantu Tuan. Dia pasti mengenali Aura Naga Kekacauan di tubuh Tuan. Dia melihat bayangan teman lamanya pada diri Tuan."
Shi Hao bersandar di kursinya, merenung.
Jadi, pelariannya bukan kebetulan. Ada faksi lama di Sektor Pusat yang tidak menyukai tirani Kaisar Gagak Emas. Dan si Tua Pemabuk itu baru saja menanamkan investasi pada Shi Hao.
"Menarik," gumam Shi Hao. "Musuh dari musuhku adalah temanku. Mungkin suatu hari nanti, kita bisa minum arak bersamanya dengan layak."
Tiba-tiba, Shu Ling yang sedang memantau jaringan informasi bawah tanah (menggunakan alat sadap yang dia curi dari kapal anjing pemburu) melompat kaget.
"BOS! GAWAT!"
Shu Ling memproyeksikan sebuah gambar hologram ke tengah meja.
Itu adalah poster buronan berwarna merah darah dengan wajah Shi Hao, Wuming, Nana, Tie Shan, dan dirinya. Angka hadiah di bawahnya begitu banyak nol-nya hingga membuat kepala pusing.
DIBURU: TIM ASURA. HADIAH: 100 JUTA KRISTAL DEWA + PLANET PRIBADI. STATUS: HIDUP ATAU MATI.
"Seratus juta?!" pekik Nana, menutup mulutnya. "Kita lebih berharga dari satu gugus bintang!"
Wajah Wuming berubah suram. "Sayembara Tingkat Merah... Putri Yao Xi benar-benar gila. Sekarang, setiap mata di sektor ini akan tertuju pada kita. Kita tidak bisa mendarat di kota mana pun untuk mengisi perbekalan."
"Setiap pelayan kedai, setiap pedagang, bahkan pengemis di jalanan... semuanya adalah potensi musuh yang ingin memenggal kepala kita."
Suasana ruangan menjadi berat. Mereka baru saja tiba di Sektor Pusat, dan sekarang mereka sudah menjadi musuh publik nomor satu.
Namun, di tengah kepanikan itu, terdengar suara tawa pelan.
Shi Hao tertawa. Bukan tawa gila, tapi tawa yang penuh dengan semangat bertarung.
Dia berdiri, memandang poster buronan itu dengan mata berbinar.
"Seratus juta..." kata Shi Hao, menyentuh gambar wajahnya sendiri di hologram.
"Ternyata kepalaku semahal itu."
Dia berbalik menatap timnya yang cemas.
"Kenapa kalian takut? Bukankah ini bagus?"
"Bagus?!" Tie Shan bingung. "Tuan, kita akan dikejar satu galaksi!"
"Tepat sekali," Shi Hao menyeringai, memperlihatkan sedikit taring naganya.
"Kita tidak perlu repot-repot mencari musuh untuk latihan. Musuh akan datang sendiri mengantar nyawa dan harta mereka kepada kita."
"Kita butuh sumber daya untuk mencapai Makam Kaisar Bintang, kan? Nah, para pemburu hadiah itu pasti membawa banyak bekal dan senjata."
Shi Hao mengepalkan tangan kanannya—tangan dengan Jari Naga Kekacauan.
"Biarkan mereka datang. Aku akan menjadikan Sektor Pusat ini lautan darah sebelum mereka bisa menyentuh ujung rambut kalian."
"Nana, tetapkan jalur ke Asteroid Hantu. Kita akan bersembunyi di sana sambil menunggu 'tamu' pertama kita."
"Kita akan lihat... siapa yang memburu siapa."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