NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Ruang Ajaib
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Hari Setelah Badai

Minggu pagi, Suyin bangun dengan badan terasa seperti habis ditabrak truk.

Setiap gerakan membuat otot-ototnya protes. Memar yang semalam masih samar-samar sekarang muncul dengan jelas di lengan, bahu, dan punggung—warna ungu kebiruan yang tidak cantik sama sekali.

Tapi dia hidup. Selamat. Dan yang lebih penting—semua orang yang dia sayangi juga selamat.

Suyin duduk di tepi tempat tidur dengan perlahan, meringis saat punggungnya yang kemarin membentur dinding masih nyeri. Dia menatap gelang giok di pergelangan tangannya—warna hijau zamrud yang dalam terlihat lebih bercahaya dari biasanya.

"Nenek," bisiknya sambil menyentuh gelang itu dengan lembut. "Terima kasih sudah melindungiku kemarin. Aku... aku harap kamu bangga."

Gelang berkilau sebentar—sangat samar tapi Suyin melihatnya. Seperti jawaban.

Setelah mandi air hangat yang membuat otot-otot kaku sedikit lebih longgar, Suyin turun ke ruang makan. Semua anggota tim sudah berkumpul—tapi suasananya jauh lebih santai dari kemarin. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi persiapan perang.

Hanya sarapan damai di pagi yang cerah.

"Pagi," sapa Suyin sambil duduk di kursi biasanya.

"Pagi!" Liu Peng menyambut dengan ceria. "Wah, kamu jalan agak pincang. Badanmu pasti sakit semua ya?"

"Sedikit," akui Suyin sambil meringis saat duduk.

Zhao Mei langsung bangkit dari kursinya. "Tunggu sebentar."

Dia kembali beberapa menit kemudian dengan botol kecil berisi salep berwarna hijau. "Ini salep khusus untuk memar dan luka luar kultivator. Oleskan tiga kali sehari—memar akan hilang dalam dua hari."

"Terima kasih, Zhao Mei." Suyin menerima botol itu dengan grateful.

"Bagaimana kondisimu sendiri? Luka kemarin sudah baikan?" tanya Suyin khawatir.

Zhao Mei tersenyum sambil membuka sedikit blus-nya untuk menunjukkan area yang kemarin terluka parah—sekarang hanya ada bekas luka tipis yang hampir tidak terlihat.

"Ramuan buatanmu luar biasa. Aku sudah sembuh sembilan puluh persen." Dia duduk kembali. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu."

Wei Hao yang sedang menyendok nasi goreng ikut bicara. "Ngomong-ngomong, tadi pagi aku dan Zhang Wei sudah interogasi tujuh kultivator yang tertangkap kemarin."

"Ada dapat informasi penting?" tanya Xiao Zhen sambil menuangkan teh untuk Suyin—gestur kecil yang natural tapi tidak luput dari pandangan Liu Peng yang tersenyum geli.

"Cukup banyak." Wei Hao mengeluarkan tablet, menunjukkan catatan. "Organisasi Bayangan ternyata punya struktur yang lebih besar dari yang kita kira. Madame Hei yang kemarin adalah salah satu dari lima Pemimpin Cabang—dia mengurusi wilayah Asia Tenggara. Ada empat pemimpin cabang lain di berbagai belahan dunia."

Chen Ling melanjutkan. "Dan di atas lima pemimpin cabang itu, ada satu pemimpin tertinggi yang tidak ada yang tahu identitasnya—bahkan anggota yang kita tangkap kemarin tidak pernah melihat wajahnya. Mereka hanya tahu dia dengan sebutan 'Bayangan Utama'."

"Misterius sekali," komentar Zhang Wei sambil mengunyah roti.

"Lebih dari misterius—berbahaya," ucap Xiao Zhen serius. "Organisasi dengan struktur tersembunyi seperti itu sangat sulit diberantas. Bahkan kalau kita tangkap semua anggota tingkat bawah, kepala ular-nya masih aman."

