Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Mentari mulai merunduk di ufuk barat, memancarkan cahaya jingga keemasan yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar kafe modern itu.
Suara denting sendok beradu dengan cangkir menggema pelan, berpadu dengan alunan musik akustik yang mengalir lembut dari pengeras suara di sudut ruangan. Aroma kopi yang hangat dan wangi kayu manis menguar memenuhi udara, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.
Lampu gantung mulai menyala redup, menambah kesan hangat dan intim. Barista tampak cekatan menyeduh pesanan dengan tangan terampil, senyum ramahnya menyambut pelanggan yang datang.
"Kau ingin bekerja?" Tanya sang barista pada seorang wanita yang sedari siang tadi duduk manis di salah satu kursi bartender, tepat di sampingnya.
Menyesap jus alpukat, Afnan mengangguk cepat, sorot netranya berubah menjadi semangat, "Yaa, itu benar, aku ingin bekerja, setidaknya kuliah selama empat tahunku tidak sia-sia."
Algio Devandra Agustin, pria berdarah Amerika - Indonesia itu tersenyum kecil, menatap sang sahabat selama bangku berkuliahannya dalam, namun senyuman itu entah mengapa menambah nilai plus pada ketampanannya.
"Untuk apa bekerja? Kakakmu saja sudah memiliki harta kekayaan yang melimpah." Jawab Algio santai, tentu saja ia belum mengerti permasalahan yang sahabat jauhnya itu derita.
Setelah menyerahkan sebuah coffee pesanan pelanggan pada waiters untuk diantarkan, Algio segera melepas apronnya, mendekati Afnan yang tengah memangku wajah menggunakan kedua tangannya.
"Yang kaya itu kakakku, bukan aku!" Seru Afnan memutar bola matanya jengah, bibir itu lantas maju beberapa centimeter ke depan.
Di samping itu, senyuman bahagia terbit di antara bibir Afnan, setidaknya setelah luka yang ia alami hari ini, bertemu dengan Algio adalah obat, layaknya gula pria itu begitu manis dalam bersikap atau bertutur kata.
Menyentil bibir Afnan lembut, Algio terkekeh geli pelan, "Memangnya kau bisa berkerja?" Tanyanya penuh ejekan, dengan sudut bibir yang terangkat.
"Hay! Kau meragukan kemampuanku!?" Ucap Afnan melotot sebal, menampar kasar tangan Algio yang tadi dengan sengaja menyentil bibir mungilnya. Sungguh, ia tak terima.
Dengan raut wajahnya yang sudah memburuk karena Algio terus mengejek, Afnan dengan kesadaran penuh mengigit bahu pria itu sengit, hingga menimbulkan suara pekikan kuat.
"Ohh, fuckk! Okay-okay, cantik maafkan aku, aku salah karena meragukanmu." Teriak Algio bersama dengan rintisan kecil, gigitan Afnan masih sama, begitu menyakitkan, tak berubah dari semasa perkuliahan dulu.
Mengusap bibirnya, Afnan tersenyum pongak, lantas menoyor pelipis Algio, "Kau kalah lagi dariku Algio! Padahal kita sudah tidak bertemu satu tahun."
"Bagaimana aku tidak kalah jika kau melakukan kekerasan padaku setiap saat heh?" Algio memutar bola matanya jengah, mengusap bahunya yang masih terasa nyut-nyutan.
Memeletkan lidahnya lucu bagai tengah menghina, Afnan masih mempertahankan senyuman penuh kebanggaan, "Itu salahmu sendiri, itu mengesalkan, kau tau?"
"Yayaya, aku tau, maka dari itu aku meminta maaf pada princess ini." Seru Algio menatap Afnan lembut, mengusap penuh kasih sayang surai hitam wanita itu.
Kepala Afnan mengangguk lucu, wanita itu langsung menyenderkan kepalanya pada bahu Algio sembari menghela nafas, menumpahkan segala keresahan hati dan pikirannya pada pria itu.
"Pekerjaan apa yang cocok untukku Algio?" Tanya Afnan menutup mata sejenak.
Mengingat kekejian Dareen padanya, membuat Afnan berpikir seratus kali jika pria itu tidak akan memberinya uang, namun entahlah, ia tidak dapat menebak apa yang suaminya pikirkan, apalagi Kak Louis juga sudah lepas tangan masalah finansial untuknya.
Dari pada membuang waktu terlalu banyak hanya untuk mengejar cinta Dareen, maka Afnan memilih mencari pekerjaan, selain mendapat uang ia bisa mendapat pengalaman. Berjaga-jaga jika sang suami tidak memberi ia nafkah.
"Tidak ada."
"ALGIO!"
"Ya dear? Just kidding hahaha."
"Aku membutuhkan saranmu, jangan membuatku kesal!" Ketus Afnan mencubit pinggang Algio, melampiaskan perasaan tak menentunya.
