Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Logis vs. Realitas Pasar Malam
Arga Wiratama tidak mengenal kata "spontan" uhuuuyyy. Baginya, kencan pertama yang meskipun ini masih dalam balutan kontrak "persiapan pernikahan" adalah sebuah proyek yang membutuhkan perencanaan matang.
Maka, pada Sabtu sore itu, Arga menjemput Nara dengan sebuah dokumen fisik di tangan. Bukan bunga, bukan cokelat, melainkan
Rencana induk operasional kencan (Riok)
"Kita akan mulai dengan makan malam di restoran fine dining pukul 18.30. Reservasi sudah dikonfirmasi. Setelah itu, kita akan menonton pertunjukan simfoni pukul 20.00 untuk menstimulasi gelombang alfa di otak agar kita lebih rileks,"
jelas Arga sambil memakai sabuk pengaman dengan presisi.
Nara menatap dokumen itu dengan ngeri.
"Arga, ini kencan atau kunjungan kerja dinas luar kota? Stimulasi gelombang alfa? Aku cuma mau makan bakso, bukan mau meditasi!"
"Bakso tidak memiliki nutrisi yang terukur untuk agenda malam ini, Nara. Kita butuh protein berkualitas tinggi."
Nara menyeringai.
"Lupakan fine dining. Kamu sudah setuju kalau hari ini aku yang pilih tempatnya, kan? Kita ke Pasar malam perempuan makmur."
Arga terdiam, jarinya membeku di atas kemudi.
"Pasar malam? Tempat yang tingkat higienisnya berada di bawah standar deviasi?"
"Iya! Dan tempat di mana kamu bisa belajar bahwa hidup nggak selalu punya tombol pause," balas Nara semangat.
Begitu sampai, Arga tampak seperti astronot yang mendarat di planet asing tanpa oksigen. Suara musik dangdut koplo yang menggelegar dari wahana komidi putar bersahutan dengan teriakan penjual kerak telor.
"Nara, secara statistik, kepadatan manusia di sini sudah melampaui kapasitas oksigen yang sehat," gumam Arga sambil merapatkan kemeja mahalnya agar tidak bersentuhan dengan kerumunan.
"Nikmatin aja, Arga! Ayo, kita naik Bianglala!"
Nara menarik tangan Arga menuju antrean yang mengular. Arga melihat kursi bianglala yang terbuat dari besi tua dengan cat yang mengelupas.
"Nara, benda ini terlihat seolah-olah terakhir kali diminyaki saat zaman kolonial. Secara teknis, ini risiko keselamatan level tinggi."
"Diem, atau aku bakal teriak kalau kamu itu buronan pajak!" ancam Nara.
Akhirnya, Arga menyerah. Mereka duduk berhimpitan di kotak besi yang sempit. Saat bianglala mulai bergerak naik dan berderit nyaring, Arga memegang pinggiran besi dengan buku jari yang memutih.
"Lihat tuh, Arga! Bagus kan pemandangannya?"
Seru Nara sambil menunjuk lampu-lampu kota yang mulai mengecil di bawah sana.
Arga tidak melihat lampu. Ia sedang menghitung beban massa, kemiringan sudut, dan potensi kegagalan baut pada wahana yang menurutnya sudah melewati masa pakainya ini. Namun, saat mereka mencapai titik tertinggi, sebuah guncangan keras terjadi akibat hembusan angin. Kotak besi itu berayun kasar.
"Duh, kok goyang banget!" pekik Nara.
Ia refleks memeluk lengan Arga, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.
Arga membeku, rasa takutnya pada baut karatan mendadak kalah telak dengan rasa panas yang menjalar di lengannya. Ia bisa merasakan napas Nara yang memburu di balik kemejanya. Ia berdehem, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak serak, lalu dengan kaku melingkarkan tangannya di bahu Nara dan menarik gadis itu agar semakin merapat.
"Secara fisika, pusat gravitasi kita harus seimbang agar kotak ini tidak miring," dalih Arga dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin.
"Jadi... tetaplah di posisi ini. Jangan bergerak."
Nara mendongak, bermaksud memprotes alasan konyol itu, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan. Jarak mereka kini hanya hitungan sentimeter. Di bawah remang lampu warna-warni pasar malam, wajah Arga terlihat berbeda. Rahangnya kaku, namun matanya yang tajam kini menatap Nara dengan intensitas yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus mana pun.
