PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Hati yang terluka
William tatapannya menusuk tajam ke mata Jihan, memastikan ancamannya langsung mengenai sasaran. “Aku bisa saja membatalkan aliansi ini sekarang juga. Besok malam, Rahez mengadakan perayaan di kediaman Alvarezh. Aku bisa mengembalikanmu langsung ke sana, di hadapan seluruh keluargamu, dan mengumumkan bahwa aku membatalkan aliansi ini karena kau tidak mampu memenuhi kewajibanmu sebagai istri." Suara William terdengar seperti vonis mati.
“Kau tahu apa artinya itu, bukan?"
Jihan tersentak. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Kepanikan yang mendalam mulai terlihat dari matanya yang bergetar.
Tidak. Jangan itu... batin Jihan menjerit ketakutan. Jika aliansi ini batal, Rahez akan murka. Dia akan membahayakan nyawa Jinan. Dan aku... aku akan dikirim kembali ke kamp militer, melayani pria-pria di sana Itu sangat menjijikan.
Ancaman William meski pria itu tidak tahu betapa mengerikannya konsekuensi bagi Jihan secara nyata adalah pukulan yang menghancurkan semua keberanian Jihan yang tersisa.
Ia menelan ludah dengan susah payah. Suaranya terdengar pelan, pasrah, dan penuh dengan keputusasaan yang kelam. "Aku... aku akan melakukannya. Aku akan memenuhi kewajibanku malam ini. Tidak akan ada lagi penolakan."
William mendengus jijik, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Ia merasa sedikit terhina karena harus menggunakan ancaman itu hanya untuk mendapatkan kepatuhan dari istrinya sendiri.
" Jadi, untuk melakukan tugasmu sebagai seorang istri, kau harus diancam lebih dulu? Sungguh ironis."
William menatap Jihan dengan pandangan menghakimi. "Baik. Kita akan lihat nasibmu malam ini. Kita lihat apakah kau bisa melakukannya dengan baik atau tidak. Ingat, Jihan, kegagalan bukan lagi pilihan bagimu."
Jihan tidak menjawab. Ia hanya mampu menunduk. terpaksa menyerahkan dirinya dan memenuhi kontrak tersebut demi melindungi satu-satunya orang yang ia sayangi.
William kembali menoleh ke jendela, seolah pembicaraan tentang Jihan sudah selesai. Mobil itu terus berjalan dalam keheningan yang menyakitkan.
Jihan bersandar pada kursi, tubuhnya kaku seperti mayat hidup. ia harus merelakan apa yang tersisa dari harga dirinya demi sebuah nyawa.
——
Mobil akhirnya berhenti tepat di portico kediaman William Marculles. Begitu pintu terbuka, William melangkah keluar lebih dulu dengan langkah lebar dan angkuh, tanpa sedikit pun menoleh atau menunggu Jihan. Beberapa detik kemudian, Jihan keluar dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Devan, sang kepala pelayan, dan May, kepala pelayan wanita, sudah berdiri tegak menyambut di depan pintu besar.
“Selamat malam, Tuan William. Nyonya Marculles. Selamat datang kembali,” ucap mereka serempak.
William mengabaikan sapaan itu. Ia melintas begitu saja. Jihan, meski hatinya hancur, masih memaksakan diri untuk mengangguk sopan pada mereka sebuah keramahan hampa yang ia lakukan demi menjaga martabatnya sendiri.
Langkah kaki William bergema di lorong marmer. Tanpa menghentikan langkahnya, ia memberikan perintah tajam kepada May.
“May. Panggil pelayan. Siapkan Nyonya Jihan di kamar utama. Pastikan semuanya Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.”
May menunduk dalam, memahami ancaman dalam suara tuannya. “Dimengerti, Tuan William. Akan segera saya laksanakan.”
Tanpa kata perpisahan, William menghilang di balik belokan lorong menuju ruang kerjanya. Pekerjaan dan kendali selalu menjadi prioritas bagi pria itu.
Jihan menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata siapkan malam ini terasa seperti vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya. Ia berpaling pada May, memberikan senyum tipis yang sarat akan kepedihan.
“Terima kasih, May. Aku akan langsung ke kamar.”
“Ikuti saya, Nyonya Jihan,” jawab May lembut, menyadari ketegangan yang menyelimuti nyonya barunya.
Di Kamar Utama
Jihan melangkah masuk ke kamar utama. Dua pelayan wanita ymasuk kekamar utama segera menuntunnya ke kamar mandi yang didominasi oleh marmer putih dan cermin-cermin besar.
Jihan hanya pasrah. gaunnya dilepaskan dibantu lepaskan. Air hangat mengalir ke dalam bathtub, memenuhi ruangan dengan uap aroma minyak esensial yang menenangkan.
“Nyonya Marculles, kami akan memastikan Anda merasa santai dan segar,” ucap salah satu pelayan.
Mereka mulai menggosok kulit Jihan dengan scrub beraroma ringan, mencuci rambutnya dengan wewangian sampo eksklusif, dan memastikan setiap jengkal tubuhnya bersih sempurna.