Meringis kecil, Algio mengadah kesakitan karena terus mendapat perlakuan bruntal dari sahabat tersayangnya ini, "Kau ingin bekerja di sini?"
Kening Afnan terangkat, wanita itu menatap Algio lamat, "Memangnya di sini ada lowongan? Sebagai HRD? Atau sebagai apa?"
"Tidak ada lowongan sebenarnya." Jawab Algio santai, pria itu malah memberikan senyuman polos tanpa dosa, membuat Afnan kembali mendengus, ingin memukul lagi.
Sadar bahwa Afnan ingin memukulnya kembali, membuat Algio spontan menangkap tangan wanita itu lembut, "Aku ini CEOnya, jadi bebas apabila ingin memperkerjakan orang baru."
Dengan sisa kewarasannya, Afnan berusaha untuk tidak tertawa mendengar seruan dari Algio, "Halloo, kau ini sedang bermimpi menjadi seorang CEO atau bagaimana? Lucu sekali."
"Kau terlalu sering menonton drama pendek China ya? Sampai halusinasi menjadi salah satu tokoh miskin yang ternyata seorang anak miliader?"
"Apa wajahku ini tidak cocok menjadi seorang CEO?" Algio bertanya dengan ketus, tak percaya jika ucapannya hanya dianggap sebuah lelucon oleh sang lawan bicara.
Afnan mengangguk semangat, hingga tawanya langsung pecah tatkala melihat bagaimana ekspresi Algio berubah menjadi kusut, gemas sekali pria berkulit cokelat itu.
"Wajahmu memang lebih cocok untuk menjadi seorang pengemis di emperan jalan dari pada menjadi CEO." Ujar Afnan tertawa geli, menatap tak percaya Algio yang tengah cemberut.
Mendesah tak senang, Algio menarik tangan Afnan hingga kedua manusia itu berdiri, "Baiklah baiklah, maka dari itu biarkan aku membuktikan." Beonya menyeringai.
"Ap-" Afnan tergagap, menatap Algio penasaran, namun ia menggelengkan kepala, "Hay! Yang aku tau, Algio itu miskin! Bahkan selalu meminjam uang padaku." Ketusnya.
Mendatarkan pandangannya, Algio mencebik, "Itu terdengar menyakitkan Afnan." Serunya mengerucutkan bibir maju beberapa centimeter.
"Memang ucapanku salah? Kau lupa ketika, memi-"
"It's okay honey, jangan berkata lagi, biarku jelaskan padamu heum," Algio menutup lembut mulut Afnan menggunakan jari telunjuknya, "Semasa bangku perkuliahan aku kabur dari rumah."
"Seharusnya aku berkuliah di Internasional Bussiness, untuk melanjutkan karier kakakku sebagai CEO of Aircraft Engine Manufacturing." Sebelum melanjutkan ucapannya, Algio berhenti menjeda.
"Jika itu menyakitimu aku tidak ingin mendengarnya Algio, aku tidak ingin membuka luka lamamu." Afnan berseru lembut, mengelus bahu pria itu penuh kasih sayang.
Tersenyum, Algio menggeleng, "Namun aku tidak ingin, aku menolak karena tak pantas mendapat jabatan itu, dan kabur untuk berkuliah di LA, hingga bertemu dengan princess sepertimu."
"Aku hidup dalam kesusahan saat kabur, semua fasilitasku diblacklist, maka dari itu aku sering meminjam uangmu. Dan setelah lulus aku pun binggung ingin kemana dengan gelar sarjana administrasi ini."
"Aku mencoba melamar beberapa pekerjaan pun di tolak, dan yap, aku ditolak karena marga keluargaku, dan mau tak mau aku harus kembali, untung saja diterima dengan baik, sekarang pun aku masih dalam tahap pembinaan sebagai CEO."
Mendengar cerita itu dengan seksama, Afnan membulatkan matanya indah, "Kau tidak mengarang kan? Itu terdengar sedikit mustahil." Ia berseru dengan ragu. Sulit untuk percaya.
Decakan kecil terdengar, "Lagi-lagi, kau berkata seolah aku berbohong." Ketus Algio menghela nafas kasar.
"Ya, walaupun wajahmu ini memang tergolong tampan untuk menjadi orang miskin, namun tetap saja! Kau ini sering bercanda!" Ketus Afnan sambil meminum jusnya dengan nikmat, mengabaikan ekspresi Algio.
Algio menyentil dahi Afnan, lantas terkekeh geli, "Jadi kau memujiku tampan begitu?"
"Hah! Ti-"
"Dari pada kau meragukanku, besok datanglah dengan membawa surat lamaran pekerjaan di perusahaanku, Aircraft Engine Le Agustin, Jalan Lecwel, No 775."
"Kau serius? Aku tidak ingin bercanda Algio!"
"Sttt- datang saja okay? Aku akan memberimu jabatan yang baik, mengerti sayang? Sekarang sudah ingin malam, biarkan aku mengantarmu pulang."