Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Malam Pertama di Mansion Mewah
Adrian mendekati Lana dan mulai membuka satu per satu kancing gaun putih yang dikenakan oleh Lana dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat intim. Lana menahan napas sambil memejamkan matanya rapat-rapat hingga bulu matanya yang lentik bergetar hebat. Ia merasakan sentuhan jemari Adrian yang hangat bersentuhan dengan kulit lehernya yang sensitif.
Suasana kamar yang tadinya bising oleh sisa suara jepretan kamera di luar sana kini berubah menjadi sunyi yang mendebarkan. Lana bisa merasakan deru napas Adrian yang teratur tepat di atas keningnya yang berkeringat dingin. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan yang manis sekaligus menakutkan bagi jiwanya yang masih remaja.
"Tolong, Tuan, jangan lakukan ini sekarang," bisik Lana dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Adrian menghentikan gerakannya tepat pada kancing ketiga yang baru saja terlepas dari lubangnya. Ia menatap Lana dengan tatapan yang sangat dalam dan sulit untuk diterjemahkan oleh nalar gadis itu. Keheningan kembali merajai ruangan tersebut sebelum Adrian akhirnya melepaskan cengkeramannya pada gaun Lana.
"Kamu pikir saya akan mengambil hak saya saat kamu sedang menangis ketakutan seperti ini?" tanya Adrian dengan nada yang sangat dingin.
Adrian berbalik dan berjalan menuju lemari besar untuk mengambil sebuah kotak beludru merah yang tampak sangat mahal. Ia meletakkannya di atas meja rias tepat di hadapan Lana yang masih mematung dengan gaun yang setengah terbuka. Lana menatap kotak itu dengan pandangan yang sangat nanar dan penuh dengan tanda tanya besar.
"Buka kotak itu, itu adalah hadiah pernikahan yang seharusnya diberikan oleh keluarga Al Fahri," perintah Adrian.
Lana mendekati meja rias dengan langkah yang sangat lunglai dan membuka kotak tersebut dengan tangan yang masih gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kunci emas kecil dengan gantungan berbentuk lambang militer yang sangat khas. Lana menatap kunci itu tanpa mengerti apa maksud di balik pemberian benda yang sangat asing tersebut.
"Itu adalah kunci menuju ruang rahasia di bawah perpustakaan rumah ini," jelas Adrian sambil menatap keluar jendela.
Lana terkesiap dan merasa jantungnya berdegup sangat kencang karena ia teringat pada berkas ayahnya yang ia lihat kemarin. Apakah ruang rahasia itu berisi jawaban atas semua misteri yang selama ini menyelimuti kepergian orang tuanya? Ia menatap punggung tegap Adrian yang tampak sangat kesepian di tengah kemewahan mansion yang sangat luas ini.
"Kenapa Tuan memberikan kunci ini kepada saya sekarang?" tanya Lana dengan penuh keberanian.
Adrian tidak menjawab melainkan hanya memberikan isyarat agar Lana segera mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih nyaman. Ia melangkah keluar kamar dan mengunci pintu dari arah luar seperti yang biasa ia lakukan setiap malam. Lana terduduk di kursi rias sambil menggenggam kunci emas itu dengan perasaan yang sangat campur aduk.
Malam semakin larut dan mansion mewah itu terasa sangat mencekam dengan penjagaan para pengawal bersenjata di setiap sudut. Lana tidak bisa memejamkan matanya karena rasa ingin tahu yang sangat besar terus mendesak pikirannya untuk bergerak. Ia memutuskan untuk keluar kamar secara diam-diam melalui balkon yang terhubung dengan tangga darurat di samping rumah.
Lana berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang perpustakaan yang sangat gelap dan hanya mengandalkan cahaya bulan dari jendela. Ia mencari pintu rahasia yang disebutkan oleh Adrian dengan meraba-raba deretan buku-buku kuno yang berdebu. Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan sebuah lubang kunci kecil yang tersembunyi di balik lukisan potret keluarga Al Fahri.
"Semoga ini benar-benar memberikan jawaban, bukan justru menambah penderitaan," bisik Lana pada dirinya sendiri.
Kunci emas itu masuk dengan sempurna ke dalam lubangnya dan memberikan suara klik yang sangat halus namun jelas. Sebuah rak buku besar perlahan bergeser dan menampakkan sebuah tangga menurun yang menuju ke kegelapan yang sangat pekat. Lana menarik napas panjang dan mulai menuruni tangga itu dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Di bawah sana, Lana menemukan sebuah ruangan laboratorium kecil yang dipenuhi dengan berbagai macam foto dan dokumen lama. Matanya tertuju pada sebuah foto besar yang memperlihatkan ayahnya sedang bersalaman dengan kakek dari Adrian Al Fahri. Foto itu menunjukkan hubungan yang sangat akrab di antara mereka, sangat jauh dari kata pengkhianat yang diucapkan Adrian.
"Ayah bukan pengkhianat, ayah adalah pahlawan yang dikhianati," suara seorang pria tiba-tiba terdengar dari arah kegelapan.
Lana terlonjak kaget dan menjatuhkan senter kecil yang ia bawa hingga suasana menjadi sangat gelap gulita kembali. Ia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya dengan sangat cepat dan sangat berirama seperti langkah seorang prajurit. Lana mencoba berlari kembali ke arah tangga namun sebuah tangan yang sangat kuat sudah terlebih dahulu membekap mulutnya.
Seseorang menarik Lana masuk ke dalam sebuah bilik tersembunyi tepat saat pintu ruang rahasia di atas sana terbuka dengan kasar. Lana bisa melihat sepatu bot militer milik Adrian masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah yang penuh dengan kemarahan besar. Cahaya lampu ruangan dinyalakan secara paksa dan memperlihatkan wajah Adrian yang sangat murka karena merasa dikhianati.
"Keluar dari persembunyianmu sekarang juga, Lana, sebelum saya meratakan tempat ini dengan ledakan!" teriak Adrian dengan suara yang menggelegar.
Lana gemetar hebat di dalam dekapan pria misterius yang sedang membekapnya dengan sangat rapat dan penuh perlindungan. Ia merasa pria ini memiliki aroma tubuh yang sangat familiar, aroma yang sudah bertahun-tahun menghilang dari ingatan masa kecilnya. Air mata Lana tumpah membasahi tangan pria tersebut saat ia menyadari sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan jiwanya.
Pria yang membekapnya adalah ayahnya sendiri yang selama ini dikabarkan telah tewas dalam tugas negara yang sangat rahasia.