"Tapi setidaknya sekarang kita tahu lebih banyak tentang mereka," Wei Hao menutup tablet-nya. "Dan aku sudah laporkan semua informasi ini ke Aliansi Kultivator. Mereka akan ambil alih penanganan tahanan dan investigasi lebih lanjut."

Suyin mendengarkan semua itu sambil makan sarapan dengan perlahan. Dunia kultivator ternyata jauh lebih kompleks dan berbahaya dari yang dia bayangkan.

"Jadi... apa artinya buat aku?" tanya Suyin akhirnya. "Organisasi Bayangan masih ada di luar sana. Madame Hei masih hidup. Apa aku masih dalam bahaya?"

Hening sebentar.

Xiao Zhen yang menjawab. "Dalam waktu dekat, kemungkinan tidak. Kemarin adalah kegagalan besar buat mereka—kehilangan tujuh anggota, salah satu pemimpin cabang terluka parah, dan target mereka ternyata dilindungi oleh Klan Xiao dan punya Kesadaran Sisa dari kultivator tingkat tinggi." Dia menatap Suyin. "Mereka akan pikir dua kali sebelum mencoba lagi. Tapi..."

"Tapi?" Suyin tahu ada lanjutannya.

"Tapi kita tidak boleh lengah. Tetap waspada. Tetap berlatih kultivasi. Dan..." Xiao Zhen berhenti sebentar, seperti mempertimbangkan kata-kata selanjutnya. "...dan mungkin lebih baik kalau kamu tidak tinggal sendirian lagi untuk sementara waktu."

"Maksudnya tetap tinggal di sini?" tebak Suyin.

"Kalau kamu tidak keberatan."

Sebenarnya Suyin tidak keberatan sama sekali—justru dia merasa lebih aman di villa ini. Tapi dia tidak mau terlihat terlalu eager.

"Aku... aku tidak mau merepotkan," ucap Suyin pelan.

Liu Peng tertawa. "Merepotkan? Kamu sudah jadi bagian dari keluarga kecil ini! Kalau kamu pergi, siapa yang mau dengerin cerita konyolku? Zhang Wei terlalu serius, Wei Hao terlalu pendiam, Chen Ling terlalu fokus, Zhao Mei terlalu sibuk dengan ramuan—kamu satu-satunya yang mau ketawa sama leluconku!"

Semua orang di meja tertawa—termasuk Suyin.

"Oke, oke. Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu lagi," ucap Suyin sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mau menerimaku."

"Terima kasih apa," Chen Ling menggeleng. "Kamu yang harusnya kita ucapkan terima kasih. Ramuan-ramuanmu kemarin menyelamatkan Zhao Mei."

"Dan kamu juga cukup berani menghadapi kultivator tingkat menengah sendirian," tambah Zhang Wei. "Itu bukan hal yang bisa dilakukan pemula kultivasi biasa."

Suyin merasa pipinya memanas dengan semua pujian. "Aku cuma... aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan."

"Itulah yang membuat kamu spesial," ucap Xiao Zhen dengan nada yang membuat semua orang di meja diam sebentar, melirik mereka berdua dengan senyum tahu.

Suyin menunduk, pura-pura sangat fokus dengan nasi goreng di piringnya.

Setelah sarapan, Wei Hao, Chen Ling, Zhang Wei, dan Liu Peng pamit—mereka harus kembali ke tugas masing-masing di Klan Xiao. Hanya Zhao Mei yang memutuskan tinggal satu hari lagi untuk memastikan luka Suyin benar-benar pulih.

Xiao Zhen mengajak Suyin ke ruang kerjanya untuk diskusi bisnis—topik yang hampir terlupakan di tengah semua drama Organisasi Bayangan.

"Jadi," Xiao Zhen duduk di kursi direkturnya, Suyin duduk di sofa di seberang. "Bisnis sayuran organik kita. Kita belum benar-benar mulai padahal sudah sepakat kerja sama."