Arga tidak melepaskan tatapannya. Tangannya yang berada di bahu Nara perlahan bergerak naik, ibu jarinya mengusap lembut helai rambut Nara yang tertiup angin. Sentuhan itu ringan, namun terasa seperti aliran listrik bagi Nara.
"Nara," panggil Arga pelan.
Suaranya rendah, tenggelam di antara derit besi dan sayup musik dangdut di bawah sana.
"Ya?" sahut Nara hampir berbisik.
"Detak jantung kamu... frekuensinya meningkat di atas 100 beats per minute," gumam Arga, namun kali ini ia tidak menjauh.
Ia justru menunduk sedikit, hingga dahi mereka hampir bersentuhan.
"Dan anehnya, jam tangan pintar saya baru saja memberi peringatan bahwa detak jantung saya juga sedang mengalami anomali yang sama."
Nara bisa merasakan kehangatan dari tubuh Arga yang memproteksinya dari angin malam. Ia tersenyum geli di tengah degup jantung yang kian menggila. Alasanmu bagus banget, Pak Audit, batin Nara.
Alih-alih menjauh, Nara justru memberanikan diri menyandarkan kepalanya di dada Arga, mendengar langsung detak jantung pria itu yang ternyata sama kacaunya dengan miliknya.
"Berarti alat kamu rusak, Arga. Atau mungkin... kita berdua lagi kena error sistem yang sama."
Arga tidak membantah, ia justru mempererat pelukannya, membiarkan bianglala itu berputar perlahan, membawa mereka kembali ke bumi sementara hati mereka masih tertinggal di atas sana.
Turun dari bianglala, Nara menyeret Arga ke penjual arum manis raksasa.
"Beli satu, Arga! Makan bareng!"
Arga menatap gumpalan gula berwarna merah muda itu dengan skeptis.
"Nara, ini adalah 99% glukosa murni dan 1% pewarna tekstil. Ini sabotase terhadap kadar gula darah saya."
"Makan aja atau aku masukin ke hidung kamu!"
Nara menyuapkan paksa gumpalan kapas manis itu ke mulut Arga. Sebagian serat gula yang lengket menempel di ujung hidung Arga dan pipinya.
"Hahaha! Kamu lucu banget, kayak badut yang gagal audit!"
Nara tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.
Arga mendengus, mencoba mengelap wajahnya dengan sapu tangan sutra, tapi malah makin lengket.
"Agenda kencan saya benar-benar hancur. Estimasi kerugian martabat saya malam ini mencapai 100%."
Melihat Arga yang frustrasi, Nara mendadak diam. Ia mengambil tisu basah dari tasnya, lalu mendekat ke wajah Arga. Dengan lembut, ia membersihkan sisa gula di pipi pria itu.
Jarak mereka kembali hilang. Aroma parfum kayu manis Arga bercampur dengan aroma popcorn karamel di udara.
"Makasih ya udah mau diajak ke sini, Arga," bisik Nara tulus.
"Aku tahu ini bukan duniamu."
Arga menatap mata Nara, mengabaikan kebisingan di sekitar mereka.
"Dunianya memang berisik. Tapi variabel di depan saya ini... sepertinya layak untuk ditoleransi."
Kencan "gagal" itu ditutup dengan mereka duduk di pinggir trotoar sambil makan sate ayam plastik. Arga, yang awalnya menolak menyentuh makanan pinggir jalan, akhirnya menghabiskan sepuluh tusuk karena menurut analisis lidahnya,
"perpaduan kacang dan kecapnya mencapai titik ekuilibrium rasa yang pas".
Saat mengantar Nara pulang, Arga tidak lagi memegang RIOK-nya. Dokumen itu sudah tergeletak di lantai mobil, terinjak dan terkena sedikit noda saus sate.
"Jadi, gimana poin untuk kencan hari ini di laporan kamu?" tanya Nara sebelum turun.
Arga diam sejenak, lalu menoleh.
"Secara operasional: gagal total tapi secara emosional..." Arga menggantung kalimatnya, lalu mendekat dan memberikan tepukan pelan di puncak kepala Nara.
"Nilainya belum bisa dikalkulasi. Masih dalam tahap pengembangan."
Nara masuk ke rumah dengan perasaan terbang. Sementara Arga, di dalam mobilnya, mengirimkan sebuah pesan singkat.
Arga:
Minggu depan...Pasar malam lagi? Tapi bawa hand sanitizer dua botol!
Nara tertawa di balik pintu. Fix, robotnya sudah mulai rusak terkena virus baper.