Setelah mandi, Jihan berdiri di atas karpet beludru saat para pelayan mengoleskan minyak wangi yang aromanya begitu sensual.
Jihan mengenakan gaun tidur sutra minimalis membalut lekuk tubuh Jihan dengan sempurna. Riasan tipis untuk menonjolkan sorot matanya yang kini tampak redup dan pasrah.
Sepanjang proses itu, Jihan hanya memejamkan mata. Ia mencoba mati rasa.
“Selesai, Nyonya. Anda terlihat cantik sempurna ,” ucap pelayan itu sembari menunduk dan meninggalkan kamar.
Kini Jihan sendirian, berdiri di tengah kamar yang luas, menunggu ultimatum yang akan segera datang.
—-
Di Ruang Kerja William
Sementara itu, di ruang kerja William. Ia duduk di kursi kebesarannya, kemejanya sudah sedikit dilonggarkan, namun tatapan dan fokusnya tetap setajam silet.
Di hadapannya berdiri Rafael, tangan kanannya yang baru saja mendarat khusus untuk pertemuan mendesak ini. Meja William penuh dengan peta digital dan laporan real-time bursa saham.
“Rafael, jelaskan dampak fluktuasi futures market di Singapura,” perintah William dengan nada otoriter. “Aku ingin tahu intervensi yang harus kita lakukan untuk menstabilkan aset Alvarezh. Aku tidak mau ada keraguan di pasar.”
Rafael menunjukkan data di layar besar. “Tuan, pengumuman aliansi ini terlalu besar. Pesaing kita di Timur Tengah dan Eropa mencoba memanipulasi sentimen pasar. Kita butuh suntikan modal setidaknya $4 miliar untuk menunjukkan bahwa Marculles serius.”
William mendengus sinis. “Aku tidak peduli dengan Rahez. Aku peduli dengan stabilitas aset yang baru saja kuperoleh. Siapkan $6 miliar. Aku ingin menghancurkan siapa pun yang mencoba bermain-main dengan harga.”
William menjeda, matanya menggelap. “Selain itu, panggil tim hukum. Tinjau ulang semua klausul perlindungan aset jika terjadi... pembatalan kesepakatan.”
Rafael terkejut. “Pembatalan? Tuan, itu akan menghancurkan citra publik kita.”
“Aku tidak peduli dengan citra,. Aku peduli dengan kendali,” desis William dingin. “Aku ingin tahu kerugian maksimum jika aku harus membuang kemitraan ini. Prioritaskan itu.”
Diskusi berlanjut selama hampir dua jam. William tenggelam dalam angka dan strategi,
Akhirnya, William mengangguk singkat, menandakan bahwa pertemuan telah usai. “Baik. Laksanakan semua instruksi itu sebelum tengah malam. Aku tidak ingin ada satu pun hambatan. Kau boleh pergi.”
Rafael membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan. Keheningan yang berat segera menyelimuti ruang kerja yang luas itu.
William mematikan semua layar digital di mejanya. Ia bangkit, melangkah ke sudut ruangan yang jauh dari tumpukan dokumen bisnis. Melihat Foto seorang wanita muda yang cantik dengan mata yang hangat dan senyum tulus. Anna Paula, tunangannya yang telah tiada.
Melihat foto itu, wajah es yang selalu William kenakan perlahan retak. Guratan rasa sakit, kepedihan, dan kerinduan yang mendalam muncul di wajahnya. Hanya di hadapan Anna, William untuk menjadi manusia yang bisa merasakan perasaan.
“Anna...” bisik William, suaranya pelan dan rapuh. “Kau lihat apa yang kulakukan? Meskipun kau mengkhianati ku, aku takkan pernah mengkhianati perasaan ini, kita meskipun Aku menikahi wanita lain... tapi itu demi warisan yang harus kulindungi. Aku tidak bisa membiarkan Sean mengambil semuanya.”
Namun, tatapan William mendadak berubah gelap. Kepedihan itu berganti menjadi api kebencian yang dingin. “Aku ingin melampiaskan rasa sakit ini, Anna. Aku ingin wanita itu merasakannya juga. Dia harus menanggung kesalahanpria yang telah merenggutmu dariku.”
Pikiran William tertuju pada Jihan. Ia mengingat wajah kaku dan penolakan wanita itu di malam pertama. Ada rasa jijik yang bergejolak di dadanya jijik pada Jihan, dan jijik pada dirinya sendiri karena harus menyentuh wanita lain selain Anna.
William sedikit menjauhkan foto itu, seolah takut kesucian Anna akan ternoda oleh sosoknya yang sekarang. “Aku tidak mencintainya, Anna. Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah memberinya cinta yang hanya menjadi milikmu.”
William menatap foto itu untuk terakhir kalinya, menenggelamkan diri dalam memori murni bersama Anna sebelum akhirnya wajah esnya kembali terpasang. Emosi harus disingkirkan. Sudah waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menunggunya di kamar utama.