"Benar," Suyin mengangguk. "Dengan semua yang terjadi minggu ini, aku hampir lupa kalau kita seharusnya sudah mulai koordinasi supply."

Xiao Zhen membuka laptop, menunjukkan beberapa dokumen. "Aku sudah siapkan draft kontrak kerja sama. Lima puluh lima persen untuk kamu, empat puluh lima untuk aku. Semua biaya operasional—packaging, distribusi, marketing—ditanggung perusahaanku. Kamu hanya supplai produk sesuai dengan standar kualitas yang kita sepakati."

Suyin membaca draft kontrak dengan teliti. Semuanya fair—bahkan lebih dari fair. Xiao Zhen tidak mengambil keuntungan dari posisi Suyin yang lebih lemah dalam negosiasi.

"Ini... ini sangat baik untukku," ucap Suyin jujur. "Apa kamu yakin dengan pembagian ini? Biasanya yang tanggung biaya operasional dapat porsi lebih besar."

"Aku yakin." Xiao Zhen menutup laptop. "Yang kamu supplai bukan produk biasa. Kualitasnya luar biasa—aku sudah coba sendiri sayuran dan ramuan yang kamu buat. Nilai tambahannya sangat tinggi. Jadi pembagian ini adil."

"Terima kasih." Suyin tersenyum. "Lalu kapan kita mulai?"

"Minggu depan kalau kamu siap. Aku sudah ada beberapa klien besar yang tertarik—jaringan supermarket premium, restoran-restoran tingkat atas, bahkan ada permintaan ekspor ke Singapura dan Malaysia."

Mata Suyin melebar. "Ekspor?"

"Sayuran organik berkualitas tinggi selalu dicari di pasar internasional. Dan produkmu punya keungguan—tidak ada hama, tidak ada bahan kimia, kesegaran terjaga lama, bahkan ada... let's say 'keistimewaan' yang membuat orang yang makan jadi lebih sehat."

Efek dari tanah dan air ruang dimensi, pikir Suyin. Tentu saja.

"Aku... aku harus tingkatkan produksi kalau mau supplai sebanyak itu," ucap Suyin sambil menghitung di kepala. "Sekarang ruang dimensiku sudah lima hektar dan waktu lima belas kali lipat. Harusnya bisa."

"Ruang dimensi lima hektar?" Xiao Zhen terdengar impressed. "Sudah naik level?"

"Iya, beberapa hari lalu. Sekarang ada Aula Penyembuhan juga—tempat aku buat semua ramuan kemarin."

"Luar biasa." Xiao Zhen bersandar di kursi, menatap Suyin dengan tatapan yang... hangat. Sangat hangat. "Kamu terus berkembang. Dalam segala hal."

Suyin merasa pipinya panas lagi. Kenapa Xiao Zhen bisa membuat dia blushing hanya dengan tatapan?

"Jadi..." Suyin membersihkan tenggorokan, mencoba fokus ke topik bisnis. "Minggu depan kita mulai. Aku akan siapkan stok awal. Berapa kilogram yang kamu butuhkan untuk sampel ke klien?"

"Lima puluh kilogram berbagai jenis sayuran. Tomat, sawi, kangkung, bayam, selada—variasi standar dulu. Kalau responnya bagus, kita expand ke sayuran eksotis dan herbal."

"Oke. Aku bisa siapkan itu dalam tiga hari."

Mereka menghabiskan satu jam berikutnya membahas detail teknis—jenis packaging, logo brand (Suyin memutuskan pakai "Lin's Organic Garden"), sistem delivery, quality control, dan banyak hal lain yang membuat kepala Suyin pusing tapi excited.

Saat diskusi selesai, Suyin berdiri untuk keluar—tapi Xiao Zhen memanggilnya.

"Suyin."

