"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Di Bawah Langit Senja Al-Azhar
Janji yang Menggantung
Angin gurun membawa bisik yang tak tuntas,
Tentang tanya yang selama ini tersimpan di atas kertas.Bukan lagi tentang kitab yang kita eja bersama,
Tapi tentang kapan dua jiwa akan menjadi seirama.
Aku sudah bukan anak kecil yang mengejar bayang,
Aku adalah rindu yang ingin kau peluk dengan sayang.
Mas Azam sengaja pamit sebentar untuk memesan makanan tambahan, memberikan ruang bagi dua insan itu untuk bicara—meskipun tetap dalam batas kesopanan yang dijaga ketat. Suasana di pojok kafe itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara bising kendaraan Kairo di kejauhan.
Bungah meremas ujung khimarnya. Keberaniannya yang dulu sering meledak-ledak saat masih remaja, kini kembali muncul, namun dengan rasa yang lebih dewasa. Ia menatap Zidan, yang kini duduk dengan tenang di hadapannya.
"Kak Zidan," panggil Bungah pelan.
"Nggih, Bungah?"
Bungah menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Tiga tahun lalu, di kamar tamu ndalem, Bungah pernah tanya... apa Kakak mau nungguin Bungah. Dan sekarang, Kakak benar-benar datang ke sini."
Zidan hanya diam, menyimak dengan tatapan yang sangat dalam.
"Bungah sudah delapan belas tahun. Bungah sudah belajar banyak di sini. Tapi setiap kali melihat teman-teman di sini bercerita tentang khitbah atau pernikahan, hati Bungah selalu kembali ke dermaga di desa kita," Bungah menjeda sejenak, matanya berkaca-kaca. "Sebenarnya... emm... kapan Kakak mau nikahin aku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, jujur dan tanpa kiasan, persis seperti sifat Bungah yang dulu. Namun kali ini, ada nada keseriusan dan harapan yang besar di sana.
Zidan terpaku. Ia tidak menyangka bahwa di tengah kewibawaan Bungah yang sekarang sudah bercadar, sifat "to the point" itu masih ada. Zidan meletakkan tasbih kecil yang sejak tadi ia putar di jemarinya.
"Bungah," suara Zidan terdengar lebih berat dari biasanya. "Kamu tahu kenapa saya tidak pernah mengirimkan pesan yang berisi kata-kata cinta selama setahun kamu di sini?"
Bungah menggeleng pelan.
"Karena saya ingin kamu mencintai ilmumu dulu. Saya ingin kamu menemukan jati dirimu di tanah para nabi ini tanpa terganggu oleh urusan hati yang belum halal," Zidan menghela napas. "Tapi, kalau kamu bertanya kapan... jawabannya adalah: saat kakimu kembali menginjak tanah Jawa dengan ijazah kelulusan di tanganmu."
Bungah tertegun. "Berarti masih tiga tahun lagi, Kak? Lama sekali..."
Zidan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menenangkan. "Tiga tahun bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan masa depan yang selamanya, Bungah. Saya sudah bicara dengan Abi, juga dengan Mas Azam tadi. Kedatangan saya ke sini bukan hanya untuk berkunjung, tapi untuk memberikan 'tanda'."
Zidan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemejanya. Ia tidak membukanya, hanya meletakkannya di atas meja, menggesernya perlahan ke arah Bungah.
"Ini dari Umi Aisyah. Beliau bilang, ini adalah ikatan kecil agar 'Mentari' tidak lupa jalan pulang ke 'Kutub'-nya. Simpanlah. Saat kamu lulus nanti, saya sendiri yang akan menjemputmu di bandara bersama rombongan keluarga untuk membawamu pulang ke ndalem."
Bungah menatap kotak itu dengan tangan bergetar. Air matanya benar-benar jatuh kali ini, membasahi cadar hitamnya.
"Jadi, Kakak beneran bakal nunggu?" tanya Bungah memastikan di balik isakannya.
"Saya sudah menunggu sejak kamu masih kecil yang menangis karena takut dewasa, Bungah. Menunggu tiga tahun lagi bukanlah hal sulit bagi saya," jawab Zidan dengan keyakinan penuh.