Dia berbalik. Xiao Zhen sudah berdiri, berjalan mendekat.

"Aku tahu kemarin adalah hari yang berat untukmu. Dan aku tahu kamu pasti masih proses semua yang terjadi." Xiao Zhen berdiri di hadapannya, jarak yang cukup dekat tapi tidak invading personal space. "Tapi aku ingin kamu tahu—aku bangga padamu. Cara kamu menghadapi semua itu... kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira."

"Terima kasih," bisik Suyin, suaranya sedikit bergetar karena emosi. "Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian. Kamu dan yang lain—kalian yang membuat aku kuat."

"Kamu sudah kuat sejak awal. Kami hanya... membantu kamu menyadarinya."

Mereka berdiri seperti itu beberapa saat—hanya saling menatap, tidak perlu kata-kata.

Sampai akhirnya Suyin yang mundur duluan, tersenyum kecil. "Aku harus masuk ke ruang dimensi. Banyak tanaman yang perlu disiram."

"Pergi saja. Aku ada meeting online siang ini."

Suyin keluar dari ruang kerja dengan jantung berdebar—bukan karena takut atau deg-degan, tapi karena perasaan yang makin sulit disembunyikan.

Di dalam ruang dimensi, Suyin disambut oleh pemandangan yang selalu membuat hatinya tenang.

Lima hektar tanah subur dengan tanaman-tanaman yang tumbuh rapi. Pohon Kehidupan yang sekarang megah berdiri di tengah. Aula Penyembuhan yang indah di atas bukit kecil.

Ini adalah dunianya. Tempat amannya.

Suyin berjalan ke Pohon Kehidupan, menyentuh batangnya yang hangat.

"Pohon Kehidupan, aku kembali."

"Selamat datang, Pemilik Ruang. Aku senang kamu selamat kemarin."

"Kamu tahu apa yang terjadi?"

"Aku merasakan gejolak energi dari luar. Dan aku merasakan Kesadaran Sisa nenekmu yang aktif. Pasti situasi yang sangat berbahaya."

"Iya," Suyin duduk di rumput, bersandar pada batang pohon. "Tapi kami menang. Semua orang selamat. Dan sekarang... sekarang aku merasa seperti melewati ujian besar."

"Kamu memang sudah melewati ujian besar. Dan kamu lulus dengan sangat baik."

Suyin tersenyum. "Terima kasih. Oh ya, aku akan mulai produksi massal untuk bisnis dengan Xiao Zhen minggu depan. Apa ruang dimensi siap untuk itu?"

"Lebih dari siap. Dengan lima hektar dan percepatan waktu lima belas kali lipat, kamu bisa produksi ratusan kilogram sayuran per minggu dengan mudah. Bahkan ribuan kalau kamu mau kerja keras."

"Ribuan kilogram..." Suyin membayangkan itu. "Itu... banyak sekali."

"Dan semua berkualitas premium. Tidak ada yang bisa saingi produk dari ruang dimensi ini di dunia luar."

"Aku harus lebih serius kalau begitu." Suyin bangkit, melihat sekeliling dengan mata baru—mata seorang entrepreneur yang serius. "Aku harus buat sistem yang lebih teratur. Jadwal tanam, jadwal panen, rotasi tanaman..."

"Kamu sudah mulai berpikir seperti petani profesional. Bagus."

Suyin menghabiskan sisa sore itu—yang di luar baru dua jam tapi di dalam ruang dimensi hampir tiga puluh jam—untuk menyusun ulang area penanaman dengan lebih sistematis.

Zona A untuk sayuran daun cepat panen—sawi, kangkung, bayam.

Zona B untuk sayuran buah—tomat, cabai, terong.

Zona C untuk sayuran akar—wortel, bit, lobak.

Zona D untuk herbal dan tanaman obat—yang akan disuplai ke Aula Penyembuhan.

Zona E untuk eksperimen—tanaman baru yang dia belum pernah coba.

Semuanya ditata rapi dengan jarak yang terukur, sistem irigasi yang lebih baik (dia beli selang dan sprinkler lewat online shopping beberapa hari lalu dan bawa masuk ke ruang dimensi), bahkan label-label kecil untuk setiap bedengan.

Profesional.

Saat keluar dari ruang dimensi, Suyin merasa puas dengan hasil kerjanya. Sekarang dia siap untuk produksi skala besar.

Malam itu, saat makan malam hanya bertiga—Suyin, Xiao Zhen, dan Zhao Mei—suasananya santai dan hangat.

Zhao Mei bercerita tentang petualangannya dulu saat masih belajar membuat ramuan—termasuk satu insiden di mana dia tidak sengaja membuat ramuan yang bikin semua orang di area itu tertidur selama dua hari.

"Guru aku sangat marah," cerita Zhao Mei sambil tertawa. "Tapi itu cara aku belajar—trial and error."

"Aku takut kalau error-ku bisa membahayakan orang," ucap Suyin jujur.

"Makanya kamu harus terus belajar dan berlatih. Dan untungnya kamu punya bakat alami—ramuan yang kamu buat kemarin sangat stabil dan kuat. Itu hasil yang biasanya butuh bertahun-tahun latihan." Zhao Mei tersenyum. "Kamu istimewa, Suyin."

Setelah makan malam, Zhao Mei pamit untuk tidur lebih awal—besok dia harus kembali ke tugas.

Tinggal Suyin dan Xiao Zhen di ruang tamu yang luas.

"Mau jalan-jalan di taman?" ajak Xiao Zhen. "Udara malam bagus untuk pencernaan."

"Boleh."

Mereka berjalan ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman yang lembut. Kolam koi berkilauan di bawah cahaya bulan, suara air mengalir menciptakan musik alami yang menenangkan.

Mereka berjalan beriringan dalam keheningan yang nyaman—tidak perlu mengisi setiap detik dengan kata-kata.

Sampai akhirnya Suyin yang bicara.

"Xiao Zhen."

"Ya?"

"Kemarin, saat kamu bilang aku adalah seseorang yang sangat penting bagimu..." Suyin berhenti berjalan, menghadap Xiao Zhen. "...apa maksudnya?"

Xiao Zhen juga berhenti. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.

"Maksudnya... persis seperti yang kukatakan. Kamu penting bagiku. Sangat penting." Dia menarik napas. "Dan aku rasa sudah waktunya aku jujur padamu tentang sesuatu."

Jantung Suyin berdebar. "Tentang apa?"

"Tentang masa laluku. Tentang kenapa aku menutup hatiku selama bertahun-tahun. Dan tentang kenapa kamu adalah orang pertama yang bisa membukanya lagi."

Xiao Zhen menunjuk paviliun kecil di tepi kolam. "Duduk dulu. Ini cerita yang panjang."

Mereka duduk di paviliun, berhadapan tapi tidak terlalu dekat.

Dan Xiao Zhen mulai bercerita—cerita yang sudah dia pendam sendirian selama bertahun-tahun.

Cerita tentang seorang wanita bernama Xiu Lan.

Cerita tentang cinta pertama yang berakhir tragis.

Dan cerita tentang bagaimana dia akhirnya belajar membuka hatinya lagi—untuk Suyin.

1
Datu Zahra
kelas restoran dan kafe kemang butuh sayuran 20kg per minggu, enggak mnalar amat. sepi banget dong itu tempat. kalo perhari masuk akal
Mak Gemoy
semangat🔛🔥🔛🔥
Mak Gemoy
kok ibu rumah tangga yg diceraikan? bukannya baru tunangan trus gagal nikah?
Andira Rahmawati
lanjuttt thorrr💪💪💪
Wahyu🐊: Aku Buat Novel baru Mampir yah Judulnya, Kumpulan Carpen Romantis First Date
total 1 replies
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!